Empat | It all Starts from The GrandMa, Cat Terror. Miauw!

1488 Kata
[A U T H OR] Hal yang paling Dean takuti di dunia ini ada dua, yang pertama kemarahan bunda dan yang ke dua, hantu. Tetapi, setakut apapun dia dengan kemarahan bunda, melihatnya marah-marah dan bumi seisinya runtuh pun lebih baik daripada bertemu ataupun melihat hantu. Mungkin karena sifat ayah yang paranoid itu menurun kepadanya. Mereka—Zilo dan Dean—bahkan tidak bertahan lima menit di rumah hantu saat mengunjugi Disneyland tahun lalu, sedangkan Bunda hanya tertawa-tawa saat keluar dari sana, dia bilang; 'make up hantunya berantakan, untung bunda bawa lipstick'. Jadi saat ini, saat seorang gadis yang dikenal sebagai mahluk aneh karena sering berteriak tanpa sadar dan seperti selalu di kejar hantu itu menatapnya dengan dua mata melebar ngeri, Dean merasa sumbu hidupnya memaksa untuk terlepas. Kaki dan telapak tangannya dingin dan sumpah ini lebih parah dari pada rumah hantu Disneyland. "M-maksud lo? Gue, gue gak ngerti!" Ulang Dean lagi, memastikan kalau maksud Zade bukan lah hal yang menjurus ke arah sana. Zade melirik Dean yang semakin merapat kepadanya, wajah cowok itu pucat dan dia melirik kebelakang mobilnya dengan takut-takut. Ini bukanlah Dean yang beberapa menit lalu tertawa keras karena mengelabui polisi hidup, dan sekarang entah kenapa Zade sedikit geli. "Gue tau, lo ga bakalan percaya. Sama seperti anak-anak lain, lo pasti mikir gue ini aneh!" Zade berucap. "Tapi kalau lo ga minta maaf sama yang punya kucing, yang udah lo tabrak itu. Si nenek ga bakalan pergi dari sini!" Ujar Zade santai, seolah yang dia ucapkan hanyalah sepotong dialog pada novel Shakespeare yang setiap hari di konsumsinya. Hening sebentar, sebelum tawa garing Dean terdengar, tawa itu seperti tersendat-sendat di tenggerokannya. "Maksud lo hantu?" Dean menatap Zade tak percaya, masih dengan tawa tersendat di bibir tipisnya, "Ga mungkin, Hahaha. Gue ga percaya hal begituan!" Ujarnya mau tak mau membuat Zade tersinggung. Dia sudah biasa di anggap pembohong baik langsung maupun tak langsung seperti ini. Sudah hampir 4 tahun, semenjak kecelakaan itu. Tapi mendengar ini dari satu-satunya orang yang dia pikir berbeda, satu-satunya yang dia pikir teman, satu-satunya yang dia kagumi. Zade merasa buruk juga. "Terserah. Lo mau percaya atau ngga." Zade melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Dean, ,embuat cowok itu menatapnya terkejut. Dia berheti dan berbalik menatap Dean yang kini menatapnya dengan rasa bersalah. "Gue pikir lo beda, ternyata lo engga!" Lalu dia membanting pintu mobil, menyadarkan Dean atas kesalahannya. Cowok tampan itu terdiam, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Dengan takut-takut dia melirik ke arah kursi belakang dan merasakan buku kuduknya merinding. Dia mengernyit ngeri dan segera keluar, menyusul Zade yang mulai menyusuri jalan aspal itu. "Zade!" Dean memanggil dan mempercepat langkahnya, namun Zade tak menoleh. "Za!" Ulang Dean lagi, Zade masih tak mau berhenti. Bodo amat! Ini terakhir kalinya gue bersikap bodoh di depan si bloon Dean! pikirnya dengan hati sebal. "Zade Lunar Almiqdam!" Kali ini Dean memanggil nama lengkapnya, membuatnya memutar mata malas saat hatinya berdegup alay. Bagaimana mungkin tiga penggal kata tersebut terdengar menarik di ucapkan oleh mahluk satu itu. "Oi, mungil!" Zade otomatis berhenti. "Lo manggil gue apa ?" Heran bin kesal. Dean mendesah lega saat cewek itu akhirnya berhenti. Si mungil itu menoleh dan menatapnya dengan pipi sedikit memerah karena kesal dan mata hitamnya yang berkilauan mengalahkan keindahan bintang-bintang yang tengah menanungi mereka. Dean tersenyum simpul dan menyalipkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dia pakai, melirik cewek itu dengan senyum andalannya. "Mungil!" Ucapnya santai, senyum mautnya masih terselip manis. Zade menggeram. "Maksud lo apa, gue pendek gitu?" Entah kenapa, Zade benar-benar merasa tersungging. Tanpa dia sangka, Dean malah terkekeh kecil, dia menengadahkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan sementara badannya berguncang oleh tawa. Indah sekali. Apa? Zade menggeleng, kembali ke fokus kepada rasa terhinanya. "Gue ga pendek!" Teriaknya, "lo aja yang terlalu tinggi!" Ucapannya sontak membuat tawa Dean semakin kencang.  Zade menganga tak percaya. Sebal dan kesal dia menggeram dan berbalik dari sana namun tangan dean menahan tangannya. "Jangan marah," Dean tersenyum manis, lesung pipinya timbul mempesona. "Gue cuman becanda!" Ucapnya lembut. Membuat Zade terpaku pada dua lubang indah dipipi mulus cowok itu yang muncul setiap kali dia tersenyum dan tertawa. "Maaf ya, gue ga bermaksud bilang lo pembohong atau apapun. Gue cuman sulit untuk percaya, you know? Ini bukan hal yang setiap hari gue dengar." Ujarnya halus, tangannya masih mengenggam tangan Zade erat. Zade terdiam. Seharusnya dia paham kalau Dean pasti tidak bisa menerima hal ini dengan mudah seperti dia, karena cowok itu tidak melihat hal yang sama dengannya. Belum lagi dia tau, cowok itu benci dengan hal-hal berbau mistis. Lebih tepatnya, takut. Dapat dibaca dari wajahnya, setiap kali teman-teman sekelasnya mulai ngerumpi tentang hal-hal berbau mistis. Dean pasti ngacir duluan.  "Hmm," Zade mengangguk kecil, melepas cengkraman Dean, lalu berdehem canggung. "Satu lagi!" Ujar cewek itu, malu-malu. "Apa?" Dean terpesona. "Maaf, karena udah bilang gue pendek!" Dean sudah akan tertawa lagi, saat Zade meliriknya penuh ancaman, dia mingkem. "Iya, maaf." Ujarnya tulus, menerbitkan senyuman di ujung bibir cewek itu. *** [ D E A N ] "Makasih, udah nganterin pulang." Gue menoleh dan menghadiahkan senyuman ke arah Zade. Cewek itu tengah melepas seatbelt-nya dan membuka pintu mobil. Dia turun dan berhenti sebentar melirik gue dengan wajah papannya itu. Nah, balik lagi deh si gadis tripleks. Rasanya, baru beberapa saat yang lalu dia bersikap seperti boneka Susan unyu dan sekarang, dia kembali menjadi beruang kutub lagi. Tidak tersenyum ataupun, apapun. "No problem, buat lo Mount Everest pun gue daki!" Ucap gue sambil nyengir lebar, berharap dia bakal merespons candaan menjurus gue, nyatanya engga. "Hmm, hati-hati pulangnya!" Ucapnya datar. Jadi gue di usir nih ? Oke fix. Bunuh aja gue sekalian. "M-gue ga boleh mampir?" Buset Dean, lo punya harga diri ga sih? Mata si mungil melebar, tampaknya kaget dengan pertanyaan gue yang mungkin sedkit lancang. Mengingat, kita baru aja berinteraksi beberapa jam yang lalu, bahkan belum resmi jadi teman dalam artian sesungguhnya. "Di rumah gue banyak hantu." Ucapnya, senyum geli sedikit membayang di matanya saat dia melihat gue sedikit mengernyit ngeri. "Iya deh, gue pulang!" Gue mengalah, entah mengalah dari apa, gue cuman merasa kita lagi memperdebatkan suatu hal. Padahal biasa aja. "Hmm," ucap Zade. "Besok sepulang sekolah kan?" Tanya gue memastikan. Zade terdiam sebentar lalu mengangguk. "Kucingnya biar gue yang bawa, kebetulan kemaren gue liat ada anak kucing di sana," dia menunjuk sebuah rumah di ujung jalan. "Tinggal gue mandiin dan besok bisa kita bawa kesana!" Gue mengangguk mengerti. "Oke, thanks ya, gue pulang dulu." Gue sudah mau beranjak, saat Zade mengingatkan gue dengan hal itu dan rasanya gue pengen kencing berulang kali dalam celana.  "Nenek tadi masih ikut sama lo, tenang aja, dia ga nganggu kok, cuman mau mastiin kalo lo minta maaf sama cucunya." Lalu cewek itu terkekeh kecil dan ngacir ke dalam rumahnya. *** "Semalam tidur nyenyak?" Well, gue tidak menyangka pertanyaan inilah yang bakal gue terima saat Zade menampakkan dirinya di hadapan gue. Kami berjalan santai menuju mobil gue yang sengaja gue parkir agak jauh dari kelas hari ini. Modus, hehehe. Hati gue berbunga. Maan, ternyata Zade cewek perhatian, elaah, gue pasti berutung jadi pacarnya, pikir gue. tapi, saat gue melirik wajah gadis itu, dia tengah tersenyum penuh maksud. Gue jadi tau apa maksud pertanyaannya. "Berkat lo gue sampai di rumah dalam waktu hanya beberapa menit, kalau itu yang lo mau tau." Ucap gue sebal. Gue ngebut man semalam, sepanjang jalan pulang gue dzikir dan baca surat kursi berkali-kali. Zade terkekeh. "Lo ga ngerasa orang ngeliat kita?" Zade berjalan tak nyaman di sebelah gue, dia menekuk wajahnya dan memeluk kardus di dekapannya dengan erat. "Bodo amat, mereka kan punya mata masing-masing. Terserah sih mau liatin kita apa ngga!" Jawab gue lalu tanpa tau malu menarik si mungil untuk mendekat dan kita berjalan menuju parkiran yang gue harap semakin jauh dari biasanya. ***  "Lo yakin ini rumahnya?" Tanya gue ke Zade. Cewek itu melirik ke arah kursi penumpang di belakang dan mengangguk. Dan gue kembali terkaget, horor. Gila, ini benar-benar something man. Zade turun dari mobil dan gue mengikuti setelahnya. Kita tengah berdiri di depan rumah kayu klasik, halamannya sempit namun rindang. Melihat rumahnya saja sudah memberi ketentraman dan kehangatan. Mengingatkan gue dengan rumah-rumah tradisional khas jepang yang sering gue liat di anime-anime. "Yang mana?" "Apanya?" Gue menoleh dan melihat Zade sedang melihat ke arah lain. s**l, dia tidak sedang berbicara dengan gue. Apakah gue akan terbiasa dengan ini? "Di dalam, katanya kita masuk aja!" Gue mengangguk kaku dan mengikuti Zade masuk ke rumah nyaman itu. Seorang wanita paruh baya menyambut kami, awalnya dia terlihat heran lalu senyum keibuan terbit di wajahnya. Tampaknya dia juga mengetahui sesuatu. "Ibu yang menyuruh kalian ke sini?" Tanyanya ambigu, gue melirik Zade yang sepertinya juga kaget. "Dia berdiri di samping pemuda ini kan sekarang?" Ucap Ibu itu lagi menunjuk ke samping gue. Sialan, demi kolor penangkal petir! Mereka ngomongin apa sih? Zade terdiam, lalu perlahan senyum terbit, dan makin lebar. "Iya!" Dan untuk kesekian kalinya, gue terkesima. No matter about what people think, she's weird, but i like her.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN