[AUTHOR]
"Dean, ngapain di situ?"
"Eh." Dean menyambar dahan terdekat darinya, lalu berusaha utuk berdiri seimbang. "Astaghfirullah, ibuk ngagetin aja!" Ucap Dean mengelus dadanya, sebelah tangannya masih memegang dahan itu dengan erat, agar tidak jatuh.
Wanita yang berada beberapa meter di bawah sana mengernyit, sedikit geli melihat ekspresi kaget Dean. Cowol itu tengah berada di atas pohon jambu dekat lapangan sepak bola. Sekolah sudah mulai lengang, Bu Sulastri—guru kesenian Dean –kebetulan lewat dan terkaget melihat cowok itu yang tengah bergelantungan di pohon yang memang sudah cukup lapuk itu.
"Lagian kamu, kayak kurang kerjaan aja, manjat pohon sore-sore begini, ayo turun!" Ujar bu Sulastri, ngeri melihat Dean yang semakin naik ke dahan tinggi.
"Dean, turun!" Jeritnya khawatir.
Dean nyengir. "Bentar buk!" Teriak Dean, tangannya seperti menggapai sesuatu, setelah dapat, dia meletakkannya ke dalam baju seragamnya.
Guru baik hati itu masih terlihat cemas, saat Dean hanya menggunakan satu tangan untuk berpegangan, sementara sebelah tangan lain entah memegangi apa itu dalam bajunya agar tidak jatuh.
"Kamu ngapain sih di atas?" Tanya bu Sulastri saat Dean mendarat dengan aman di tanah.
Dean menepuk kedua tangannya, membersihkan debu. Sesuatu tadi bergerak-gerak di dalam baju seragamnya.
"Meow.."
Bu Sulastri tertegun.
"Ini buk, kucingnya. Manjat bisa, turun ga bisa!" Tutur Dean polos. Dia mengeluarkan kucing berbulu putih halus itu dari seragamnya dan membiarkannya pergi. Sementara bu Sulastri masih terdiam di tempatnya.
"Ibu belum pulang?" Tanya Dean, kini kedua tangannya meraih tas yang tadi di letakkan di dekat pohon.
Buk Sus mengangguk. "Iya ini mau pulang."
Cowok manis itu tersenyum lalu mengangguk sopan. "Kalau gitu, saya duluan ya buk." Ucapnya lalu beranjak dari sana.
Dari tempatnya, guru yang sudah termakan usia itu menatap punggung Dean yang menjauh, ia teringat dengan seseorang yang beberapa tahun lalu juga memanjat pohon jambu tua ini. Seorang gadis cantik, usil dan penyanyang.
Sama seperti ibunya, Dean adalah anak yang penyayang... tentunya, juga usil.
Dean berlari kecil, melintasi lapangan basket untuk mencapai seseorang yang tengah berdiri di ujung sana, terlihat khawatir dan bete, tentunya. Saat Dean mencapai posisinya, gadis itu mendesah lega, sedetik kemudian tanduk tak kasat mata keluar dari kepalanya.
Dean nyengir. "Udah ya pup-nya?" Tanya cowok itu tersenyum menggoda.
"Udah dari tadi!" Jawab gadis itu, galak.
"Hehehe, aku kira kamu bakalan lama. Siapa tahu gitu ngeluarin beton-auch, sakit beb!" Dean meringis sakit saat Zade mencubit lengannya.
Zade memutar bola matanya jengah, di tambah lagi mendengar panggilan sayang Dean yang menggelikan.
"Ga usah beb-beb deh, berasa jadi kambing!" Gerutunya.
Dean terkekeh, mengacak rambut Zade sayang lalu menggandeng cewek itu menuju pelataran parkir. Zade agaknya risih dengan skinship yang dilakukan Dean, dari tadi dia berusaha melepaskan genggaman cowok itu namun di tolak. Bukannya tidak suka, hanya tidak biasa. Dean ini kan pacar keduanya, namun adalah orang yang pertama kali mengenggam tangannya. Zade tidak terlalu berpengalaman masalah seperti ini.Dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi. Zade memang dikenal sebagai gadis yang cukup populer. Cantik, pintar dan baik hati, apalagi orangtua angkatnya adalah orang kaya. Beberapa kali, saat orang tuanya pindah tugas, Zade akan ikut pula. Pernah di Bali, Jogja, lalu Bandung namun setelah kecelakaan itu, dia kembali ke panti asuhan karena tidak ada yang menjemputnya saat di rumah sakit. Sampai Tante Susan datang dan merubah segalanya.
Setidaknya itu yang saat ini Zade lihat.
Mereka berjalan bergandengan, Zade beberapa langkah di belakang Dean, sehingga saat ini seakan-akan cowok itu tengah menariknya agar ia tidak lari. Zade mendengus, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sekolah memang sudah sepi, namun masih ada beberapa siswa yang tentu saja, saat ini tengah menatap keduanya penuh minat. Pandangan Zade terhenti di sikut Dean. Siku cowok itu terluka dan mengeluarkan darah. Langkah Zade otomatis terhenti dan dia menarik tangan Dean ke arahnya.
"Ini, kenapa?" Zade bertanya, jari-jarinya mengusap sekitar luka yang di dapatkan Dean.
"Eh?" Dean mengecek sikutnya yang mulai terasa perih. "Oh, itu, mungkin ke gores ranting." Jawabnya.
Zade menarik Dean ke arah mobil yang terpakir, membuka kursi penumpang lalu menyuruh cowok itu untuk duduk di sana. Kaki Dean masih berada di luar menapak di tanah dan dia tengah menghadap ke arah kekasihnya.
"Aku ga punya antiseptic," ucap Zade, tangannya mengeluarkan plaster kecil dan selembar tisu.
"Hmm!" Zade berdehem, menyuruh Dean mengangkat tangannya yang terluka melalui gerakan dari dagu.
Dean memutar bola matanya, lalu menuruti, dengan lembut, Zade membersihkan darah dari luka Dean dengan tisu. Setelah bersih, dia membuka plesternya dan memasangnya di siku Dean yang terluka. Dean menatap lukanya yang sudah di obati dengan senyum senang, di liriknya Zade yang kini mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya.
Itu tas, apa kantung Doraemon? Pikir Dean geli.
"Makasih b-" Dean nyengir. "Sayang!" Lalu dia mengacak rambut Zade lagi, mengambil air minum yang Zade sodorkan dan berpindah tempat ke kursi pengemudi. Zade hanya mendengus kecil, tidak di pungkiri, hatinya menghangat oleh perlakuan manis Dean. Walaupun dia tidak tahu, apa ini wajar untuknya atau tidak. Dia bahkan masih tidak percaya, kalau dia sudah menjadi pacar seorang Dean Agif Delmias saat ini.
***
"Tunggu di sini aja." ucap Zade tanpa menoleh ke arah Dean yang kini tengah membuka sabuk pengamannya.
Gadis itu membuka pintu mobil Dean dan menatap cowok itu melalui jendela yang terbuka.
Dean mengernyit tidak mengerti. "Loh, ga mau di temenin? Ntar ilang loh!"
"Please, jangan lebay. Ini cuman supermarket Dean, bukan hutan." Zade berujar malas, memutar bola matanya.
Dean nyengir. "Ya udah, buruan ya!" Ucapnya lalu melambai lucu.
Melihat pemandangan itu, Zade terdiam sebentar. Cowok imut di depannya ini begitu menggemaskan. Dua lesung pipi itu benar-benar memukau, apa lagi saat dia tersenyum menampilkan deret gigi putih terawatnya. Seperti saat ini.
"Eh udah buruan, ngeliatinnya di tunda dulu, ga bakalan kekurangan kok. Kan aku milikmu selamanya," goda Dean mendapati Zade tengah terpesona menatapnya.
Tersadar sudah memperhatikan cowok narsis gila di depannya ini, Zade mendengus, gelagapan menyembunyikan pipi memerahnya. Tanpa berucap sepatah kata lagi, cewek itu berbalik, berlari kecil memasuki supermarket. Zade langsung menuju lantai dua, tempat sayuran dan bahan makanan yang di butuhkannya berada. Dia berencana membuatkan Tante Susan sup sayur dan semur daging, wanita itu terlihat sering kelelahan akhir-akhir ini. Dan walaupun mereka tidak begitu dekat, Zade tidak bisa berpura-pura seakan ia tidak peduli.
Mata Zade menyapu lantai dua supermarket itu mencoba mencari trolly yang dapat dia gunakan, dan dia menemukannya di sudut kiri, trolly itu terjejer dengan rapi.
Zade melangkah santai ke sana, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan menakutkan-bagi orang awam, sedikit menggelikan baginya. Seorang hantu pemuda yang Zade yakini cukup tampan semasa hidupnya tengah duduk di salah satu gerobak dorong itu. Dia tampak menikmati pekerjaannya, matanya jelalatan melihati pinggul beberapa wanita yang sedari tadi berlalu lalang di depannya. Hantu cowok itu bersiul menggoda, wajahnya pucat pasi dan sedikit menakutkan. Zade menggeleng geli, tidak bisa membayangkan bagaimana nakalnya pria satu ini semasa hidupnya. Lihat sekarang, dia tengah berbaring di lantai saat seorang wanita seksi memakai rok mini berjalan ke arahnya.
Tanpa berusaha untuk terlihat sedang memerhatikan hantu menggelikan itu Zade mengambil salah satu trolly dan mendorong menjauh dari sana, namun agaknya hantu itu tahu kemampuannya. Dia menoleh dan tersenyum aneh ke arah Zade, memutar kepalanya 360 derajat, hampir membuat Zade memekik kaget.
Astag! Hantu k*****t! Zade mengumpat dalam hati.
Kaki gadis itu berderap cepat, mencoba membawa gerobak dorong menjauh dari hantu gila yang kini bergalayut manja di pundak seorang gadis seksi memakai hotpants dan tanktop putih transparant.
Zade berjalan ke arah tempat sayur-sayuran, memilih brokoli, wortel kentang dan bahan utama makanan yang akan di buatnya. Merasa cukup, dia beranjak ke kasir untuk membayar belanjaannya. Tangannya masih memilah-milah sayuran, menghitung apa ada yang tertinggal saat tanpa ia sadari dia sudah menabrak tiang penyangga dan terjatuh memalukan.
"Ah," Zade meringis, mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Dia menoleh saat mendengar suara cekikikan.
Si hantu genit tadi tengah menertawakannya.
"Apes banget!" Zade berujar malas, dia mendongak dan menemukan sebuah tangan terulur di depan wajahnya.
"Lo gapapa?"
Ekspresi cowok itu datar. Matanya bulat dengan kantung hitam begitu kentara menatap dingin ke arah Zade yang terduduk memalukan, tubuhnya kurus dan dia memakai kupluk coklat untuk menutupi rambut hitam panjangnya. Zade tersentak, aura dingin merayapi tubuhnya. Cowok ini, cowok yang tadi malam muncul tiba-tiba di mimpinya.
Air mata, cinta yang tak terucap, hardikan, salah paham dan penyesalan, kepergian.
Di sela kepanikan yang melanda tubuhnya, tangan itu masih terulur. Demi kesopanan, dengan gemetaran Zade menerima uluran tangan cowok itu. Saat permukaan kulit mereka bersentuhan visi yang lebih parah segera menghantam benaknya. Membuat tubuhnya merinding seperti kedinginan.
"Ga papa, thanks." Suara Zade serak, kakinya bergetar menahan diri untuk tidak segera lari tunggang langgang dari sana, seperti yang biasa ia lakukan saat mendapat visi menakutkan seperti ini.
Cowok itu diam, dengan acuh, dia beranjak dari sana, mendoring trolly penuh bahan makanan itu. Wajahnya dingin, namun ada binar bahagia di mata sendunya. Selepas kepergian cowok itu, Zade kembali meluruh ke lantai. Kedua tangannya menutupi wajah saat gambaran-gambaran itu semakin memenuhi benaknya. Memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia kehendaki. Zade baru saja akan menjerit keras ketakutan saat dekapan hangat menyentuh bahunya, tangan itu memegang erat kedua bahunya dan suara yang terdengar khawatir itu memenuhi gendang telinga Zade.
"Za."
Dean berujar cemas. Tangannya dengan lembut mencoba membuka telapak tangan Zade yang debgan kalut menutupi wajahnya.
"Za, kenapa ?"
Untuk kali keduanya. Dean selalu datang di saat yang tepat. Zade membuka telapak tangannya, meperlihatkan mata berairnya kepada Dean yang menatapnya cemas. Tubuh gadis itu lemah, seperti kehabisan tenaga, dan wajahnya, wajah itu pucat pasi, ketakutan.
"Home ?" Dean bertanya, tau Zade tidak akan bercerita sampai ia tenang, dengan senang hati cowok itu berusaha memberikan ketenangan kepadanya.
Zade mengangguk, membiarkan Dean menopang tubuhnya. Lalu mereka melangkah beriringan. Dengan tengan Zade di genggaman erat kekasihnya.
***
Dean memakirkan mobilnya di depan gerbang besar yang tertutup rapat, dia melirik Zade yang kini menatap lurus ke luar. Gadis itu sudah cukup tenang, tadi selama perjalananDean tidak berbicara apapun hanya diam, dengan sebelah tangan mengenggam tangan gadisnya dengan erat. Sesekali, ibu jarinya akan mengelus tangan mungil itu, saat Zade mengenggam erat tangannya, ketakutan. Terdengar helaan nafas berat beberapa kali, namun Zade masih setia di posisinya. Gerbang besar itu terbuka, menampakkan pria paruh baya yang tengah tersenyum ramah.
Dean membuka jendelanya dan tersenyum manis ke arah pria itu. "Di luar aja, Pak. Saya cuman sebentar." Ujarnya, pria itu tersenyum mengangguk.
Kembali diam. Tampaknya Zade tidak ingin berbagi, pikir Dean. Dengan pelan dia berusaha melepaskan pegangannya, untuk meraih sesuatu di saku celananya, namun Zade menahan.
"Tadi malam aku mimpi lagi." Zade memulai.
Dia menoleh menatap Dean yang mendengarkan dengan seksama, "Mimpi aneh, karena sebelumnya aku ga pernah ketemu orang itu. Sampai tadi, aku sadar kita pernah ketemu beberapa waktu lalu, di supermarket yang sama."
"Siapa?" Tanya Dean, alisnya berkerut kurang mengerti maksud pembicaraan Zade.
"Aku ga tau namanya," ujar Zade. "Lucunya, aku tau dia kenapa, apa yang dia rasain dan gimana, gimana cara dia meninggalkan dunia ini." Suara Zade kembali bergetar.
Tanpa sadar, Dean menahan nafasnya. Oh, ya! Seluruh anggota tubuhnya yang berbulu merinding saat ini. Dan ini lebih parah dari rumah hantu Disneyland, tentunya. Ah, harusnya Dean tau, dia akan berhubungan dengan dunia mistis kalau berpacaran dengan gadisnya ini.