Delapan | Tragedi Dua. Kaulah Heroinku. BAGIAN DUA.

1512 Kata
[A U T H O R ] Dean memakirkan mobilnya di depan sebuah gerbang tinggi, gerbang itu tertutup rapat dan sekitar rumahnya terlihat sunyi, cowok itu mengalihkan pandangannya pada sang kekasih yang saat ini masih larut dalam lamunannya. "Hey," Dean menyentuh pipi gadis itu, menyadarkannya dari lamunannya. "Kamu gapapa?" Tanya Dean, Zade mengangguk lalu mengulas senyum tipis. "Yakin ini rumahnya?" Tanyanya lagi. Lagi-lagi dia mengangguk, kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang. Tepatnya, seorang cowok yang ditabraknya di supermarket kemaren hari. Jangan tanya dari mana dia bisa tau dimana cowok itu tinggal. Zade bukan penguntit, demi tuhan, kalau pun bercita-cita menjadi penguntit, dia pasti akan menjadi penguntit Dean duluan. Dan apabila ada yang menyangka kalau cowok itu hantu, bukan, tepatnya belum, dia masih manusia, hidup, bernyawa, dan bernafas, setidaknya untuk beberapa saat kedepan. Tidak tau tepatnya, Zade hanya tau kalau cowok itu dalam keadaan sekarat dan dia tau sesuatu yang harusnya tidak ia ketahui, saat tanpa sengaja bersentuhan dengan cowok itu. "Kamu yakin kan kalau yang kamu tabrak itu bukan mahluk halus? Maksud aku hantu, ghost.. ya pokoknya itu deh." Dean sedikit bergidik memikirkan hal itu, diliriknya Zade yang masih celingak-celinguk menggelikan. "Bukan De, bukan..Sst," Zade mengangkat tangannya dan menutup mulut Dean yang kembali hendak melontarkan sebuah pertanyaan saat gerbang terbuka dan seorang gadis keluar dari sana. "Itu dia," ucap Zade, Dean mengikuti arah telunjuk cewek itu dan menemukan seorang gadis dengan sepeda putih-nya di depan gerbang. Gadis itu terlihat kesal dan marah. "Bukannya kamu bilang kalau yang kamu tabrak itu cowok?" Zade menghela nafas lelah. Ah, sebenarnya dia tidak bisa menyalahkan Dean karena tidak juga mengerti maksud cewek itu, namun karena cowok itu tidak bisa diam sedari tadi, Zade lelah juga. "Kamu ingat, waktu pertama kali kita ketemu? Aku nabrak kamu di lorong IPS 3?" Dean mengagguk, mendengarkan. "Ada beberapa hal yang kamu mungkin ga bakalan mengerti dan percaya De, aku aja yang mengalaminya secara pribadi masih sering kaget dan ga percaya dengan apa yang aku alami, apa yang aku lihat. Aku punya luka di sini," Zade menyibak rambutnya, tepat di bagian belakang kepalanya, ada bekas luka memanjang. "Dulu waktu orangtua angkatku dan aku mengalami kecelakaan, aku sempat masuk ruang operasi, para dokter bilang sebenarnya aku sudah meninggal, lalu keajaiban terjadi begitu saja, aku kembali hidup, mengagetkan semua orang di ruang operasi. Aku koma beberapa bulan, dan saat aku terbangun, saat itu malam hari," Zade melirik Dean yang masih fokus mengemudi, namun dia tetap mendengarkan Zade. "Kamu yakin mau tau ceritanya, aku ga mau nemenin kamu ke toilet lagi De, itu memalukan." Goda Zade. "Ish," Dean mengacak rambut Zade gemas. "Aku udah kebal sekarang," ucapnya nyengir lebar, Zade mendengus. Ya kali, Dean kebal. "Waktu itu malam hari," Zade melanjutkan. "Aku haus, awalnya aku kaget karena udah jam dua belas malam tapi masih ada suster yang jagain, aku minta tolong dia buat ngambilin minum, tapi dia ga nyahut. Aku masih ingat wajahnya, pucat, menakutkan. Saat itu aku yakin dia bukan manusia. Hal itu berlanjut lagi, sebulan menjalani perawatan di rumah sakit aku selalu menjumpai mahluk-mahluk aneh, awalnya aku selalu teriak ataupun nangis ketakutan, lalu lama-kelamaan aku sudah terbiasa, lagian semua orang mulai menganggapku gila. "Lalu, pertengahan Juni, sebulan setelah aku keluar dari rumah sakit, teman sekamarku di panti asuhan tanpa sengaja menyentuh tanganku, dia pendiam dan anti sosial, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, aku merasa sengatan yang begitu menyakitkan, berbagai bayangan aneh menakutkan muncul seperti visi di benakku, aku menjerit kencang, membuatnya ketakutan sehingga dia dipindahkan ke kamar lain, beberapa hari kemudian dia diadopsi oleh seseorang dan beberapa bulan setelahnya, kami mendapat kabar kalau dia sudah meninggal," Zade berhenti sebentar, memperhatikan ekspresi kekasihnya yang tampak menggemaskan, alisnya mengerut dan wajahnya pucat seperti ketakutan, namun dia bertahan. "Kamu tau? Apa yang aku lihat, sama dengan apa yang terjadi pada Shania, persis sama dengan apa yang orang-orang ceritakan. p**********n, p*********n dan ditelantarkan, aku sudah melihat itu semua jauh sebelum Shania mengalaminya. Dan saat ini, aku kembali terlibat dengan hal semacam itu. Pada orang yang sama sekali tidak aku kenal." Dean meraih tangan Zade dan mengenggamnya erat. "Are you okay with that?" Tanyanya prihatin. "I dont have any choice." Zade merasa bebannya sedikit terangkat, ini adalah kali pertamanya, setelah beberapa tahun dia percaya untuk membagi ceritanya dengan orang lain. Dan dia memilih Dean, kekasihnya, orang yang berhasil mengambil tempat di hatinya. "Eh-eh, dia mau kemana malam-malam gini," Dean menunjuk ke arah gadis yang tadi keluar dari gerbang tinggi itu. Zade menggeleng, "ga tau, ikutin aja." Ucapnya, Dean menurut. Gadis itu mengayuh sepedanya dengan cepat, menusuri jalan raya yang masih padat karena hari baru menunjukkan setengah delapan malam. Sepeda putih itu memelan dan lama-kelamaan berhenti di depan sebuah Club malam. Dean melirik Zade dan berdehem canggung. Lah ini kan, club tempatnya dan anak-anak drifting ngumpul kalau ga ada balapan. "Kenapa?" Zade menatap Dean curiga. "Ga, ga kok, ga kenapa-napa," ujar Dean poker face. Dean mengumpat halus saat Zade turun dari mobilnya dan mengikuti langkah gadis tadi. "Mampus gue, mapus gue, mudah-mudah si Raja bloon ga lagi di dalam!" Dean merapal doa. Dia kan belum bilang apapun tentang tabiat buruknya ini, kepada Zade. Dean memang tidak minum seperti temannya yang lain, tapi tetap saja, mana ada sih, anak baik-baik main di klub malam, pikirnya. Zade pasti akan berfikiran yang sama. "Kamu mau di sini terus?" Zade mengejutkan Dean yang masih berdoa dengan khusu', cowok itu nyengir tidak jelas dan mengeleng, dia menyusul Zade masuk kedalam klub itu. Bunyi musik yang menghentak memekakkan telinga, bau asap rokok dan alkohol menguar bersama udara. Dean merapatkan tubuhnya ke arah sang gadis dan menyelipkan jemarinya di sela jemari Zade, seolah takut kehilangan gadis itu. Zade mendongak, tangannya mengibas-ngibaskan asap rokok sementara kakinya tetap melangkah, mencari keberadaan gadis tadi dan dia menemukannya. Gadis itu berada di sudut ruangan, tengah cekcok dengan seseorang. Dia tampak marah dan kesal setengah mati. Zade mendekat, mencoba melihat siapa gerangan yang tengah cekcok dengan gadis tersebut. "Lo ga bisa ya, sehari aja ngerecokin hidup gue! Raka, lo nyebelin tau ga!" Jerit gadis itu, dia menarik tangan seorang cowok yang terlihat mabuk berat. "Gue ga pernah minta lo untuk peduli!" Cowok itu membalas, suaranya lemah dan pasrah. "Tapi Orangtua lo iya, mereka selaku mengancam buat mutusin bantuan gue kalau lo berulah dan gue ga ada disana, jadi please tolong jangan ngehancurin masa depan gue, gue udah cukup hancur karena lo!" Jerit gadis itu lagi, pipinya memerah dan matanya berkaca-kaca. Zade melirik Dean yang tampaknya mulai mengerti, ya, dia ingat Zade sempat menyebutkan kesalahpahaman kemaren saat gadis itu panik bukan main. "Vi! Violin!" Tiba-tiba gadis itu keluar dari sana, meninggalkan sang cowok yang tampak kesusahan menopang tubuhnya. Tepat saat cowok itu hampir terjatuh, Dean menopang tubuhnya dan membantunya untuk keluar semetara Zade mengejar gadis bernama Violin tadi. "Vi!" Zade memanggil, dia berlari mengejar Violin yang hendak mengayuh sepedanya.ngadis itu berbalik, pipinya basah oleh air mata, dia menatap Zade heran. "Lo siapa!?" Tanyanya sangsi, dihapusnya air matanya dengan cepat. "Aku Zade, kamu Violin kan?" Ucap Zade canggung, ah, dari seribu alasan baiknya untuk menolong orang berinteraksi adalah salah satu hambatan mengapa seribu alasan lain itu tidak lagi berguna baginya. "Apa kita kenal?" Tanya Violin suaranya serak karena berteriak-teriak. "Ga, kita belum pernah ketemu. Tapi aku kenal Raka, semacam kenal, tapi ga kenal dekat." "Berarti lo musuh gue,"desis Violin, dia sudah hendak berbalik saat Zade mengucapkan sesuatu yang membuat tubuhnya membeku. "Raka suka sama lo Vi." Ucapnya, Violin terdiam di tempatnya. "Dia sayang sama lo, alasan kenapa selama ini dia bertingkah menyebalkan adalah untuk membuat lo tetap tinggal di rumahnya, karena saat dia bersikap baik, orangtuanya akan mengirim lo kembali ke panti. Dia hanya ingin lo tetap di sisinya?" "Dengan menghancurkan hidup gue? Lo ga tau apa aja yang udah dia lakuin sama gue! Dia b******n kurang ajar!" Violin menghempaskan sepedanya dan menatap Zade marah. "Dia mengambil apa yang bukan miliknya, dia b******n, sama ama keluarganya, mereka semua b******n!" "Raka bakalan mati Vi." Ucap Zade lagi, tidak banyak yang ia ketahui, jadi cara satu-satunya adalah memberi tahu gadis itu apa yang seharusnya ia ketahui. "Dia sakit, kanker atau sesuatu seperti itu, hidupnya ga bakalan lama lagi. Lo ga ngerasa akhir-akhir ini dia semakin lemah? Dia tetap ke sini karena dia pikir, apapun yang dia lakukan tidak akan memperpanjang hidupnya lagi. Gue cuman mau bantuin dia buat bilang betapa bodohnya lo karena udah menyia-nyiakan cowok sebaik dia selama ini. Gue ga tau apa yang terjadi antara kalian, tapi apa yang dia lakuin sama lo, adalah untuk kebaikan elo, semuanya untuk kebaikan elo!" "Kenapa lo harus repot-repot nolongin dia, kalau kenyataannya lo bukan siapa-siapanya dia?" Violin berucap sakartis. ‘Karena, gue ga bisa diam menyimpan apa yang gue seharusnya tidak ketahui seorang diri.’ "Za!" Teriakan Dean terdengar dari arah belakang mereka. Zade memejamkan matanya, lalu setitik air mata jatuh di pipinya. Terlambat, lagi. "Raka bakalan meninggal." Desisnya, "setidaknya berpura-pura lah untuk memaafkan dia, walaupun lo ga sudi." Lalu dia melihat Violin merosot, lututnya mencacah tanah, wajah gadis itu kaget bukan main. "Kita harus ke rumah sakit," ucap Dean ngos-ngosan. "Cowok tadi--" "Vi?" Zade memanggil, membuat gadis itu mendongak. "Kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kalinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN