[ A U T H O R ]
And I'd give up forever to touch you.
'Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever be.
And, I dont wanna go home right know.- Iris, The Goo Goo Dolls.
Suasana di ruang persegi panjang itu begitu aneh, suara sirine berdengung memekakkan telinga, kepanikan, kekalutan dan erangan sakit bersahut-sahutan memenuhi atmosfer. Zade kembali melirk gadis yang duduk tak jauh darinya, dia sama sekali tak berniat mendekat ataupun mencoba untuk menenangkan cowok yang sedari tadi mengerang, menyebutkan bagian tubuhnya yang terasa panas dan terbakar. Rengekan pilunya sama sekali tidak membuat gadis itu tergugah.
"Ah, ya tuhan," Raka kembali mencoba untuk duduk, namun seorang staff yang berada di ambulan itu mencegahnya, memegang kedua tangannya dan kembali memeriksa tekanan darahnya.
Zade dilain sisi hanya bisa memegang lengan cowok itu, sesekali mencoba menghapus keringatnya yang bercucuran. Nasib baik, Dean berada di mobil yang berbeda, jadi dia tidak perlu berurusan dengan tuan pencumburu tingkat dewa itu.
"Gue harus pulang," Raka berujar lemah, kembali berusaha duduk. "Vi.. V-vi," ricauannya menguggah air mata gadis itu.
"Kita harus ke rumah sakit, lo infeksi," ucap Zade serak. "Vi disini kok,"
Zade melirik gadis itu, wajahnya pucat dan matanya memerah, dia menatap kearah tubuh lemah Raka dengan ekspresi yang tidak dapat dijabarkan.
Violin mendekat beberapa centi, membiarkan Raka tau kalau dia juga berada disisinya saat ini. Saat melihat sosok gadis itu Raka berhenti meronta, wajahnya masih meringis menahan nyeri namun dia tidak lagi mencoba meronta untuk duduk. Perlahan-lahan, nafasnya teratur dan kerutan di dahinya mulai menghilang, matanya mulai terlihat sayu. Zade yakin dia melihat setitik air mata jatuh dari pelopak mata cowok tampan itu, sebelum kedua matanya menutup dengan sempurna.
"Za!"
Zade menoleh dan dia melihat Dean berlari ke arahnya. d**a cewek itu dipenuhi oleh kelegaan, dia berdiri dan tanpa sadar menghadang Dean dengan sebuah pelukan, bersamaan dengan kedua lengan cowok itu membungkus tubuh mungilnya kedekapan.
"Aku pikir kamu kenapa-napa," Zade bergumam lirih.
"Tadi ban mobil bocor, aku harus nyari bengkel dulu baru bisa kesini, maaf ga ngasih kabar." ucapnya menelusupkan hidungnya di helai rambut Zade, mencoba menghirup aroma kekasihnya.
Sadar sudah menjadi pusat perhatian semua orang di lorong rumah sakit itu, Zade melepas pelukannya lalu melirik Dean yang nyengir lebar-dengan malu.
"Ada yang kurang," bisik Dean mendekatkan tubuhnya kearah Zade.
Zade menoleh dengan pipi memerah.
"Apa?"
"Nih!" Dean mengetukkan jarinya di pipi sambil nyengir lebar.
Zade memutar bola matanya dan melempar pandangan ke arah Violin yang ternyata juga tengah menatapnya dari kursi tunggu. Zade melempar senyum kecil dan dibalas oleh cewek itu.
"Gimana keadaan Raka? Aku udah telfon orangtuanya, tadi nemu Hp-nya di club, mereka dalam perjalanan kesini." Ucap Dean, dia mendudukkan dirinya disamping Zade dan meraih tangan gadis itu untuk dimainkan.
"Dia masih ditangani sama dokter, infeksi dan komplikasi penyakit, dia udah parah banget," ucap Zade membiarkan Dean mempermainkan tangannya, cowok itu merenggangkan jari-jarinya dan senyum-senyum tidak jelas.
"Tangan kamu kecil banget sih," Dean meletakkan tangan Zade ditelapak tangannya lalu terkekeh kecil.
"Perasaan, anak SD aja tangannya ga sekecil ini deh!"godanya lagi.
Zade mendelik,"Tangan kamu aja tuh yang kegedaan, perasaan, gorila aja tangannya ga segede kamu deh!" Balas Zade.
Dean terpana, dia baru saja hendak membalas ucapan gadis itu dengan sebuah gelitikan saat ponselnya berbunyi dan tulisan 'Bundaku-Unyu, Memanggil..' tertera disana.
"Hallo, Assalamualaikum Bund.."
"DEAN AGIF DELMIAS, DIMANA KAMU? JAM SEGINI BELUM PULANG!!? BALAPAN LAGI HEH? KAMU BENER-BENER MAU BUNDA POTONG YA TITITNYA, BIAR GA BERULAH LAGI!"
Dean memucat, tangannya dengan cepat mencari tombol unspeaker, saat suara bundanya menggelegar memenuhi lorong rumah sakit itu. Dengan kikuk dilirknya Zade yang berusaha membekap multunya agar tidak tertawa, lalu ke arah Violin yang sudah tertawa kecil.
Bundaaaa, ringis Dean dalam hati, dia bangkit dari tempatnya dan mengungsi mencari tempat yang lebih aman untuk menghadapi kemarahan Bunda.
"Bun, jangan teriak-teriak dong, aku lagi sama cewek cakep nih." Rengek Dean.
Diseberang sana Nabila mendengus. "Cewek cakep aja yang ada di pikiran kamu, si Zade kemana lagi dan OH YA! Kamu di mana!"
"Ya aku lagi sama Zade Bun, di rumah sakit-"
"Dirumah sakit? Kamu kenapa? Siapa yang sakit, Rumah sakit mana? Kamu kecelakaan? Balapan lagi heh? Di-"
"Bundaku sayang, gimana Dean bisa jawab pertanyaan bunda kalau bunda pake speedy gitu nanyannya," Dean terkekeh. "Aku ga papa kok, ada temen yang masuk rumah sakit, bentar lagi aku pulang, serius, suwer. Kaga balapan kok Buun." Dean membentuk jari telunjuk dan jari tengahnya membentu V, padahal tau bundanya tidak akan bisa melihat.
"Bener ya, kalau sampai sebelum jam 10 kamu belum nyampe di rumah bunda bakalan potong--"
"Sshh Bun," Dean memotong, "itu mulu ngancemnya," erangnya.
Nabila tertawa. "Abisnya kamu bandel sih.."
"Yeee.. kayak Bunda dulu engga aja."
"Ya seenggaknya bunda lebih pintar dari kamu," Kekeh Nabila.
"Eh-eh bun," ujar Dean, "tadi aku liat ada martabak jagung, Bunda mau di beliin?" Dean mencoba mengalihkan perhatian Ibundanya.
Hening sejenak.
"Hmm, ya udah kalau kamu maksa. Ekstra keju ya De, terus jagungnya juga."
Berhasil, Dean hampir saja menjerit gembira.
"Ya udah, aku tutup dulu ya Bundaaa."
"Iya hati-hati ya say-eh, eh De.. Bunda belum selesai ngomong, Dean.. tut tut tut."
Dean melirik ponselnya lalu meringis kecil. Ah, bunda, maaf eh... ringisnya. Dean berjalan santai, kembali ketempat Zade berada dan sesampainya disana dia menemukan dua orang paruh baya sudah bergabung dengan mereka. Langkah Dean berubah menjadi lari kecil saat seorang wanita paruh baya tadi mendekat ke arah Violin dan melayangkan sebuah tamparan di wajah gadis itu, membuat Zade yang berada di dekat mereka terkesiap dan menutup mulutnya kaget.
"Bu--saya," Violin berusara namun wanita itu kembali menampar pipinya.
Dean baru saja hendak menjauhkan tubuh wanita itu saat dia mulai menangis tersedu-sedu, kedua tangannya mencengkram bahu Violin erat.
"Raka..." lirihnya pilu, seorang pria yang Dean ketahui adalah suami dari wanita ini, hanya menatap pintu ruangan tempat Raka berada dengan sendu dan mata yang bekaca-kaca.
"Kenapa kamu tidak menjaganya!?" Wanita tadi berteriak, air matanya membasahi wajah.
"Kamu benar-benar gadis tidak tau diri, egois dan jahat! Gara-gara kamu Raka seperti ini! Semua ini gara-gara kamu!" Dia mengguncang bahu Violin kuat.
"Aku sudah berniat mengirimmu keluar negeri kalau saja Raka tidak bersikeras mempertahankan mu, dia menyembunyikan penyakitnya dan berpura-pura sehat di depanmu, tidak mau kemoterapi karena dia tidak ingin kamu tau keadaanya, Raka putraku adalah anak yang baik, dia pantas hidup dengan baik dan mendapatkan yang terbaik dan aku tidak mengerti apa yang dilihatnya dari gadis picik seperti kamu, yang kamu pikirkan hanya diri kamu sendiri.. A-aku-" Wanita itu meluruh, lutunya mencacah lantai.
"Kenapa kamu tidak pernah melihat ketulusan Raka? Apa yang salah dari putraku? Aku mempertahankan kamu karena Raka berjanji akan bertahan, aku tidak peduli, walaupun nyatanya dia bertahan untuk kamu, karena kamu. Aku hanya ingin dia sehat!"
Violin terpaku, air mata mengalir membasahi pipinya. Raka.
"Aku hanya ingin putraku sembuh, aku hanya ingin dia bahagia."
Dean melirik ke arah Zade, cewek itu tampak terguncang. Air mata menganak sungai di pipinya. Lalu gadis itu seperti tersentak, dan dia melirik ke arah ruangan Raka, air matanya semakin deras bercucuran.
***
Wajah pucat itu menatapnya lekat, mulai dari saat ia melangkahkan kakinya kedalam ruangan itu, mereka bilang, inilah saatnya, tidak banyak waktu yang tersisa. Memikirkan hal itu, air mata kembali hendak jatuh, namun dia menghapus dengan cepat, tidak ingin, lelaki itu tau kesedihannya, penyesalannya. Berbagai selang-selang tampak terpasang dirubuh kurusnya, bibirnya membiru dan wajahnya sepucat kapas, namun mata itu, mata indah yang selalu memancar kehangatan itu menatapnya dengan cinta yang tidak pernah pudar. Violin tercekat, dia tidak biaa melakukan ini. Dia terlalu jahat dan tidak pantas bertemu dengan malaikat seperti Raka, dengan itu, gadis itu berbalik berniat untuk keluar dari sana, namun suara lirih Raka yang memintanya untuk tinggal meruntuhkan dinding Violin.
Dengan senyum dipaksakan dia berbalik dan mengambil tempat di sebelah ranjang cowok tampan itu. Berdiri disana.
"H-hei." Raka mencoba tersenyum, namun yang Vi temui hanya ringisan menahan sakit.
"H-hei." Suara Vi bergetar.
"P-pertama kali kita kenal juga kaya gini," Nafas berat Raka terdengar terputus-putus. Vi terdiam, air mata kembali menutupi pandangannya.
Lelaki ini, cowo baik hati yang dia sia-siakan keberadaannya. Orang yang selalu dia salahkan atas apa yang terjadi dalam hidupnya, adalah malaikat, seorang malaikat tak bersayap, yang sedang tuhan coba renggut darinya.
"Raka, gue-"
"Sst, kali ini, biar gue yang ngomong dulu, okay?"
"G-ue s-suka lo, Vi. Ah, ngga.. G-gue Cinta sama lo."
Terdengar helaan nafas panjang dari Violin.
"Gue tau, gue memang b******n kurang ajar. Gue maksa elo menyerahkan—gue udah perkosa elo, tapi lo harus tau, itu karena Abri ngancam gue, kalau dia bakalan nyentuh lo kalau gue ga ngelakuinnya," Raka mengerang, merasakan panas di tenggerokannya.
Wajah pucatnya bersimbah air mata, dia meringis nyeri melihar Vi yang sudah menangis terseduh-sedu, ingin rasanya dia menarik gadis itu kepelukan, namun tubuh lemahnya tak bisa bergerak.
Tubuh k*****t, bergeraklah, s****n! Raka putus asa.
"Please, jangan nangis, ini semua salah gue," Raka mencoba menggerakkan tangannya.
Violin menggeleng, "ini semua salah gue. Raka, gue, gue b******k, gue ga tau terimakasih, gue mohon maafin gue." Violin memegang kedua tangan cowok itu dan menangis tersedu-sedu.
Raka terdiam, air matanya kembali mengalir di pipi. Dia membiarkan Violin mendekap tangannya erat dan membisikkan kata-kata penyesalan di telinga cowok itu, sementara di dalam sana, penyakitnya meronta, menggerogoti seluruh organnya.
Raka merasaka rasa haus yang teramat-sangat, namun ia tak ingin Violin beranjak di sana, gadis itu masih mendekap tengahnya, menyandar di dadanya dengan erat. Untuk pertama kalinya. Merasa Raka yang gelisah dan nafas cowok itu putus-putus, Vi mendongak, dan menemukan wajah Raka yang pucat-pasi menatapnya dengan aneh.
"Kenapa?" Vi dengan gagok mengelus rambut cowok itu, membuatnya memejamkan mata.
"H-haus." Raka berujar lemah, dadanya seperti menggelegak dan ingin meledak didalam sana.
Vi tersenyum dan beranjak, ingin mengambilkan Raka minum, namun cowok itu menahan.
"J-jangan pergi,"
"Gue cuman sebentar kok," Vi menenangkan, dia melepaskan genggaman Raka lalu berjalan kearah pintu.
Tangan Vi baru menyentuh gagang besi itu saat suara tiiit nyaring terdengar memecah kesunyian, lalu segerombolan orang berpakaian putih mendobrak masuk, terlihat panik berlari kearah Raka.
Vi hanya bisa terpaku. Berdiri ditempatnya.
And, I could taste is this moment.
And all I could breath is your life.
And sooner or later it's over.
I just dont wanna miss you tonight.
***
"Harusnya kita nunggu sampai Vi keluar dari sana, baru pergi, bukan kabur kayak begini." Gerutu Zade.
"Ga bisa, udah lapar, level expert."jawab Dean cepat, menyumpalkan sepotong ketupat ke mulutnya.
"Heh!" Dengus Zade, dia menatap mahluk didepannya dengan heran.
Dean menyuliknya, membawanya kabur dari rumah sakit, merengek tentang perutnya yang kelaparan dan butuh diisi. Sekarang, disinilah mereka di warung sate pinggir jalan.
"Kamu nyadar ga sih, dari tadi, cowok di sebelah sana ngeliatin kamu terus? Minta di gampar emang," Dean berucap sarkastik saat mereka berdiri hendak membayar.
Dean sudah kenyang karena satu piring sate dan juga menghabiskan milik Zade.
"Perasaan kamu aja, mana mungkin!" Zade terkekeh kecil, sebelah tangannya dimasukkan ke saku jaket Dean saat angin berhembus membuatnya menggigil. Dean membawa tubuh gadis itu mendekat dan menggiringnya berjalan ke arah mobil, mereka akan kembali ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Raka, sebelum pamit untuk benar-benar pulang. Namun, beberapa langkah sebelum mencapai mobil, seorang cowok tinggi bermata sipit muncul di depan mereka. Cowok itu menatap Zade dengan tatapan penuh kerinduan. Rambut hitamnya bergerak di sapu angin, dia terlihat menarik dalam jaket hitamnya.
"Zade?" Dia terdengar ragu-ragu namun tetap berjalan mendekat ke arah mereka.
"Zade Almiqdam?" Ucapnya lagi.
Zade diam sebentar, "A-asra!"
Lalu apa yang terjadi selanjutnya membuat Dean merasa seseorang sedang menembakinya dengan pistol gundam, tepat didada. Ugh.
Simpelnya, dia melihat Zade berlari ke arah cowok itu dan mereka berpelukan erat.
***
[A brief story from Raka]
Dia angel, senyumnya indah seperti sinar mentari di pagi hari, membawa kehangatan kejiwa gue yang kelam. Pertama kali bertemu dengannya adalah sebuah titik awal dimana gue tahu hidup gue ga akan sama lagi setelah ini. God, kalian harus lihat gimana dia senyum malu-malu saat gue ngajak dia kenalan. Wajah mulusnya merona imut. Selama 19 tahun hidup gue, itu adalah hari penuh berkah buat gue, apalagi gue tau, mulai detik itu dia kan tinggal di rumah gue, menjadi asisten pribadi nyokap. Namun, semua itu berubah saat dia tau siapa gue sebenarnya. Gue, monster, begitu yang dia pikir. Kecanduan gue terhadap obat-obatan dan minuman keras membuat dia takut sama gue. Teman-teman gue selalu mencoba menggodanya saat kita ngumpul di rumah gue, semenjak itu gue ga pernah bawa siapapun lagi ke rumah, karena gue ga mau dia merasa ga nyaman.
Gue nyoba berhenti, semenjak itu gue nyoba berhenti buat dia, gue ga make lagi, gue ga ngerokok lagi dan gue ga minum lagi. Gue berubah demi dia, dan dia kembali melunak ke gue, gue senang bukan main, cinta gue tidak mencoba untuk menghindari gue lagi.
Hari gue berasa di surga hanya karena tau dia satu atap dengan gue. Lalu, hari itu, akhir September, hari dimana Tuhan kembali menjatuhkan hukuman kepada gue. Kanker s****n itu mulai menggerogoti tubuh gue. Gue kalut. Hal yang gue ketahui saat itu adalah, gue minum lagi, gue ngerokok, dan gue make lagi. Dan dia menjauh lagi. Kali ini lebih parah. Dia dekat dengan cowok b******n itu. Dia terlalu polos. Abri s****n itu ga pantas buat dia. Cowok b******n itu hanya mau tubuhnya. Dia terlalu polos menyangka cowok itu baik-baik.
Gue berakhir dengan menyakiti dia lagi, tapi gue ga punya pilihan lain. Gue ga mau Abri s****n itu nyentuh dia.
Gue menyakitinya dengan tetap berada disampingnya.
Sakit gue makin parah. Ga ada yang bisa gue lakuin dengan itu. Pil-pil s****n ini sama sekali tidak membantu gue. Dan gue ga mau di kemo, itu hanya akan memperburuk keadaan gue. Gue ga mau dia tau, kalau gue ini adalah cowok lemah dan penyakitan.
Lalu siapa yang menyangka kalau saat ini akan datang, saat dia berada di dekapan gue, di sisi gue, ini adalah saat-saat terbaik disisa hidup gue yang menyedihkan. Merasakan tangannya di d**a gue yang bergerak lemah. Mendengar bibirnya menyebut nama gue. Gue pikir tuhan memberi kesempatan lagi buat gue. Namun gue tampaknya salah, gue tidak bisa lagi menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi, tapi gue udah ga bisa melihat, penglihatan gue kabur dan tenggorokan gue panas, gue haus, otak gue mendidih dan menyakitkan.
Gue merasa Violin bangkit, ya Tuhan ... gue ga bisa ngelihat wajahnya, kenapa gelap?
"Gue cuman sebentar kok," suaranya terdengar samar di telinga gue.
Lalu gue merasa ada sesuatu yang ingin ditarik dari d**a, rasanya sangat berat. Tarikan itu semakin kuat, hingga akhirnya gue merasa semua itu terlepas, semuanya terasa enteng. Gue merasa ada sesuatu yang lepas, dan saat itu gue melihat nyawa gue melayang di atas raga.
Dan lagi, gue menyakitinya lagi. Kali ini, dengan pergi meninggalkannya.