Sepuluh | Dimabuk Cinta, Oh Terasa Indahnya, gluk gluk gluk.

2766 Kata
[A U T H O R ] Dean kembali menyeruput teh manis di depannya dengan wajah ditekuk, merasa kesal karena tidak mendapatkan sensasi manis itu di lidahnya, dia melirik gela—yang menjadi pelampiasan kemarahannya semenjak beberapa menit yang lalu—itu dengan heran. s****n, umpatnya mengetahui kalau isi gelas itu sudah tandas, hanya tinggal beberapa potong es batu yang juga mulai mencair. "Kamu mau minum punya aku?" Tanya Zade mengetahui Dean memaki-maki gelas di depannya.  "Ga usah!" Ujar cowok itu ketus. Zade meliriknya dengan alis terangkat sebelah, lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepada cowok lain yang baru saja mengakhiri pembicaraanya di telepon. "Loh, katanya ga mau.." Zade tersenyum geli dan mencolek dagu Dean saat cowok itu menyambar teh manis miliknya dan menyeruputnya hingga habis setengah. Dean hanya berdehem kalem, tidak mau tergoda oleh senyum pacarnya yang tidak peka ini. "So, lo baru pindah ke sini, Asro?" Tanya Dean sambil bersidekap menatap cowok bermata sipit di depannya. "Asra," cowok itu memperbaiki dengan senyum manis, yang di balas oleh Dean dengan dengusan'whatever' dan memutar bola matanya malas. "Iya, beberapa hari yang lalu, orangtua angkatku pindah tugas ke sini," sambungnya. "Oh ya?" Zade terlihat tertarik, "Dimana?" "Di Bermuda Enterprise," jawab cowok itu lalu menyeruput minumannya. "Loh, bukannya itu perusahaan ayah kamu ya, De?" Zade melirik Dean yang masih saja cemberut bete. "Hmm," jawab Dean, "Perusahaan Eyang, jadi orang tua lo kerja disana ya?" Ucapnya sambil tersenyum setan. Berani macam-maca sama cewek gue, abis lo Asrul! Pikir Dean senang. Berbagai rencana jahat sudah tersusun di otak liciknya. Asra hanya mengangguk singkat, lalu kembali menatap Zade dengan tatapan itu lagi, yang membuat Dean kesal setengah mati, ingin rasanya melempar baskom ke wajah cowok itu. "Aku benar-benar senang bisa ketemu kamu lagi, Za.” dia mengacak rambut Zade sayang. "Kita bakalan ketemu lagi, kan?" Tanyanya. Zade tersenyum manis, "Tentu, Kak Asra udah simpan nomorku, kan?" "Hhm, nanti kakak hubungi kamu ya, kakak duluan, ada beberapa hal yang harus diurus," cowok itu bangkit dari duduknya, mengambil helmnya lalu berjalan ke arah Zade, kembali memeluknya dengan erat. "Aku senang kamu baik-baik aja," bisiknya di telinga gadis itu sebelum melepaskan pelukannya dan berlaih ke arah Dean. "Jagain Zade, kamu belum tau berurusan dengan siapa, kalo sampai--" "Bro, she's my life, gue ga mungkin nyakitin hidup gue sendiri," potong Dean malas, di tatapnya Asra tepat dimata. "Hari dimana gue nyakitin dia adalah hari dimana gue nggali kubur gue sendiri," ucapnya serius membuat Zade memukul bahunya pelan. "Jangan ngaco," desis gadis itu, pipinya merona malu. "Beb, aku serius.." Dean berlaih ke arah Zade, memasang tampang serius ala dia, yang membuat Zade ingin tertawa terbahak-bahak. Asra tertawa kecil, lalu menggeleng pelan, cowok di depannya ini sedari tadi menembakkan panah membunuh dari matanya, menggelikan melihat bagaimana dia sama sekali tidak menyembunyikan rasa cemburunya pada Asra. Dengan senyum kecil Asra kembal           i mengacak rambut Zade dan benar-benar beranjak dari sana Selepas kepergian Asra, Dean pun bangkit dari duduknya, berjalan ke arah mobilnya dengan wajah ditekuk, tidak repot-repot membawa Zade bersamanya, membuat gadis itu mengernyit heran. Tidak biasanya. Dean kan selalu mengenggam tangannya ataupun merangkul bahunya saat mereka berjalan berdua. "Kok cemberut terus sih?" Zade menyenggol lengan Dean saat mereka berada di mobil, dia tidak mengerti suasana hati kekasihnya saat ini. "Auk ah gelap." Dean membalas sambil mendengus kecil. Zade meliriknya dengan sebelah alis terangkat, lalu mengendik acuh, tidak memperdulikan cowok-ngambek itu lagi. Merasa Zade mengacuhkannya, Dean pun makin kesal. "Jadi dia boleh meluk dan ngacak rambut kamu, dan aku engga?" Dean berujar ketus, pandangannya tetap fokus kejalanan, bibirnya monyong-monyong menggemaskan. "Eh?" Zade menoleh tidak mengerti. "Si Asril itu, jadi dia boleh meluk kamu, sedangkan aku engga? Gitu?" Dean cemberut. Zade ternganga, akhirnya mengerti, ah Deaaan kamu ngegemesin juga kalo kayak begini. "Namanya Asra, De," Zade terkekeh kecil. "Kamu cemburu sama dia?" Tanyanya tak percaya. "Yaiyalah, menurut looo," Dean menaikkan hidungnya dengan jari telunjuk, membuat Zade kembali tertawa kecil. "Ya ampun Dean, Kak Asra cuman kakak buat aku, kami tumbuh sama-sama di panti yang sama, ga mungkin lah aku sama dia! dia itu udah kayak saudara buat aku, temen aku " Ucap Zade geli. "Lah, emangnya kita ini dulu apaan? Ibu dan anak? Kita juga temenan kali Za," ucap cowok itu lagi, hidungnya kembang-kempis menahan amarah. Zade menatap Dean seolah-olah cowok itu tumbuh tanduk. "Jadi kamu marah cuman gara-gara aku kesenangan ketemu sama seseorang yang udah aku anggap keluarga dan udah ga ketemu hampir dari lima tahun lebih? Kamu cemburu hanya gara-gara itu? Gimana sih De, kalau untuk hal seperti ini aja kamu udah cemburu gimana nantinya? Kamu ga percaya sama aku?" Zade berujar sarkastik, dia menatap cowok disampingnya sebal, kesal juga melihat Dean yang tidak jelas seperti ini. Mengetahui Zade yang balik marah ke arahnya, Dean pun panik. Ah, kenapa malah dia yang marah sih? Apes banget sih gue jadi laki! "Woah, Beb," Dean berseru, agak kaget, ditepikan mobilnya dan menoleh ke arah Zade. Cewek itu bersidekap kesal. "Aku ga mau berantem, okay?" Dean merangkum tangan cewek itu dan menghantarkan ciuman di punggung tangannya. "Abisnya kamu-" Zade sudah ingin merepet, namun Dean menyanggah. "Loh kan ga salah kalo aku cemburu, kamu kan cewe aku Za, wajar dong aku cemburu." potong Dean, di remasnya tangan Zade pelan. "Maaf ya, kalau aku lebay, I'm not used to this feeling, I dont wanna fight,"ucapnya kembali menghantarkan ciuman seringan bulu di tangan Zade. Zade terdiam, lalu menatap Dean dimata. Dia mendesah pelan. "Aku juga, maaf ya," ucapnya lalu tersenyum simpul, di tepuknya rambut Dean pelan lalu tertawa kecil. "Aku berasa jadi doggy," Dean menggerutu, namun senyum tersalip di bibirnya, Zade tertawa lagi. "Besok, pergi jalan yuk?" Ucap Dean tiba-tiba, dia menoleh dan menemukan Zade yang sedang memperhatikannya, Dean tersenyum senang. "Kamu ngajak kencan?" Tanya Zade tersenyum tipis. "Yaa gitu deh, mau gak?" Dean mendesak. Zade berpikir sebentar. "Kemana?" Tanyanya lagi. "Ada deh," Dean menaik-turunkan alisnya jahil. "Kamu pasti suka kok!" Sambung Dean sumringah. "Hmm kayaknya engga bisa deh," Zade terlihat menyesal. Wajah Dean pun berubah masam, dia mencoba tersenyum namun gagal, "hhmm ya udah ga pa-" "Ga bisa nolak maksudnyaaa!" Sambung Zade kemudian yang membuat Dean bungkam dan melirik gadis jahil itu dengan senyum lebar. "Dasar!" Ucapnya masih dengan senyum bahagianya. *** "Bob, Bobi!" Dean kembali mengambil kerikil kecil di kakinya, lalu menoleh kesekitar sebelum melempar kerikil itu kejendela kamar Bobi di lantai dua, namun tepat saat kerikil itu mencapai tujuan, jendela terbuka dan wajah ngantuk bin bete Bobi muncul disana, alhasil batu kerikil itu mendarat di jidat jenong Bobi. "Akh," Bobi meringis mengusap jidatnya yang nyeri. "Ketampanan gue," rengeknya seperti kambing. Dean, disaat dimana seharusnya dia merasa bersalah dan meminta maaf, cowok itu malah tertawa ngakak. Kedua tangannya bertumpu pada lutut sementara dia membungkuk, menahan tawa yang meledak-ledak ingin keluar. "Oi, setan lo ye!" Umpat Bobi, "kurang kerjaan banget si anak k*****t!" Sambungnya lagi yang membuat tawa Dean semakin menjadi-jadi. Merasa kesal karena ditertawakan, Bobi pun ngambek, dia sudah hendak menutup jendelanya kembali saat Dean berteriak mengucapkan kata maaf dengan manisnya. "Bob, ya elaaaah ngambek nih.. sorry maan, gue ga sengaja, saweraaan gue, saweeeer.." ucap Dean sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya dikepala. Bobi cemberut, "sakit nih jidat guee.." rengeknya. Dean membuka kedua lengannya lebar dan memonyongkan bibirnya membujuk. "Sshhh, manisku.. sini Babang kecup jidat jenongnya." "Anjrit Manusia Homo!" Bobi bergidik ngeri, mengusap tengkuknya. Dean hanya cengar-cengir, menaik-turunkan alisnya menggoda, membuat Bobi semakin jijik. "Dean berhenti deh, sebelum gue muntah!" Pinta Bobi, Dean pun kembali tertawa. "Ngapain sih, lo malam-malam begini?" Bobi berbalik, melirik sesuatu dibelakangnya lalu berseru lantang. "Naujubilaaah, ini jam setengah 12 Demonyeeeeet, kurang kerjaan ya lo!" "Ssshh," Dean meletakkan jari telunjuknya di bibir, "jangan keras-keras, suara lo bisa ngebangunin orang sekampung Kembes... Bukain pintu sih, gue mau masuk.." sambungnya. Bobi menggeleng imut. "Ga muat Dean, lo kebesaran!" Ucap Bobi dengan nada aneh dan menggeliatk-geliatkan badannya. "s****n Bob, otak lo bener-bener yeee..." Dean menggeleng kecil, tak habis pikir dengan mahluk satu itu. "Kenapa ga kerumah aja sih? Noh, rumah lo keliatan dari sini!" Ucap Bobi setelah memulihkan dirinya dari tawa. Dia menunjuk rumah Dean yang tepat disebelah rumahnya, hanya dipisahkan oleh halaman kecil milik keluarga Dean. "Bunda ga bukain pintu, di bukain sih, tapi masa buat ngambil martabak doang, lah guenya ga boleh masuk, trus barbie tidur dimana dooong?" Adu Dean, bibirnya monyong lima senti. "Sukuriinn, emang enaaak, Hahaha!" Bobi tertawa senang, tanpa mempedulikan wajah menyedihkan Dean, dia menutup jendelanya, sekaligus tirainya, meninggalkan Dean yang berdiri di tengah-tengah halaman belakang rumahnya, mengenaskan. Dean terhenyak, tidak percaya dengan apa yang baru saja orang yang dia anggap sahabat lakukan. Dengan gontai, dia berbalik dari sana, sebelah tangannya menenteng kantong plastik hitam berisi martabak coklat kesukaannya. Tadi Bunda tidak memperbolehkannya masuk, padahal Dean sudah membawakan barang sogokannya. Dan masa, setelah mengambil martabak jagungnya dan memastikan mobil Dean masuk garasi, Ibu cantik itu menutup pintu, membiarkan putra semata wayangnya merengek pilu di depan gerbang. Baru saja sampai di gerbang putih rumah Bobi, sebuah suara menghentikan langkah Dean. Dia berbalik dan menemukan sesosok mahluk tak jauh dari tempatnya berada, berdiri, menatapnya dan melambai ke arahanya. "Buruan, lewat sini, bokap gue lagi dirumah, ga bisa bukain pintu depan!" Ucap sosok yang ternyata adalah Bobi. Senyum lebar Dean pun terbit, dia berlari jingkrak-jingkrak ke arah Bobi yang sudah panik, memintanya untuk cepat dan diam. "Sayaaang Bobiii," ujar Dean sesampainya dia di pintu kecil itu. Pintu disela rumah dan pohon besar yang langsung kekamar Bobi, pintu rahasia yang nyatanya tidak mereka saja yang mengetahui. Bobi hanya mendengus, terlebih dahulu menyambar kantong ditangan Dean lalu kembali menutup pintu, hampir saja membuat Dean mewek kembali, namun tidak jadi karena pintu kembali terbuka. Sesampainya dikamar Bobi, Dean langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, membuat Bobi marah-marah karena cowok itu sama sekali tidak membuka sepatunya. "Abis dari mana sih?"tanya Bobi. "Ga mungkin balapan kan? Soalnya lo ga ngajak gue!" Gumamnya kemudian. Dean tersenyum simpul, membuat gerakan dengan telunjuknya, dia menembak Bobi di d**a. "Mana mau gue ninggalin lo, hehehe, gue abis sama Zade," ucapnya saat Bobi menatapnya seolah dia adalah orang i***t. Bobi melemparkan piyama yang baru saja diambilnya kearah Dean lalu kembali merebahkan diri diranjang. "Ciyeee, yang dimabuk cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain numpang lewat," goda Bobi membuat Dean terkekeh. "God, baru kali ini rasanya gue jatuh cinta sama cewe segini dalamnya," gumam Dean, dia menatap langit-langit kamar Bobi dengan senyum terkulum. "Bagus deh, jadi gue ga bakalan ngehadepin cewek ngamuk patah hati gara-gara lo lagi!" "Kayak lo engga aja!" Semprot Dean, lalu mereka tertawa. Bobi adalah sahabat sejiwanya. Cowok itu adalah satu-satunya teman yang tak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang Dean dan akan tetap berada disisinya, dia punya persepsi sendiri tentang sahabatnya. Tidak pernah terpengaruh oleh orang luar, yang membuat Dean sangat menghormati dan menyayangi Bobi. Terlepas dari sifat mereka yang senang mengejek satu sama lain, Dean dan Bobi adalah sepasang sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Bobi memang tidak setampan ataupun sekeren Dean, namun cowok itu punya that attractive side yang tidak bisa dihiraukan. Dean sering mengejeknya buntal, karena dulu cowok itu memang buntal dan menggemaskan, setidaknya sekarang dia tidak sebuntal itu lagi. Hanya tampang konyolnya yang sering membuat orang menjadikannya bahan candaan. Semua orang senang dengan Bobi, itu yang Dean tau. "Gnight poweranger pink," ucap Dean pelan sebelum matanya menutup. Bobi tersenyum kecil lalu membalas. "Gnight, powerangers merah," Dan semuanya terasa benar. Dua i***t yang tidur di satu single bed yang sama, berdesak-desakan dan tersenyum bahagia. *** [D E A N] Dia melirik gue dengan sebal, matanya masih setengah menutup dan dia tampak menggemaskan dalam sweater abu-abu yang dipakainya. Beberapa kali dia masih menguap lebar, membuktikan kalau dia benar-benar sangat mengantuk saat ini. Hari sudah menunjukkan pukul setengah tujuh saat gue sampai dirumahnya, mengejutkan Tantenya dan membuatnya sebal bukan main karena gue menganggu tidur nyenyaknya. "Kamu ga bilang kita berangkat sepagi ini!" gumamnya dengan mata setengah terbuka, dia menguap lagi membuat gue tersenyum geli. "Ini udah jam 7 Zade, don't be such a baby," ucap gue menggoda dia, Zade menggeliat di tempat duduknya, lalu membelakangi gue, mencari angle yang tempat utuk melanjutkan tidur. "Aku baru bisa tidur jam 2 tadi malam De, kamu ga tau gimana rasanya di temenin sepanjang malam sama si setan genit, kamu enak bisa tidur nyenyak!" Gumamnya antara sadar dan tak sadar. Gue mengernyit heran, setan genit? Mahluk apa lagi itu!? Belum sempat gue bertanya lebih jauh pada Zade, cewek itu sudah tewas dalam tidurnya, wajahnya menempel pada kaca mobil, mulutnya setengah terbuka dan dengkuran halus terdengar dari sana. God, apa gue udah bilang tentang betapa cantiknya dia? Dia memang tidak secantik ataupun se-seksi mantan gue terdahulu, but man, cara dia bicara, cara dia marah, senyumnya, bahkan cara menangisnya, selalu cantik dimata gue. Dia berbeda, dan gue ga tau kenapa gue ga bisa mengalihkan pandangan gue dari dia dari detik pertama gue ngeliat dia. Gue mengemudikan mobil gue ke PPH karena gue tau, kami sama-sama belum sarapan dan perjalanan yang akan kami tempuh masih jauh, sekitar 2-3 jam lagi. Dan gue rasa, pancakes yang manis adalah salah satu cara yang manis untuk mengawali hari dengan si manis. Ngomong-ngomong soal Raka, gue belum dengar kabar apapun tentang dia, semalam, Zade dan gue ga sempat balik ke Rumah Sakit karena udah larut malam, akhirnya kita cuman pamit lewat sms. Tapi, kayaknya cewe ajaib gue itu udah tau apa yang terjadi, karena gue sempat liat dia diam dan kelihatan sedih banget dari semalam, waktu gue nganterin dia pulang. PPH sudah ramai saat gue memakirkan mobil gue di pelataran parkir, Zade masih tidur nyenyak, membuat gue tidak tega membangunkannya. Tapi gue ga punya pilihan lain, kalau dia ngga sarapan pagi ini, gue yakin dia bakalan pingsan nantinya. Dan gue ga mau itu terjadi. "Za, bangun." gue menyentuh bahunya pelan, Zade menggeliat, lalu matanya terbuka lebar. Untuk beberapa detik dia masih mengumpulkan nyawanya lalu tiba-tiba dia menatap gue dengan horor. "Dean.." ucapnya masih menatap kebelakang gue. "Ya?" Gue tersenyum manis, memperbaiki poninya. "Ada setan genit gelantungan di pundak kamu." *** "Stop it, itu ga lucu!" Ucap gue cemberut saat Zade masih saja tertawa dari beberapa menit yang lalu. Kami sudah melanjutkan perjalanan, setelah menghabiskan sepiring pancakes dan segelas s**u coklat, ditemani oleh hantu genit yang Zade bilang naksir sama gue. Zade membekap mulutnya, mencoba menghentikan tawanya saat melihat gue makin bete. Dia melirik gue dengan tampang menyesal yang tidak menyentuh matanya, dasar cewe jahil! "Maaf, aku ga bermaksud, bb-" dia kembali menutup mulutnya saat keinginan untuk tertawa kembali meledak. Melihat dia seperti ini, membuat gue ikutan geli. Matanya berair dan pipinya merona karena banyak tertawa. Sekesal dan sengeri apapun gue dengan tingkahnya yang tiba-tiba meneriakkan hantu bergelayutan di punggung gue sesaat setelah dia membuka mata, bahagianya tetaplah bahagia gue. Walaupun bahagianya adalah melihat gue mempermalukan diri sendiri. Sigh. Man, gue tidak tau apa gue berani ke PPH lagi atau ngga, semua orang disana menatap gue seolah gue adalah seorang i***t yang kehilangan kolor. Zade masih berusaha mengontrol tawanya, namun masih tidak berhasil, sehingga gue pun geli dan tanpa sadar ikut tertawa bersamanya. Saat tawa kami reda, Zade menatap gue dengan tatapan yang baru kali ini dia berikan. Membuat hati gue menghangat. "Aku sayang kamu, De." Ucapnya malu-malu, tangannya mengusap pelan rambut belakang gue, senyum manis tersalip di bibirnya. Senyum penuh kebahagiaan muncul di bibir gue, gue meraih tangannya dan membawanya kebibir, menyalipkan sebuah ciuman disana. "Me too Baby girl, me too."   Pukul sepuluh lewar lima belas menit saat kami akhirnya sampai ditujuan. Zade kembali tertidur saat perjalanan belum mencapai setengahnya. Sepertinya dia benar-benar kelelahan karena masalah semalam. Gue beristirahat sejenak, merenggangkan otot yang terasa kaku karena tigs jam lebih berkendara. Gue sandarkan kepala gue ke sandaran kursi, lalu menatap Zade yang meringkuk di kursi penumpang. Sebelah kakinya berada di atas kursi, sebelah lagi diatas dashboard mobil, tampangnya begitu menggelikan, sehingga gue tidak tahan untuk tidak mengabadikannya dalam sebuah foto. Gue mengeluarkan kamera yang sudah gue persiapkan dari malam dan mulai membidik Zade. Wajahnya, hidungnya, matanya yang tertutup rapat, mulutnya yang terbuka sedikit, lalu pose tidurnya yang menggelikan. Gue juga mengambil fotonya dengan I-phone, dan langsung menguploadnya ke i********:. Sebagai balas dendam, karena sudah membuat gue hampir kencing di celana, pagi ini. DeanDelmias The munchkin of my lifee♡  [Photo] Setelah puas mengamati Zade, gue pun mulai membangunkannya. Gue mengguncang bahunya pelan, sehingga dia menggeliat protes. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Saat matanya terbuka sempurna, dia melihat gue dan tersenyum manis. Lalu dia mengalihkan pandangannya keluar dan matanya melebar. Dua mata indah itu berbinar-binar saat kembali beralih menatap ke arah gue. Senang, tidak percaya dan semangat. Pancaran matanya seperti hadiah terbaik di hari ulangtahun. "Deaann," ucapnya lalu berlari keluar mobil dengan tawa yang menggema. Saat itu gue tau, keputusan gue bawa dia kesini adalah yang terbaik. ]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN