Sebelas| Segel Ampuh Anti Begal.

2333 Kata
Causes its you and me And all of the people And I dont know why I cant keep my eyes off for you Langit dipenuhi oleh beragam macam bentuk layangan warna-warni. Mulai dari berbentuk Kupu-kupu, Ikan, Kucing sampai Burung, di hiasi seunik mungkin. Menambah semarak suasana Kite Festival siang itu. Zade menutup mulutnya takjub, saat layangan raksasa berbentuk Ikan Paus melintas di atas kepalanya. Sungguh menakjubkan, para wisatawan lokal ataupun mancanegara, tampak menikmati siang yang luar biasa itu. Ada sekitar 100 lebih layangan yang diterbangkan, bentuk-bentuknya yang unik membuat kita betah berlama-lama menengadah ke atas langit. Leher encok pun, dijabanin dah! "Kenapa bisa tau acara ini?" tanya Zade dengan mata berbinarnya, ia menatap Dean yang kini berdiri di sampingnya. "Temanku yang bilang." jawab Dean singkat, lalu mengulas senyum lembut ke arah Zade. "Mau beli layangan?" Zade mengangguk semangat, membuat Dean terkekeh dan mengacak rambutnya pelan. Di tariknya tangan gadis itu, untuk menyalipkan jemarinya disana, Dean menggiring Zade ke arah pedagang layang-layang tak jauh dari mereka. "Layangannya bisa di tulis Mas, pakai tinta disebelah sana!" Pedagang layangan itu menunjuk belasan kaleng cat yang tersusun rapi di sebelahnya. Zade melirik Dean dan tertawa kecil, membawa layang-layang segitiga bewarna biru bercampur ungu itu ke arah kaleng cat. "Mau tulis apa?" Tiba-tiba Dean muncul dibelakangnya, meletakkan kepalanya dibahu Zade dan menoleh menatap cewek itu, membuat Zade terkesiap kaget. Zade melirik Dean kikuk, nafas cowok itu berhembus, hangat menerpa pipinya. "Rahasia, sana gih!" Suruh Zade mendorong kepala Dean menjauh. Cowok itu mendengus, namun menurut juga. Tangan Zade mulai bergerak, mengambil kuas dan menuliskan beberapa kata disana, sementara matanya sesekali melirik Dean yang tengah membidik dengan kameranya. "Udah?" Dean memanggil, dia hendak mendekat ke arah Zade namun gadis itu melarang. Di sembunyikannya layangan itu dibelakang punggungnya, lalu sedikit berlari mencapai Dean. "Kamu yang pegang gulungannya, biar aku yang megang layangannya, okay?" Intruksi Zade. Dean mengernyit tak setuju. "Liat dulu, kamu tulis apa?" Ujarnya. Zade hanya menyengir lebar, lalu mulai berlari menjauh, membawa layang-layang itu bersamanya. Dean hanya bisa mendesah pasrah, dilepaskannya kaitan benang pada gulungan itu, sehingga benang pun terurai memanjang, mengikuti Zade yang semakin menjauh. "Siap?" Zade berteriak, saat dirasa posisinya sudah cukup jauh dari Dean. "Siap!" Dalam hitungan ketiga, Zade melepas layangannya. Layang-layang kecil itu bergabung dengan layang-layang lainnya. Menunjukkan kebolehannya, mewarnai langit biru yang terlihat semakin indah. Zade masih setia diposisinya, membiarkan kekasihnya membaca tulisan yang ia tulis disana. Terkhusus untuk dirinya. Zade mungkin tidak pandai mengutarakannya secara langsung, namun Dean harus tau, apa yang dia rasakan selam ini, terhadap lelaki itu. Dean mengernyit, membaca tulisan yang ditulis Zade dengan cat hitam dengan besar. Ada gambar hati bewarna merah disana. Sedikit susah untuk membacanya, karena sinar matahari dan posisi layang-layang yang semakin tinggi. Namun, saat mata Dean menangkap dengan jelas apa yang tertulis disana, senyum cowok itu muncul dan semakin lebar saat dia melihat Zade tertawa malu kearahnya. You're mine, De ♥ Dean tidak pernah merasa sesenang dan sebahagia itu. "So, I’m yours?" Tanya Dean saat Zade berada didepannya, gadis itu tersenyum lebar menatap Dean yang cengengesan. "Definetly, you mind?" "No, not at all!" Dean mengulum senyum, "Kamu mau nyoba?" Zade mengangguk, lalu menerima gulungan benang dari Dean, sedikit tersentak, saat merasakan kekuatan yang kuat dari gumpalan itu. Angin berhembus cukup kencang diatas sana. "Gini!" Dean mendekat, posisinya memeluk Zade dari belakang, dengan lembut, ditangkupnya tangan Zade dan mereka mengarahkan layang-layang kecil itu bersama-sama. Mengarungi luasnya langit, dan bertahan di derasnya angin. Zade dan Dean menikmati hari itu dengan bahagia. Layangan itu ibarat mereka saat ini. Walaupun terlihat kecil dan spele, sebenarnya ia kuat dan bisa bertahan. *** "Makasi banget buat hari ini, De." ujar Zade, dia mengusap rambut belakang Dean dengan pelan. Cowok itu tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Sama-sama, baby girl, I enjoyed it too." balasnya. Seharian ini, mereka sudah menghabiskan waktu dengan bermain layangan, berfoto dan mencoba berbagai macam kuliner disana. Dean adalah jenis cowok yang sulit kau temukan dimanapun, kawan. Sama seperti ayahnya, lelaki itu begitu perhatian dan menyenangkan. Dia selalu punya cara untuk membuat gadisnya tertawa dan menganga takjub. "Sekarang kita kemana?" tanya Zade saat Dean mengeluarkan mobilnya dari pelataran parkir. Hari sudah menunjukkan jam setengah enam sore. "Nanti malam, pukul delapan ada pelepasan lampion, kamu mau liat?" Tanya Dean. "Sekarang kita ke kafe temanku dulu, gapapa kan?" "Pukul delapan? Ga kemalaman, lamu kan nyetir, De?" balas Zade, "Ngga papa kok!" "Kita bisa nginap disini dulu, mumpung besok masih libur, gimana?" "Eh, nginap? Dimana?" Dean tersenyum, "Di resort Ayah, gimana? Sebenarnya tadi aku udah izin Tante, dia bilang sih gapapa." Zade memutar bola matanya. "Bahkan Tante Susan yang kaku aja berhasil kamu lobi, kamu pake pelet apa sih De?" Zade tak habis pikir, dia menggeleng-geleng takjub. Dean terkekeh. "Ah, nanti kalau kamu tau, pelet aku ga manjur lagi!" Seloroh Dean. Mobil Dean melesat mulus membelah keramaian jalan sore itu. Mereka membicarakan berbagai macam hal, mulai dari hal penting sampai yang tidak penting. Hari itu, Dean tau kalau Zade sebenarnya anak angkat Kakak dari Tante Susan. Orangtua angkatnya meninggal dalam kecelakaan yang juga melibatkan dirinya. Orangtua kandung Zade tidak tahu aralnya. Apakah masih hidup atau tidak. Zade sempat mencari beberapa kali, lalu berhenti saat tidak menemukan satupun petunjuk. "Jadi sekarang kita ngunjungin mantan kamu, gitu?" Zade berujar sakartis saat tau kemana tujuan mereka saat ini. Dean sudah berjanji pada Ladeesha, atau Dee mantannya saat SMP dulu. Dia berjanji akan menghadiri penampilan pertama gadis itu dikafe barunya. Mau tak mau, tadi saat mereka buka-bukaan tentang masa lalu yang telah tertinggal kebelakang. Topik mantan pacar-ini pun mencuat kepermukaan. Zade tidak tahu kenapa dia bisa berujar seketus itu. Namun semuanya terasa benar. Dean meringis kecil. "Dee sekarang temen aku aja kok, Yang. Itu masa SMP, masih bocah banget, sekarang ia udah punya pacar baru juga kayaknya," elak Dean. "Lagian ga ada yang bisa ngalahin kamu di hati aku!" Gombalnya, Zade mendengus. Iya, lo pasti jug ngomong begitu sama 3 mantan lo yang lain, dasar playboy cap kapak! Batin Zade bersungut-sungut. Cemburu. Saat Dean dan Zade memasuki kafe cozy itu, suasana sudah ramai. Banyak anak gaul yang sudah berkumpul disana. Sunday Cafe, merupakan cabang kedua di kota ini, Dee dan teman-teman Dean yang lain yang mendirikan usaha ini. "Dean!" Sebuah teriakan membuat Dean mendongak, mencari sumber suara itu. Seorang laki-laki berwajah tampan melambai kearahnya. Dean tersenyum lebar. Tangannya terpaut dengan sang kekasih saat mendekat kesegrombolan remaja yang duduk di meja panjang itu. Ada 9 orang disana. 5 cowok dan 4 cewek. Mereka adalah pemilik Kafe ini. "Maaan, apakabar lo De?" Cowok yang tadi berteriak memanggil Dean memeluk cowok itu singkat. Matanya sipitnya yang terbingkai kacamata menghilang saat ia tersenyum, Dean tergelak, lalu membalas pelukan cowok itu. "Baik, Nath, lo gimana?" Nathan mengangguk sambil tertawa kecil, lalu beberapa orang lainnya mulai bergantian memeluk Zade. Ada Zander, Alfian, Einer, Imron, Kristi, Lulu, Lili dan Nadin. Mereka terlihat senang bertemu dengan Dean. Setelah basa-basi, hak-hak, singkat itu selesai, mereka mulai melirik sosok disamping Zade. Gadis manis itu tampak begitu imut disamping tubuh tegap Dean. Mengetahui arah pandangan para sahabat lamanya, Dean menarik Zade mendekat kearahnya. "Sorry boys, yang ini milik gue. Kenalin, Zade, pacar gue." Dean melingkarkan tangannya dipundak Zade lalu tersenyum bangga. Saat Nathan dan Iim bergerak hendak menyalami Zade, cowok itu membatasi. "Ga ga usah pegang-pegang!"ujarnya mengibas-ngibaskan tangan membuat Nath dan Iim mendelik kearahnya. "Masih songong aja dia!" "Ga berubah si Deman," "Hahaha, Deman.." Godaan teruntuk Dean mulai mengambang ke udara, wajah Dean masam. Mereka pun bergabung dengan koloni, teman-teman Dean sangat baik dan ramah, mengejutkan bagaimana Zade dengan cepat bisa akrab dengan mereka. Walaupun hatinya ketar-ketir melihat hantu seorang bartender berwajah hancur didepan sana, dia tidak begitu terpengaruhi seperti biasanya. "Gimana kabar Om, De?" Zander bertanya, cowok berpostur tegap, dengan wajah 100% player itu tersenyum manis. "Alhamdulillah baik, bokap lo gimana? Kenapa ga kerumah lagi? Zana udah baikan kan?" "Bokap gitu-gitu aja, Zana baru selesai operasi minggu lalu." Diantara teman yang lainnya, Zade terlihat lebih akrab dengan Zander, cowok itu memang terlihat lebih tau dari yang lainnya. Mungkin karena sifat dewasanya, entahlah, Zade tidak begitu memperhatikan. Dari tadi fokus Zade hanya pada satu orang yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Zade sangat penasaran dengan sosok Ladeesa, mantan Dean, dimanakah ia gerangan, kenapa belum muncul juga? Dean masih asyik berbicara dengan temannya, sementara Zade, si kembar Lulu dan Lala mencoba mengajaknya berinteraksi. " "Sumpah, tadi gue ga percaya kalo lo pacarnya Dean, lo beda banget!" Ucap Lala frontal, gadis itu terlihat lebih dewasa dari yang seharusnya, karena dandanannya yang sedikit menor. Geez. Zade tidak tahu harus bicara apa. "Jangan dengerin dia, dia agak sinting." Lulu berbisik, dia tersenyum manis kearah Zade. Dia langsung menyukai gadis itu. Lulu lebih terlihat bersahabat daripada saudara kembarnya. "So, lo satu kelas sama Dean?" Lulu membuka percakapan, Zade sedang bercerita tentang perjalanannya tadi saat seseorang bergabung dengan mereka. Gadis tercantik, yang ia lihat malam itu. Wajahnya putih mulus dengan makeup natural, rambutnya panjang, dan lurus menutupi punggung, dia memakai gaun ketat bewarna hitam, dua centi diatas lutut. Begitu cantik dan mempesona. Zade langsung tau dia siapa. "Dee," Dean berucap, dia tersenyum tipis kearah Dee yang tersenyum lebar melihatnya. "Baby, D!" Ladeesha Ratu Aneta, menghambur, memeluk Dean dengan erat. Tidak peduli dengan keberadaan Zade disebelah Dean. "Kenapa baru nyampe?" Dee merajuk, dia sudah melepaskan pelukannya, saat Dean bergerak-gerak gelisah. Zade merasa kerongkongannya kering, diteguknya lemonade didepannya dengan cepat. Pantas saja semua orang tidak percaya bahwa dia adalah kekasih Dean, lihat saja Dee dan bandingkan dengan dirinya. Seperti Putri dan Pik Abu. Pasti ada yang salh dengan Dean karena memilihnya. "Tadi aku ngajak Zade ke festival layang-layang dulu." Dean membawa Zade merapat kearahnya, memberitahu Dee, bahwa dia telah milik gadis ini, dia seorang. Ladeesha menatap Zade lama, lalu tersenyum manis, mengulurkan tangannya yang halus dengan kuku berkutet hitam. "Hey, gue Deesha," Zade tersenyum. "Zade." "Salam kenal, saingan." Dee berucap. Semua orang dimeja itu terdiam, begitupun Dean, dia menatap Dee sangsi. Apalagi ini, baru saja Dean hendak menegur Dee, gadis itu tertawa lebar. "Gue becanda, Hahahah!" Semua ketegangan pun terurai, mereka kembali dengan aktifitas masing-masing. Walaupun Deesha, tampak membatasi dirinya, Zade tau, gadia itu masih menyukai kekasihnya. Siapa yang tidak? Hampir setengah siswi AHS menyukai pacarnya, bahkan Lala dan Nadin, dia bisa melihat tatapan kagum cewek-cewek itu terhadap Dean. Dee tetap mencoba menarik perhatian Dean, bercerita segala sesuatu kepadanya. Walaupun dia berbicara dengan Dee, tangan cowok itu setia mengenggam tangannya, memberikan usapan halus dengan ibu jari, membuat hati Zade menghangat. Zade mengalihkan pandangannya, dia mulai bosan dan gondok lama-lama berada disini. Saat melihat sekelilingnya, mata Zade terhenti di meja di ujung ruangan. Disana ada seorang perenpuan yang tampak begitu sedih, dia melirik ke arah panggung dengan tatapan sedih. Disampignya duduk seorang/seekor/sebuah/sesosok hantu perempuan. Wajahnya hancur, berdarah-darah, matanya hilang sebelah, rambutnya panjang menutupi setengah wajahnya, dia memakai gau putih yang sudah penuh darah dan lumpur, Zade tiba-tiba mual. "Aku ke toilet bentar," Zade melepaskan genggaman Dean, membuat cowok itu menoleh kearahnya. "Mau aku anterin?" Tanyanya lembut. Zade mendengus. "Emang aku anak, Paud? Ga usah ah!" Dean tersenyum, mengacak rambutnya pelan lalu mengangguk setelah mengumamkan hati-hati yang kembali dibalas dengusan sebal oleh Zade. Dengan gontai Zade membuka pintu toilet itu, dan hampir terjengkang saat menemukan hantu tak berkepala didalamnya. Dengan jantung yang bertalu-talu, Zade membasuh wajahnya dan bergegas keluar dari sana. Sesampainya dimeja tadi, Zade tak menemukan Dean, cowok itu menghilang, bersama dengan Dee. Gadis itu juga tak terlihat dimanapun. Zade mual lagi. Dadanya terasa sesak. Kemana Dean? "Lu, Dean kemana?" tanya Zade, gadis itu menggeleng tak tahu, begitupun yang lainnya, Zade semakin panik. Dia sudah hampir berlari keluar Kafe untuk mengecek mobil Dean saat suara yang begitu akrab telinganya, memenuhi ruangan. "Selamat Malam! Oh.." Zade berbalik, dan melihat Dean tengah kesusahan mengatur letak mic, dia meringis dan cengengesan saat semua orang bersiul menggodanya. "Udah lama banget gue ga megang beginian," ujarnya dengan suara renyah. Zade tergugu. Dia mengalihkan pandangannya kearah teman-teman Dean yang meliriknya jahil. Ah, dia dikerjain. Zade berdiri setia ditempatnya, menyerap sosok kekasihnya sebisa mungkin. "Krena ini permintaan teman-teman somplak bin t***l gue disebelah sana," Dean menunjuk sepuluh orang remaja itu, Dee sudah bergabung disana. "Dan karena gue sayang mereka, gue beri mereka kesempatan berharga untuk menikmati suara emas gue." Dean menyengir lebar. Siulan terdengar, dan tepuk tangan menggema. Pandangan Dean beralih kearahnya, kearah dirinya yang masih berdiri bodoh ditengah ruangan. "Lagu ini, untuk orang terkasih gue, pacar gue, Zade Almiqdam, orang yang menghiasi hari-hari gue akhir ini, membawa gue kepetualangan yang ga pernah gue tau ada, mengenalkan gue dengan hal-hal baru. Gue cuman mau bilang, kalo gue sayang dia, untuk sekarang dan seterusnya. Hehehe! Dean tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi, semntara tangannya mulai memetik senar gitar dipangkuannya. Zade terpana, terpaku ditempatnya. Lalu suara lembut itu terdengar, dalam dan bermakna. Dean menatap Zade lekat, membenarkan setiap lirik yang diucapkannya. Dia tidak hanya bernyanyi, namun sekaligus mengikrarkan janjinya. Jemarinya dengan lincah memetik senar gitar, tidak kehilangan tempo. Lalu seperti terlempar ke beberapa hari silam, Zade tergugu atas kenyataan bahwa setiap lirik yang diucapkan cowok itu benar-benar dibuktikannya. Dean mentup lagunya dengan indah, tapuk tangan dan siulan bergema memenuhi ruangan, namun pandangannyatak lepas dari Zade yang masih terpaku ditempatnya. Wajahnya datar, namun air mata meluncur dipipinya, terus menerus, tanpa ia sadari. Dia sudah lama menderita, selalu ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. Dan kini kehadiran Dean mengubah segalanya, memberinya janji dan keberanian untuk bahagia. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan cowok itu. Tidak akan. *** "Tadi romantis banget, aku ga tau kamu bisa nyanyi." Zade terkikik menatap Dean yang merona malu. Mereka tengah duduk menatap langit malam, di selimuti oleh selimut tebal, dan sekaleng biskuit coklat. Sudah setengah sepuluh, namun mereka enggan berpisah. Dean tidak ingin kembali ke kamarnya, Zade pun tak ingin Dean pergi. Mereka menghabiskan waktu di balkon kamar penthouse Zade. "Kamu beruntung dapetin aku tau." Dean merenggut lucu. Zade terkekeh. "Aku tau." Dia menatap Dean intens. "Makanya aku mau ngasih kamu segel," bisik Zade, suaranya mencicit, ditelan hening malam. "Eh?" Dean tak mengerti, namun dia terkesiap saat Zade mencium kilat pipinya. "Segel Ampuh Anti Begal." Dia tersenyum, manis sekali.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN