[ A U T H O R ]
Kata orang, cinta itu sesederhana secangkir kopi. Nikmat, jika di minum saat masih panas, tapi hati-hati, jika tergesa-gesa dan di minum dengan cepat, bisa membakar lidah dan nikmat tadi bergenti perih dan luka. Lain lagi jika di minum saat dingin, rasa kopi jauh dari kata nikmat, kadangkala bisa terasa hambar.
Bagimana caramu meminum kopimu?
***
Dean mendongak, mencoba mencari tempat yang kosong untuk memakirkan mobilnya. Hari sudah menunjukkan setengah delapan pagi, dan dia baru saja sampai di sekolah. Lagi-lagi melewatkan upacara bendera di senin yang cerah ini. Hal yang biasa, mengingat kehadiran Dean yang tidak berapa di kegiatan rutin setiap hari senin itu. Sulit untuk menemukan tempat parkir yang kosong kalau sudah telat seperti ini, butuh waktu yang lama hingga akhirnya Dean menemukan tempat parkir yang kosong di ujung sekolah, dekat gedung yang tidak lagi terpakai. Dean tanpa pikir panjang, langsung memarkirkan mobilnya disana, tidak sadar dengan sosok yang sedari tadi memperhatikannya, dari detik pertama cowok itu menampakkan diri.
Bersiul pelan, cowok jakung nan tampan itu melangkah sambil menyisir rambutnya yang berantakkan, sekeliling sudah sepi karena jam pelajaran memang sudah di mulai semenjak beberapa waktu yang lalu. Lagi-lagi, Dean tampak tak perduli.
"Brak!"
Dean sontak berhenti saat mendengar suara benda jatuh dari arah belakangnya. Dia berbalik namun tak menemukan apapun, hanya desir angin yang membawa lalu daun kering yang berguguran. Merasa tak ada yang harus di khawatirkan, Dean kembali berjalan, kali ini sambil bersenandung pelan. Namun, lagi-lagi, suara benda jatuh terdengar diikuti suara derap langkah kaki yang berkejaran. Sontak cowok itu kembali berhenti, dengan tubuh merinding disko. Bulu kuduknya berdiri dan keringat dingin membasahi telapak tangannya, mendadak, tempat ini semakin sunyi dan menyeramkan.
"S-siapa?" Suara cowok itu sedikit bergetar, dia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Tak ada yang menjawab, hanya desir angin beradu gemersik daun berguguran, di perparah oleh derak loteng usang yang hampir copot. Merasa takkan ada yang menjawab dan ada sesuatu yang tentunya, tidak beres, Dean mempercepat langkahnya, semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya cowok itu berlari sambil meredam teriakan dengan menggigit bibir bawah.
'Setan s****n! Awas lo semua!' Umpatnya dalam hati.
***
"Pada celah dengan jarak 0,2 mm disinari tegak lurus. Garis terang ketiga terletak 7,5 mm dari garis terang ke-nol pada layar yang jaraknya 1 m dari celah. Panjang gelom--BRAK!"
Semua mata sontak tertuju pada seseorang yang baru saja membuka pintu dengan kekuatan ekstra, menciptakan bunyi berdebum yang menganggu. Dean berdiri di ambang pintu, dengan nafas ngos-ngosan dan wajah pucat pasi. Dadanya naik turun menghirup udara, sementara matanya tertuju pada satu arah. Pada gadis yang saat ini juga tengah memperhatikannya.
"Hem!" Pak Nos berdehem menyindir Dean yang tak tahu malu. Sudah telat, dan sekarang bocah itu malah menganggu proses PBM-nya.
Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya!
"Dean, kamu mau berdiri di sana atau-" ucapan Pak Nos kembali terpotong, kali ini karena pekikan dari beberapa teman Dean yang berada di dalam kelas. Mereka menjerit membekap mulut, saat tiba-tiba, cowok itu jatuh tertelungkup di lantai.
"Dean!" Bobi yang dulu bersuara, cowok itu langsung bangkit menghampiri sahabatnya, di ikuti oleh beberapa cowok-cowok lainnya, melihat keadaan Dean.
Yang tidak mereka sangka setelahnya adalah, cowok itu kejang-kejang, meronta-ronta seperti orang kesurupan, matanya terbalik dan dia berkeringat banyak. Kelas semakin heboh.
"Ada apa? Ada apa ini!" Tiba-tiba seorang pria paruh baya bertubuh besar, hitam-legam muncul, wajahnya yang sangar mengerut saat melihat bocah biang masalah tengah kejang-kejang seperti orang sawan, di depannya.
"Kenapa lagi bocah tengik ini?" Pak Bonar berkomentar, dahinya mengkerut kumisnya yang tebal naik-turun berbarengan dengan hidungnya yang kembang-kempis. Merasa di bodohi lagi.
"Dean! Buat masalah lagi kau?!" Teriaknya menggelegar, masih belum 'ngeh dengan apa yang terjadi, "bangun kau bocah tengik, ngapain kau breakdance di sana?"
Kerumunan yang mengelilingi Dean sontak mendesah lelah, entah kenapa mereka semua bisa terjebak suasana aneh bin ajaib ini. Sementara itu, Dean masih kejang-kejang, kali ini erangan kecil lolos dari bibirnya. Di lain sisi, Zade, gadis yang sedari tadi terpaku di tempatnya merasakan ketakutan yang amat sangat hingga ia bahkan tak mampu untuk menggerakkan ujung jarinya sekalipun. Tubuhnya membeku, aura dingin mencekik lehernya. Keinginan untuk berteriak begitu besar, namun di tahannya.
Matanya masih terpaku kepada Dean yang sekarang coba di sadarkan oleh Bobi dan beberapa temannya yang lain. Di samping cowok itu, berdiri sosok abstrak yang orang lain tak dapat lihat, namun dilihat jelas oleh Zade.
Sosok itu berdiri, memperhatikan Dan yang tampak kesakitan, lalu beralih ke arah Zade, menyeringai jahat. Menyimpan dendam yang begitu besar, membuat auranya begitu gelap. Detik berlalu, namun Dean masih seperti itu, semua orang semakin panik. Bahkan, Pak Bonar yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Dean pun tampak begitu khawatir.
"Heh Bodat, coba kau kasih dia napas buatan!" Suruh Pak Bonar kepada Bobi yang langsung mendelik ke arahnya.
"Dia kan ga tenggelam, Pak!" Protes Bobi, kesal bercampur panik.
"Ya apalah, coba saja!" Desak Pak Bonar, Bobi mendesah pasrah, dia khawatir teramat sangat, dia menggegam tangan Dean erat.
Baru saja, pikiran liar tentang napas buatan itu melintas di benaknya, seseorang menyelip masuk ke kerumunan, mengambil alih Dean dari dirinya, lalu menepuk punggung cowok itu beberapa kali, mengenggam erat pergelangan tangannya. Wajah gadis itu basah oleh air mata, dan tubuhnya bergetar hebat. Namun, dia hanya memasang ekspresi datar, seperti tak terpengaruh. Di tepukan kelima, Dean seperti tersedak, cowok itu terbatuk-batuk dan seperti kehilangan nafas. Lama sampai akhirnya dia berhenti dan jatuh pingsan begitu saja.
Zade berdiri, dan menatap datar kepada kerumunan yang kini menatapnya penuh tanda tanya.
"Bawa dia ke UKS!" Suruhnya dengan nada dingin dan datar. Sebagian orang sontak menggotong Dean ke UKS, sebagian orang masih terpana dengan apa yang tejadi.
"Jangan lupa, beliin es krim rasa pisang kesukaannya." Sambung Zade kemudian, saat Bobi berbalik dan menatapnya heran.
"Lo ga ikut?" Tanya Bobi, Dean sudah di gotong beberapa teman yang lain.
Zade hanya menggeleng, berbalik lalu menyambar tasnya secepat kilat, berlari meninggalkan kelas, menghiraukan teriakan Bobi yang memanggil namanya.
***
"Hei sayang, udah bangun?"
"Bunda ngapain di sini?"
Dean sontak bangkit dari tidurnya, merasakan pusing yang sempat mendera lalu detik berikutnya, tenggorokannya menjerit meminta pelumas.
"M-minum," desisnya, meraba leher yang terasa nyeri.
Sejenak setelah segelas air tandas di tangannya, Dean kembali mengulang pertanyaanya.
"Bunda ngapain di sini?" ulangnya.
Nabila mendesah pelan, wajahnya tampak tua beberapa tahun karena pancaran khawatir dan rasa lelah yang membayang. Dia menatap putra semata wayangnya dengan sendu.
"Bunda langsung ke sini waktu dapat kabar kamu kejang-kejang dan pingsan. Perasaan Bunda udah ga enak dari tadi pagi." Wanita itu mulai berkaca-kaca.
Kejang-kejang? Pingsan?
Dean agaknya tidak mengingat apapun, dia baru saja hendak bertanya dan kepada Bundanya saat pintu ruang perawatan di UKS ini menjeblak terbuka, dan detik berikutnya pria dewasa berwajah tak kalah tampan muncul. Pria itu tak jauh berbeda dari wanita yang kini mundur selangkah, memberinya jalan untuk melihat kondisi Dean. Wajahnya yang kini di tumbuhi bulu-bulu halus tampak pucat dan lelah, nafasnya ngos-ngosan, sementara setelan kerja masih terpakai di tubuhnya. Tak lagi serapi yang biasanya, dasi direnggangkan dan rambut yang berantakkan.
"Oh My God! Apa aku anak PAUD?" Protes Dean saat tahu maksud kedatangan dan arti dari tatapan Ayahnya saat ini. "Serriously, Yah, Bun?" Desahnya frustrasi.
Zilo terdiam sebentar, menoleh, lalu pandangannya bertumbuk dengan sang istri yang sontak membuang wajahnya. Hal itu tentu tak luput dari pandangan Dean.
Masih marahan, kali ini lumayan lama juga, batinnya.
"Ayah langsung ke sini waktu dengar kamu-"
"Yah aku cuman pingsan!" Rengek Dean.
"Ayah denger kamu juga-"
"Kejang-kejang." Sambung Dean.
"Kamu kenapa?"
"Aku ga ingat apapun!" Menatap tautan tangannya di pangkuan, "serius!" Sambung Dean saat melihat tatapan tak percaya orang tuanya.
"Kamu ga 'make kan, De?"
"Bun!"
"Bil!"
Sontak, seruan terperangah itu membuat Nabila terlonjak kaget. Dia pun terkaget dengan apa yang di ucapkannya, itu meluncur begitu saja. Tanpa terkendali.
"Kamu apa-apaan sih!" Zilo berucap, wajah pria itu mengeras, tak habis pikir dengan jalan fikiran orang yang masih sangat di cintainya itu. "Masa ngomong begitu sama anak sendiri? Kamu ga berubah ya?" Ucapnya dengan nada marah.
Nabila mendongak, menatap wajah Zilo yang mengeras dan matanya yang memerah menahan marah. Tak ayal, Nabila tersinggung dengan ucapan Zilo.
"Maksud kamu apa?" Tanyanya sinis, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. "Harusnya hal itu kamu-"
"Stop!" Dean menengahi, menatap kedua orang tuanya dengan heran. Dua orang yang ia ketahui selalu saling mencintai satu sama lain, kini tampak saling memusuhi dan menyalahkan. Hanya karena masalah yang menurut Dean sangat spele.
Sudah hampir seminggu keadaan seperti ini berlangsung.
"Kenapa malah berantem sih? Kepalaku pusing nih!" Dean berucap, kembali rebah di ranjangnya, memunggungi kedua orangtuanya yang kini terpaku. Dia menaikkan selimut sampai menutupi kepalanya. "Aku mau tidur, Ayah sama Bunda pulang aja!" Ucapnya dingin.
Zilo yang pertama kali meninggalkan ruangan itu, diliriknya Nabila, hendak mengajaknya pupang, namun di urungkan Zilo saat melihat wanita itu melingkarkan tangannya ke tubuhnya sendiri, seperti tidak ingin Zilo sentuh. Selepas kepergian Zilo, Nabila mendekati Dean yang masih memunggunginya, di elusnya kepala Dean sayang lalu, mencium puncak kepalanya.
"Maafin Bunda.."ujarnya, lalu merasa Dean takkan menjawab, wanita itu berbalik, menutup pintu dengan pelan.
***
"Ga biasanya duo mapayang diem-dieman gitu! Kenapa?"
Dean mengangkat sebelah alisnya, melirik jengah ke arah Bobi yang sedang menyetir. Bahasa alien mana lagi yang di gunakan cowo tengil di sampingnya ini?
"Sorry ga bisa bahasa alien."
Bobi memukul pelan bahunya, memandang dengan gemas, sementara tangannya sibuk menyetir. Dean di perbolehkan pulang cepat hari ini. Sebagai teman yang baik hati dan suka menolong, Bobi mengantarnya pulang. Sekalian modus.
"Emak-Bapak lo, duo mabuk kepayang..." jelas Bobi kemudian.
Dean hanya mengangkat acuh bahunya. "Tau deh, berantem, Bunda sering marah-marah, sensitif, ngambek karena hal spele. Bokap gue juga lagi sensian banget kayaknya." Jawab Dean melempar pandangannya ke luar jendela.
"Hamil kali." Ucapan Bobi sontak membuat Dean membulatkan matanya, dia terbatuk-batuk hebat. "Gila lo!" Ucapnya sambil menepuk-nepuk d**a.
"Ya siapa tau..."
Tidak mau mendengar ucapan melantur Bobi pagi, Dean merubah topik pembicaraannya.
"Lo liat Zade ga tadi?"
"Liat."
"Terus?"
"Terus?"
"Ya terus?"
"Nabrak!"
"Bob gue serius!" Dean merajuk, mengumpat halus beberapa kali.
Bobi tertawa kecil. "Ya ga kenapa-napa. Dia nyuruh kita bawa lo ke UKS, terus pergi begitu aja." Jelas Bobi.
Dean tercenung, merasa ada yang tidak beres dengan Zade. Pertama, orang tuanya, sekarang Zade. Hidupnya semakin gila.