“Aku tidur duluan ya,” ucap Ara pada Nesa. Nesa hanya mengiyakannya. Nesa ingin sekali memaki Luffi. Betapa bodohnya dia, kenapa setelah sekian lama baru dia katakan. Perbedaan antara mereka yang begitu nyata. Nesa merasa sangat kesal dengan sikap Luffi. Kenapa dia harus membawa Ara dalam kesedihan itu. Jika dia sendiri belum yakin, kenapa berani-beraninya dia menyeret orang lain masuk ke dalam hidupnya. Nesa menghembuskan napas dengan keras. Membuat Ara menoleh padanya. “Kamu kenapa Nes?” tanya Ara. “Eh, enggak kenapa-kenapa kok,” jawab Nesa. “Nes,” panggil Ara. “Ada apa? Kamu masih belum puas nangisnya?” tanya Nesa sedikit menyindir. “Sakit Nes,” jawab Ara. “Kamu mau aku hubungi dia?” tawar Nesa padanya. Ara menggeleng, “Enggak,” jawabnya. “Terus?” “Enggak,” jawab Ara.

