Forty One

1198 Kata

Suasana di antara Mae dan Edward mendadak menjadi tegang. Seakan untuk sesaat waktu di dalam kafe berhenti. Seolah-olah memberikan waktu bagi mereka untuk mencari jawaban dan kebenaran yang selama ini disembunyikan dengan sangat rapi. "Ya. Aku mencintaimu, Mae." Edward memandang lurus wajah pemilik manik cokelat di seberang meja. "Hanya saja aku terlambat menyadarinya," sesalnya. Mae bergeming. Seluruh nadinya berdesir. Gemuruh ombak seakan menerpa kesedihan hatinya. Menggantikannya dengan kebahagiaan disusul dengan kembang api yang menghiasi hatinya. Berapa lama ia harus menunggu untuk bisa mendengar pengakuan Edward? Berapa banyak kesedihan yang harus ia lalui untuk bertahan? Tapi, sekarang semua itu telah berlalu. Akhirnya mimpinya menjadi kenyataan. Mendengar Edward mengucapkan cin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN