Muntah dan Doa

676 Kata
"Halo, Pak Brian? Ini Larasati Pak." "Iya, ada apa Ras? Tumben telepon. Kamu shift jaga malam ini?" "Iya Pak. Ehm, itu... Pak. Apa boleh malam ini saya ambil cuti? Maaf mendadak. Tiba-tiba ada tamu di rumah, dan saya tidak bisa tinggalkan." "Mm.. Kamu ada yang gantikan? Kalau ada gantinya gak ada masalah. Oke saja." "Iya Pak. Saya sudah hubungi Mbak Sinta, nanti dia yang gantikan saya jaga Pak. Terimakasih Pak." "Oke." Sambungan telepon itu terputus. Aku menghela napas lega. Kutatap lelaki yang sedang ambruk tak sadarkan diri di depan pintu apartemenku. Kemejanya berantakan, ada beberapa noda seperti bekas tumpahan minuman. Rambutnya acak-acakan. Matanya penuh lingkaran hitam, pipinya merah, dan rambut halus di kumis dan dagunya mulai bertumbuhan tak beraturan. Dari tubuhnya menguar aroma alkohol yang sangat kuat. Aku mengerucutkan hidungku. Dia mengerang. Aku menghela napas lagi. Apa yang harus kulakukan dengannya? Apa gerangan yang membuatnya hingga seperti ini. Apa pula yang membuatnya hingga datang kesini, kenapa tidak pulang ke rumah orangtuanya. Sejak pertengkaran kami 3 tahun yang lalu, dia tak pernah menginjakkan kakinya lagi ke tempat ini. "Dit? Bangun Dit!" "Dit? Kamu mabok?" Tak ada jawaban. Radit hanya mengerang pelan. Dia masih tak sadar. "Kutelponin tante Rika ya. Biar jemput ke sini." Aku menggulirkan kontak nama di hapeku. Memencet sebuah nama. 'Pulsa yang Anda miliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini' Sial. Pulsa 5000-ku sudah habis untuk telepon Pak Brian dan Mbak Sinta tadi. Aku juga tak punya paket internet. Ini hari Jum'at, jatah beli kuotaku masih 2 hari lagi. Hidupku memang harus banyak berhemat. Kali ini aku yang menggeram. Hhhooekk...!! "Allahu Akbar." Sontak aku berdiri menjauh. "Dit, bangun! Jangan muntah di sini!" Astagaaaa... Ini aku harus gimana Tuhan?? HHhoooeekk...!! Hhhooekk...!! Radit muntah lagi, kali ini lebih banyak. Muntahannya sudah mengotori hampir sebagian baju dan lengannya, juga rambut dan wajahnya. Dia berguling. Bergumul dengan muntah nya sendiri. Aku mengernyitkan dahi. Seumur-umur baru kali ini aku melihat orang mabuk muntah-muntah. Sungguh tak seindah drama dan telenovela. Apalagi baunya. Tak tahan, aku meninggalkan Radit lalu duduk menonton TV di ruang tengah, tanpa benar-benar menonton. Sengaja kubesarkan volumenya, siapa tahu dia akan terbangun dengan sendirinya, mandi, lalu secara sadar mengepel dan membersihkan muntahnya sendiri. Tapi hampir satu jam lamanya, tak ada tanda-tanda orang masuk berjalan. Aku mengintip lagi ke dekat pintu. Dia masih di sana, berkubang muntahan yang sudah sedikit mengering. Ah! Aku memejamkan mataku, menarik nafas panjang. Tak ada cara lain, aku harus membersihkanya sendiri. Kugulung lengan kemeja dan celanaku, lalu kutarik tubuh Radit masuk ke dalam unit, ke arah kamar mandi. Berat. Bau. Kuhempaskan tubuh kekarnya ke ubin lantai kamar mandi. Aku mengguyur kepalanya beberapa kali dengan gayung air. Namun dia tak terbangun sama sekali. "Ya Allah. Apa harus kumandikan orang ini?" Aku bergidik ngeri. Tapi jika tidak, dia bisa sakit masuk angin. Karena sekarang tubuh dan pakaiannya sudah basah dengan air. Perlahan-perlahan aku lepaskan satu persatu kancing kemejanya. Kuhempaskan kemeja biru muda itu ke dalam ember. Dapat kulihat jelas tubuh bagian atasnya yang polos itu, padat, berisi, sehat. Sepertinya dia rajin olahraga, karena perutnya berkotak-kotak. Wajahnya masih tampan meskipun berantakan. Bahkan kurasa dia menjadi lebih tampan dari terakhir kami bertemu. Waktu 3 tahun, tak terasa berlalu begitu saja. Kugelengkan kepalaku, mengenyahkan pikiran-pikiran aneh sebelum mereka menghunjam ke dalam kepalaku. Trus ini nglepasin celananya gimana? Aduh! "Maaf ya, Dit." Aku memejamkan mataku. Sambil terus mengucap istighfar. Kubuka celananya dan ku bersihkan tubuhnya sekenanya. Kukeramasi rambutnya yang penuh muntah. Setelah kututup dengan handuk, kuseret tubuhnya ke karpet depan TV. Lelah. Rasanya melelahkan. Maafkan aku ya Allah, harus memandikan laki-laki asing ini. Entah kenapa, aku menangis. Menangis cukup lama. Tapi pekerjaanku belum selesai, aku masih harus membersihkan muntahannya di pintu masuk, dan juga mencuci bajunya. Kuhela napas panjang. Ini adalah malam terpanjang seumur hidupku. Kenapa dia datang padaku dalam keadaan seperti ini Tuhan. Semoga Allah mengampuninya, atas khilafnya yang lalu dan khilafnya hari ini. Aamiin. Dan itu adalah doa pertama yang kuucapkan untuk suamiku yang asing ini. Suamiku yang kubiarkan tergeletak di karpet hanya dengan sehelai handuk putih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN