- Raditya -
Kubuka perlahan mataku yang terasa sangat amat berat. Kepalaku penat, pusing seperti habis dihantam sesuatu yang berat, dan tulangku serasa rontok habis dikeroyok orang.
Kruuuuukkkk.
Oh. Perutku. Perutku rasanya lapar sekali, lapar tak terperi. Ku elus-elus perutku beberapa kali sebelum aku sadar. Eh. Ini aku kenapa baring glundungan di karpet begini?
Kuedarkan pandanganku, ini... Ini bukan di rumah mama, juga bukan di apartemenku. Ini seperti... Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin kan... Hahaha. Mana mungkin aku mendatangi tempat gadis kasar itu.
Aku mengangkat tubuhku perlahan, mencoba duduk. Namun pusing di kepalaku efek minuman tadi malam terasa begitu menyiksa. Akhirnya kurebahkan lagi kepalaku di atas karpet. Dia bahkan tidak memberiku bantal. Gadis sialan.
Mataku menatap ngeri suatu pemandangan di luar teras balkon apartemen ini. Di sana, tergantung kemeja dan celanaku, dan pakaian dalamku, sedang menari-nari tertiup angin. Sontak saja aku duduk, tapi tak tahan dengan kepalaku akhirnya aku mengerang, ambruk lagi ke karpet. Mengerang lagi, karena kepalaku terbentur lantai cukup keras. "Aaaarghh!!"
"Sudah bangun?"
Suaranya memecah kesadaranku dari himpitan rasa sakit yang bergerilya di kepala.
"Lo apain gue, hah?! Aduh! Itu kenapa baju gue semua ada di luar begitu?"
"Kamu gak inget tadi malem?" Dia berdiri di atasku sekarang, wajahnya mengernyit. Entah karena apa.
"APA???! GAK MUNGKIN! Gue gak mungkin ngapa-ngapain lo kan semalem? Iya kan? Meskipun gak sadar, gue juga gak mungkin mau sama lo!" Kudongakkan kepalaku sedikit, melihat manik hitam matanya yang membulat, sedang menatapku antara ngeri dan tak percaya.
"Gila! Dasar otak m***m!"
Dia mencebik, lalu meninggalkanku menuju dapur.
"Atau... Lo nggak ngapa-ngapain gue kan waktu gue gak sadar?"
Kukumpulkan tenagaku mencoba duduk dan bersandar pada kaki sofa. Kulihat di sana, gadis yang kutahu bernama Larasati itu, sedang sibuk mengaduk sesuatu. Mungkin kopi, karena sekarang menguar bau kopi di ruangan ini. Aku menghirupnya, aaaaahhh. Aku lapar sekali ya Tuhan!
Aku meraba-raba tubuhku, ini.... Astagaaaa. Aku hanya memakai kaos putih bergambar minnie yang menempel ketat di badanku dan sebuah sarung kotak-kotak belel warna coklat, tanpa pakaian dalam apapun dibaliknya. Kupijati pelipisku. Pening.
Gadis itu kemudian datang kearahku lalu duduk. Menyajikan secangkir kopi yang masih mengepul asapnya, segelas air putih hangat, dan satu piring nasi goreng merah dan telur ceplok. Air liur ku menetes. Aku lapar.
"Makanlah. Tapi mungkin sudah agak dingin karena ini nasi goreng tadi pagi."
Segera kuraih nasi goreng itu tanpa pikir panjang.
"Pelan-pelan makannya. Minum dulu." Dia kemudian kulihat duduk di atas sofa, menenteng sebuah piring nasi goreng yang sama, hanya saja isinya tinggal separuhnya. Menyalakan TV di depan kami. Kuangkat bokongku dari karpet dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa makanmu sedikit begitu?"
"Ini jatah nasi hari ini, separuhnya untuk nanti malam. Sisanya sudah kusumbangkan untukmu satu piring" Dia menunjuk piring ku dengan sudut matanya.
"Kamu miskin?" Racauku tak percaya.
"Ya. Bisa dibilang begitu."
Dia menyuap sesendok nasi ke mulutnya sebelum berkata lagi, "karena suamiku super baik, 3,5 tahun aku tak dinafkahi."
Sontak kusemburkan nasi di mulutku. Terbatuk-batuk. Aku meraih air dari gelas dan meminumnya habis. Gadis itu tergelak-gelak di sampingku.
"Lo mau bunuh gue?"
"Kamu yang mau bunuh dirimu sendiri. Kenapa sampai mabuk dan muntah-muntah begitu? Kenapa datang ke sini? Koq gak pulang ke rumahmu saja?" Tatapannya berubah serius. Mata hitamnya menatapku tajam. Kupalingkan wajahku darinya, tak ingin melihatnya.
"Gak inget. Gak sadar."
Nasi goreng ku habis tanpa sisa. "Kamu gak bisa masak ya? Nasi gorengmu rasanya mengerikan." Aku bergidik.
"Yaelah. Sudah habis baru menghina. Terimakasih kembali bapak Raditya yang TER.... HOR.... MAT. Lain kali jangan ke sini lagi." Dia bangkit meninggalkanku. Menaruh piring kotor kami ke sink, dan berjalan menuju kamar.
"Hp-mu aku charge di dekat TV, by the way. Kalau nyari."
Bummm. Dia menutup pintu kamarnya. Tak muncul lagi.
Kuambil cangkir kopiku. Aahhh, kopi pahit ini menenangkan sedikit rasa sakit di kepalaku. Beranjak, kuambil hp-ku di dekat meja TV seperti yang dia katakan. Kunyalakan lalu menggulirkan kontak Derry, sekretarisku. Aku meneleponnya untuk membawakanku beberapa stel baju ke sini. Tak mungkin aku tahan memakai kaos minnie mouse kekecilan dan sarung belel ini. Duh!
**
"Ting! Tong!"
Aku segera melesat menyambar gagang pintu. Derry berdiri mematung saat aku membukanya, menatapku nanar. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, tampilanku yang entah seperti apa. Aku sendiri tak ingin membayangkannya. Tanpa banyak kata aku segera meraih travel bag di jinjingannya dan langsung menutup pintu. Sambil berujar cepat, "Gak usah nyebar gosip. Ini darurat!"
Apartemen ini memiliki 2 kamar yang bersisian, satu kamar utama dengan kamar mandi dalam dan satu kamar tamu. Ada satu lagi kamar mandi luar yang berada di dekat dapur di seberang ruang TV. Saat membelinya dulu, mama bilang kalau aku bisa tinggal di sini dengan Larasati jika aku mau. Kamar utama untukku, dan kamar tamu untuknya. Dan ternyata memang begitu, dia ternyata menempati kamar tamu. Kamar utama ini tetap dibiarkannya kosong, kondisinya masih sama saperti saat awal dibeli dulu. Tak ada debu yang menumpuk, berarti dia rajin membersihkan. Apa diam-diam dia berharap agar suatu saat aku pulang ke sini? Makanya dibersihkan? Ah, yang benar saja! Kuenyahkan segera pikiran-pikiran konyolku.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku beranjak ke teras balkon, membuka pintu kacanya, mengambil semua pakaianku yang tergantung di sana. Masuk lagi dan melipatnya rapi di meja kecil depan TV.
Kulihat beberapa tumpukan buku dan majalah yang ada di sana. Semuanya buku dan majalah arsitektur, hunian dan rumah, struktur bangunan, material dan perhotelan. Ah, benar juga. Mama pernah bilang sekilas dulu kalau gadis itu kuliah jurusan arsitektur. Mengingat itu, aku melihat ke arah pintu kamarnya. Sejak makan siang tadi, dia tak lagi menampakkan batang hidungnya.
"Tok! Tok! Tok!" Kuketuk pintu kamarnya.
"Aku sibuk. Ada apa?"
"Lo mau makan apa buat ntar malem?"
"Gak usah. Aku masih ada nasi goreng setengah piring tadi siang. Beli buat kamu aja!"
"Nasi gorengmu gak enak. Gausah dimakan!"
"Gila!"
Dia berteriak cukup keras. Sudah dua kali hari ini dia mengataiku gila. Enak saja. Karena kesal, kubuka kasar pintu kamarnya tanpa permisi, bersiap membalas umpatannya. Namun, aku dibuatnya tercengang. Kamar ini, ini... Apa-apaan dia? Aku tercekat.
Kulangkahkan kakiku ke dalamnya, mataku mengerjap. Ini bukan seperti kamar-kamar di apartemen pada umumnya. Kulihat Larasati sedang duduk di dekat jendela, memegang kuas sambil melotot menatapku heran karena masuk kamarnya tanpa permisi. Di depannya terpampang kanvas yang cukup lebar, rupanya dia sedang melukis. Di belakangnya ada satu set komputer dengan dua layar monitor cukup besar. Di seberang terdapat lemari baju satu pintu, dan rak perkakas yang menjulang tinggi hingga menyentuh plafon. Di tengah-tengah kamar ini terdapat panggung kayu persegi yang cukup rendah, mungkin tingginya hanya sepuluh senti dari lantai. Disana tergeletak sekotak peralatan pertukangan seperti gergaji, gerinda, palu, dan kawan-kawannya yang aku tak tahu. Dia atasnya terdapat rel besi melingkar mengelilingi tengah ruangan, dengan tirai plastik yang tergulung rapi di tiap sisi. Sedang di dinding dekat pintu, terdapat panel dinding dari mozaik kayu meliuk-liuk yang tak bisa kujabarkan bagaimana bentuknya. Indah... Mungkin.
"Ka..sur.. " Aku tergagap.
"Eh, " Larasati menatapku heran.
"Di.. Dimana kasur???"
***