- Raditya -
***
"Ka.. Sur?" Aku tergagap.
"Eh?" Larasati menatapku heran.
"Di.. Di mana kasur?"
"Kujual." Dengan entengnya dia berkata seperti itu.
"APA?!"
Aku melotot ke arahnya tak percaya. "Sekalian sama ranjangnya?? Buat apa jual kasur?"
"Aku miskin, kalau lupa." Dia melirikku dari sudut matanya, lalu tertawa terpingkal-pingkal. Entah di mana letak leluconnya.
"Trus lo tidur di mana?" Tanyaku heran.
"Di situ lah." Menunjukkan jarinya ke tengah ruangan. "Kadang-kadang di sofa. Sering juga sih. Aku lebih butuh tempat buat 'mbengkel' daripada kasur buat tidur. Kan apartemen gak ada halamannya Dit."
Aku geleng-geleng kepala. Entah kenapa kakiku seperti terhipnotis untuk terus melangkah masuk, tanpa kuperintah. Kuseret kursi kerja di dekat meja komputer, menatap dua layar monitor besar itu sekilas lalu menggeser duduk ku di dekat jendela. Di sampingnya yang sedang santainya menyolek-nyolek warna di papan palet kecil dari kayu.
"Pacarmu?"
Kutanyakan siapa wajah lelaki yang sedang di lukisnya itu.
"Bukan."
"Ayahmu?"
"Bukan."
"Lalu, idolamu?"
"Bukan juga. Kenapa?" Dia menoleh ke arahku, matanya menyipit, mempertanyakan keingintahuanku yang tiba-tiba.
"Lha kok bisa bukan siapa-siapa tapi dijadiin lukisan." Aku bersidekap.
"Lha emang kenapa gak bisa?" Dia tersenyum. Manis. Lalu melanjutkan kembali kesibukannya dengan kuas dan warna.
"Cuma sekedar wajah yang muncul di pikiran waktu mau bikin lukisan. Ya sudah, di sketsa, di lukis deh."
Ooo.
"Ini tugas kuliah?"
"Bukan."
"Buat dijual?"
"Bukan juga." Dia terbahak. "Kamu lagi interogasi aku? Penasaran?"
"Ng...nggaak. Emang ga boleh tanya-tanya? Di luar sepi. Mending ngribetin kamu di sini."
"Cih. Ini lukisan untuk pameran seni minggu depan di Bandung. Sebenarnya bukan pameran jurusan sih, tapi komunitas."
Ooo.
Hening.
Kupandangi wajahnya yang serius di depan kanvas. Sebenarnya dia tidak jelek-jelek amat sih jadi cewek, pikirku. Tapi rambutnya yang cepak pendek seperti laki-laki itu membuatku terganggu. Entah kenapa. Rahangnya tegas, alisnya tebal, hidungnya standar tidak mancung tidak pesek. Bibirnya penuh. Dan matanya, matanya hitam jernih. Hitam yang pekat. Benar-benar pekat. Terkadang membuat nyaliku menciut saat menatapnya.
"Jangan diliatin terus. Ntar jatuh cinta."
Aku tergugu dengan ucapannya yang tiba-tiba. Membuatku langsung berdiri salah tingkah, kugaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Jadi, mau makan apa nanti malam?"
"Aku masih ada nasi goreng. Kamu aja kalau mau beli."
Dia menoleh, menghentikan kegiatan tangannya. Menatapku heran.
"Emang kamu mau nginap sini lagi? Lagi diusir nih ceritanya? "
"Sembarangan! Siapa yang diusir. Aku punya apartemen sendiri. Ga tinggal di rumah Mama."
"Lha terus? Kenapa gak pulang? Bukannya kamu benci sama aku?"
"Sepi." Jawabku cepat. Tak ingin menjabarkan alasan sebenarnya kenapa aku tak ingin pulang.
Aku melirik ke arah kiriku. Ke tempat dinding dengan panel mozaik kayu yang menyerupai ombak itu. Tertegun. Aku mendekatinya.
"Ini kamu yang buat?"
"Iya. Suka?"
"Hmm.. Indah banget Ras." Gumamku lirih.
Tanpa sadar, itulah pertama kalinya aku menyebut namanya setelah akad nikah dulu.
Aku menyentuh panel kayu itu dengan jari-jariku. Potongan-potongan kayu yang disusun dan diukir menjadi satu bingkai dinding besar. Halus dan bertekstur, tapi tidak kasar. Seperti ada pecahan-pecahan kaca yang terselip di sela-sela nya. Menampilkan pantulan cahaya-cahaya yang seolah tampak bersahutan. Seperti pantulan cahaya ombak di lautan. Aku menghela napas panjang. Entah kenapa, ada sesuatu di dadaku yang mendadak bergemuruh.
"Kalau lagi gelap, disinarin pake proyektor. Lebih bagus." Dia menatapku yang diam melongo mengagumi dinding kamarnya.
"Like the dark vast ocean.. "
Gumam kami bersamaan.
Kaget, aku menoleh ke arahnya. Menatap lekat wajahnya yang tersenyum teduh ke arahku. Cahaya sore yang menyinari kami dari jendela membuat mataku silau dan jantungku bertalu-talu. Perasaan apa ini.
"I don't think you hate me anymore."
"Eh.. " Aku tersadar dari lamunanku.
Laras bangkit dari duduknya, mengelap tangannya dengan tisu basah lalu berjalan ke arah pintu.
"Aku mau sholat Ashar. Kamu gak sholat?"
Deg.
Aku mengerjap. Bingung. Linglung. Sebelum sempat menjawab, Laras sudah keluar dari kamarnya menuju kamar mandi di dekat dapur. Meninggalkanku terdiam di sini. Dengan pikiran berkecamuk.
Keliru. Kalah. Malu.
Aku sudah lama tidak sholat lima waktu.
***