- Raditya -
***
[20.50]
"Berangkat kerja?"
"Mm.. Iya sih. Dan nggak." Dia tersenyum, sambil duduk menali sepatunya di ruang tamu.
Aku mengernyit. Tak paham.
"Hari ini hari terakhir aku kerja di sana. Mau pamitan."
"Lhoh. Sudah resign? Emang udah dapet kerjaan baru?"
"Sudah, tapi bukan baru. Alhamdulillah. Mulai Senin depan."
"Jadi kasir di cafe yang lebih besar?"
"Hahahaaa." Dia tertawa dengan pertanyaanku. "Masak seumur hidup aku harus jadi kasir?"
"Eh. Bukan begitu.. "
"Aku ketrima jadi drafter paruh waktu di konsultan arsitektur dan interior. Sebenernya aku udah kerja sama mereka setahunan ini sih, tapi work from home. Kerjaannya by email. Dan sekarang mereka minta aku ngantor. Naik pangkat deh. Kali dikasih proyek gede, cuan juga gede." Matanya selalu berbinar, kalau lagi ngomongin uang.
"Udah, ah. Nanya mulu. Kamu di sini sampai kapan?"
Aku mengedikkan bahu. "Mau di anterin?"
"Kemana?"
"Pamitan.. "
Laras memutar bola matanya jengah. Aku tertawa. Setelahnya dia mengucap salam lalu menghilang dari pintu.
Sudah seminggu aku menginap di sini. Selain karena aku masih enggan untuk kembali ke apartemenku sendiri, entah kenapa berbicara dengan Larasati bisa membuatku melupakan sejenak sakit hati yang kurasakan. Kecuali kalau dia sedang menyindir atau mengingatkanku untuk sholat. Rasanya kepalaku justru mendidih karena sebab lain.
Tapi jangan dipikir bahwa seminggu ini kami punya banyak waktu untuk bicara. Karena ternyata Laras lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Dia bekerja keras dengan segalanya. Pagi sore dia kuliah, lalu saat malam dia bekerja di coffee shop seberang jalan dari jam 9 malam hingga jam 3 pagi. Kalau di rumah aku bertemu dengannya hanya saat sarapan atau makan malam, atau ketika aku mengekorinya di pintu sebelum berangkat seperti tadi. Selebihnya dia akan mendekam di kamarnya entah mengerjakan apa.
Tiga hari terakhir dia selalu menanyakan kapan aku akan kembali ke apartemenku sendiri, dan selalu mengunci pintu kamarnya. Padahal sebelumnya tidak. Saat kutanyakan kenapa, dia hanya menjawab asal bahwa itu karena aku berisik dan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pusing kepalanya, dan mengganggu efektivitas konsentrasinya. Memang sih, sejak aku terbangun dan terkagum dengan dinding kamarnya, aku merasa ingin menanyakan padanya banyak hal. Karena entah kenapa, gadis itu terkadang memberiku jawaban yang hanya akan menumbuhkan tanda tanya lain di kepalaku. Dan itu membuat otakku, yang penuh dengan Melanie dan Melanie lagi, menjadi sedikit terurai dan menemukan kelegaan.
Derry:
[Dit, udah ngecek laporan yang gue kirimin?]
Radit:
[Belom. Gue mau makan dulu, baru kerja. Something urgent?]
Derry:
[Nggak sih. Tadi Melanie ke resto, nyariin elo.]
Radit:
[Trus lo kasih tau gue ada di sini?]
Derry:
[Gaklah. Gue masih pengen digaji.]
Kulempar hpku ke sofa. Aku meraup kasar mukaku, lalu segera menuju dapur untuk memasak makan malam. Menggoreng ingatan tentang Melanie di wajan, atau merebusnya tak tersisa hingga jadi uap. Kesal. Marah. Kecewa.
Melanie adalah bunga di hatiku selama satu setengah tahun terakhir. Setelah Stephanie dipaksa tinggal di Singapura dan diblokir aksesnya denganku, aku memang sudah memacari beberapa wanita sejak awal masuk kuliah. Namun, hanya Melanie yang kuhitung paling serius dan paling lama. Biasanya aku hanya tahan berkencan dengan wanita sebulan saja, setelah itu bosan dan bergantilah dengan wanita lainnya. Tapi tidak dengan Melanie. Dia berbeda.
Dia adalah gadis blesteran Korea-China-Padang. Wajahnya cantik, imut, tinggi, ramping, leher jenjang, dan tentu rambutnya panjang lurus sepunggung. Melanie seorang wanita mandiri, modern, dan elegan. Usia kami terpaut 5 tahun, dia lebih tua dariku. Kami bertemu pertama kali ketika aku berlibur ke Korea. Setelahnya, bisa ditebak. Aku menjadikannya kekasih, lalu rekan bisnis, dan teman bersenang-senang di atas ranjang. Suka sama suka.
Aku bahagia bersamanya. Kami merintis bisnis restoran Korea bersama-sama. Sekarang setelah kami berpisah, aku memikirkan cara untuk membagi restoku itu dengannya. Ternyata bukan hanya menghapus foto-foto kenangan di fesbuk dan i********: saja yang memusingkan, perkara harta gono-gini itu juga urusan yang jauh lebih pelik. Pantas saja banyak pasangan bercerai nyangkut di pengadilan agama karena urusan harta.
Hatiku hancur ketika seminggu lalu aku memergoki Melanie sedang asyik b******u dengan pria lain. Syok. Kaget. Marah. Aku memutuskan hubungan kami saat itu juga. Terlalu kacau, akhirnya aku pergi ke club dan minum-minum. Dan entah bagaimana, aku malah berakhir mengetuk pintu ini, dan pulang menemui istri yang tak pernah kuakui.
Aku memasak sate goreng, oseng wortel brokoli, dan telur dadar untuk makan malam. Selama di sini, aku mengambil alih urusan dapur. Aku tak membiarkan Laras mendekati kompor, aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan rasa nasi gorengnya waktu itu mengerikan. Bagaimana gadis itu bisa hidup tenang dengan memakan masakannya yang tak karuan rasanya itu. Ckckck.
Bukan hanya itu. Kulkasnya seperti gurun pasir yang kering kerontang. Hanya ada dua butir telur, satu tahu, dan sebotol besar air dingin. Tak ada yang lain. Semiskin itukah dia? Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Untuk apa dia bekerja siang malam tapi tak menikmati hasil jerih payahnya. Akhirnya, akulah yang pergi berbelanja dan meniupkan kembali arwah ke dalam kulkas dua pintunya. Mengisinya dengan berbagai macam bahan makanan, minuman, dan camilan. Tak usah dibayangkan wajah Laras ketika tahu isi kulkasnya penuh warna, gadis itu menganga bahagia bagai bertemu pintu surga. Aku selalu tertawa jika mengingat betapa lucu wajahnya saat itu.
*Bip*
"Waaahh. Enak bangett!" Suara Laras memecah lamunanku. Aku tergelak. Baru satu jam, dia sudah pulang.
"Masak apa?" Dia melongok antusias ke meja makan.
"Laper?"
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Pergi ke kamarnya sebentar, sebelum bergabung denganku di meja makan. Meja makan di mana dulu aku hampir ingin meninju mukanya di hadapan mamaku.
"Gimana pamitannya? Lancar?"
"Lancar dong. Dikasih pesangon malah." Dia terkekeh. Senyumnya mengembang. Lebar. Melahap habis hampir semua makanan yang ada di meja. Melihatnya makan saja perutku jadi kenyang.
"Tinggalin aja. Biar aku yang cuci." Aku menghentikan tangannya yang sedang merapikan piring makan kami. Dia menatapku heran.
"Gak. Kamu yang masak aku yang cuci."
"Gpp. Tinggalin aja." Aku meraih piring-piring di tangannya dan menumpuknya di sink. Menyalakan keran, lalu mulai mencuci.
"Makanannya enak. Makasih." Dia menatapku, masih berdiri di samping meja makan. Aku tertawa mendengarnya. Sebelum kemudian dia beranjak ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Aku tertawa lagi, lebih keras. Dia tetap tak mau diganggu, meski sudah kukenyangkan perutnya.
Begitulah, seminggu ini kuhabiskan bersamanya. Hanya dengan memberinya sarapan dan makan malam layak entah kenapa membuatku merasa begitu bahagia.
Sederhana.
***