Helena kini duduk di tepian ranjang suaminya, dengan air mata yang menggenang, Helena tak menyangka semua ini terjadi begitu cepat, dan itu membuat hatinya merontah meminta keadilan. Arley melihat kesedihan Helena, dan membawakan minum buat istri temannya itu. “Kamu minum dulu,” kata Arley, menyodorkan satu gelas air putih. “Aku tidak haus,” jawab Helena. “Tapi sejak tadi kamu belum minum sesuatu, dengar suaramu yang serak itu.” “Aku tidak haus. Taruh saja di situ,” kata Helena, tanpa menoleh pada Arley yang kini tengah kebingungan. “Lagian Arsen tak akan suka jika kamu seperti ini. Ya sudah. Aku pergi dulu. Aku akan kembali besok pagi,” kata Arley, lalu melangkah meninggalkan Helena yang kini menggenggam kuat tangan suaminya. Helena menyeka air matanya, dan menatap wajah suaminya.

