Bastian duduk jongkok mensejajarkan dengan duduk Sania. Ia menatap Sania yang manangis tersedu-sedu munutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sania," panggil Bastian dengan lembut. "Tolong lihat aku!"
Namun Sania malah menjerit dan berteriak histeris.
"Pergi, pergi dari sini ...! Aku tak mau melihat kamu di sini, kamu jahat, kamu sudah menghancurkan kehidupanku!"
Bastian merasa iba melihat Sania menangis histeris, ia bisa merasakan betapa hancur hati Sania.
Tanpa Bastian sadari, Bastian langsung memeluk tubuh Sania.
"Sania maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Aku ingin menikahimu sekarang."
Mendengar kata-kata Bastian tangis Sania agak mereda. Nafasnya masih tersengal-sengal dan dadanya terasa sesak.
Bastian melepas pelukannya, dan mengusap lembut rambut Sania yang tergerai tak beraturan. Dan setengah berbisik Bastian mengatakan.
"Lihat aku Sania, dan tatap mataku."
Bastian mendongakkan kepala Sania.
Hingga wajah Sania yang sembab terlihat persis di depan wajah Bastian.
"Bersiaplah, aku akan menikahi kamu sekarang. Aku akan menepati janjiku. Percayalah aku akan berusaha mencintai kamu!"
Bastian mengusap wajah Sania yang basah kena air mata dan membantu Sania agar berdiri.
Bastian yang terkenal mahal senyuman, tersenyum mengarah Sania.
Sania hanya diam terpaku, tak sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya. Ia hanya menatap Bastian dengan hati dan perasaan yang hancur berkeping-keping. Kedua bola matanya tak bisa membendung keluarnya bening air mata.
"Dan aku minta, dalam ijab khobul nanti. Aku tak mau melihat kamu mengeluarkan air mata kesedihan. Bersiaplah, sebab sebentar lagi juru rias akan segera datang."
Bastian meraih handuk di dekatnya dan dikalungkan di leher Sania. Ia segera melangkah ke luar kamar.
Sania tak segera beranjak dari berdirinya. Rasa kecewa dan kesal hinggap di hati Sania. Ia berpikir kalau semua ini takdir. Ia hanya menyesali nasibnya. Kalau dirinya tak datang ke Jakarta, kemungkinan tak kan terjadi hal seperti ini. Rasanya Sania ingin menjerit dan berteriak kalau Allah tak adil. Kenapa kesengsaraan ini terus menerpa dirinya.
"Kenapa semua ini terjadi padaku ya Allah, aku takut dengan diriku sendiri. Dan aku merasa kotor dengan perbuatan biadab anak buah Bastian."
Sania menangis tersedu-sedu lagi, Dengan duduk di lantai seperti tadi. Dan tangisnya semakin menjadi-jadi bak anak kecil yang minta dibelikan mainan.
Dengan hatinya yang kalut Sania berdiri ia mencari gunting atau pisau yang mungkin ada di laci. Ia terus berlari mengitari ruangan.
Tiba-tiba mata Sania terhenti dengan adanya benda yang dicari tergeletak di meja rias.
Dengan langkah perlahan Sania mendekati meja rias itu. Ia meraih gunting dan mengangkatnya tinggi-tinggi serta hendak meghujamkan ke dadanya.
Tok tok tok.
Sania tersentak kaget. Ia dengan perlahan meletakan kembali gunting yang ada di genggamanya ke atas meja rias.
Sania tersadar apa yang dilakukan dengan menyebut nama Allah tiga kali dan menarik nafas dalam-dalam.
"Ampuni aku ya, Allah? Apa yang hendak aku lakukan," ucapnya lirih dengan berkali-kali serta menundukan kepalanya. Dengan menangis tersedu-sedu.
Tanpa di sadari Sania, pintu kamar sudah terbuka dan anak buah Bastian sudah berdiri di depan pintu dengan seorang perempuan cantik.
"Nona, ini juru rias yang akan merias, Nona."
Sania dengan cepat menghapus air matanya, "Ya, masuklah aku hendak mandi."
Tanpa memandang kedua orang itu masuk. Sania dengan cepat meraih handuk dan masuk kamar mandi.
"Nona Ester, kami mohon Nona jangan bertanya apapun tentang Nona tadi. Itu pesan dari tuan Bastian."
"Baik, Tuan," Jawab Ester seorang penata rias dengan duduk di sofa kamar sambil memandang berlalunya anak buah Bastian.
Dan dalam hati Ester bertanya-tanya. "Siapa wanita tadi? kenapa dia menangis? Aku tak boleh diam. Sesuai dengan perintah tuan Edward yang mana aku ditugaskan sebagai mata-mata apa yang di lakukan tuan Bastian," batin Ester.
Sepuluh menit kemudian. Suara derit pintu kamar mandi mengagetkan lamunan Ester.
"Apakah Nona sudah siap?" tanya Ester dengan berdiri mendekati Sania.
Sania mengangguk. Dan segera duduk di depan cermin rias.
Mata Ester terus mengawasi wajah Sania ia sepertinya mengingatkan wajah seseorang yang pernah ia lihat. Namun siapa? Ester lupa. Ia terus mengingatnya tapi ingatanya tak menemukan juga.
Ester lebih kaget lagi ketika melihat wajah Sania yang penuh lebam. Dan luka goresan di beberapa tubuhnya. Ester memberanikan diri untuk bertanya walau ia melanggar perjanjian dengan tuan Bastian. "Kenapa wajah Nona membiru?"
Sania tersentak kaget mendengar pertanyaan Ester. Ia harus merahasiakan apa yang terjadi dengan dirinya. Sania tau kalau kamar ini ada penyadap suara. Kalau Sania menjawab pasti terdengar dari pendengaran Bastian.
"Oh, ini saya habis kecelakaan waktu saya hendak datang ke sini kemarin. Mobil yang aku tumpangi hancur untung aku bisa selamat dengan luka yang tak begitu serius," jawab Sania dibuat sesantai mungkin.
Namun mata batin Ester berkata lain. Ia tak percaya dengan ucapan Sania. Ester tak berani melanjutkan perkataanya dengan mendesak Sania untuk berterus terang.
"Boleh aku tau nama Nona?" tanya Ester setelah selesai merias wajah dan tinggal menata rambutnya.
"Cukup panggil saja aku Nona, kalau toh aku sudah selesai upacara pernikahan panggil saja aku Nyonya Bastian."
Ester bingung dengan jawaban Sania. Ia yakin kalau wanita yang di depanya sudah di tekan oleh anak buah Bastian.
"Apa anda takut Nona? Dengan orang yang ada di sekitar sini. Dan aku yakin kalau anda tawanan tuan Bastian. Bicaralah aku berada di pihak Nona."
Sania tersentak, tapi Sania tetap berusaha menutupi dan tak mau menjawab jujur. Ia berpikir kalau penata rias ini suruhan Bastian untuk menguji kejujuran dirinya. Ia takut hukuman terberat menimpa dirinya.
"Oh, bukan. Saya bukan tawanan. Saya pacar tercinta tuan Bastian. Nona jangan berpikiran negatif. Tuan Bastian laki-laki baik. Ia sangat menghormati wanita."
Tiba- tiba pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berdiri di depan pintu kamar, "Nona sudah di tunggu tuan Bastian. Sebab acara pernikahan segera di mulai."
Seorang wanita cantik menerobos masuk kamar, dan mengulurkan tanganya ke arah Sania.
"Ayo, bersamaku, Nona. Aku antar ke ruangan tuan Bastian. Ia sudah menunggu Nona."
"Mohon Nona Ester segera meninggalkan tempat ini," perintah anak buah Bastian.
Ester mengangguk. Dan bersiap-siap meninggalkan kamar.
Ester menuruni anak tangga dan langkahnya terhenti ketika anak buah Bastian menghadangnya.
"Nona Ester, tuan Bastian ingin bertemu dengan anda. Ia ingin menyelesaikan Administrasinya," ucap salah satu anak buah Bastian. Dan segera membawa Ester ke ruangan.
Di sebuah ruangan yang tak begitu luas. Ester di persilahkan menunggu Bastian yang sedang melangsungkan ijab khobul.
Tak ada guratan curiga pada wajah Ester. Ester mengira tuan Bastian tak bakalan tau kalau dirinya mata-mata tuan Edward. Dan ia sama sekali tak curiga sewaktu anak buah Bastian menutup pintu ruangan dan menguncinya.
Suasana markas yang digunakan untuk acara ijaban Sania dan Bastian sudah sepi. Saksi ijab sudah meninggalkan rumah mewah Bastian.
"Sania, kamu tunggu di sini. Sebentar lagi Dani akan menjemputmu untuk mengantar ke rumah induk. Di sana ada bibi Syanti yang menemanimu. Malam nanti aku ke sana."
Sania terdiam ia hanya melirik Bastian yang tiba-tiba meraih tubuh Sania dan sebuah ciuman mendarat di kening Sania.
Sania tersentak kaget. Ia ingin menghindar perlakuan Bastian. Namun ia tak bisa mengelak.
"Nggak usah takut, kita sudah suami istri, kan?"
Entah tiba-tiba Bastian yang mahal senyuman. Tersenyum lepas dengan memandang Sania yang tertunduk tak bergeming.
Dengan cepat Bastian meninggalkan kamar.
"Semua sudah siap tuan. Tinggal menunggu keputusan tuan Bastian," ucap salah satu anak buah Bastian ketika Bastian sudah berada di ruang pribadinya.
"Sebentar, menunggu Sania biar di pindahkan dulu," tegas Bastian
"Suruh Dani, agar cepat mengantar Sania ke rumah induk. Sebelum kita ledakan mobil tuan Edward yang ada di depan. Serta ruang yang dimana nona Ester di tempatkan!" perintah Bastian.
"Siap, Tuan!" suara lantang anak buah Bastian segera meninggalkan ruang pribadi Bastian.
Bastian terdiam dengan geram. Ia menghujamkan genggaman tanganya ke atas meja dengan keras.
"Sialan ...! Kenapa sampai kecolongan hingga Tuan Edward tau markas ini? Untung aku tak membahas tentang rahasia bisnisku. Pasti ada orang dalam sebagai mata-mata dan lapor pada tuan Edward," batin Bastian.
"Tapi siapa? Aku harus menyelidikinya sendiri," batin Bastian.
Hampir satu jam Ester menunggu Bastian di ruangan. Tiba-tiba terdengar suara jam tangan Ester berbunyi menandakan bahaya pada dirinya.
Ester bingung. Dan ia berpikir kalau Bastian tau kedatangan dirinya atas perintah tuan Edward.
"Aku yakin pasti Lion tertangkap. Dan aku terjebak di dalam ruangan ini. Bagaimana aku harus keluar dari ruangan ini."
Ester panik, ia berlari ke arah pintu dan menarik-narik gagang pintu. Namun pintu tak bergerak sedikitpun. Apalagi ruangan itu tak ada jendela.
"Tuan Bastian sengaja menjebakku," gumam Ester.
Ester meraih ponsel yang ada di tasnya. Ia ingin menghubungi tuan Edward, "Kenapa tak ada sinyal sama sekali."
Dengan kepanikan yang luar biasa. Tiba-tiba pintu terbuka. Ester kaget.
"Dani ...!" pekik Ester.
"Ayo, cepat kita keluar sebelum ruangan ini di ledakan."
Dani sopir pribadi tuan Bastian, yang termasuk anak buah tuan Edward yang ditugaskan sebagai mata-mata. Dengan berpura-pura sebagai sopir pribadi Bastian. Segera menarik tangan Ester. Dan menutup kembali pintu ruangan.
Ia lewat pintu belakang dengan lankah santai. Agar anak buah Bastian tak curiga sedikitpun terhadap mereka berdua. Sebab Ester sebelum keluar sengaja berdandan ala laki-laki yang memakai seragam Dani.
Di luar Ester sudah dijemput oleh anak buah tuan Edward.
Dani segera masuk ke markas kembali untuk menerima tugas dari Bastian mengantar Sania ke rumah induk.
Di dalam markas tak seorang anak buah Bastian tau apa yang tengah di lakukan Dani. Ia mengira Dani orang baik- baik dan setia pada Bastian.
"Nyonya Sania sudah keluar dari markas, Tuan!" Tegas Daniel berada di ruang pribadi Bastian.
"Sekiranya anak buah yang ada di markas aman. Segera ledakan mobil hitam yang ada di halaman markas, serta ruangan di mana nona Ester ada di dalam," perintah Bastian.
"Siap, Tuan?"
Bersambung.