Bab 5 Markas kebobolan.

1616 Kata
"Siap, Tuan!" suara lantang anak buah Bastian segera meninggalkan ruang pribadi Bastian. Di dalam markas tak seorang anak buah Bastian tau apa yang tengah dilakukan Dani. Ia mengira Dani orang baik- baik dan setia pada Bastian. "Nyonya Sania sudah keluar dari markas, Tuan!" tegas Daniel berada di ruang pribadi Bastian. "Sekiranya anak buah yang ada di markas aman. Segera ledakan mobil hitam yang ada di halaman markas, serta ruangan di mana nona Ester ada di dalam," perintah Bastian. "Siap, Tuan?" tegas Daniel meninggalkan ruangan Bastian. Bastian masih tampak tak percaya bahwa kedatangan juru rias, ternyata anak buah tuan Edward. "Sialan ...! Kenapa sampai kecolongan hingga Tuan Edward tau markas ini?" Dengan geram Bastian menghujamkan genggaman tangannya ke atas meja dengan keras. "Untung aku tadi tak membahas tentang rahasia bisnisku. Pasti ada orang dalam sebagai mata-mata dan lapor pada tuan Edward," batin Bastian. "Tapi siapa? Aku harus menyelidikinya sendiri," batin Bastian. Hampir satu jam Ester menunggu Bastian di ruangan. Tiba-tiba terdengar suara jam tangan Ester berbunyi menandakan bahaya pada dirinya. Ester bingung. Dan ia berpikir kalau Bastian tau kedatangan dirinya atas perintah tuan Edward. "Aku yakin pasti Lion tertangkap. Dan aku terjebak di dalam ruangan ini. Bagaimana aku harus keluar dari ruangan ini." Ester panik, ia berlari ke arah pintu dan menarik-narik gagang pintu. Namun pintu tak bergerak sedikitpun. Apalagi ruangan itu tak ada jendela. "Tuan Bastian sengaja menjebakku," gumam Ester. Ester meraih ponsel yang ada di tasnya. Ia ingin menghubungi tuan Edward, "Kenapa tak ada sinyal sama sekali." Dengan kepanikan yang luar biasa. Tiba-tiba pintu terbuka. Ester kaget. "Dani ...!" pekik Ester. "Ayo, cepat kita keluar sebelum ruangan ini di ledakan." Dani sopir pribadi tuan Bastian, yang termasuk anak buah tuan Edward yang ditugaskan sebagai mata-mata. Dengan berpura-pura sebagai sopir pribadi Bastian. Segera menarik tangan Ester. Dan menutup kembali pintu ruangan. Ia lewat pintu belakang dengan lankah santai. Agar anak buah Bastian tak curiga sedikitpun terhadap mereka berdua. Sebab Ester sebelum keluar sengaja berdandan ala laki-laki yang memakai seragam Dani. Di luar Ester sudah dijemput oleh anak buah tuan Edward. Dani segera masuk ke markas kembali untuk menerima tugas dari Bastian mengantar Sania ke rumah induk. Di dalam markas tak seorang anak buah Bastian tau apa yang tengah dilakukan Dani. Ia mengira Dani orang baik- baik dan setia pada Bastian. "Nyonya Sania sudah keluar dari markas, Tuan," ucap Daniel berada di ruang pribadi Bastian. "Sekiranya anak buah yang ada di markas aman. Segera ledakan mobil hitam yang ada di halaman markas, serta ruangan di mana nona Ester ada di dalam," perintah Bastian. "Siap, Tuan?" Bastian tak menyangka kalau Dani sudah melarikan Ester dan Lion. Bom yang sudah terpasang nunggu hitungan menit. Blum ... Bunyi menggelegar terdengar di sekitar. Beruntung di sekitar tak ada warga yang tinggal. Sengaja Bastian mendirikan markas yang jauh dari rumah warga dan tersembunyi tanpa diketahui siapapun. Sedangkan markas itu disamping untuk rapat rahasia juga untuk menyimpan barang haram yang akan diselundupkan. Dani terdiam melihat kepingan mobil dan ruang yang ada di belakang hancur berkeping-keping. Semua mengira Ester dan sopir yang ada di dalam mobil sudah hancur pula. "Beruntung aku tak terlambat sedetikpun. Jadi Ester sama Lion terselamatkan. Aku harus waspada dan hati-hati jangan sampai mereka tau kalau aku mata-mata tuan Edward. Tapi aku termasuk belum menemukan barang bukti bisnis apa yang terselubung kelompok tuan Bastian." Dani dengan senyum kemenangan meninggalkan Markas. Ia barusan di tugaskan tuan Bastian menjaga Sania. *** "Nah kita harus waspada sebab sepertinya ada penyusup di tempat kita, Daniel. Aku yakin wanita yang bernama Ester itu mata-mata dari tuan Edward. Sebab aku merekam pembicaraan Sania dan Ester di kamar." Bastian dengan duduk tak tenang di sofa ruangan pribadinya, "Tapi aku merasa lega bisa membunuh anak buah tuan Edward." Daniel manggut-manggut, "Sepemikiran dengan saya Tuan, adakah Tuan Bastian menaruh curiga pada seseorang di sini?" Bastian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dan mengangkat kaki kanannya hingga bertumpu pada kaki kirinya dengan menggoyang-goyangkan ujung kakinya. "Aku baru kali ini paham. Untung aku meletakan alat penyadap di setiap ruangan. Namun di ruangan nona Ester tadi. Aku tidak kepikiran untuk meletakan alat penyadap atau cctv. Daniel manggut-manggut, " Apakah Tuan tidak curiga pada sopir nyonya Sania?" Bastian tersentak dengan menatap Daniel. "Dani maksudmu?" dengan sepontanitas Bastian mengatakan, "Ohhh, tidak ....!" Bastian sambil menggelengkan kepala. Bastian tau persis siapa Dani. Dani yang ditemukan Bastian di jalanan, dalam keadaan dikeroyok pemuda tak dikenal. Bastian menolongnya dan di bawa pulang untuk di pekerjakan sebagai sopir. Di samping itu, Bastian tak yakin kalau Dani pemuda kampung bisa kenal dengan tuan Edward orang penting. "Ya, kita selidiki dulu, Tuan. Siapa diantara orang yang berada di sini sebagai penyusup?" "Good, i agree. Nanti malam kita adakan rapat di sini. Kita akan bahas tentang pemindahan markas kita." Daniel kaget dengan pernyataan Bastian yang hendak memindahkan markas ke tempat lain. "Kenapa, Tuan, markas harus di pindah? "Sepertinya tuan Edward tau sarang kita. Dan kalau bisa detik ini juga barang-barang kita segera di pindahkan ke gudang perusahaanku, untuk sementara. Sebab lusa barang itu hendak diambil seseorang dari warga Bilgia." "Siap tuan. Segera aku perintah anak buah." *** "Nyonya, nggak usah khawatir. Tuan Bastian itu orang baik. Disamping baik dia juga kaya, tajir pula." kata bik Syanti dengan menyiapkan makanan di meja makan. Sania memandang bibi Syanti lekat-lekat, "Bibi sudah lama kerja di sini?" "Kalau di rumah ini baru satu bulan. Dulunya saya bekerja di rumah wanita entahlah saya kurang tau Nyonya." "Oh..." Sania manggut- manggut. Dan bibi Syanti segera minta ijin ke dapur. Ia sengaja menghindari pertanyaan dari Sania. Sania heran dengan ucapan bibi Syanti tentang wanita yang kesannya di tutup-tutupi. Namun Sania tak mau melanjutkan pertanyaan tentang wanita tadi pada bibi Syanti. Namun tiba-tiba bibi Syanti kembali ke ruang makan, untuk menawari minuman. "Nyonya mau aku buatkan minuman?" Sania tersentak, pertanyaan bibi Syanti membuat Sania kaget. "Ohh nggak, Bibi, temani aku ngobrol saja." Sania menarik tangan bibi Syanti agar kembali duduk. Bibi Syanti bingung. Ia takut kalau Sania bertanya aneh-aneh sama bibi Syanti. Dan takut pembicaraannya tersadap. Sebab bibi Syanti tau di rumah tuan Bastian banyak rekaman cctv dan alat penyadap. "Ngomong-ngomong tuan Bastian kerjanya apa Bi?" tanya Sania dengan menatap bibi Syanti. "Lho, memang Nyonya nggak tau kerja tuan Bastian? Tuan Bastian itu orang terkenal, ia pengusaha kaya. Nyonya beruntung punya suami seperti tuan Bastian. Disamping kaya ia juga baik. Tuan Bastian banyak membantu orang miskin termasuk saya. Sampai dipekerjakan di sini," ungkap bibi Syanti. Sania membenarkan kata-kata bibi Syanti. Terlihat sosok Bastian disegani anak buahnya. Tapi Sania juga nggak begitu percaya sepenuhnya dengan ucapan bibi Syanti. Ia curiga dengan anak buahnya yang begitu ketat dalam menjaga rumah tuan Bastian seperti ada sesuatu yang disembunyikan." Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu memasuki rusng tengah menuju ruang makan "Bi, itu sepertinya tuan Bastian datang." Bibi Syanti segera berlari ke arah jendela. Dan matanya tertuju halaman rumah. Ia melihat mobil Bastian sudah terparkir di depan pintu masuk rumah. Bibi Syanti menganggukan kepala ke arah Sania. Rasa takut hinggap di hati Sania dengan debaran jantung yang berdegup kencang, dan pikiranya yang terus bergejolak. "Kenapa aku takut sekali menghadapi tuan Bastian," batin Sania. "Sania ..." sapa Bastian mengagetkan lamunan Sania. Seperti biasa Bastian memberi kode bibi Syanti agar meninggalkan ruangan. Sania berdiri dan memandang kedatangan Bastian yang berdiri di ambang pintu. "Apa yang harus saya lakukan, Tuan? saya orang baru di sini." "Bukankah kamu sudah menjadi istriku. Dan menjadi kewajiban kamu sebagai istri melayani suami." Bastian membalikan tubuhnya dan meninggalkan Sania yang masih berdiri dengan terpaku. Sania paham apa yang di katakan Bastian. Ia dengan pelan melangkah mengikuti Bastian menaiki anak tangga. Degupan jantung Sania kian meradang kala ia sudah berada di kamar dan melihat Bastian berbaring di ranjang dengan posisi miring dan tangan satunya menyangga kepalanya sudah bertelanjang d**a. "Mendekatlah ..." ucap Bastian. Sania tak bergeming ia tetap diam berdiri di depan pintu. "Sania Sayang, mendekatlah, kamu sudah menjadi istriku, kan? Kamu berdosa apabila tak mau melayaniku." Sania tetap diam tak bergerak dari posisinya. Hingga membuat jengkel Bastian. Bastian bangkit dari pembaringannya dan perlahan mendekati Sania. "Kamu nggak tuli, Sania. Kenapa kamu diam? Aku tak akan menyakiti kamu." Sania memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri dengan pelan. "Ya, Allah. Apa yang harus aku lakukan dengan laki-laki di depanku. Ia yang sudah merusak masa depanku? Aku benci ...! Benci...!" teriak batin Sania. Dengan samar bayangan keempat laki-laki yang menodai dirinya melintas di alam pikiranya. Tiba-tiba Sania menjatuhkam tubuhnya ke lantai dengan terduduk dan bersimpuh di kaki Bastian. Dengan berteriak histeris. "Bunuh saja aku, Tuan! Bunuh saja aku! Kenapa Tuan menyiksaku? Percuma aku hidup di dunia kalau kenyataanya bernasib tragis." Sania menangis tersedu-sedu dengan nada menghiba yang membuat Bastian bingung. Bastian seorang laki-laki kejam dan berdarah dingin. Entah tiba-tiba merasa iba mendengar ucapan Sania yang menyayat hati. Bastian duduk mensejajarkan posisi Sania. Ia menatap tajam Sania. Tiba-tiba tangan Bastian memegang dagu Sania dan mendongakan kepala Sania. "Sania hari ini aku tak akan memaksamu. Tapi kamu aku beri waktu dua hari. Kalau dua hari kamu tetap saja tak mau melayaniku. Aku tak segan-segan menghajarmu dan menyuruh anak buahku kembali menikmati tubuhmu ramai-ramai, paham kamu?" Bastian berdiri melangkah hendak berpakaian. Terdengar suara dering ponsel Bastian. Bastian segera meraih ponselnya di atas meja. "Tuan Bastian, ketiwasan. Ternyata anak buah tuan Edward sewaktu bom meledak dia sudah tak ada di tempat. Ia masih hidup," suara Daniel dari dalam tilfon. "Apa ...!" teriak bastian. "Aku segera ke sana." Bastian segera menutup ponselnya. "Sialan ...!" Bastian memukul meja rias yang ada didekatnya. Hingga terdengar suara gebrakan keras dan dentingan barang-barang berjatuhan di atas lantai. Sania semakin takut dengan mendekap lututnya ke dadanya dengan wajahnya di telungkupkan di kedua lututnya. Bastian melihat Sania ketakutan segera mendekat dan mengelus-elus rambut Sania yang terurai tak beraturan. "Berdirilah, Sania. Percayalah aku tak sejahat yang kamu lihat." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN