"Aku pergi dulu, dua hari aku kesini lagi, kamu harus siap untuk melayaniku tanpa alasan."
Bastian berdiri melangkah meninggalkan Sania yang masih duduk di lantai dengan terisak-isak.
Sepeninggal Bastian. Sania berdiri dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Dengan mata sembab ia mencari-cari celah dimana ia bisa melarikan diri.
"Aku harus pergi dari tempat ini, aku yakin tempat ini menyengsarakan aku. Dan Bastian akan menjualku ke laki-laki lain," gejolak batin Sania dengan terus memandang sekeliling.
Ia berlari ke arah jendela. Untuk meneliti satu per satu arah mana yang mungkin dirinya bisa keluar.
Namun Sania tak menemukan ruang sedikitpun untuk melarikan diri. Penjagaan begitu ketat. Manusia berpakaian serba hitam terus mondar mandir di halaman rumah yang dikelilingi pagar tinggi serta dua anjing besar yang berada di dekat pintu gerbang.
Anjing piaraan yang sangat terlatih. Kalau ada orang tak dikenal datang, ia terus-terusan menggonggong.
Tiba-tiba ingatan Sania tertuju pada Dani sang sopir.
"Aku harus menemui Dani, tapi bagaimana caranya agar aku bisa menemuinya? Sedangkan ponselku entah hilang kemana sejak peristiwa itu terjadi."
Sania berpikir keras hingga ia menemukan jalan keluar. Ia segera memencet tombol samping pintu kamar.
Tak lama kemudian bibik Syanti datang seperti biasa membawa sebuah senyuman.
"Nyonya memanggilku? Apa yang harus saya kerjakan, Nyonya?"
"Bi Syanti, tolong panggilkan Dani. Aku takut dengan anjing. Suruh dia menunggu di ruang depan."
"Baik, Nyonya."
Dengan cepat Sania merapihkan rambut dan wajahnya yang bekas menangis. Ia keluar menemui Dani. Setelah diberitahu bibi Syanti kalau Dani sudah menunggu di ruang tamu.
"Mas Dani, bisakah aku minta tolong denganmu? Aku ingin keluar ke supermarket untuk membeli keperluan wanita," ucap Sania mengambil tempat duduk di depan Dani.
Dani yang masih berdiri dengan sopan menatap wajah Sania. Baru kali ini Dani bisa bertatapan langsung dengan Sania meskipun ia sering satu mobil dengannya.
"Wajah itu mirip, mirip adikku yang meninggal enam bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan. Namanya juga sama," batin Dani.
Kejadian waktu. putri tuan Edward yang namanya sama yaitu Sania.
Pulang dari acara pesta pernikahan keluarganya. Ia mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan yang tak memenuhi standart. Tanpa bisa terkendali mobil Sania menabrak sebuah pohon di pinggir jalan hingga nyawa Sania tak bisa terselamatkan.
Menurut pihak kepolisian yang menangani kecelakaan itu. Rem mobil yang dikendarai Sania dalam keadaan blong. Itu yang membuat tuan Edward down dengan kematian putrinya. Tuan Edward yakin kalau kematian putri tunggalnya itu sebuah sabotase. Ia juga yakin peristiwa ini didalangi oleh Bastian yang dendam juga atas kematian ayahnya yang beberapa tahun yang lalu ditembak mati oleh anak buah tuan Edward. Yang saat itu ayah Bastian tidak merupakan target pencarian. Tuan Edward salah sasaran. Itu yang membuat dendam Bastian hingga ia terjun ke dunia hitam untuk balas dendam dengan kematian ayahnya.
Tuan Edward juga merasa dendam atas kematian anaknya yang diduga direncanakan oleh kelompok Bastian. Padahal Bastian tidak tahu menahu tentang putri tunggalnya meninggal dalam kecelakaan.
Atas kejadian itu. tuan Edward merencanakan akan memporak porandakan bisnis dan kehidupan Bastian, dengan bersandiwara menyuruh putranya Dani, agar bisa masuk lingkup bisnis Bastian. Beruntung dengan mudah dani menyiasati Bastian, dan masuk dalam kehidupan. Yang kala itu Dani juga bermain sandiwara di depan Bastian. Agar Bastian iba dan memberikan pekerjaan pada Dani.
"Bagaimana, Mas Dani? Apa Mas Dani sanggup mengantarku?" ucap Sania membuat Dani tersentak kaget.
"Mmm ... Saya harus minta izin dulu sama tuan Bastian. Kalau tidak kesalahan buat saya."
Mendengar ucapan Dani Sania kesal.
"Kenapa harus lapor segala sih?"
Dani tak menghiraukan pertanyaan Sania. Dani segera mengangkat ponselnya untuk menghubungi Bastian.
"Tidak, Dani! Nyonya Sania tidak diperbolehkan kemana-mana. Ia lagi sakit," jawab Bastian dalam tilfon.
"Tapi, sepertinya Nyonya hendak belanja kebutuhan wanita tuan?"
"Biar nanti dikirim anak buah. Suruh catat kebutuhan dia apa?"
"Baik, Tuan!"
Dani menutup ponselnya, "Maaf, Nyonya, ternyata tuan Bastian tak mengijinkan Nyonya keluar. Catat saja kebutuhan Nyonya nanti saya sampaikan."
Dani menyodorkan kertas bersama bolpoint ke arah Sania.
Sania diam menatap Dani dengan meraih kertas dan bolpoint yang disodorkan Dani. Ada perasaan kecewa hinggap dalam hati Sania.
Dani diam-diam mencuri pandang wajah Sania. Lagi-lagi ia kagum dengan kecantikan Sania.
Sania meraih bolpoint yang ada di tangan Dani sambil menggerutu, "Sebenarnya aku tak menginginkan ini. Aku ingin bebas tanpa terkurung," keluh Sania pelan.
Mendengar keluhan Sania. Ada rasa kasian hinggap di hati Dani. Rasanya Dani ingin menanyakan sesuatu sama Sania. Namun ia belum berani. Sebab menunggu waktu yang tepat. Dani tau kalau di sekitar sini banyak mata-mata. Takutnya nanti ketahuan, malah pulang tinggal nama. Sebab tugas Dani belum selesai.
"Turuti perintah tuan Bastian, Nyonya."
Dani mengambil catatan yang disodorkan Sania. Dan melangkah meninggalkan Sania. Namun hati Dani diliputi teka teki tentang siapa sebetulnya Sania? Dimana ia kenal Bastian?
Dani bertanya pada dirinya sendiri. "Apakah Sania tawanan Bastian? Kalau memang Sania tawanan Bastian. Aku harus bisa membebaskan dengan resiko apapun."
Dani keluar menuju kamar yang sudah disediakan Bastian untuk anak buahnya. Namun khusus untuk kamar Dani Bastian memberikan tempat khusus berupa pavilyun.
Sania menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa dengan mengambil nafas dalam-dalam. Ia memandang sekeliling ruangan. Lagi-lagi pikiranya terus ingin keluar dari rumah Bastian.
"Aku harus bisa melarikan diri, tapi bagaimana caranya. Sedangkan rumah ini dikelilingi tembok tinggi." batin Sania.
***
"Bagaimana semua bisa terjadi? Coba rekaman cctv dibuka semua. Siapa yang menyelamatkan nona Ester dan sopirnya? Kalau sampai orang dalam sendiri aku tak segan-segan membunuhnya!" ancam Bastian dengan marah.
"Pengawal, panggil petugas ITE suruh dia menghadapku dengan rekaman cctv dibawa ke sini," perintah Bastian.
"Siap, Tuan."
Sang pengawal yang selalu berdiri di depan pintu ruang Bastian dengan cepat keluar.
"Jadi percuma. Tuan. Kita meledakan ruangan tadi, yang ternyata isinya kosong."
"Itu yang membuat aku pusing. Kenapa penjagaan begitu ketat kita bisa kecolongan?" tanya Bastian dengan nada tinggi.
Dua orang pekerja ITE masuk dengan membawa sebuah benda berbentuk persegi. Ia meletakan di atas meja depan Bastian. Dua orang yang juga komplotan sendikat Bastian membuka layar laptop dan menggerak-gerakan most yang ada di tangannya.
Terlihat dari layar persegi sosok laki-laki berpakaian hitam keluar dari ruangan dengan menarik tangan Ester dan menutupnya kembali ruangan itu serta berlari ke arah pintu belakang. Setelah itu tak terlihat dalam layar ke mana perginya laki-laki itu dengan membawa Ester keluar.
Bastian mengamati layar kaca dengan cermat.
"Coba perhatikan Daniel, siapa laki-laki ini?" Bastian menunjuk layar laptop.
"Ini pasti orang dalam sendiri, kan?" tanya Bastian.
Mata Danil terus mengamati laki-laki yang berada di layar laptop itu.
"Kalau Dani yang saya curigai tak mungkin, Daniel. Laki-laki ini berpostur tinggi besar. Sedangkan Dani tubuhnya sedang. Aku tak yakin kalau ini Dani."
Daniel manggut-manggut. Ia sependapat dengan Bastian.
"Bagaimana kalau penjaga pintu belakang kita panggil, Tuan?"
Bastian setuju. Dan menyuruh anak buahnya untuk memanggil penjaga pintu belakang.
Tak sampai lima menit. Dua orang penjaga masuk menghadap Bastian.
Bastian menatap kedua penjaga pintu belakang yang semua memanggil dengan sebutan bang Andre dan bang Marlon.
Kedua orang itu gemetar apabila sudah di panggil ke ruangan Bastian. Pasti ada kesalahan yang ia lakukan.
"Kamu tau kenapa aku memanggilmu?" tanya Bastian.
"Tidak tau, Tuan," jawab Andre dan Marlion hampir bersamaan.
"Lihat ini?" ucap Bastian dengan nada tinggi. Yang membuat gemetar semua yang ada di ruangan.
Andre menatap layar laptop di atas meja, diikuti Marlion.
"Saya tak mengerti, Tuan," ujar Marlion.
"Bodoh kamu ... Ceroboh kamu! Ini orang penyusup tau? Ia melarikan anak buah tuan Edward yang hendak menjadi mata-mata kita. Karuan dua orang ini lari ke arah belakang. Pasti dia lari lewat belakang!" gertak Daniel.
Andre mencoba mengingat. Tapi tak menemukan dua orang penyusup keluar lewat pintu belakang.
"Menurut saya tak ada tuan. Yang saya ketahui sopir nyonya Sania masuk dari pintu belakang dengan terburu- buru sebab hendak mengantar nyonya Sania," jelas Andre dengan tegas.
Bastian memandang Daniel. Mata mereka saling bertatapan.
"Ya sudah, tinggalkan tempat ini," perintah Bastian.
Bastian kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan menyuruh anak buah ITE untuk meninggalkan ruangan.
"Daniel aku akan memasang seluruh cctv di markas baru. Aku yakin anak buahku ada yang penghianat."
"Saya setuju, Tuan. Nanti diatur serapih mungkin.
***
Siang sudah berganti malam. Sang surya mulai bersembunyi di tempat peraduannya. Cakrawala jingga dengan pelan berubah menjadi kelabu dan lama kelamaan hitam pekat dengan tersambutnya malam tiba.
Suara burung hantu di luar rumah mewah yang jauh dari penduduk desa terdengar. Membuat bulu kuduk merinding.
Namun seorang Sania tak menghiraukan dengan suara-suara itu. Pikiranya hanya ingin lari dari kekangan Bastian.
Ia kembali melangkah menuju jendela seperti biasa. Ingin melihat apakah di luar aman. Sebab siang tadi Sania sengaja jalan-jalan di taman belakang. Sepertinya Sania menemukan jalan menuju ke luar.
Dirasa Sania semua penjaga pada tidur. Tampak dari jendela lantai atas kamar Sania. Halaman sudah tampak sepi.
"Sepertinya, sudah Aman," lirihnya.
Dengan cepat Sania meraih tas ranselnya. Dan mengendap-endap seperti pencuri Sania berjalan menuju pintu belakang taman.
Setiap ada suara yang mencurigakan, Sania dengan sigap bersembunyi. Hingga Sania sudah sampai di taman belakang.
Sania memandang keseluruh sudut taman hingga terdengar suara dengkuran seorang penjaga taman yang tidur di gasebo.
Sania meneliti dinding tembok dengan teliti. Tiba-tiba Sania tersenyum gembira saat melihat pintu yang hanya di tutup seng dan di ganjal sebilah kayu. Sania yakin itu pintu menuju keluar.
Dengan berjalan bak pencuri. Sania membuka perlahan pintu seng yang terganjal sebilah kayu.
Sania bekerja sangat hati-hati. Hingga ia bisa membuka pintu yang berukuran tubuh anak kecil.
Dengan berjalan merangkak Sania masuk ke lubang itu.
Bersambung.