Dengan berjalan bak pencuri. Sania dengan perlahan membuka pintu seng dengan sangat hati- hati agar tidak terdengar siapapun. Lubang pintu yang berukuran tubuh anak kecil terbuka.
"Alhamdulilah, ternyata aku bisa menghirup udara bebas. Aku akan bebas!" suara batin Sania dengan tersenyum.
Ia merangkak perlahan tak menghiraukan pakaian yang di kenakan pada robek tersangkut ranting-ranting rerimbunan.
Ia terus merangkak hingga mencapai garis pintu luar.
Sania berdiri dengan tersenyum, "Akhirnya aku bisa juga."
Ia berjalan lagi dengan mengedap-edap. Takut ada anak buah Bastian yang mengetahui keberadaannya.
Namun Sania bingung dengan keadaan sekeliling. Bau sampah bercampur bau anyir menyengat hidung. Rasanya Sania ingin muntah.
"Ini tempat apa, ya? Aku kira tadi ini perkampungan atau jalan menuju rumah warga. Tapi kenapa tak ada rumah warga terlihat? Duh, aku harus berjalan ke arah mana? Semua tampak gelap?" batin Sania.
Sania menatap sinar rembulan yang berbentuk bulat penuh, dengan sinar menerangi rerumputan yang terbentang di tempat di mana Sania berjalan menyusuri arah dinding pagar.
Sania menghentikan langkahnya ketika mendengar suara derap langkah sepatu. Semakin lama langkah itu semakin mendekat dan mengarah ke arah Sania.
Sania panik mencari tempat persembunyian. Ia menemukan celah dinding pagar yang menonjol. Sania segera bersembunyi di celah itu. Dengan jantung berdegup kencang.
Dan semakin lama semakin terdengar jelas suara sepatu melangkah mendekati persembunyian Sania.
Sania kaget dan tubuhnya gemetar saat yang mendekat bukan satu orang bahkan tiga orang dengan membawa seekor anjing yang sering dilihat Sania ada di depan pintu gerbang.
Tubuh Sania semakin gemetar apalagi terdengar suara anjing itu menggonggong ke arah Sania bersembunyi.
"Mati aku ...! teriak batin Sania.
"Lindungi aku, ya Allah!"
Sania membalikan tubuhnya menghadap ke dinding dengan menutupi wajahnya. Ia tak bisa membayangkan kalau sampai terjadi anjing itu mencabik-cabik tubuhnya.
Sania mendengar ketiga laki-laki itu bicara dengan jelas.
"Kita harus menemukan penyusup itu, sepertinya ia berada di sekitar sini. Lihat si Brino anjing kita selalu mengarah ke sini," ucap salah satu dari ketiga laki-laki itu.
Tiba- tiba Brino si anjing itu lepas dari tangan salah satu dari ketiga laki-laki itu dan berlari mengarah persembunyian Sania.
Sania pasrah. Iya hanya menunggu detik-detik ekskusi dari cabikan gigi runcing Brino.
Brino terus menggonggong di belakang Sania yang menutupi wajahnya ke arah dinding. Tanpa di sadari Sania. Brino menarik pakaian Sania hingga robek.
Ketiga laki-laki itu segera berlari mendekati Brino dan Sania. Salah satu dari laki-laki menarik rantai Brino agar Brino menjauh dari Sania berdiri.
"Oh, ia seorang perempuan?" ucap laki-laki satunya dengan mendekati Sania serta menarik tubuh Sania hingga wajah Sania menghadap ketiga laki-laki yang mereka memanggil dengan sebutan bang Dul, bang Al, dan bang Azis.
Mata mereka bertiga kaget melihat wajah Sania yang tertimpa dengan samar pancaran sinar rembulan.
"Nyonya ...! pekik bang Dul, hampir bersamaan dengan kedua temannya.
Mata mereka melotot ke arah Sania. Sepertinya ketiga laki-laki itu tak percaya yang berdiri dihadapannya istri baru tuan Bastian. Mereka meyakinkan kalau yang di depanya benar-benar istri tuan Bastian.
Sania memandang mereka bertiga dengan tatapan sinis. Bayangan samar Sania muncul kembali saat kejadian dimana ia diperkosa keempat anak buah Bastian. Sania merasakan jika ia berdekatan dengan banyak laki-laki. Peristiwa pemerkosaan itu muncul di alam pikiranya. Dan ketakutan merasuki jiwanya. Ia takut kejadian itu terjadi lagi.
Tiba-tiba Sania menjerit dan menutupi matanya, Dengan duduk bersimpuh di depan ketiga laki-laki yang merupakan anak buah Bastian Sania menjerit-jerit minta ampun.
"Ampun Tuan, jangan ...! Jangan sentuh aku! Pergi kalian, pergi ...!" teriak Sania yang membuat ketiga laki-laki itu kaget.
Ketiga laki-laki itu saling berpandangan mereka tak mengerti apa yang tengah dilakukan Sania sampai ada di tempat bahaya.
"Nyonya, kenapa Nyonya ada di sini? Di sini tempat berbahaya," ucap Dul dengan duduk mendekati Sania.
"Pergi kalian ...! Biarkan aku mati dimakan anjing itu!" teriak Sania dengan mata membulat menatap Dul dan menunjuk anjing yang terikat talinya di tangan Azis.
Meraka berusaha membujuk Sania agar mau kembali pulang. Namun Sania malah menyuruhnya pergi. Dan menjerit histeris. Seakan ada beban pikiran yang menghantuinya.
"Lebih baik kita lapor saja sama tuan Bastian biar ia mendapat hukuman," suara Al dengan jelas. Sambil memutar-mutar besi yang panjangnya lima puluh centi meter yang tak lepas dari tangannya.
"Ya, Aku setuju lebih baik kita lapor sama tuan Bastian biar tuan Bastian sendiri yang menangani. Dan nanti kesalahan untuk kita apabila membiarkan Nyonya ini pergi," ungkap bang Azis.
Dul manggut-manggut, "Betul apa katamu, daripada kita kesalahan. Kita yang nantinya kena hukum."
"Silahkan, lapor sama tuanmu. Dan bilang kalau aku melarikan diri, biar aku ditembak mati!" seru Sania.
Al langsung mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Ia hendak menghubungi Bastian. Belum sampai Al memencet tombol pada ponselnya.
Tiba-tiba Dul memberi isyarat pada ketiga temanya dengan menempelkan jarinya ke bibir tebalnya.
"Settt ... Tolong hentikan dulu, Bang Al!" seru Dul, "Kalian mendengar suara motor mendekati arah sini, nggak?" tanya Dul dengan memasang telinganya baik-baik.
Mereka semua mengikuti arahan Dul dengan memasang telinga sungguh sungguh.
"Ya, aku mendengarnya. Kita siap-siap serang mereka, aku yakin kalau orang itu pasti bersekongkol dengan Nyonya ini. Ia akan menjemput Nyonya ini untuk membawa lari," seru Al.
Sania bingung mendengar perkataan ketiga laki-laki itu, ia bertambah ketakutan dan berpikir kalau pengendara sepeda motor itu orang jahat pula, "Aku harus siap-siap untuk lari dari sini," batin Sania dengan berdiri.
"Hee ...! Mau kemana, Nyonya? Jangan sampai Nyonya melarikan diri. Kalau sampai itu terjadi tongkat ini yang akan memukul kaki Nyonya, aku tak perduli Nyonya siapa? Daripada saya yang nantinya kena sasaran tembak mati tuan Bastian!" gertak Al.
Sepeda motor itu berhenti tepat di depan mereka berempat. Dan laki-laki pengendara sepeda motor itu melepas helmnya.
"Mas Dani ...!" pekik Dul hampir bersamaan dengan rekannya.
"Lho kenapa kalian di sini?" tanya Dani dengan pandangan mengarah ke Sania, "Nyonya, kenapa Nyonya ada di sini?"
Sania diam dengan memandang tajam Dani, Sania tak mau mengatakan apa-apa. Dalam pikiranya percuma ia mengatakan pada Dani sebab Dani juga merupakan anak buah Bastian.
"Ia berusaha kabur, Mas!" ucap Dul geram, "Kita harus lapor sama tuan Bastian. Daripada kita nanti yang kena hukuman."
Dani turun dari sepeda motor gedenya dan menjelaskan pada ke tiga anak buah Bastian. Kalau urusan Sania menjadi tanggung jawab Dani. Sebab Bastian memberikan kepercayaan penuh pada dirinya mengenai Sania. Dan Dani juga menjelaskan ia datang kesini sebab ada laporan dari salah satu penjaga taman kalau ada wanita keluar dari pintu belakang.
Mereka paham dengan penjelasan Dani. Dan Dani menyuruh penjaga untuk kembali ke rumah induk.
"Siap, Mas!" jawab ketiganya bersamaan. Dan meninggalkan Dani dan Sania. Ia tak akan berani dengan gertakan Dani. Mereka tau kalau Dani kepercayaan tuan Bastian.
Dani segera mendekati Sania. dengan rasa iba. Dan dengan tiba-tiba Dani meraih tangan Sania.
"Nyonya, Alangkah baiknya Nyonya kembali ke rumah, percuma Nyonya kabur. Di sini penjagaan ketat. Ayo aku antar sampai ke rumah lagi.
Sania dengan paksa menarik tangannya dari genggaman tangan Dani.
"Saya nggak akan pulang, tinggalkan saya sendiri di sini."
Dani berusaha membujuk Sania, "Nyonya, di sini tempat yang paling rawan. Nanti kalau ada apa-apa dengan Nyonya, saya yang bakalan di hukum dan kena imbasnya. Di samping itu, kalau Nyonya melarikan diri. Tuan Bastian tak akan diam. Ia tetap mencari Nyonya sampai ketemu."
"Aku nggak ambil perduli. Pergilah ...! Tinggalkan saya," Sania melangkah meninggalkan Dani yang berdiri dengan diam menatap langkah Sania.
Namun mata Dani tetap mengawasi kepergian Sania. Ia tak kan membiarkan Sania pergi. Kalau Sania pergi ia bakalan di pecat Bastian dan ia tak akan bisa menyelidiki gerak tuan Bastian.
"Nyonya ...! Dengar penjelasanku!" teriak Dani, berusaha mencegah kepergian Sania, "Kalau Nyonya berjalan mengarah lurus tak bakalan Nyonya berumur panjang. Di situ hutan lebat tak ada orang yang berani ke hutan itu!" teriak Dani.
Namun Sania tetap berjalan terus tak menghiraukan teriakan Dani.
Dani tak tinggal diam ia segera memacu sepeda besarnya mengejar Sania.
Dalam hati Dani penuh dengan pertanyaan. "Siapa Sania itu? Kenapa ia ingin melarikan diri? Padahal tuan Bastian sangat mencintainya. Dilihat dari cara Bastian memperlakukan Sania sangat mengistimewakan dengan memberikan pengawalan khusus. Aku harus tau dan menyelidikinya."
"Kenapa kau ikuti aku, Mas? Biarkan saja aku mati," kata ketus Sania tanpa memandang Dani yang menghadang perjalanan Sania.
"Nyonya, kalau Nyonya ingin melarikan diri, tahan dulu. Belum waktunya. Nyonya harus mencari celah bagaimana tuan Bastian terlena. Dan kalau sudah begitu saya akan bantu Nyonya meninggalkan rumah itu," Dani meyakinkan.
Sania menatap Dani dengan tajam.
"Aku secuilpun tak percaya dengan ucapan anak buah tuan Bastian. Semua b******k, mereka yang merusak masa depanku. Aku benci pada kalian," tiba-tiba Sania menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis sesenggukan. "Pergii ...! Enyahlah dari hadapanku!" teriak Sania dengan duduk bersimpuh di depan Dani.
Tanpa sadar Dani yang bertubuh kekar dan berwajah tampan dengan kulit Bersih mensejajarkan duduknya dengan duduk Sania. Ia memberanikan diri meraih tubuh Sania dan mendekap ke dadanya yang bidang, serta mengusap-usap rambut Sania dengan berkata lembut.
"Nyonya, percayalah saya tak seburuk yang Nyonya katakan. Aku akan menolong, Nyonya. Tapi ceritakan apa yang terjadi dengan Nyonya?"
Bersambung