Bab 16. Bukan Karena Cinta

1361 Kata

"Ibu nggak apa-apa?" tanya Bik Wati serak. Dengan telaten dia mengompres pipi Andrea yang memerah. Lima jari Damian tercetak di sana. Leher Andrea juga memerah. Dokter keluarga Oliver sudah datang mengobati, pria itu baru saja pergi beberapa saat yang lalu setelah memberikan resep obat. Pak Trisno sedang menebus obat tersebut di apotek. Sementara itu, Damian sudah pergi beberapa saat setelah memerintahkan Pak Trisno memanggil dokter untuk Andrea. Entah pergi ke mana, Sherina ikut bersamanya. "Saya nggak apa-apa, Bik." Andrea tersenyum. Tangannya terangkat, mengusap air mata di pipi Bik Wati. Perempuan paruh baya itu terus saja menangis dan meminta maaf kepadanya. Bik Wati terus menyalahkan diri atas apa yang terjadi kepadanya. Padahal, dia sudah berkali-kali mengatakan jika semua b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN