Yoshi menundukkan wajahnya hingga dekat dengan wajah Anita. Dia lalu membisikkan sesuatu ditelinga anita "Calon Istriku" kemudian Yoshi membalik bahu Anita. Tangannya menunjuk kearah teman-teman Anita. Anita menoleh pada Yoshi. "Sudahlah susul teman-teman mu dulu" ucap Yoshi berikutnya.
"Baiklah...aku pergi dulu" ucap Anita lembut.
Yoshi memegang ponselnya dengan gembira. Lalu kembali kemeja teman-temannya.
Mungkin hari ini hari paling bahagia yang dia rasakan selama ini. Dia bertemu gadis manis yang tadinya hanya bisa dilihatnya dari kejauhan.
"Yes...!" tampak kebahagiaan diwajah Yoshi. Dia tersenyum sejak tadi membuat teman-temannya heran.
" Yosh...Lo kenapa? udah miring?" tanya Arlan.
" Ih..enak aja" jawabnya singkat
"Gue perhatiin dari tadi Lo senyum sendiri, kesambet Lo" sindir erlan lagi.
"aish..." Yoshi mengibaskan tangannya.
"Siapa tadi? ha...baru lihat gue seorang Yoshi ngejar cewek Sampek buru-buru gitu." tanya Arlan lagi sambil menggerakkan alis matanya.
Semua juga tahu tadi betapa buru burunya si Yoshi nyusul cewek yang mau keluar dari cafe ini. Dan itu membuat teman-temannya terus memperhatikan Yoshi sejak tadi.
"Kamu lagi naksir sama cewek itu?" tanya Bima sambil menyikut perut Yoshi. "wah..wah..Karina pasti patah hati ini" lanjutnya lagi.
"Apaan sih" jawab Yoshi singkat.
"Kayaknya pernah lihat cewek itu deh...tapi dimana ya?..?" Arlan mengingat ingat dimana dia pernah melihatnya. Sepertinya tidak asing, tapi dimana ya?
"Sudahlah...aku itu sudah punya calon istri. Lagian kita semua bersahabat sama Karina."
Yoshi mengambil sedotan pada gelas minumannya dan menyeruput sampai habis.
Setelah keluar dari cafe Anita merasa dadanya seperti mau meledak. dia berhenti sejenak disamping pintu keluar untuk mengatur nafasnya yang berantakan kedua kakinya sangat lemas dan hampir terjatuh tadi.
Anita heran dengan dirinya sendiri, mengapa dia merasa tidak punya nyawa dihadapan Yoshi? Tidak biasanya dia seperti itu. Dan tidak pernah dia merasakan seperti itu sebelumnya dengan laki-laki manapun.
Setelah nafasnya teratur dan detak jantungnya sedikit melambat Anita menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu didepan cafe.
"kamu kenapa Nit?"tanya Steve begitu melihat Anita datang dengan wajah sedikit pucat.
"Nggak papa Steve, yuk berangkat" jawab Anita sambil masuk kedalam mobil Steve.
Dia duduk di kursi belakang bersama Adelia, sedang didepan Steve dan Alden.
Saat didalam mobil Anita masih terngiang-ngiang ucapan yoshi "Calon istriku" itu terdengar jelas ditelinganya.
Tadi dia sudah ketakutan kalau Yoshi akan melakukan sesuatu hal, tetapi siapa sangka dia hanya berbisik ditelingan Anita dan itu membuatnya sedikit lega meski ketegangan tidak bisa dia tutupi.
"Nit kau kenapa?" tanya adelia. Dia merasa Anita bengong terus dari tadi.
"Ah..e..tidak apa-apa?"
"eh..pasti ada yang kamu pikirkan. Kamu gak fokus sama sekali dari tadi" Adelia menelisik mata Anita mencari jawaban yang pasti.
"Hanya gugup besok hari pertama praktikum...tidak..boleh..ada kesalahan.." ucap Anita pelan, walau berbohong tapi itu masih bisa diterima.
"Em...bukannya kamu paling siap diantara kita? mana mungkin kau..."
"Sudahlah nanti kita belajar bersama setelah sampai di asrama"
Steve memotong Adelia, dia tahu Anita menjadi berubah sejak pada dokter muda itu datang. Insting seorang laki-lakinya mengatakan kalau salah satu dari mereka pasti ada urusan dengan Anita.
Tapi tadi Steve sempat melihat Anita melihat kearah dokter Yoshi dan Brian. Pasti salah satu dari mereka.
Steve segera fokus kembali pada jalanan, sebentar lagi sampai asrama.
Saat sudah sedikit tenang ponsel Anita bergetar, dia melihat ada notif masuk. Nomernya tidak terdaftar. Anita malas untuk membukanya dan memasukkan kembali kekantongnya.
Mereka sampai diasrama mahasiswa. asrama itu terletak dibelakang Rumah sakit itu namun untuk sampai kesana harus melewati jalan besar dan butuh waktu sekitar 15 menit.
Sebelum turun dari mobil Steve menoleh kebelakang dan memberi kode pada Anita agar tidak turun dari mobil.
"ada apa Steve?" tanya Anita.
"Kamu kenal dengan para dokter tadi?" tanya Steve kemudian tanpa menoleh kearah Anita.
"sekedar tahu saja, mereka kan bintang kampus pasti semua juga tahu"
"Tapi sepertinya kamu ada urusan dengan mereka? kalo tidak mana mungkin kamu jadi melamun terus kayak gitu!" ucapan Steve ada benarnya Anita bahkan masih belum jika Steve menahan kekesalannya sejak tadi.
"Ah tidak...itu hanya "
"Hanya apa Anita? kau pikir kau bisa bohong padaku? katakan kau sedang berpikir apa?" Steve memotong kalimat Anita.
"Kau tidak bisa menjawab? berarti dugaanku benar" Steve sangat kesal lalu turun dari mobil dan membanting pintunya.
Dugaan? ya dulu saat Steve menyatakan perasaannya pada Anita dia juga bersikap seperti itu, namun saat Steve memintanya untuk berteman kembali Anita bersikap seperti biasanya.
Anita turun dari mobil Steve sambil menunduk. bahkan dia mengabaikan sapaan temannya saat melewati kamar-kamar. sampai didepan kamarnya Anita mengambil kunci kamar dari dalam tasnya. Dan itupun dia lakukan masih dengan menunduk.
***
Asyifa membolak-balikkan ponselnya. sejak tadi mengirim pesan pada Anita tapi juga belum ada jawaban, bahkan dilihat saja belum. Karena pesan yang dikirim masih centang abu-abu.
"heh...lama banget sih!" gerutu Asyifa sambil tiduran dikasurnya. Karena bosan menunggu balasan dari Anita Asyifa pun main game diponselnya.
***
Anita selesai mandi lalu meraih ponsel yang sedari tadi belum disentuhnya. Ada beberapa pesan..Asyifa, Steve, Mirna dan nomor yang belum bernama.
Anita membuka pesan dari Asyifa
Asyifa
[Gimana Rumah sakit?]
[Lagi apasih lama banget balesnya]
[Woooyyy....]
Anita tersenyum melihat itu lalu membalasnya
Anita
[Masih orientasi keliling RS]
[Malem nanti vicall...oke]
Lalu Anita menggeser layar membuka pesan dari Mirna.
Mirna
[Dah makan belum? aku bawain ya nanti?]
Anita
[Oke...aku emang paper. males keluar lagi]
Mirna
[Siap...1 jam lagi selesai]
Anita membuka pesan dari Steve
Steve
[kamu hutang 1 penjelasan padaku]
hah...Anita menghela nafas kasar. Haruskah dia jujur pada Steve? sedangkan Mirna dan Asyifa tidak ada yang tahu.
Anita
[baiklah...tunggu saja Steve]
Steve
[Istirahatlah besok butuh tenaga extra]
[tak perlu kau balas]
Anita tersenyum melihat balasan Steve. anak ini tidak akan bisa marah dengannya. Anita membuka chat berikutnya dan dia sedikit ragu untuk menyentuh keypad ponselnya.
NoName
[Apa tadi berarti Ya?]
[Yoshi]
Anita berpikir sejenak sebelum menjawab.
Anita
[apakah ini serius?]
tidak lama untuk menunggu balasan darinya
Yoshi
[Tentu saja]
Anita
[Bukan kah kita belum saling kenal?]
Yoshi
[Masih ada waktu, hingga aku benar2 mewujudkannya]
[3tahun lagi saat AQ slesai pendidikan]
Anita
[Ooh...]
Yoshi
[Ooh?...bisakah kita bertemu langsung?]
Anita mengerutkan dahinya, baru saja hatinya tenang ini dia sudah mau bertemu lagi? tidak tahu apa yang akan terjadi dengan jantungnya jika bertemu dengannya nanti.
Anita
[AQ tidak tahu kapan, AQ sangat sibuk]
Yoshi
[beritahu saat kau tidak sibuk]
Huh...Anita menghela nafas lagi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? apakah tadi tanpa sengaja dia sudah menyetujui lamaran Yoshi? Apakah Anita ini masih waras? jelas dia tidak tahu apa-apa tentang Yoshi bisanya dia menerimanya.
Tapi masih ada waktu untuk menolak.
Bukankah masih ada waktu untuk saling mengenal atau bahkan menolaknya?