7. Praktikum pertama

927 Kata
ia"Asyifa!" ada panggilan dari lorong depan. Asyifa kemudian menghampiri teman-temannya. Hari ini ada ujian mingguan jadi mereka harus menyiapkan bahan dan pasien yang bersedia untuk dijadikan sampel. Selain itu mereka juga bekerjasama dengan mahasiswa yang sedang praktikum juga seperti dari keperawatan, kebidanan, dan dokter Koas. Untungnya dokter Koas disini berasal dari kampus yang sama jadi lebih mudah untuk meminta bantuan. *** Anita sudah berada di Semarang dia sudah menerima jadwal praktikumnya. Tiga bulan kedepan dia akan praktikum di beberapa unit perawatan Rumah Sakit ini antara lain di UGD, Ruang perawatan Bedah, Ruang Perawatan intensif masing-masing satu bulan. Anita tidak satu kelompok dengan Mirna. Dan hal itu merupakan hal wajar secara pbahian kelompok dengan undian dari dosen mereka. Dan kalian tahu gak bagaimana serunya mereka saat undian kelompok itu? ha..ha...mirip sekali dengan keseruan anak TK saat berebut mainan. Anita dan teman-temannya hendak melakukan orientasi diruang UGD sebelum besok masuk shift. Tapi baru saja beberapa langkah dia seperti melihat sesosok yang dikenalnya dipersimpangan koridor Rumah Sakit. Anita segera mempercepat langkahnya namun beberapa perawat melintas dengan membawa brankar. Dan sosok itupun berlalu. Anita segera maju dengan sedikit berlari tapi lagi lagi sosok itu sudah menghilang dibalik pintu. Sesosok itupun sepertinya menyadari sesuatu hingga membuat di kembali berjalan menuju pintu pembatas. Namun disana sudah tidak ada siapa siapa lagi. Lalu dia pun memutuskan untuk kembali berjalan ketempat yang ingin dia tuju. Anita sampai di UGD dan disambut oleh dokter kepala UGD yang kemudian memerintahkan kepala perawat untuk menjelaskan apa saja nanti yang harus dilaksanakan disana. Setelah hampir 2 jam memperhatikan arahan dari kepala perawat UGD Anita dan temannya menuju cafe yang tidak jauh darisana. Sesampainya mereka di cafe itu mereka memesan meja yang cukup untuk sepuluh orang. Selain makan mereka juga akan membahas pembagian jadwal shift mereka. Tapi sebelumnya mereka sudah memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. "Seminggu ini kita bakalan masuk pagi semua, setelah itu kita memilih senior dan mengikuti jadwal shiftnya." kata Steve ketua kelompok. "Kalo kita ga cocok bisa ganti senior gak?" "jelas tidak bisa, makanya pak Gunadi menyarankan kita memilih sendiri perawat pembimbing kita." "oke baiklah paham" " jadi aku harap bila ada masalah kita bisa menyelesaikan bersama" Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Dan tanpa diperintah pun mereka segera menikmatinya. Sambil makan mereka membahas perihal praktikum itu. Seseorang melewati tempat duduk mereka dekat dengan tempat duduk Anita. Tanpa sengaja Anita menoleh kearahnya bersamaan dengan orang itu juga menoleh kearah sekelompok orang itu. Deg...seketika Anita merasakan jantungnya memompa lebih kencang saat dia bersitatap dengan orang itu. "Dia..." batin Anita. Nafas nya pun seketika ikut berhenti saat ada sedikit senyum sebelum orang itu benar-benar melintas kemeja seberang. Dia dan orang itu bertatapan lama sampai dia duduk di bangku lain bersama temannya. Anita dempat terbengong hingga Steve memanggilnya. "Anita!..hei Anita?" yang dipanggil belum menyahut. Steve pun mengikuti arah pandang Anita. Steve pun mengenali beberapa orang yang ada diseberang sana. "Aish...Anita...iya mereka juga dikampus kita!" "Hah...em.." Anita terbata dan segera mengalihkan perhatiannya. "Hei iya betul, mereka para dokter kan?" tanya salah satu dari mereka. "Bagus kan nanti kita bisa dengar pendapat dari mereka. tenang aja aku kenal dengan mereka semua." lanjut Steve yang dibarengi anggukan anggota kelompoknya. Yoshi duduk ditempatnya dan sesekali melirik kearah Anita yang diam dan tertunduk. beberapa kali melirik dia tetap tertunduk. Sebenarnya kenapa? apa dia marah atau malu? batin Yoshi. Yoshi hampir beranjak dari duduknya namun begitu melihat Anita memandang kearahnya dia mengurungkan niatnya itu. Yoshi kemudian tersenyum sambil menunjuk jarinya. Anita membulatkan matanya melihat itu. Dia tahu apa maksud Yoshi. Anita menunduk lagi sambil memegang dadanya. Meskipun ragu tapi ini harus dia tanyakan pada Yoshi, biar dia merasa lega. Anita bukannya memegang dadanya tadi tapi memegang cincin yang ada dalam amplop itu. Tapi Anita tidak mau menunjukkan itu dulu, dia melirik sekilas pada Yoshi lalu mengikuti teman-temannya keluar dari cafe. Sebelum sampai di pintu keluar seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan dia berbalik arah. Badan Anita berputar hingga rambut panjangnya mengayun indah melewati wajahnya. Setelah helaian rambutnya terjatuh barulah dia bisa melihat orang yang telah menariknya. Yoshi terpana melihat pemandangan didepannya ini. Sangat indah. Wajah manis dengan mata bulat itu. Dia yang biasanya tenang sampai tidak bisa mengontrol nafasnya agar tidak memburu karena detak jantungnya sudah memberontak. "Maaf jika aku mengagetkanku" ucap Yoshi sambil melepaskan genggaman tangannya. "Huh...em" Anita mengangguk kudian menunduk, tidak berani melihat mata Yoshi. "Maaf...bisakah kita bicara sebentar?" tanya Yoshi penuh harap. Berusaha melihat wajah Anita tapi tidak begitu jelas karena dia menunduk. "Tapi...aku harus segera menyusul mereka" jawab Anita sambil menunjuk kearah temannya. "Sebentar saja" Anita ragu untuk menjawab ya. Tapi diantara mereka memang ada sesuatu yang harus mereka bahas. "Berikan nomormu saja" Yoshi menyodorkan ponselnya. Bahkan Anita belum tersadar dari pemikirannya. "Umm...baiklah" Anita mengetikkan nomernya lalu mengembalikan ponsel itu. Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan itu membuat Anita menjadi gugup. Yoshi meraih jari Anita, melihat jari itu kosong hatinya menjadi kecewa. Anita paham apa yang ingin diketahui Yoshi namun dia belum ingin menunjukkannya. Yoshi melepaskan jari jari itu dengan kecewa. "Jangan salah paham" ucap Anita kemudian sambil mengeluarkan kalung beserta cincin itu dari balik bajunya. Dia tahu jika Yoshi kecewa tadi. Dan hal itu membuat Yoshi tersenyum sangat lebar. "Kalau begitu aku pergi dulu kak" Belum siap ditinggalkan Anita Yoshi segera meraih bahunya mencegah Anita berbalik. Yoshi menundukkan kepalanya dan mendekatkannya kewajah Anita. Apa yang mau dia lakukan? batin Anita. *** Pertama bertemu kau sudah membuatku terpesona kedua kali bertemu kau tidak menyapaku ketiga kali bertemu aku berkenalan denganmu ke empat kali bertemu aku memberikan janjiku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN