9. Dia belum punya pacar kan?

1039 Kata
saat datang cinta tidak dapat ditolak saat pergi cinta tidak dapat dicegah bila datang hati melambung bila pergi hati bisa hancur cinta itu rumit tapi sederhana by me *** Asyifa hampir lupa ingin vicall dengan Anita. Pasalnya sedari pulang dari Rumah Sakit dia asyik main game. Apalagi dokter Adrian sedang chat dengannya dan mengajak bertemu. Asyifa sering belajar bersama dengan dokter Adrian. Diskusi hingga merencanakan penyelesaian masalah terhadap pasien yang diangkat dalam seminar tiap akhir Minggu. Saat sedang membahas materi dengan dokter Adrian ponsel Asyifa berbunyi. Dan itu video call dari Anita. "Maaf dokter Adrian video call dari temenku" "Angkat aja...kenalin dong.." ucap dokter Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya. "Hai...!" Asyifa melambaikan tangannya. "Ye...katanya kangen, tapi ga vicall juga kamu! kita udah nunggu juga dari tadi" Mirna dan Anita muncul dilayar ponsel Asyifa. "pst..pst...hadap sini dong!" bisik dokter Adrian pada Asyifa begitu mendengar suara dari ponsel. "Sorry...keasyikan belajar...oh ya mau tau aku lagi belajar sama siapa?" "lu belajar sama Nino ya?...sikacamata?" teriak Mirna sambil terkikik. "Eh...enak aja! bener nih aku kenalin deh!" Anita lalu menyorot kamera ponselnya kearah teman-temannya. lalu tampaklah 3 orang yang bersamanya. "Kita lagi belajar kelompok ya...ini ada dokter Luna " Luna yang dipanggil melambaikan tangannya pada kamera diikuti lambaian Anita dan Mirna di ponsel. " Halo...saya Anita..." "halo.. saya Mirna..kak Luna kayaknya kita sering ketemu di perpus deh!" celetuk Mirna "Oh ya...!" luna hanya bisa menggaruk kepalanya. Adrian yang mendengar nama Anita langsung maju. kearah kamera ponsel Asyifa. "Hai...aku Adrian...Anita kamu Anita yang sering di perpus kan?" tanya Adrian antusias. "he..he... iya kak.." jawab Anita malu-malu. 0asalnya Anita sering ketemu tapi tidak pernah tahu namanya. " Kamu yang sering nyeramahin temen-temen mu itu kan?" tanya Adrian lagi. "Adrian udah ah...hai...Anita, Mirna.. aku Betrand. AQ juga sering lihat kamu lagi ngemut lollipop di balkon gedung...ngaku deh...!" Betrand mengerjapkan matanya. Aduh betapa malunya Anita, ternyata mereka semua sudah sering melihatnya. Anita sih terlalu cuek dengan lingkungannya sampai dikampus tidak kenal sama dokter keren yang sering jadi idola kampus. "gimana percayakan kalo aku lagi belajar kelompok? Gimana peaktekmu disemarang?" "Belumlah syif, kan baru besok mulai perangnya? jawab Mirna. mereka pun vicall an sambil bercanda. Adrian yang paling banyak ngobrol dengan Anita. Pasalnya dia dulu penasaran dengan teman-teman dokternya yang sering membicarakan Anita dari keperawatan. Ternyata setelah ngobrol dengannya Adrian bisa merasakan kalau Anita memang orangnya pinter dan baik hati. meski saat ini Adrian lebih menyebutnya dengan pemalu. "Oh ya...dulu aku sering denger nama kamu, Anita..cuma ga tau aja yang mana orangnya. malahan aku pikir yang Anita itu kamu asyifa. " ucap Adrian pada Anita dan Asyifa. "oh ya...kenapa bisa begitu kak Adrian?" tanya Mirna sedang Anita hanya tersenyum malu. "Mungkin karena Asyifa selalu barengan sama kamu Anita. Oh ya ada temen aku tuh yang sering bicarain kamu Anita." jawab Adrian sambil menggoda Anita. "ah..udahan dulu ya syif..kita juga mau belajar Lo...da..kak Adrian dan semuanya.!" Anita buru-buru menutup video call itu. "Ih...kenapa sih kok dimatiin?" Mirna kesal karena Anita mematikan video call itu. "ayo...kita harus belajar" ucap Anita sambil mendorong Mirna untuk kembali ke meja belajar mereka. Diseberang sana Asyifa menyadari kalau Anita mungkin marah. "Kak Adrian mengapa menggoda Anita begitu? marahkan dia!" ucap Syifa sambil menoel bahu Adrian. "Sih mana aku tahu kalau dia pemalu..tapi ngomong-ngomong Anita cantik ya" "Dia memang cantik" ucap Asyifa sedikit membentak namun cepat-cepat dia merubah ekspresinya. "kak Adrian suka ya sama Anita?" "aku?" tanya Adrian pada dirinya sendiri tersenyum licik. "Dia belum punya pacar kan?" tanya Adrian sambil merangkul pundak Asyifa. Memang Adrian ini sikapnya selalu sok dekat dengan semua wanita. Bahkan teman-teman dokternya dulu sangat marah padanya karena sering memberi harapan palsu. Akhirnya Adrian dicap sebagai playboy dan tidak ada dokter perempuan yang mau dekat dengannya. "Mulai deh..!" komentar Luna dan Betrand hampir bersamaan. "Namanya juga usaha buat nyari jodoh" jawab Adrian. Ditempat lain Yoshi baru saja selesai belajar dengan buku-buku tebalnya. Dia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi kelelahan pada matanya. Yoshi merasa ada sesuatu yang mendorongnya ingin menyentuh ponsel. Dia membuka riwayat chat dan ingin sekali menelepon satu nama yang ada disana. ini sebenarnya hal yang tidak dia suka, rasa rindunya pada seseorang mengganggu proses belajarnya malam ini. Beberapa kali ingin menekan tombol hijau dia urungkan lagi, sekali lagi ingin menekannya batal lagi. yang ketiga sudah berada diujung jari dan akhirnya tidak jadi lagi. saat jarinya hendak menekan tombol keluar justru tombol hijau yang tergeser. Tut...Tut...ah Yoshi gugup mendengar nada dering dari ujung ponselnya. " Halo assalamualaikum..." jawaban dari seberang terdengar begitu pelan hampir seperti bergetar dan ragu. "Walaikumsalam...Anita apa aku mengganggumu?" "tidak...aku baru selesai belajar. ada apa kak?" " Bisakah besok sore kita bertemu?" "Em..besok sore ya?" "ya sepulang dari Rumah sakit, aku akan menunggumu di parkir kanan rumah sakit. Bagaimana apa kau bisa?" "apa harus besok kak? aku belum yakin bisa pergi. Besok hari pertama praktikum" "Tenanglah hari pertama tidak akan berat, kau hanya disuruh memilih senior pembimbing." "Bagaimana kakak tahu?" " sudahlah, besok aku tunggu di parkiran kanan. jam 4 ya bagaimana?" "Baiklah aku akan menemui kakak" "jangan lupa ya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan." "Baiklah kak" Yoshi tersenyum setelah mendengar jawaban Anita dan menutup percakapan mereka dengan salam. Konsentrasi belajarnya tergangganggu namun dia merasa bahagia sekarang. Perasaan seperti ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia yakin setelah ini dia akan bisa belajar dengan baik. Dia sangat yakin jika Anita akan menerimanya. Dia tidak mau menyia-nyiakan pendidikannya, karena jika dia berhasil saat ini maka ini adalah modal besar untuk masa depan. Dan Anita adalah masa depan yang ingin dicapainya dikemudian hari. Yoshi beranjak menuju ranjangnya lalu tertidur dengan tenang setelah menelepon Anita hatinya jauh lebih tenang dan damai setelah mendengar suara lembut gadis itu. Namun berbeda dengan Anita sejak dia menerima telepon itu dia justru tidak bisa memejamkan mata ngantuknya. Saat sudah ingin tidur malah terdengar ponselnya berbunyi lagi. Tanpa melihat siapa orang yang menelepon Anita menggeser tombol hijau pada layar itu. "Halo ada apalagi kak yos, aku sangat ngantuk!" ucapnya dengan pelan dan tidak ada semangat. "Woy..ini aku Steve!" terdengar teriakan dari seberang sana yang membuat Anita berjingkat seketika terduduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN