ini akhir Minggu pertama praktikum diRumah Sakit. Seminar juga sudah dilalui dengan baik hari ini. Anita memutuskan untuk istirahat saja di kamar malam ini. sedangkan yang lain keluar untuk sekedar jalan-jalan bahkan ada berkencan. Steve dan Mirna juga keluar sejak sore.
Steve memang tidak berminat untuk mengajak Anita. Dia ingin berjauhan dengan Anita sampai sembuh rasa kecewanya.
Mirna menemani Steve membeli bermacam makanan yang dijajakan disepanjang jalan simpang lima Semarang.
Kadang mereka berteriak tidak karuan saat kendaraan berat lewat dengan bunyi mesin yang keras itu.
Asyifa baru saja vicall dengan Anita. Biasalah Asyifa sering jalan bareng Adrian yang sering minta vicall sama Anita.
Kadang Asyifa juga sebel kalau Adrian minta vicall. pasalnya Anita sudah melarang Asyifa untuk memberikan nomer ponselnya pada siapapun apalagi cowok.
"iya...gak akan aku kasih nomer kamu"
"Salamin buat mama ya, kangen oseng tahunya...ha..ha..." Anita baru mau tertawa saat Adrian gak nonggol dilayar.
"sekalian aja mama kamu bawa..." teriak Asyifa sambil merenggut. pasalnya mamanya Asyifa lebih perhatian ke Anita. Emang siapa juga yang jadi anaknya.
"Idiih...gak rela ya?! dah...aku mau baca buku. Terusin kencannya"
"aku gak kencan ya...oke aku tutul ya...bye.."
Asyifa menutup video call itu.
"belum juga salam dah tutup aja"
Anita memandangi layar ponselnya. Dia ingin menelepon Yoshi tapi ragu. Dia meletakkan ponselnya disamping bantal tiba-tiba ada getaran dari ponsel itu.
Anita menoleh lalu membalik ponsel. Notif pesan dari aplikasi hijau. Ternyata itu dari Yoshi.
[Besok pagi aku jemput jam 8 ya]
Anita
[pagi sekali?]
Yoshi
[atau sekarang saja? boleh aku ke asrama?]
Apa? Anita sampai melompat dari kasur. dia mengacak rambutnya.
Sebenarnya dia senang Yoshi mau datang tapi jantungnya berdebar-debar begini. apa yang harus aku jawab? pikir Anita.
Ini juga belum terlalu malam. tidak apa kan kalau keluar sebentar. lagipula tidak banyak orang diasrama.
Anita
[kakak tidak capek?]
Yoshi tersenyum melihat balasan Anita lalu membalasnya.
Yoshi
[aku kesana] dengan mantap Yoshi memutar arah mobilnya. melaju kencang menuju asrama Anita. Dia tidak sabar lagi ingin bertemu calon istrinya.
Sampai di asrama Yoshi menemui Ihsan terlebih dulu untuk ijin.
"Mas Yoshi jangan sungkan,masuk aja"
"saya gak enak kalau gak ijin mas Ihsan. Oh ya mas kalau malam ini Anita saya ajak kerumah saya boleh tidak mas? soalnya besok pagi-pagi mau langsung brangkat ke Solo" tanya Yoshi dengan sopan.
"kalau aturannya sih gak boleh mas. Harus ada ijin dari kepala asrama. Bagaimana ya mas?" Ihsan tidak enak hati mengatakan ini. tapi ternyata Yoshi justru tersenyum mendengarnya.
"kepala asrama masih disini mas?" tanya Yoshi.
"Masih mas Yoshi, itu mobilnya masih diparkir" ucap Ihsan sambil menunjuk mobil kepala asrama.
"kalau begitu saya ketemu dulu sama pak Jarwo ya mas" Yoshi kemudian meninggalkan pos satpam menuju ruangan kepala asrama.
Setelah beberapa saat dia tampak keluar dari ruangan itu.
"assalamualaikum, Anita!" Yoshi mengetuk pintu kamar Anita, setelah bertanya pada seseorang teman anita.
Anita mendengar pintu kamarnya diketuk, dan menyebutkan nama dia membukanya.
"kak Yoshi. kenapa..."
" Kenapa? gak boleh kesini?" Yoshi memotong kalimat Anita.
"ehm...bukan begitu. gak enak sama yang lain" Anita mengusap usap ujung jarinya. kebiasaan kalau lagi gugup.
"kamu siapkan baju ganti ya lalu kita keluar" ucap Yoshi kemudian.
"Baju ganti?"
"iya baju ganti. kamu nginap di rumahku aja"
"apa! tidak..tidak boleh kak" Anita menggoyangkan kedua tangannya. Yoshi mengetuk kepala Anita. "apa yang kamu pikirkan? sudah siapkan saja"
"a..a.." Anita mengusap-usap kepalanya. "baik tunggu sebentar" Anita menutup pintu kamarnya lagi. mengambil 2 baju ganti dan keperluan lain.
Tak lama Anita sudah keluar lagi dengan memakai celana panjang kaos dan cardigan panjangnya. Bando kecil yang merapikan poninya semakin membuatnya nampak manis.
Yoshi mematung sejenak melihat penampilan Anita. Rasanya ingin menghalalkannya sekarang.
"Ehm..ehm.." Anita berdehem. "sudah siap kak"
"ah..iya..ayo berangkat sekarang" Mereka berdua berjalan menuju mobil Yoshi. Anita dibelakang Yoshi.
"aku sudah minta ijin pada kepala asrama. jangan lupa kabari teman-teman mu kalau kau dirumahku."
"jadi kakak sudah minta ijin pada pak Jarwo?"
"iya sudah, sebelum kekamar mu tadi"
"oh..." Yoshi tertawa mendengar Anita.
"kamu tahu tidak kalau aku lihat kamu aku selalu ketawa?" ucap Yoshi memecah kecanggungan Anita.
"Oya? memangnya kak Yoshi tidak pernah tertawa?" Yoshi semakin terbahak karena pertanyaan Anita.
"gak gitu juga. gak tau kenapa semua tingkahku itu membuatku merasa bahagia"
"semua? emang kak Yoshi tau semua tingkahku?"
"tau dong...ups" Yoshi menutup mulutnya dengan tangan. merasa ada yang salah dengan yang diucapkannya.
Sampai ditempat Yoshi. Anita masih belum turun dari mobil Yoshi.
"ayo kita turun" ajak Yoshi pada Anita.
"Kita berdua saja diRumah ini kak?"
"Ha..ha..iya Anita. Tenanglah...ada 2 kamar didalam..ha..ha.."
"kenapa tertawa?"
"aku tahu kamu takut. Kita berdua saja, ingat jangan berubah pikiran oke!" Yoshi turun dari mobil membuka pintu untuk Anita lalu mengandeng tangannya.
"ayo kita masuk dulu" Dia menarik tangan Anita dengan lembut. Meski ragu bahkan takut Anita dengan langkah berat masuk kedalam rumah kontrakan Yoshi.
"Masuklah.." sekali lagi Yoshi menyuruh Anita yang otaknya masih melayang.
Yoshi menunjukkan kamar kosong di sebelah kiri untuk ditempati Anita. sedangkan kamar Yoshi ada disebelah kanan.
"letakkan tas mu dulu, aku buatkan minum dulu. kau mau teh?" ucap Yoshi sambil menunjuk kamar itu.
"iya mau" jawab Anita yang kemudian meletakkan tasnya di meja kamar. Anita mengamati kamar itu. ada beberapa buku tebal diatas kasur, Anita mengambil salah satunya. "Wah ini buku diagnostik yang sering aku cari" gumam Anita yang kemudian membaca buku itu dengan serius.
Tanpa sadar ternyata Yoshi sudah memanggilnya beberapa kali dan dia tak mendengarnya.
Yoshi memandangi Anita, dia pikir Anita pergi lagi ternyataembaca buku yang dikasur. Yoshi menepuk bahu Anita setelah panggilannya tidak juga dijawab.
"ah.." Anita terkejut saat Yoshi menepuk bahunya.
"kamu serius sekali baca buku ini?"
"i..ini buku yang ingin aku beli tapi belum kesampaian"
"ayo minum teh dulu. Buku itu bisa kamu baca nanti" Yoshi mengajak Anita ke ruang tamu.
Saat masuk tadi Anita belum sempat mengamati rumah ini. Penataan rumah ini sederhana tidak banyak perabot tapi cukup rapi untuk seorang laki-laki.
"duduklah aku ingin bicara sama kamu. Ini serius jadi duduklah"
"serius? kakak ingin bicara apa?" Anita mengerutkan dahinya. Serius bicara tentang apa? saat ini hubungan mereka bukannya baru pengenalan saja?
"ah...ternyata aku tidak bisa menepati janji untuk tidak menemuimu. Aku selalu kepikiran sama kamu Anita, selalu rindu ingin bersama denganmu" Yoshi menghela nafasnya. dia ingin sekali mengatakan itu tapi yang diucapkan justru sebaliknya.
"aku ingin kamu tahu dimana aku tinggal, jadi aku mengajakmu kesini." Yoshi berkata setelah Anita duduk di sofa dengan tenang. " Gapapa kan kalau kamu nginep sehari aja disini?"
"sebenarnya tak enak juga sih kak, kita..."
"aku paham dengan apa yang kamu khawatirkan. positif thinking aja, orang-orang disini juga tidak kepo banget sama urusan orang lain. kamu tenang saja."
"ya kita bisa aja sih kak begitu, namanya adat juga mana bisa kita tinggal serumah sebelum menikah. ya...walaupun kita tidurnya terpisah tapi yang dipikiran orang gak gitu kali. Dan juga kenapa kakak maksa buat aku nginep disini?" Anita semakin serius bicara sekarang.
Yoshi tau kalau Anita tidak sependiam itu, dia sudah tau banyak tentang Anita meski itu cuma karena mengamati saja.
"Iya aku paham, maafkan aku. Tapi hari ini kita berdua disini, jangan pernah berubah pikiran lagi!" Yoshi berkata tidak kalah tegas dengan Anita.
Jujur Anita merasa aneh dengan dirinya. Baru kali ini ada cowok yang tidak menuruti apa katanya, dan dia juga lebih dominan darinya.
Didalam hati sebenarnya Anita senang, tapi dia tidak menunjukkannya. Wajahnya tetap dingin menatap Yoshi.
Anita senang karena akhirnya ada laki-laki yang bisa mengalahkan sifat dominannya. Selama ini apapun yang dikatakan Anita selalu dituruti oleh laki-laki yang berusaha mendekatinya.
Maksud hati ingin menyenangkan Anita, tapi ternyata justru Anita tidak menyukai laki-laki yang selalu nurut dengan perkataan perempuan.
Anita ingat sekali dengan kata-kata mendiang kakeknya, kalau laki-laki itu harus punya nilai lebih tinggi dari perempuan karena dia seorang pemimpin keluarga.
Mencari pasangan yang cocok itu sulit, tidak harus ganteng atau kaya. Yang terpenting adalah dia cocok sama kita dan jangan berpikir kalau dia akan lebih baik dari dirimu sendiri. Karena sejatinya jodoh itu saling melengkapi. Kekurangannya ditutupi kelebihanmu. Kekuranganmu ditutupi kelebihannya. Masalahnya adalah apa kamu mampu menyukai kekurangan dia? keburukan dia? kebobrokan dia?