"eh..tidak boleh. Awas kalau Anita kau pukul. lecet sedikit saja aku balas kamu" Meskipun bisa tertawa tapi hati Steve masih terluka.
"Steve aku kembali kakamar dulu" Steve hanya mengangguk. Sepeninggal Mirna Steve menangis tersedu. tidak mampu menahan gejolak dihatinya.
Perempuan yang dicintainya dua tahun ini telah memilih hati yang lain. Padahal Steve sudah memiliki banyak rencana seandainya Anita menerima cintanya. Sekarang rencana itu, tidak tahu harus melanjutkan atau tidak.
Katakanlah sebagai laki-laki dia cengeng tapi untuk sekarang hal inilah yang mungkin bisa melegakan hatinya.
Sebenarnya Mirna belum benar-benar pergi dari tempat itu. Dari balik tembok Mirna melihat jika Steve menangis. Hatinya ikut sakit juga, tanpa dia sadari dia pun meneteskan air mata.
***
Tiga bulan sudah berlalu dan praktikum Anita pun telah usai. Susah seminggu ini Anita berada di rumah nya sendiri.
Ayahnya masih mendiamkannya sejak Steve dan Yoshi bergantian menjelaskan situasi mereka.
Yoshi belum mendapat ijin dari ayah Anita. Bagaimanapun juga Steve sudah satu tahun akrab dengannya dan beliau juga sangat berharap jika Steve akan menikah dengan Anita. Bahkan kakak dan orang tua Steve juga berhubungan baik.
Dua hari lagi Anita akan kembali ke kampus, tapi ayahnya masih saja belum mengucapkan apapun padanya. Tapi Anita tahu ayahnya seperti itu karena sedang memikirkan kebaikannya.
"Ayah...teh nya di minum" Anita meletakkan secangkir teh hangat untuk ayahnya. Ayahnya hanya melirik sebentar dan melanjutkan catatan tokonya.
"Mbak Kawi tidak datang yah? kok sudah sepi?" tanya Anita membuka obrolan, tapi hanya disahuti dengan deheman saja. Anita tersenyum, lalu ikut duduk di kursi dekat pintu toko. "Yah dua hari lagi Anita kembali kekampus. menyelesaikan skripsi dan memilih tempat praktek lagi." masih belum ada tanggapan dari ayahnya yang bernama agung badrawi itu.
"Yah..nanti Anita prakteknya satu tahun lo...dan mungkin gak akan pulang. Anita mau mengadakan riset ayah."
"Terserah mau pulang atau tidak." masih belum mengalihkan pandangannya dari buku.
"baiklah...kalau begitu Anita brangkat sekarang sajalah" Anita bangkit hendak eluar toko.
"e..e..eh...tunggu" pak agung berdiri mencegah Anita pergi yang membuat Anita tersenyum. " Kan masih dua hari kenapa berangkat sekarang?" Anita kembali duduk kali ini wajahnya lebih cerah.
"Makanya yah kalau anaknya pulang diajak ngomong dong. kalau jauh aja tiap hari ditelpon. sekarang dirumah malah di diemin"
Anita merajuk.
"Ya..salah sendiri kenapa bikin ayah kecewa. Apasih yang kurang dari Steve, dia itu baik perhatian sama kamu sama keluarganya sama ayah"
"Ayah...misalnya Anita minta ayah buat nikahin Tante Dewi apa ayah mau? Dia kan cantik, baik, sopan, bisa jaga diri meski sudah janda puluhan tahun. ayah bisa?"
"apa-apaan to nduk kok bawa-bawa Bu Dewi segala" pak agung sedikit terkejut dengan pernyataan Anita.
"Sama ayah...hati Anita juga tidak bisa dipaksa untuk suka sama Steve. Anita juga bersedih sudah melukai perasaan Steve. Tapi Anita akan lebih jahat kalau pura-pura suka sama Steve. Ayah mau ngertikan kenapa Anita lebih milih kak Yoshi. Bukan karena kak Yoshi calon dokter Lo yah...tapi karena karakter kak Yoshi yang seperti ayah. Anita memang tidak mau kalau suami Anita itu kalah sama Anita. Ayah kan tau sendiri kalau Anita ga suka kalah sama orang lain. Dan Anita bisa rasain kalau sama kak Yoshi Anita bisa nurut kayak ke Ayah" Agung kali ini memandang putrinya ini. Yah memang Anita punya karakter yang kuat sejak kecil. Temannya dulu kebanyakan laki-laki meski begitu justru anak laki-laki takut padanya.
Sampai disini agung berusaha memahami Anita. "ya sudah...di istikhoroh aja...yang baik menurut kita kadang belum tentu baik Dimata Allah." Agung bangkit sambil mengelus rambut putrinya itu. "fokus raih cita-citamu dulu ya...jangan pikirkan itu." Agung menuju pintu toko hendak menutupnya.
Anita hendak kedalam rumah tapi getaran ponselnya mengurungkan itu. Nampak dilayar Yoshi video call tanpa pikir panjang dia menjawabnya mumpung ada ayahnya pikir Anita.
"Halo Assalamualaikum kak?"
"walaikumsalam...masih dirumah ya?" Anita sengaja mengarahkan kamera sehingga tampak dilayar ada dirinya dan ayahnya yang sedang menutup pintu toko.
"iya kak masih dirumah, tiga hari lagi kekampus untuk praktikum Ners" jawab Anita. Agung melihat putrinya yang sedang berbicara, dan nampak wajah Yoshi di layar ponselnya.
"Ada Ayah juga..salamin ya.." Anita mengangguk lalu berseru pada ayahnya.
"yah...ada yang nitip salam" Anita menoleh pada ayahnya. ayahnya hanya mengacungkan jempolnya. Anita bergegas masuk karena ingin mengobrol dengan Yoshi.
"mau diantar gak ke kampus?"
"emang kakak ada waktu?"
"aku sempetin ya...aku pengen ketemu, kangen"
"sekarang gitu ya...dah bisa bilang kangen" Anita meledek Yoshi meskipun dirinya sendiri juga merasa kangen padnya. Sejak ayah Anita tahu hubungan mereka Anita semakin akrab dengan Yoshi. "ga usah ya kak...aku tahu sesibuk apa kak Yoshi dirumah sakit. Habis itu aku juga pilih rumah sakit lagi buat Ners aku."
"kapan mulai praktikum Ners? pilih Rumah Sakit ini lagi ya? biar bisa barengan lagi. ga tau nih kayaknya kalau tiga tahun kelamaan."
Yoshi cemberut diseberang sana. baru juga seminggu gak ketemu Anita dia sudah tidak tahan.
"ah...tidak pokoknya 3 tahun lagi aja. kan kakak mau ambil spesialis dulu?"
"Kalau kita nikah dulu aja gimana setelah wisuda? gapapa deh LDR-an yang penting kita sudah sah"
"idiih...kenapa jadi aneh gitu sih? katanya mau raih prestasi dulu? jadi dokter terbaik?"
keduanya tersenyum.
"aku takut kamu dicuri orang. kita jauhan terus lo. tapi aku beneran serius mau jadiin kamu istri bukan pacar. ingat baik-baik itu" kali Yoshi memasang wajah serius.
"iya..iya..kak aku ingat. boleh jalan sama cowok lain tapi hatinya harus dijaga tetep buat kakak Yoshi" Yoshi tersenyum melihat Anita menirukan gaya bicaranya.
"ga cuman hati Anita..mata dan badanya juga" tambah Yoshi.
"iya..iya..oh ya kak aku sudah bicara tadi sama ayah. aku seneng ayah bisa dengar penjelasan aku meski aku tahu ayah masih kecewa dengan aku. Aku maunya kakak juga bisa akrab dengan ayah, pelan-pelan aja sambil nunggu yang katanya 3 tahun itu" Anita nyengir sambil memasang wajah sok imut di kamera.
"He..he..kalau aku lamar beneran sekarang gapapa ya? ayolah...setuju ya?" Yoshi memohon pada Anita.
"nanti aku bilang ke ayah. sudah ah..ayo ngomongin yang lain..." dan...suasana jadi berubah dengan candaan dari keduanya.
Yoshi merasakan dia tidak bisa jauh dari Anita sekarang. Pak Agung hanya tersenyum melihat putrinya berbicara dengan Yoshi di ponsel. Tidak mau menganggu dia menuju ruang keluarga dan menyalakan TV.
Setelah puas video call dengan Yoshi Anita menyusul ayahnya.
"Yah...kak Yoshi bilang dia mau serius ngelamar aku sama ayah. em..menurut ayah gimana?" walau sedikit malu Anita mengatakannya. Sebenarnya dia bahagia jika benar Yoshi melamar pada ayahnya nanti. Tapi kalau nikah sekarang Anita juga masih ingin menjadi perawat profesional.
"kamu sudah siap nikah sekarang?" tanya ayahnya.
"Aku pengennya nanti klo sudah selesai Praktiknya yah..tapi kak Yoshi bilang takut aku dicuri orang ha..ha..adasaja ya kak Yoshi." jawab Anita sambil tertawa.
Sejak kecil Anita memang selalu cerita apa saja dengan ayahnya. Ayahnya itu mampu menjadi orangtua sekaligus teman. Setelah ibunya Anita meninggal pak Agung selalu berusaha dekat dengan Anita maupun kakaknya.
"Ayah juga setuju dengan pemikiran Yoshi kalau kalian cepat nikah berarti menjauhkan kemungkinan banyak dosa, tapi ayah juga tidak ingin kamu menikah buru-buru cuma karena suka aja sama orang. Kamu beneran sudah mantap dengan Yoshi? ga bakalan ngelirik laki-laki lain?"
"...." Anita belum bisa menjawab.
"Minta petunjuk sama Allah. kalau kamu sudah mantap pasti ayah akan segera minta laki-laki itu untuk menikahi kamu. Kamu sama Yoshi emang pacarannya kayak gimana? sudah sejauh apa?" Anita sampai melongo melihat ayahnya sebelum menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ayah jangan mikir macam-macam ya. Anita dekat sama kak Yoshi juga baru setelah Anita ke Semarang. Anita itu gak tahu kalau satu Rumah Sakit, Anita ketemunya juga kalau hari Minggu saja pas kita sama-sama tidak ada jadwal ke Rumah Sakit. Kalau ketemu paling cuma makan bareng atau ngerjain makalah bareng, itu juga sama temennya, temenku juga ada. Anita tahu yah...wanita harus bisa jaga diri. Ayah percayakan sama Anita?"
Pak Agung tersenyum mendengar Anita. Dalam hatinya dia tidak meragukan Anita tapi sebagai seorang ayah harus selalu mengingatkan. Pada dasarnya Agung tidak keberatan jika mereka segera menikah namun entah kenapa rasa kasih sayang pada Steve belum bisa digantikan oleh Yoshi.
"Ayah percaya...tapi bisakah kau memanggil Yoshi kemari sebelum kamu berangkat ke kampus? ayah ingin bicara"
"aku tanyakan kak Yoshi dulu yah. Tadi dia juga bilang mau nyempetin waktu buat jemput aku kesini"
"kalau begitu iyakan saja, suruh hari Minggu pagi sudah sampai disini"
"Siap ayah...aku sampaikan sekarang"
Anita begitu semangat ketika ayahnya ingin bicara pada Yoshi. Ini kesempatan terbaik untuk mendekatkan mereka berdua bukan?
Anita segera mengirim pesan pada Yoshi tentang keinginan ayahnya itu.