Yoshi tak berkedip ketika melihat Anita keluar dari kos. Hari ini dia memakai dres sebetis berwarna peach yang sangat cocok dengan kulitnya. rambut hitamnya diikat longgar dibelakang. bando merah dikepalanya membuatnya tampak lebih manis lagi.
Yoshi tidak pernah melihat Anita memakai dres walaupun dres yang dipakai sekarang juga berlengan panjang.
Ya..ya..Anita biasanya memakai celana atau kulot panjang yang dipadukan dengan kemeja atau kaos lengan panjang juga.
Dia selalu berpakaian sopan dimana pun. Tidak pernah memakai celana pendek apalagi rok mini.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Anita setelah dekat dengan Yoshi.
"Kita keluar aja ya.." ajak Yoshi.
"kenapa ga kedalem aja? aku belum ganti baju" jawab Anita.
"gini aja udah cantik kok" Yoshi tidak menunggu jawaban Anita dia meraih jari Anita dan mengajaknya masuk taksi yang sudah menunggu.
"Kita mau kemana?" tanya Anita.
"Taman Sari" jawab Yoshi singkat.
Taman Sari resto dengan nuansa taman bunga. Resto ini favorit Yoshi dan teman-temannya untuk berkumpul. Yang paling sering adalah Yoshi, Arlan Adrian dan Andre.
"Kenapa gak di kos aja tadi, bisa sekalian istirahat"
"Gak ah, disana sepi..nanti aku bisa gak waras" Yoshi hanya melirik Anita. Seakan tahu maksud Yoshi Anita balas melirik dengan tajam. "Aku belum makan juga, ini juga tempat favorit aku kalau lagi suntuk"
Begitu masuk restoran Anita takjub dengan pemandangan yang disajikan. Taman bunga yang luas dan berwarna-warni. Tanpa pengharum pun sudah wangi alami.
Meja makan berjajar rapi diatas rumput hijau, ada Ayunan dan kursi panjang juga. Ditambah payung aneka warna yang menjadi peneduhnya.
Yoshi memilih meja didekat pohon besar dengan bangku panjang dan meja panjang. Mereka sudah memesan didepan jadi tinggal menunggu pesanan saja.
"Ah...segarnya..." Yoshi menghirup nafas panjang sebelum duduk di bangku. Anita masih berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Bunga bunga yang cantik dan harum seketika membuatnya lupa dengan apapun...dia hanya merasa bahagia.
"Ayo duduk..." Yoshi meraih jari Anita dan menuntunnya duduk disampingnya. "Gak kangen ya?!" tanya Yoshi yang merasa Anita asyik sendiri. Anita tersenyum sebelum menjawabnya.
"Kangen...cuma lagi menikmati indahnya disini." Anita sengaja mendekatkan duduknya dengan Yoshi.
"Suka kan disini?" Anita mengangguk.
"Banget...aku pikir tadi Resto biasa ternyata indah banget dan nyaman" Yoshi menyandarkan kepalanya di pundak Anita.
"Aku bolehkan begini?" tanya Yoshi yang dijawab Anita hanya dengan senyumannya. Yoshi merasa nyaman lalu memejamkan matanya. Memang melihat Anita adalah obat capek paling baik untuknya. Sejak dulu. Jika dulu hanya melihat dari jauh sekarang bisa melihat dari dekat bahkan bisa sentuhnya.
Yoshi benar-benar tertidur dipundak Anita. Anita bahkan tidak tega membangunkannya saat makanan mereka datang. Jika bukan karena makanan yang keburu dingin Anita mungkin akan membiarkan Yoshi tetap tidur.
Anita menyentuh pipi kanan Yoshi, mengusapnya dengan pelan.
"Kak bangun, makan dulu..." Yoshi merasakan pipinya disentuh. Dia perlahan mengangkat tangannya untuk memegang tangan dipipinya. Dia membuka matanya sedikit sambil membawa tangan Anita kebibirnya. Mengecupnya beberapa kali.
Hati Anita berdesir diperlakukan seperti itu. Entahlah setiap apa yang dilakukan Yoshi selalu bisa menyentuh hatinya dan dia merasa dibutuhkan oleh Yoshi. Padahal jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Steve dulu itu sangat kecil. Tapi kenapa Anita tidak tersentuh sama sekali?? Apakah karena Yoshi sudah ada dihatinya sejak dulu?
Yoshi perlahan mengangkat kepalanya dari bahu Anita dengan mata yang masih berat untuk terbuka. Dia bangun lalu kemudian memeluk Anita dan mengecup puncak kepala Anita.
"Maaf..apa bahumu sakit" tanyanya sambil mengelus bahu Anita. Seperti biasa Anita selalu tersenyum.
"Bahuku masih kuat untuk kakak pakai satu jam lagi" jawabnya sambil memutar bahunya. Yoshi gemas dengan Anita lalu memeluknya sebentar.
"Ayo makan" ajak Yoshi sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa sekarang kak Yoshi selalu peluk-peluk?" tanya Anita ditengah makan mereka. Yoshi mengerutkan dahinya.
"kenapa, ga boleh ya?" bukan menjawab malah balik bertanya.
"bukan gitu..kak Yoshi sekarang mulai berani ya" ejek Anita sambil terus makan.
"ha..ha..aku itu kangen karena jauh dari kamu. Lagian ayah sudah memberi restu. Aku sudah janji akan jagain kamu sama ayah. Makanya aku tadi ga mau di kosan kamu takut kebablasan karena kangen ini" Yoshi menyentil hidung mancung Anita. "Lagi pula kamu mau dipeluk siapa kalau bukan aku? hmmm?" sekarang ganti Yoshi yang menggodai Anita.
"ada..." Yoshi melototkan matanya "Guling sama bantal dikosan" Anita tertawa kecil melihat Yoshi kaget tadi. "eee..."
Yoshi sengaja mencubit pipi Anita dengan tangannya yang terkena saos.
"Siapa suruh bikin aku cemburu sama bantal dan guling di kos kamu" Anita mengelap pipinya dengan tisu basah dimeja. Tiba-tiba dia teringat kalau dia tidak bawa apapun, tas dan ponselnya tertinggal di kos.
"Oh ya kak, tolong dong telepon kak Adrian. bilang kalau aku ga dikos dan hp aku ketinggalan. biar dia ga bingung nanti kalau mau berangkat ke Rumah Asyifa"
"a...oke!" Yoshi menyelesaikan makannya lalu menghubungi Adrian.
"Halo Adrian...aku dapat pesen dari Anita kalo dia lagi diluar, trus HPnya ketinggalan di kos. Katanya kalo mau berangkat kemana gitu suruh nungguin"
"....."
"ya..cuma gitu aja sih pesennya tadi. oke bye" Yoshi menutup percakapannya dengan Adrian.
"Kak Adrian tahu kalo kak Yos sama aku?"
"Gak. kan tadi aku gak bilang" Yoshi menyandarkan punggungnya lalu meraih Anita agar mendekat padanya. Anita tahu kalau Yoshi sangat lelah saat ini.
"Kenapa memaksa kalau kak Yos kecapekan? ga sayang sama badan sendiri?"
"Aku kangen sama kamu. Tiga hari aku ga bisa tidur, begitu ketemu kamu aku langsung bisa tidur. Sekarang justru capekku hilang"
Yoshi manja pada Anita. Beberapa hari disibukkan dengan pasien bedah membuat Yoshi tidak bisa istirahat karena harus memantau pasien. Setelah sampai dirumah pun dia tidak bisa tidur meski sangat lelah.
"kak aku mau keliling ya...pemandangannya cantik banget"
"Boleh...ayo" Yoshi mengandeng tangan Anita dan mereka berjalan beriringan.
Saat Anita asyik mengamati bunga-bunga yang indah Yoshi mengeluarkan ponselnya dan memasang kamera. Tanpa Anita tahu Yoshi mengambil beberapa gambar Anita dan menjadikannya wallpaper ponselnya. Yoshi memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"I Love You" ucap Yoshi sambil merangkul bahu Anita membawanya kedalam pelukannya. "Kita nikah aja ya...ga pake lamar-lamaran. aku beneran ga bisa jauh dari kamu Anita" Anita hanya diam tertunduk didada Yoshi. Tangannya masih berada didada Yoshi sebagai pembatas tubuh mereka. "Aku sudah ga tahan ga peluk kamu...jangan marah ya? Minggu depan aku sudah bisa dapat sertifikat dokter aku. Aku mau kerumah bilang ayah buat nikahin kita."
Anita mendongak lalu mendorong d**a Yoshi untuk memberi sedikit jarak diantara mereka.
"aku...belum siap kak." Yoshi menghela nafas. Kecewa iya pasti tapi dia juga tidak bisa memaksa Anita. "Beri waktu sampai aku lulus ya.." gumam Anita lagi.
"Beneran ya...selesai wisuda langsung nikah"
"iya iya iya" Yoshi tersenyum mendengar persetujuan Anita.
"Aku mau minta sesuatu dari kamu tapi kamu pasti ga akan ijinin" Anita mengurai tangan Yoshi yang melingkari bahunya.
"Minta apa itu?" tanya Anita sedikit heran.
"Ehm...itu..disini" Yoshi ragu meneruskan kalimatnya. "Ayo balik ke kos..sebentar lagi aku balik Semarang lagi"
"Yah...sudah waktunya ya?" sahut Anita merasa belum puas bersama Yoshi.
"Makanya yuk..kita nikah"
"Ye...meski nikah sekarang kita juga jauhan"
"Sebulan lagi mau? aku udah jadi dokter beneran Lo"
"Klo gitu kakak tanya sebulan lagi ya..." Anita mempercepat langkahnya tapi tidak bisa karena Yoshi sudah menangkap tangannya.
"Kamu ya.. godain aku terus bisanya" Yoshi menyentil hidung mancung Anita.
Keduanya kembali ke kos Anita. Sepanjang perjalanan Yoshi tidak melepas tautan tangan mereka bahkan berkali-kali Yoshi mencium punggung tangan Anita.
Segitu cintakah Yoshi padanya? Entahlah kenapa Anita semakin tidak percaya diri dengan cinta Yoshi yang menurutnya begitu besar.
Ada banyak perempuan yang lebih segalanya dibanding dia tapi Yoshi menjatuhkan pilihan padanya. Sesuatu yang tidak pernah Anita harapkan sebelumnya.
"tadi kak yosh mau minta apa dari aku?" tanya Anita masih penasaran.
"Minta kayak ini... cium kamu" jawab Yoshi enteng sambil mengecup punggung tangan Anita. Sontak Anita menarik tangannya.
"Apa!...yang bener aja kak Yos!"
"iya aku tahu" Yoshi tergelak namun dengan cepat mencium pipi Anita singkat.
aaaaaaaaaaaaaaaa
***
Kira-kira apa ya reaksi Anita begitu dicium Yoshi tiba-tiba...
OMG! bay the way ada yang setuju gak sih kalau Anita sama Yoshi tiba-tiba nikah?