Pagi ini Anita berangkat ke Rumah Sakit sendirian. Sengaja berangkat lebih pagi lalu teleponan sama Asyifa."Iya maaf, kemarin itu mendadak banget dan sampai asrama aku udah capek." Anita berbicara saat berada di bangku bus. Dia mendengarkan ceramah Asyifa yang panjang kali lebar seperti biasanya.
Anita tertawa dan sesekali menjawab Asyifa. " awas kalo kayak gitu lagi" ancam Asyifa. " iya-iya Tante bawel pasti aku turuti nasehat nya" jawab Anita sambil cekikikan.
Anita turun dari bus saat sampai di Rumah Sakit. Sebelum sampai di koridor ada yang memanggilnya. Dia menoleh ke arah suara dan ternyata itu kak Yoshi yang masih ada didalam mobil.
Anita hanya tersenyum sambil menunjuk UGD. Anita bergegas masuk namun Yoshi menghentikannya. "Tunggu!" Anita berbalik dan menunggu Yoshi sejenak. "Di UGD berapa lama? tanya Yoshi begitu menghampiri Anita.
"satu bulan" jawab Anita singkat."kita ketemu Minggu ya" Yoshi selalu kalem saat bicara dengan Anita. Dan itu membuat Anita jadi merasa geli sendiri. Lalu Anita tersenyum dan bicara pada Yoshi.
"Kak aku tidak menuntut apapun, lakukan seperti biasanya saja. Kita sudah sepakat dan aku bukan anak kecil lagi."
"Aku hanya tidak ingin kamu mecari cowok lain" ucap Yoshi menatap sayu pada Anita.
"saling percaya kak yos. kita hanya butuh itu dan menjalani profesi kita dulu. kita sama-sama butuh prestasi kan?" ucap Anita meyakinkan Yoshi. Sebenarnya Anita melakukan itu karena dia tidak ingin terlalu lama berbincang dengan Yoshi. Karena jantungnya sudah hampir meledak saat ini.
"Aku tidak pernah menyangka kalau kau sepengertian ini Anita. baiklah aku percaya padamu." Yoshi tiba-tiba mengambil tangan Anita.
Cup
dengan cepat dia mencium punggung tangan itu lalu melambaikan tangan dan pergi keruang lain.
Anita yang tidak menyangka Yoshi akan melakukan itu masih terbengong. Ini mimpi kan? iya ini pasti mimpi.
Anita berjalan ke UGD dan berpapasan dengan Steve, tanpa sadar dia berucap pada Steve. "Gila..ini gila Steve!" pekiknya menggoyang lengan Steve.
"Apa yang gila Anita?" jawab Steve tak mengerti.
"Kak Yoshi, Gila...ini bukan mimpi kan?"
"Apa maksudmu Anita?" Steve mengguncang bahu Anita, ada rasa marah bercampur penasaran. Anita tiba-tiba sadar dari kebingungannya.
"Ah...aku bilang apa tadi? ah...maaf Steve" Anita mundur sedikit sambil melepas tangan Steve dari bahunya.
"udah cerita aja, tadi kamu ketemu sama Yoshi lagi? dia bilang apa?" ucap Steve sambil meletakkan tasnya dikabinet membelakangi Anita.
"Maaf Steve" Anita mengikuti apa yang dilakukan Steve meletakkan tas di kabinet.
"Maaf terus? memang apa yang harus aku maafkan?" ucap Steve ketua.
"Maaf karena tidak pernah cerita, maaf kita hanya bisa berteman, maaf aku sudah bikin kamu kecewa" ucap Anita dingin tanpa melihat Steve. Steve mendengar itu dengan heran. "Sudahlah...siap-siap saja bentar lagi mulai shift" Steve pergi ke nurse station bergabung dengan anggota kelompok lain. Anita mengikuti dibelakangnya.
Hari UGD seperti biasa ramai tapi karena ada mahasiswa magang tenaga dokter maupun perawat senior sangat terbantu. Meski baru mahasiswa magang tapi mereka juga sudah terlatih. Dokter Koas lebih banyak mengambil porsi pasien sih tapi itu tidak membuat Anita berkecil hati. Karena hampir tidak ada waktu istirahat tak terasa jam shift pun sudah berganti. Anita sengaja mendekati Steve dan minum disebelahnya.
"aku nebeng pulang ya?" ucap Anita saat sudah didekat Steve.
"Gak kangen sama dokter itu? nanti marah dia tau kamu balik sama aku?" Steve berkata dengan mengejek bahkan tanpa menoleh ke Anita.
"Justru kamu yang kangen sama aku makanya aku mau balik sama kamu" ucap Anita sambil menggerakkan alisnya naik turun. "Cih...pede amat" balas Steve sambil menyentil jidat Anita.
Anita mengusap pelan jidatnya. " Tuh kan lagi ngambek" Steve tersenyum juga akhirnya melihat tingkah Anita yang seperti itu.
"Ayo buruan!" Steve menyambar tasnya dan berlari keluar ruangan. Anita segera mengejarnya. Dia sudah hafal kalo gak dikejar Steve bakalan pergi tanpa menunggu Anita. Tanpa sadar mereka seperti pasangan yang sedang menggoda satu sama lain. Dan tanpa Anita tahu hal itu dilihat Yoshi yang sedang berdiskusi dengan profesor Abdi dokter ahli bedah.
Yoshi melihat Anita mengejar cowok lalu masuk kedalam mobil. Meski dia percaya tapi hatinya bergetar juga melihat hal itu.
Yoshi menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang tidak-tidak. lalu fokus kembali pada profesor Abdi.
Steve mengendarai pelan sambil berbincang dengan Anita.
"Kenapa kau selalu menolakku?"
"Aku hanya ingin serius saat menjalin hubungan dengan seseorang"
"apa aku tak serius? apa aku harus melamarmu pada ayahmu?"
"bukan begitu Steve, hati tidak bisa dipaksa."
"heh...apa yang kau suka dari Yoshi itu?" kali ini Steve memandang Anita. "Karena dia dokter? dia ganteng? dia pinter?"
Anita tidak tau harus bilang apalagi. Nyatanya rasa suka itu datang begitu saja dan dia menerima begitu saja lamaran Yoshi.
"semuanya" ucap Anita kemudian karena tidak tau mau berucap apalagi.
"jadi sudah berapa lama kau kenal dengannya? setahuku Anita dulu pernah bilang padaku kalau dia butuh orang perfect untuk melengkapinya. jadi seberapa perfect dia?" Steve berucap sambil mengejek.
Anita yang selalu menolaknya dengan berbagai alasan, tidak mau pacaran, belum kenal, belum kepikiran, belum mentarget. lalu apa sekarang? dia tiba-tiba bilang sudah punya calon suami?! apa jangan-jangan mereka sudah berpacaran sejak dulu? Steve tidak habis pikir.
"Baiklah atau kita pulang kerumahmu saja lalu aku lamar kamu pada ayahmu?"
"Steve jangan gila ya"
"atau gini saja aku telepon dulu saja bilang kalau aku mauenikah denganmu" Steve mengangkat ponsel dan menekan nomer. Anita segera merebut ponsel itu. tiba-tiba terdengar suara dari sana " halo, nak Steve?"
mau tidak mau Anita harus menjawabnya.
"Halo ayah ini Anita"
"oh anita! iya ada apa dik?"
"Minggu depan ayah tranferin lagi ya yah, buat beli buku"
"oh iya, ayah usahakan ya"
"iya ayah, klo gitu saya tutup ya yah"
"iya, tapi hp mu kemana?"
"itu baterainya habis yah, jadi pinjam punya Steve"
"oh ya sudah, tutup saja"
"baik yah" Anita menutup telepon dengan menekan tombol merah. Steve hanya terkekeh disamping sambil terus menjalankan mobil.
"ini gila Steve!! kamu benar-benar gila!" teriak Anita sambil memukul-mukul pundak Steve.
Steve semakin menjadi, dia tertawa terbahak-bahak.
" kamu tahu tidak kalau ayahmu sangat percaya padaku? lalu darimana kamu bisa mengatakan kalau Yoshi calon suamimu?"
"Steve apa saja yang sudah kamu bicarakan dengan ayah?" Anita benar-benar tidak mengerti dengan maksud Steve.
"ayahmu bilang kalau aku harus menjagamu dan ayahmu juga bilang tidak keberatan kalo nanti aku jadi suamimu" Steve mengatakan yang sejujurnya pada Anita dan dia berharap Anita akan menerima cintanya.
"apa! Steve aku sudah bilang berkali-kali kalau kita hanya teman" kali ini Anita menaikkan masa bicaranya. "minggir aku mau turun" ucap Anita.
"sebentar lagi sampai" balas Steve santai. Dia tahu Anita tidak pernah bercanda dengan kata-katanya.
"aku bilang minggir, atau aku loncat saja" bentak Anita sangat tegas. "jangan!" Steve menghentikan mobilnya. "jangan turun" Steve melarang Anita turun dari mobil.
"kamu ini, mau loncat pingin badanmu luka-luka? iya?"
"..." Anita tidak menjawab.hanya memicingkan matanya. sifat dingin Anita inilah sebenarnya yang disukai Steve. Dan entah kenapa meski Anita tidak mengatakan apapun Steve terkadang bisa menebak apa yang Anita inginkan.
"aku memang gila Anita, gila karena terlalu mengerti kamu. aku gila karena mencintaimu dan aku gila mengapa tidak bisa pergi darimu. kamu puas!"