12. Akhirnya bercerita

1135 Kata
Anita dan Yoshi berbicara banyak. Mereka sepakat menjalani kehidupan masing-masing seperti biasanya. Karena keduanya ingin fokus belajar dan meraih prestasi. Yoshi berjanji akan datang melamar Anita 2 tahun lagi setelah dia dan Anita lulus profesi. Keduanya sepakat hanya akan berkirim pesan, dan tidak akan memaksakan diri untuk selalu bertemu. "Walau kita tidak sering bertemu tapi aku berharap kau mau mengirim kabar padaku setiap hari Anita." "Baiklah, aku harap kakak juga begitu" Yoshi mengangguk mantap. "Ayo aku antar ke asrama" Keduanya kemudian bangkit dan keluar dari restoran. Yoshi meraih tangan Anita dan mengaitkan jari mereka. "Begini tidak apa kan?" Anita hanya tersenyum dan tidak menolak. Mereka mampir di masjid terdekat sebelum kembali ke asrama. Menunaikan kewajiban kepada yang maha kuasa. Steve sudah berdiri di pos satpam sejak jam 7 tadi. Begitu mendapat kabar dari Mirna Steve sengaja menunggu Anita. Dia tahu jika Anita menyembunyikan sesuatu. Anita dan Yoshi sampai di pintu masuk. Yoshi keluar lebih dulu dan melapor di pos satpam di ikuti Anita. "Mas Ihsan maaf saya telat bawa balik penghuni asrama" ucap Yoshi saat sudah sampai di pos satpam. "Oh dokter...saya percaya deh kalo dokter yang bawa." Ya Ihsan dan Yoshi sudah kenal sejak sebulan yang lalu saat Yoshi masih di asrama ini. Karena suasana terlalu ramai Yoshi memutuskan pindah ke tempat lain. "memang siapanya dokter?" tanya Ihsan lagi sambil menyodorkan buku tamu pada Yoshi. "Calon istri saya mas, lama gak ketemu tadi saya ajak keluar sebentar" "Abo Abo...seneng dong yang ketemu calon istri?" tanya Ihsan sambil sedikit menggoda Yoshi. sedang yang digoda hanya senyum saja. Tanpa mereka sadari ada Steve yang juga ada di pos itu sambil baca buku. Steve sudah menggeram sejak tadi pasalnya dia melihat Anita dan Yoshi keluar dari mobil yang sama. "Malem pak, maaf saya pulang telat." ucap Mirna. "Iya mbak saya percaya kok sama mas Yoshi" jawab Ihsan. "Loh...sudah kenal ya sama kak Yoshi?" tanya Anita pada mereka berdua yang kelihatan sudah akrab. "Sebulan yang lalu aku juga tinggal disini. Gimana boleh gak aku balik kesini?" "Apaan sih kak. ga perlu kali...sudah ya kak saya pamit. Assalamualaikum..." kata Anita sedikit teriak sambil segera berlari sebelum Yoshi menghentikannya. Ihsan dan Yoshi hanya menggelengkan kepala mereka dan tertawa bersama. Steve yang menyadari Anita sudah masuk kedalam akhirnya juga beranjak dari duduknya dan menyusul Anita. Saat Anita hendak membuka kunci Steve memanggilnya."Anita!" Anita menoleh kearah suara. "Steve" Gumamnya. "Hutang penjelasanmu..." Steve sengaja memanjangkan bagian belakangnya. Dia menatap Anita dengan sinis penuh amarah tapi tertahan."Hah...aku bisa apa. Masuklah Steve" Anita membuka pintu kamar dan membiarkannya tetap terbuka. Anita duduk di kursi kamar sedangkan Steve berdiri dipintu tidak mau masuk. "Jadi dia calon suami mu?hah?" sindir Steve "Ya begitulah Steve, kami sepakat untuk menikah" Anita tidak mau basa-basi dan dia memang selalu tegas dengan cowok. "Aku tidak bisa cerita sama siapa pun karena kami memang biasa saja. Kami sepakat untuk menikah setelah selesai semua pendidikan." "jadi kau pacaran dengannya?" "tidak juga..kami dalam tahap perkenalan" "apa maksudmu tidak pacaran?" "Dengarkan aku Steve, menikah tidak harus pacaran dulu. Sekarang aku dan kak Yoshi menjalani kehidupan pribadi kami masing-masing. Tidak perlu pacaran tapi kami serius ketahap selanjutnya" "Oh ya! jadi sebelum kalian menikah kalian bebas pacaran dengan orang lain begitu? Bisa-bisanya kamu Anita.." "Steve!" Anita memotong kalimat Steve yang belum selesai."Aku menolakmu karena aku hanya ingin berteman dengan cowok manapun. Kau jangan salah paham padaku!" "Sejak kapan kau sepakat mau menikah dengan Yoshi?" " Aku tidak mau jawab" Anita melotot pada Steve. Dia tidak mau menjelaskan apapun. Lebih baik Steve salah paham dan akhirnya menjauh darinya. "Oke..." jawaban singkat Steve mengejutkan Anita. Oke? aku pikir Steve akan mengomel dan menceramahinya. Anita menghela nafasnya, antara lega dan sedih. Lega karena Steve tau hubungannya dengan Yoshi. Sedih karena Steve pasti kecewa padanya saat ini. "Bang katakan padaku seperti apa Yoshi itu" Steve menghubungi abangnya yang merupakan teman Yoshi.Arlan dia kakak kandung Steve tapi beda ayah. "Anita!...untunglah kamu pulang" Mirna datang ke kamar Anita dengan heboh lalu memeluknya. Sedang yang dipeluk hanya cuek saja. "Kamu kenapa? aku masih utuh" "Kamu tahu tidak kami khawatir tau! bahkan Steve sampai marah tadi" "Dia sudah marah padaku, besok pasti butuh bantuanmu" Anita memelas pada Mirna "Ye.. salah sendiri ga ngabarin. urus Steve sendiri. aku mah ogah!" "Ayolah mir...aku contekin 2 Kali makalah seminar deh, ya..ya.." "Sudah kasih kabar Asyifa? dia mau lapor polisi kalo kamu diculik" "Aku takut lihat HP, didalem ras tu" "Kamu kemana aja sih? pasti ada yang kamu sembunyikan ini" Mirna mengamati Anita dari sampai bawah bahkan memutar tubuh Anita. "Ih..apaan sih" Anita menepis tangan Mirna yang sedang menggoyang bahunya. "Aku cuma diskusi aja sama dokter" Aku ga bohong kan? emang sedang diskusikan tadi sama dokter. "sudahlah...sekarang kabari Asyifa gih biar dia ga cemas" "Kamu saja gimana, aku males buka HP" Tanpa menunggu lama Mirna sudah melakukan vicall dengan Asyifa. Mereka bercakap-cakap. Anita merebahkan tubuhnya dan menutup mata dengan lengannya. Dia sangat lelah. "Dia tidak mau bicara" ucap Mirna pada Asyifa. "Baiklah Mir, temani saja dia" mereka tidak lama berbincang karena tidak mau mengganggu Anita yang kelihatannya banyak pikiran. Mirna kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar. Begitu Anita tau Mirna pergi dia mengambil ponselnya. Lalu menekan tombol power. Ponselnya tidak berhenti bergetar karena terlalu banyak notif yang masuk. Anita mengabaikan semua pesan itu. Hanya pesan Yoshi yang dia baca. Yoshi [Cepatlah tidur, calon istriku] Anita [Iya, selamat malam] Yoshi [Minggu pagi aku jemput ya, diasrama] [jangan menolak, jam 8] Anita menghapus semua pesan dari teman-temannya. Dia takut membaca isi pesan mereka, meski mengecewakan mereka Anita tidak punya pilihan lagi. Lalu dia menelepon Steve. "Ya" jawaban singkat Steve yang masih marah terdengar ditelinganya. "Steve jangan marah aku akan menceritakan semuanya padamu. tapi berjanjilah kau tidak akan memberitahu siapapun." ucap Anita berikutnya. "Apa aku perlu kesana?" tanya Steve antusias. "jangan, aku tidak sanggup bercerita jika kau ada di hadapanmu" "Ya..ya..baiklah..terserah kau." "Steve sebenarnya aku dan kak Yoshi sudah sepakat untuk serius menikah beberapa tahun lagi" Steve langsung lemas mendengar kata-kata dari Anita. Meski hatinya sudah hancur sejak tadi tapi mendengar langsung dari mulut Anita rasanya sangat menyakitkan. "Aku tidak mau pacaran, tapi malah sekarang dapat calon suami. awalnya aku berpikir dia tidak serius tapi ternyata dia memang serius memintaku jadi calon istrinya. Maaf Steve aku menyetujui permintaannya." tanpa Steve. sadari kedua matanya memerah dan mengeluarkan cairan bening. "Steve..bicaralah! marahlah padaku jika kau ingin." Anita sungguh tidak enak pada Steve. "Jika aku marah apa kau akan mengubah keputusanmu?" kata Steve begitu dingin. "tidak bukan?! jadi katakan saja apa yang ingin kau katakan" ucapnya lagi tanpa menunggu sahutan Anita. Steve mematikan telepon itu lalu menenggelamkan kepalanya di bantal. Sebagai laki-laki seharusnya dia tidak menangis. Tapi hatinya sungguh sakit, dia benar kehilangan orang yang disukainya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN