29. Yoshi-Anita: Panggilan sayang

1267 Kata
Setelah makan malam bersama keluarganya Yoshi mengantar Anita kembali ke kosnya. Yoshi sebenarnya ingin agar Anita menginap di hotel bersama Innara tapi dia menolak. "Besok setelah dari Rumah Sakit aku jemput ya, temenin aku dirumah" pinta Yoshi. "iya.." jawab Anita singkat sambil membalas chat dari teman-temannya. Yoshi merasa dicueki banget sama Anita. Ayolah mereka jarang berjumpa, sekarang ada kesempatan berdua dia malah sibuk dengan ponselnya. Yoshi yang sedikit geram menepikan mobilnya. Anita merasa heran kenapa Yoshi berhenti dijalan seperti ini. "Anita lagi chat an sama siapa?" tanya Yoshi sambil menahan gemeletuk rahangnya. "temen-temen aku kak, kan tadi ga sempat buka HP" jawab Anita yang masih belum menyadari kalau Yoshi marah. Yoshi mengambil ponsel Anita dan meletakkannya di dashboard. Dia memberanikan dirinya mendekat ke Anita memegang bahunya. Yoshi semakin mendekatkan wajahnya, Anita diam menahan nafasnya. Yoshi mendaratkan bibirnya dipipi kanan Anita, lalu pipi kirinya. Saat Anita hanya terdiam kaku akhirnya Yoshi mencium bibir Anita lembut. Hanya menempelkan saja menunggu reaksi Anita apakah marah atau tidak. setelah beberapa saat tidak ada reaksi dari Anita Yoshi sedikit memberi jarak wajahnya dan memandang mata Anita. Yoshi lalu tersenyum memandangi Anita dan memeluknya hangat. "Maaf aku hanya merasa cemburu dengan HP mu." Perlahan Anita membalas pelukan Yoshi. Entahlah kali ini Anita juga merasa tidak keberatan dengan tindakan Yoshi itu. Untunglah tadi tidak terlalu jauh Yoshi hanya sekedar menempelkan bibirnya saja. Bagaimanpun dia seorang wanita yang harus menjaga harga dirinya. Selama setahun lebih mereka menjalani hubungan jarak jauh. Jarang terjadi kontak fisik saat mereka bertemu. Tapi kali ini memang berbeda. Yoshi dan Anita sudah mendapat restu dari keluarganya. Sebulan lagi Anita akan wisuda dan itu artinya Yoshi pasti akan meminta untuk menikah seperti yang dijanjikan Anita. "Anita, sayang..! bolehkan aku memanggil seperti itu?" Anita tersenyum akhirnya. "Kak yosh beneran sayang sama aku?" tanya Anita dengan polosnya membuat Yoshi melonggarkan pelukannya. Yoshi tidak habis pikir bisa-bisanya Anita bertanya seperti itu. "Kalau ga sayang ngapain mau aku nikahin kamu Hem...aku cinta dan sayang sama kamu. Semakin hari aku semakin mantab untuk segera menikah." Yoshi menggenggam tangan Anita. "Apa kamu masih ragu sekarang? masih merasa minder? atau mau ditunda lagi pernikahan kita?" Yoshi memang mengatakan itu dengan lembut tapi Anita tahu betul jika saat ini dia sedang marah. Anita kemudian membalas genggaman tangan Yoshi. "Aku akan mendengarkan apa kata kak yosh, aku tidak akan menghindar lagi jika memang kak yosh ingin kita segera nikah." "kalau begitu buktikan kata-kata mu. coba panggil sayang, Beb atau mas gitu" "Besok?" jawab Anita cepat. "sekarang..." Yoshi memaksa. Anita membetulkan posisi duduknya. "hem..hem..Sa..sa..ah..kak yosh" Anita masih canggung memanggil dengan sebutan sayang. "Ayo...coba lagi atau aku cium lagi aja?" "e..e..sebentar." Anita mempersiapkan diri untuk memanggil Yoshi dengan sebutan sayang. "Mas Yoshi...sayaang Yoshi...Beb Yoshi..." Anita menyebut semua panggilan itu yang membuat Yoshi tertawa terpingkal-pingkal. Memang aneh sih saat Anita memanggilnya dengan sebutan-sebutan itu. "Panggil mas aja deh..kayaknya lebih bagus itu. coba panggil sekali lagi sayang" "Iya..mas Yoshi.. bagaimana?" "oke..oke..panggil seperti itu. Sekarang kita ke kos kamu." Yoshi menjalankan mobilnya kembali. "Bulan depan kamu sudah wisuda, lalu kita persiapan nikah oke?" Ah rasanya seperti mimpi bulan depan menikah? Anita seperti terjebak hari ini. Pasti Yoshi sudah merencanakan semua ini dengan ayahnya. Atau sebenarnya mereka sudah merencanakan pernikahan tapi tidak memberitahu Anita. Anita betapa bodohnya kamu karena tidak menyadari kedekatan Yoshi dengan ayahmu. "Hah..iya deh aku nurut aja.tapi aku masih boleh kuliah lagi kan? masih boleh kerja, juga ikut kegiatan lain?" "Boleh...bukankah aku pernah bilang kita masih mau mengejar cita-cita kita? Aku juga masih ingin kuliah lagi. Jadi kita bisa sama-sama belajar. Meskipun kita sibuk tapi setidaknya ada waktu untuk kita bersama, misalnya saat malam hari saat tidak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jadi setelah lelah diluar sana kita punya satu tempat untuk pulang yaitu keluarga. kamu mau kan seperti itu?" Anita mengangguk menjawab semua pernyataan Yoshi itu. Yoshi memang selalu berpikiran dewasa dan lembut. Belum pernah Anita melihat Yoshi berkata kasar atau membentak meskipun dalam keadaan marah sekalipun. Semoga ini memang jalan terbaik untuk masa depan mereka berdua. Dan mungkin Anita akan mulai mengenalkan Yoshi pada teman-temannya. *** Anita berbincang dengan Asyifa sambil nonton Drakor di kamar Asyifa. Hari ini Anita mengunjungi rumah Asyifa karena dia sedang libur kerja. Asyifa sekarang jadi pengangguran karena tinggal menunggu wisuda kampus saja. UKOM sudah dilaluinya, berbagai pelatihan dasar juga sudah diikutinya. Bahkan Anita mendapat beberapa tawaran kerja dan beasiswa. Namun Anita belum memutuskan mana yang akan dia pilih. Anita sudah tidak ngekos lagi, dia sudah pulang ke rumah ayahnya. Jika kekampus dia akan menginap dikontrakan Yoshi. "Jadi mana yang mau kamu pilih Nit?" tanya Asyifa. "Masih belum aku pikirin, tapi sepertinya aku pilih jadi dosen" jawab Anita sambil membalik majalah fashion yang sedang dibacanya. "Ga pengen nyoba di Rumah Sakit? katanya kamu cinta profesi" "jadi dosen kan bisa sambil kerja di Rumah Sakit. Lagian aku juga sudah dapat rekom di RSPAD" "Oke deh...Eh udah milih kebaya wisuda belum?" tanya Anita sambil nunjuk majalah yang ada gambar kebaya. "Udah dong...sama Mirna kembaran cuma beda warna aja" jawab Anita santai. mereka melanjutkan obrolan ala perempuan yang gak ada habisnya. Begitulah kalau Asyifa dan Anitasedang bersama seakan dunia milik mereka berdua. Padahal dengan Yoshi aja dunia masih milik banyak orang wkwkwk. *** Wisuda Anita digelar hari ini Ayahnya, mama dan papa Yoshi juga ikut hadir. Sayang Yoshi dan Asyifa tidak bisa hadir diacara wisuda. Kebetulan mereka berdua mewakili Rumah Sakit untuk mengikuti seminar. Sebenarnya Anita sangat sedih karena Yoshi tidak hadir di acara wisudanya. Tapi dia berjanji akan menggantinya setelah pulang dari luar kota. Dengan terpaksa Anita menyetujuinya. Pagi sebelum Yoshi berangkat Anita sudah siap berdandan dan meminta foto dulu dengan Yoshi. Yoshi sudah menyiapkan Rumahnya untuk tempat menginap Anita dan ayahnya. Sedangkan Mama dan Papanya harus kembali ke Jogja setelah acara wisuda karena ada pertemuan penting. Anita sudah bersiap memakai toga dan berjajar bersama wisudawan lainnya. Seperti halnya Asyifa, Anita pun lulus dengan prestasi yang membanggakan. Dia didaulat menjadi duta kampus dan mendapat kesempatan kuliah di luar negeri. Tidak hanya itu dia sebagai lulusan terbaik juga diminta bergabung di Lembaga Penelitian Nasional. Dan masih banyak lagi yang dia dapat terutama voucher dan perhargaan. Ayah Anita menangis haru saat melihat putrinya berpidato di panggung. Anita yang piatu sejak umur 2 tahun nyatanya bisa tumbuh dengan baik hanya dengan bimbingan dari Ayahnya. Saat usia 7tahun dia juga harus kehilangan kakaknya karena kecelakaan saat darmawisata. Mama dan Papa Yoshi juga bangga karena calon mantunya itu namanya berkali-kali disebut oleh pembawa acara. Mereka baru tahu jika Anita seorang perempuan yang pintar dengan banyak prestasi. Yoshinya saja sampai kalah. Memang Anita aktif mengikuti banyak kegiatan kampus terutama yang bersifat keilmuan. Berbagai lomba dia ikuti sejak masuk kuliah yang menjadikannya dekat dengan para dosennya. Anita menghampiri Steve dan Mirna setelah turun dari panggung. Mereka saling berpelukan memberi selamat. Tak lupa mereka mengabadikannya dengan mengambil foto. Anita bahagia hubungannya dengan Steve bisa membaik seperti sekarang ini. Steve juga sudah secara terang-terangan menerima hubungan Anita dan Yoshi. Steve meminta Anita untuk mengambil foto dirinya dengan Mirna. "Kenapa cuma sama Mirna? aku gak diajak nih?" protes Anita pada Steve. "Iya nanti kita foto berdua juga" jawab Steve, anehnya Mirna hanya cekikikan melihat Anita protes. Ada yang tidak beres ini, pikir Anita. "Sudah..." kata Anita saat dia sudah mengambil foto Steve dan Mirna. Tapi kenapa mereka tampak mesra sekali di foto ini? Steve merangkul pundak Mirna menyatukan kepala mereka. "Bagus sekali" gumam Anita "Ayo sekarang bertiga" Anita mengambil tongsis dan hendak mengambil foto. "1..2..3.." seperti sudah direncanakan saat hitungan ketiga Mirna dan Steve mencium pipi Anita. Anita yang tidak tahu rencana mereka kaget lalu melihat hasil jepretannya. "Kalian ini..tapi bagus juga ha..ha..". "Ha...ha..." mereka tertawa bersama meluapkan kebahagiaan hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN