30. Awal atau Akhir

1725 Kata
"Iya sayang...jam 4 tunggu disana, sebentar lagi aku selesai." Sejak acara wisuda Anita belum bertemu dengan Yoshi karena kegiatan Yoshi yang tidak bisa ditunda. Sepulang seminar Anita dan ayahnya sudah pulang kampung. "Kak Yoshi..kakak jadi ke taman Sari?" tanya Asyifa dari balik pintu ruang Yoshi. "Jadi...kenapa?" tanya Yoshi "Nanti aku kesana janjian sama temen katanya mau ngenalin calon suaminya" "O..gitu..duluan ya Syifa, mau pulang dulu" Yoshi berlalu dari Asyifa. "Oke..nanti ketemu disana aja ya kak" Yoshi mengangguk melanjutkan langkahnya. Yoshi kerumah dulu untuk mengganti bajunya. Setelah selesai dia bersiap untuk menemui Anita di Restoran taman sari, tak lupa hadiah yang sudah dia siapkan untuk Anita dan juga buket bunga. Yoshi sudah datang dan menunggu Anita ditempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Yoshi mengirim pesan pada Anita. Yoshi [sayang] [Sudah sampai mana?] Yoshi tersenyum memandangi layar ponselnya. Belum ada jawaban, mungkin dia masih dalam perjalanan. Yoshi duduk dengan tenang sampai ada seseorang datang kearahnya dan menggandeng lengannya. "Kak Yoshi sudah lama disini?" tanya Asyifa bergelayut di lengan Yoshi. Entah sejak kapan Yoshi sudah terbiasa dengan sikap Asyifa yang seperti itu. Tidak di Rumah Sakit tidak di jalan saat bertemu Yoshi dia akan seperti itu. "Aku menunggu seseorang, kau beneran mau ketemu temen mu?" tanya Yoshi. "Iya..sebentar lagi dia sampai. eh..kak yoshi, aku suka sama kak yoshi!" ucap Asyifa masih dengan memeluk lengan Yoshi. Yoshi masih bingung dengan apa yang diucapkan Asyifa. Tanpa menunggu reaksi Yoshi Asyifa tiba-tiba mencium pipi Yoshi. Sedang di seberang tempat duduk mereka agak jauh Anita sudah melihat sejak kedatangan Asyifa dimeja Yoshi. Ketika hendak memanggil dia melihat sikap Asyifa yang nampak akrab dengan Yoshi. Anita memaku ditempatnya tidak bisa berbuat apa-apa, ini kenapa? kenapa dadanya nyeri sekali? tidak ini tidak boleh..aku harus tenang, tenang Anita. Anita bermonolog dalam hati untuk kembali pada pikirannya yang jernih. Di tempat duduknya Adrian sedang menikmati makanannya ketika melihat Anita mematung dia heran lalu mengikuti arah pandangnya. Tidak butuh waktu lama Adrian segera menghampiri Anita lalu menarik tangannya. "Hai Yos!...sudah lama?" Teriak Adrian sengaja menggunakan volume yang keras. Yoshi menoleh dan melihat Adrian yang menarik tangan Anita. Dia sedikit memicingkan matanya. Reaksinya berbeda dengan Asyifa yang masih memeluk lengan Yoshi dan tersenyum manis menyambut anita. "Anita akhirnya kamu datang. Hei..kalian kenapa gandengan gitu?" Asyifa senang saat Anita datang namun kenapa dia bersama kak Adrian? Anita melepaskan tangannya dari Adrian. "Mas...bisa jelaskan?" ucap Anita datar dan tegas tertuju pada yoshi. Yoshi baru sadar jika lengannya masih dipeluk Asyifa. Buru-buru dia juga melepaskannya. Asyifa heran dengan sikap Yoshi, selama ini dia tidak pernah menolak lengannya dipeluk Asyifa, sebenarnya dia kenapa? "Anita..jangan salah paham dengarkan aku." Yoshi sedikit panik. Dia berusaha memegang tangan Anita namun ditolak bahkan Anita sedikit mendekat pada Adrian. Asyifa tidak tahu sebenarnya kenapa dengan Anita? "Aku menunggumu lalu Asyifa datang" ucap Yoshi agak bingung, sedang Asyifa heran kenapa Yoshi menyalahkannya? bukankah tadi dia sudah mengatakan untuk bertemu disini? "Iya..Anita kak yosh ini yang mau aku kenalin sama kamu. Dia yang sering aku ceritakan sama kamu, pacarku. iya kan kak Yoshi!" Ucap Asyifa girang hendak memeluk tangan Yoshi lagi namun ditolak oleh Yoshi. Anita seperti tersambar petir mendengar ucapan Asyifa. Kepalanya penuh dan dadanya sesak. Namun seperti biasa Anita adalah perempuan yang mempunyai pengendalian diri yang baik. "Sejak kapan kamu pacaran dengannya Syifa?"Tanya Anita lembut tapi juga dingin. "Tidak pernah Anita. Aku bukan pacarnya." jawab Yoshi cepat sebelum Asyifa menjawab. Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Dia juga tidak paham kenapa Asyifa bilang kalau dia pacarnya? "Sejak kapan kak yosh punya calon istri dan juga pacar?" kali ini Anita menghadap Yoshi menatap mata Yoshi lekat. "Aku hanya punya kamu Anita, tidak ada yang lain" jawab Yoshi menegaskan. Yoshi tahu betul jika dia bicara terlalu banyak itu akan semakin membuat Anita salah paham. "Tunggu...Anita jangan bilang kalau calon suami yang mau kamu kenalkan itu kak Yoshi?" Asyifa mulai mengerti situasinya namun dia tidak percaya sama sekali. Bukankah dia dan Yoshi sangat dekat bahkan Yoshi tidak pernah menolaknya? "Kamu tega sekali padaku Anita? Ya..ya..kau memang hebat dan cantik. aku tidak pernah menyangka ini" ucap Asyifa kemudian dengan emosi yang meluap-luap. "Asyifa jangan bicara yang bukan-bukan ya! Sebenarnya kalian ini ada masalah apa sih?" Adrian yang merasa tidak enak hati mendengar ucapan Asyifa segera menyela. Sedang Yoshi dan Anita masih saling tatap. "Asyifa orang yang mau kamu kenalkan padaku itu benar kak Yoshi? benar dia pacar mu?" tanya Anita kali ini suaranya sedikit bergetar menahan kemarahan. "Iya..memangnya siapa lagi? Kamu mau bilang kalau Yoshi adalah calon suamimu? oh iya apa kabar dengan Steve? Harus aku akui kalau kamu memang hebat Anita. Setelah kau merebut perhatian kak Adrian dan aku sudah merelakannya sekarang kau juga menginginkan kak Yoshi? kali ini jangan harap aku akan mengalah padamu!" Asyifa bicara sengit pada Anita. "Syifa hentikan. Anita apapun itu semua tidak benar, aku tidak pernah pacaran dengan Asyifa." Baru kali ini Yoshi bicara dengan keras. Lalu dia menarik Anita keluar dari tempat itu. Tidak peduli dengan Asyifa maupun Adrian, bahkan Yoshi meninggalkan hadiah yang akan diberikannya pada Anita. Yoshi memegang erat tangan Anita tidak membiarkannya menolak. Sampai dirumah yoshi mendudukkan Anita di shofa lalu dia didepannya bertumpu pada lututnya. Jarinya tetap erat menggenggam. "Anita bisakah kau percaya padaku?" Yoshi mulai berbicara setelah menenangkan dirinya sendiri. Anita hanya diam tapi kali ini dia tidak menunduk lagi dia menatap Yoshi lesu. "Aku tidak pacaran dengan Asyifa, aku juga tidak tahu kenapa tadi dia tiba-tiba melakukan hal itu" "Aku akan mendengarkan semua yang ingin mas katakan" ucap Anita lirih tapi dengan penekanan. Yoshi sedikit lega ketika Anita mau bicara, apalagi dia mengatakan mau mendengarkannya. "Maafkan aku aku tidak pernah bilang padamu kalau aku sering makan sama Asyifa. Dia sering membawakan ku makanan dan entah karena apa aku tidak menolak. Aku menganggapnya teman seperti Karina atau yang lainnya." Sampai disini Anita menarik nafas panjang dia mengingat apa yang sudah diceritakan Asyifa, dia lalu menyela ucapan Yoshi. "Apa mas yoshi tahu, Asyifa itu sahabat dekatku?" sekarang yoshi yang dibuat kaget. Apakah dia Asyifa yang dulu membuatnya salah mengira itu? Yoshi bingung sekarang, entah kenapa hatinya menjadi bimbang. Dulu dia sering menyebut nama Asyifa tapi yang dia pikirkan wajah Anita. Dan sekarang dua orang ini berada disisinya. Oh perasaan apakah ini? Tidak mungkin dia juga mempunyai rasa yang sama pada Asyifa. "Tahukah jika mas itu adalah penyemangat untuk Asyifa? Dia bahkan selalu bercerita padaku jika dokter yang dia suka juga membalas memberikan perhatian padanya? Mas sadar tidak jika mas sudah memberikan harapan untuknya? bahkan dia menganggap mas juga menyukainya. atau memang benar seperti itu?" Kali ini Anita tidak mampu menahan amarahnya, dia berkata dengan sedikit berteriak. "Anita..aku mencintaimu percayalah. Dulu aku mengira namamu Asyifa dan aku tidak tahu jika Asyifa yang ini adalah temanmu itu." Yoshi memohon pada Anita."Dia memang selalu memelukku lalu tanpa segan mencium pipiku. Walaupun aku menolaknya dia tidak peduli?" Anita ingin menangis rasanya mendengar penuturan Yoshi. Bagaimana bisa Yoshi menerima diperlakukan seperti itu? sedang dia yang dibilang calon istrinya tidak melakukan hal itu. "Aku tidak cerita karena tidak ingin membuatmu sakit hati" kata Yoshi lagi.Tanpa terasa buliran air mata menetes dipipinya. "Ya..dan mas menikmati perlakuan manisnya yang tidak pernah aku lakukan untuk mas. Aku mengerti sekarang. Aku memang tidak bisa seperti Asyifa, bukan aku tidak mau tapi aku hanya ingin melakukannya saat kita sudah sah menjadi suami-istri." anita memalingkan wajahnya, mengusap air mata yang terjatuh itu. "Apa yang kau mengerti anita? aku tidak memiliki perasaan itu. Ayolah percaya padaku." Yoshi memeluk Anita erat, Anita berusaha berontak tapi kekuatannya tidak sebanding. Anita sudah menangis tersedu. Dia tahu betul bagaimana semangatnya Asyifa saat menceritakan orang yang disukainya itu. Dan orang itu ternyata yoshi-nya. Sahabat bahkan seperti saudara menyukai orang yang juga disukainya. Yoshi memeluk Anita erat tidak rela jika Anita menganggapnya menyukai Asyifa. Meskipun hatinya saat ini juga bertanya benarkah dia juga menyukai Asyifa? Tapi dia tidak rela jika harus melepas Anita demi Asyifa. Yoshi sebenarnya merasa bersalah karena selama ini dia memang menikmati kedekatannya dengan Asyifa. Selama sebulan ini bekerja di Rumah Sakit yang sama. Entah sejak kapan Asyifa mulai berani memeluk lengannya bahkan setelah makan siang bersama di ruangannya Asyifa mencium pipinya tanpa persetujuannya. Tapi dia juga tidak menolak akan hal itu. sebenarnya apa yang terjadi pada Yoshi? "Lepaskan aku mas. jangan berani memelukku lagi" ucap Anita sambil memberontak. Yoshi justru mengeratkan pelukannya. bahkan berusaha mencium bibir Anita. Anita memberontak sekuat tenaga dan dengan kekuatan yang entah dari mana dia mampu mendorong Yoshi hingga terjengkang. Anita berdiri dan berlari namun Yoshi segera bangkit dan mencegahnya keluar rumah dengan mengunci pintu. "Jangan pergi Anita, aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kita menyelesaikan masalah ini. jika kau tidak mau aku akan memaksamu" ucap Yoshi penuh intimidasi. Anita menutup mulutnya, tidak percaya dengan sikap Yoshi sekarang. "Apalagi yang ingin mas katakan? sudah jelas diantara kalian ada sesuatu yang aku tidak tahu. aku kecewa pada mas" Anita tidak mampu menahan tangisnya. Sekarang dia kembali duduk dan berusaha tenang. Yoshi akan semakin menekannya jika dia memberontak seperti tadi, jadi sekarang dia memutuskan untuk tetap disini untuk bicara baik-baik. Yoshi memasukkan kunci rumah kedalam saku celananya. lalu ikut duduk disamping Anita. Sedikit memberi jarak agar Anita merasa nyaman. " Mas tahu? aku selalu tegas pada Steve jika aku hanya bisa berteman dengannya. Dan sikapku tidak akan berlebihan meskipun aku berteman dengannya selama 3 tahun lebih. Mas juga tahu sendiri meskipun mas mau menikahi ku tapi aku juga tidak mau kelewat batas. Tapi jika mas tidak suka dengan hal itu tidak apa. mungkin aku memang tidak pantas untuk mas. Dan juga wanita mana yang rela kalau pacarnya berpelukan bahkan dicium wanita lain tanpa penolakan." Yoshi sekarang yang menghela nafas, dia baru menyadari jika dia bersalah pada Anita karena menerima kehadiran Asyifa. "Sejak kapan mas dekat dengan Asyifa?" tanya Anita lagi dan bahkan sekarang tersenyum tipis. "Sebulan ini, sejak aku pindah kesini" jawab Yoshi lemah. "Jadi tahu artinya apa?" tanya Anita dingin dan ketus. "Maksudmu apa Anita?" tanya Yoshi tidak mengerti. "Setahun kita bersama tidak sebanding dengan sebulan kebersamaanmu dengan Asyifa" Anita emosi lagi bahkan dengan kebodohan Yoshi yang menganggap ini biasa. "Tidak..tidak mungkin." Yoshi menyangkalnya namun sorot matanya mengatakan lain dan itu ditangkap oleh Anita. "sayang..aku..ah.." Yoshi frustasi sendiri. Kenapa ini? Yoshi tidak yakin dengan perasaanya sendiri. Ya Tuhan, benarkah Yoshi juga memiliki rasa pada Asyifa. Anita bangkit dan berlari menuju kamarnya. Yoshi hanya mampu memandang punggung Anita. Dia menyandarkan kepalanya yang terasa berputar-putar. Wajah Anita dan Asyifa muncul di kepalanya bergantian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN