1. Cinta Elisia
"Ta, tumben datang paling awal?” Sapa Wanita paruh baya yang biasa di panggil Bibi Peni datang menghampiriku, Wanita yang berusia hampir setengah abad itu merupakan salah satu Penduduk pesisir pantai yang bekerja sebagai Penjual ikan.
“Iya Bibi, Ta bangun lebih awal jadi cepat-cepat datang ke sini.”
“Pintar, mending begitu dari pada kamu di jadikan Babu sama Nenek sihir itu!” Celetuknya.
Aish... Pasti yang di maksud Ibu tiriku.
Mereka selalu memanggil Melisa Ibu tiriku dengan sebutan itu, pasti karena cerita dari Sahabatku Rena yang sudah hafal seluk beluk keseharianku.
“Ho’oh Ta... Jangan mau! Baiknya kalo ada Bapakmu saja.” Sahut Wanita paruh baya yang baru saja datang.
Aku jadi merasa seperti Cinderella saja, yang selalu di tindas oleh Ibu tiri tapi menurutku tidak begitu. Hanya saja setiap manusia mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda dan Ibu tiriku hanya mempunyai sifat... Ya, agak berbeda menurutku.
Jadi aku hanya bisa terkekeh melihat Para Ibu-ibu gibahin Ibu Tiriku, tapi aku tahu bukan maksud mereka menghina atau memprovokasi. Mereka hanya kasihan dan peduli dengan nasibku yang di tinggal Ibu Kandungku meninggal sejak aku di lahirkan.
Lalu tak lama kemudian Ayahku menikah lagi dengan Melisa yang sekarang menjadi Ibu tiriku, mereka mempunyai Anak perempuan selisih Dua tahun dariku namanya Meira Putri Baskara. Bahkan aku saja tidak memiliki nama belakang Ayahku Edi Baskara, kadang aku merasa seperti Anak tiri.
“Apalagi Si Memei itu ya Bu Jum, baru masuk SMA aja gincunya sudah setebal bibirnya Si Sapi milik Bang Haji Qomar. Ya ampun... Amit-amit, ampun deh sama Anak itu.” Timpal Bibi Peni.
Astaga... Malah Meira yang sekarang gantian di samain sama Sapi kesayangan milik Pak Haji Qomar.
Batinku yang hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Tetanggaku dalam mode julid.
“Iya Bu Peni, apalagi bedaknya itu loh... Tebalnya kayak cat tembok rumahnya orang-orang kolongmelarat.”
Mendengar ucapan Bi Jumak, aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku.
“Bukannya konglomerat ya Bi?” Koreksiku.
“Kalo Konglomerat itu buat orang-orang berduit segebok atuh Cantik, kalo kita mah kaum Kolongmelarat...” Celetuknya yang membuat tawaku semakin pecah.
“Kalian ini, Anak Gadis pagi-pagi wes di ajak gosipin orang.” Seru Seseorang yang baru datang dengan logat Jawanya, membuatku menoleh ke belakang.
“Rena, Bibi Retno.” Sapaku pada Sahabat baikku Rena dan Ibunya yang selama ini banyak membantuku, padahal Ayahku merupakan salah satu Orang yang cukup berada di Desa ini. Tapi rupanya itu tidak membuatku memiliki keberuntungan, tapi aku bersyukur masih memiliki banyak orang yang sayang padaku seperti mereka.
“Ayo Ta, kita cari kerang aja sambil menunggu Perahu nelayan datang!” Ajak Rena sembari menyeret tanganku, aku hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya.
Kami berjalan menyusuri tepi pantai, sesekali menunduk untuk mengambil kerang yang kami temukan. Tapi netraku tak sengaja melihat sesuatu yang aneh dari kejauhan, sesosok manusia yang tergeletak di Tepi pantai dan tersapu oleh ombak. Beberapa kali aku mengucek matanya untuk menajamkan penglihatanku, tapi tetap saja sosok itu tidak menghilang dan apa yang aku lihat bukanlah khayalan.
“Ren, lihat di sana!”
“Apaan sih Ta?” Tanyanya.
“Itu.” Tunjukku, Rena terlihat mengikuti arah jari telunjukku.
“Itu hantu apa mayat orang Ta?” Celetuknya.
“Ayo, cepat kita lihat!” Ajakku yang menyeret paksa Rena yang terlihat takut, aku pun sebenarnya takut tapi entah kenapa aku merasa penasaran.
“Ta, kita panggil yang lain saja. Kayaknya orang itu sudah meninggal deh Ta... Aku takut.” Ucap Rena padaku ketika melihat sosok itu ternyata seorang pria, dari postur tubuhnya kelihatan masih muda. Tapi keadaannya cukup memprihatinkan karena bajunya yang terlihat compang-camping, sedangkan wajahnya tidak begitu jelas karena dalam posisi tengkurap.
“Aku lihat dulu Ren, dia masih bernafas atau tidak!” Kekehku yang duduk berjongkok untuk membalik tubuhnya, tapi alangkah terkejutnya aku saat melihat wajahnya.
ARGGGHHHHH...
Pekik Rena yang juga sama terkejutnya denganku karena wajah pria itu terlihat mengerikan, hampir seluruh wajahnya terluka akibat luka bakar dan juga beberapa bagian tubuh yang lainnya.
Tak lama kemudian yang lainnya terlihat datang menghampiri kami, mungkin karena mereka mendengar teriakan Rena.
“Ada apa Ren?” Tanya Ibunya Rena.
“Bun, lihat ada mayat.” Adu Rena.
“Nggak Bibi, dia masih hidup. Tapi denyut nadinya sangat lemah.” Sahutku yang baru saja mengecek denyut nadinya, pria itu masih bernafas meskipun terdengar lemah.
“ASTAGFIRULLAH...” Kompak mereka ketika melihat keadaan pria tersebut.
“Itu orang kenapa sampai bisa begitu?” Ucap Bibi Peni.
“Kita panggil Polisi aja Ta, ngeri Bibi lihatnya. Biar di tangani Pak Polisi...”
“Jangan Bi! Kasihan dia... Keadaannya sangat lemah, kita harus cepat membawanya ke Rumah sakit.” Cegahku, memotong ucapan Bi Jumak.
“Tapi Ta...” Rena terlihat keberatan, tapi aku benar-benar tidak tega melihat keadaan pria tersebut.
“Ku mohon... Bisa tolong panggilkan yang lain agar bisa membantuku menolongnya!” Mohonku pada mereka, aku tau mereka terlihat enggan dan takut.
Mereka akhirnya mau tidak mau membantuku mencari bantuan, sepanjang perjalanan entah mengapa mataku selalu tertuju padanya. Ada semacam perasaan aneh yang tidak bisa aku jelaskan secara logika.
Tapi sosok asing inilah yang nanti akan membawaku masuk ke dalam dunianya... Dunia baru yang akan memberikan aku banyak pengalaman tentang kehidupan, air mata, kebahagiaan dan juga cinta. Dan Sosok asing ini juga lah yang akan membantuku menemukan jati diriku yang sebenarnya.
Aku Cinta Elisia, Gadis remaja yang masih duduk di bangku sekolah kelas Tiga tingkat menengah ke atas. Aku bukanlah seorang artis atau tokoh protagonis dalam sebuah novel, tapi aku hanyalah seorang gadis nelayan yang mengais rezeki dari berjualan ikan di Pasar.
Tapi percayalah... Banyak kisah menarik dalam kehidupanku yang akan membuatmu terbawa masuk ke dalam arus perjalanan kisah hidupku.
***
“Bagaimana keadaannya Pak Dokter?” Tanyaku saat melihat Dokter yang menangani Pria tadi keluar dari Ruang IGD.
“Keadaannya cukup kritis, tapi untung saja... Anda dengan cepat membawa Pasien ke sini. Jadi kami bisa dengan cepat melakukan tindakan, dan untuk saat ini... Pasien masih belum sadar. Kami tidak bisa memastikan kapan Pasien bisa sadar karena keadaannya sangat lemah...” Aku hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan dari Dokter, sungguh aku merasa kasihan padanya.
“Sekarang Anda bisa mengurus administrasi dulu, untuk penanganan Pasien lebih lanjut dan juga untuk ruang inap Pasien.” Lanjutnya berkata.
“Baik Dok.”
Aku bergegas menuju ke sana di ikuti oleh Rena, sekarang kami hanya berdua di Rumah sakit karena yang lain harus kembali. Tapi saat Petugas administrasi itu menyebutkan nominal yang harus aku bayar, aku sedikit bingung karena biaya penanganan dan Ruang inapnya menghabiskan uang yang cukup banyak.
“Lalu sekarang bagaimana Ta? Bagaimana kalau aku panggil Abah saja kemari?” Tanya Rena dengan cemas, aku mengerti akan ketakutannya karena kami hanya lah Anak sekolah.
“Tidak Ren, aku akan pulang untuk mengambil uang simpananku. Aku minta tolong jaga Dia sebentar, aku akan secepatnya kembali.” Pintaku pada Rena.
“Kamu gila Ta, uang dari mana? Kamu aja kekurangan uang.” Sentak Rena dengan mata membeliak.
“Aku masih ada kok Ren, kamu tenang aja. Aku akan kembali secepatnya.” Tenangku dengan penuh harap kalau Rena mau membantuku.
“Baiklah.” Pasrahnya.
Aku bergegas pulang untuk mengambil uang simpananku hasil menjual ikan, tapi ketika aku ingin kembali lagi ke Rumah sakit. Meira tiba-tiba mencegahku, “Kak, minta duitnya dong!”
“Tapi Mei... Ka-kak nggak punya.” Bohongku sembari menyembunyikan dompetku, jujur aku merasa gugup karena takut ketahuan.
“BOHONG! Aku lihat sendiri Kakak mengambil uang dari dalam kamar...” Sentaknya.
“Lalu ini apa?” Meira merebut paksa dompet yang aku sembunyikan, lalu membuka dan mengambil uang yang berada di Dalamnya.
“Tolong Mei, jangan di ambil! Kakak butuh uang itu sekarang. Ini sangat penting Mei.” Pintaku.
“Jangan pelit-pelit lah jadi orang!”
“Meira benar! Kenapa kamu perhitungan sekali dengan Adikmu sendiri?” Sahut Ibu tiriku yang datang menghampiri kami bersama dengan Adik laki-lakinya yang ikut tinggal di sini bersama kami.
“Tapi Bu, Ta butuh uang itu sekarang untuk menolong nyawa seseorang di Rumah sakit.” Jelasku dengan penuh permohonan, tapi mereka seolah tidak memedulikannya.
“Halah, jangan banyak alasan! Masak kamu lebih memilih memberikan uangmu pada orang lain dari pada Adikmu sendiri.” Kekeh Ibu tiriku.
“Tuh, dengarin apa kata Ibu!” Cibir Meira padaku lalu pergi setelah mengambil semua uangku, di ikuti oleh Ibuku yang pergi dengan raut wajah puas. Entah... Apa yang dia pikirkan hingga dia selalu seperti itu? Apa saat melihatku bersedih bisa melegakan hatinya?
Padahal selama ini aku tidak pernah protes dan keberatan ketika kiriman uang jatah bulanan dari Ayah untukku, mereka pakai dan tidak mereka berikan padaku.
“Bagaimana kalau aku meminjamkan uang padamu Ta?” Tawar Adik laki-laki dari Ibu tiriku yang selalu aku panggil Paman Heri menyentak lamunanku.
Aku bukannya merasa senang dengan tawarannya, tapi justru membuatku merasa takut. Entahlah... Dari awal aku tidak menyukainya, dia sering kali menggodaku tapi selalu aku abaikan.
“Bagaimana?” Tanyanya lagi.
Dan lihatlah mata nakalnya! Sungguh... aku sangat tidak menyukainya, dia seperti om-om pedo fil.
“Benarkah Paman?” Tanyaku dengan ragu.
“Benar... Berapa pun yang kamu minta akan aku berikan, asalkan kamu mau memuaskanku!” Ucapnya dengan senyum nakal.
“Singkirkan angan Paman itu, sampai kapanpun aku nggak akan mengikuti permintaan gila Paman.” Geramku.
“Terserah padamu, aku hanya memberikan tawaran. Tapi kalau kamu berubah pikiran kau bisa mencariku di Kamar.”
Dia mengerlingkan matanya dengan senyum genit padaku sebelum pergi, membuatku sangat muak dan jijik.
Tapi sekarang aku benar-benar bingung, dari mana aku mendapatkan uang saat ini juga. Kasihan Rena pasti sedang menungguku di Rumah sakit, begitu juga dengan Pria itu yang harus secepatnya mendapat penanganan.