2. Pemuda Buruk rupa

1596 Kata
POV AUTHOR Di tengah kebingungannya Cinta di hampiri Wanita paruh baya yang merupakan Pembantu Rumah Tangga keluarganya, Wanita paruh baya yang biasa di panggil Bi Anik itu sudah bekerja pada Keluarganya sejak mendiang Ibu kandungnya masih hidup. “Nona baik-baik saja?” Tanya Bi Anik yang sedari tadi mendengar dan melihat perdebatan mereka, Bi Anik merasa kasihan dengan Anak sulung Majikannya yang sering mendapatkan perlakuan berbeda dari Saudara tirinya Meira. “Ta baik Bi, bukankah hal seperti ini sering terjadi?” Jawab Cinta dengan raut wajah sendu. “Yang sabar ya Non.” Tenangnya pada Cinta yang wajahnya terlihat sedih. “Iya, terima kasih Bi. Ta nggak apa... Ta hanya bingung dari mana Ta mendapatkan uang sekarang juga, Ta benar-benar butuh uang itu untuk menolong seseorang.” Balas Cinta dengan raut wajah bingung dan tak berdaya. “Ayo, ikut Bibi sebentar Non!” Ajak Bi Anik. Cinta hanya bisa pasrah mengikuti Bi Anik yang membawanya pulang ke Rumahnya, rumah Bi Anik berjarak Dua rumah dari rumahnya. “Apa ini Bi?” Tanya Cinta dengan bingung ketika Bi Anik memberinya sebuah kotak perhiasan yang cukup usang tempatnya. “Bukalah, Nona akan tau setelah membukanya!” Cinta segera membuka kotak tersebut dan alangkah terkejutnya Cinta saat melihat perhiasan yang cukup banyak dalam kotak tersebut. “Ini maksudnya apa Bi? Ta nggak ngerti.” Tanya Cinta lagi yang masih terlihat kebingungan. “Ini semua milik Nona...” “Maksud Bibi... Bibi mau meminjamkan perhiasan Bibi untuk Ta?” Bi Anik nampak menggelengkan kepalanya, “Tidak Non, semua perhiasan ini adalah milik Nona...” “Bibi jangan bercanda! Bagaimana bisa perhiasan milik Bibi bisa menjadi milik Ta?” Potong Cinta dengan raut wajah tak percaya. “Ini adalah perhiasan milik mendiang Ibu Nona... Nyonya Lili, ketika hamil tua Nyonya Lili menitipkan ini pada Bibi untuk di serahkan pada Nona kelak jika Nona sudah dewasa...” “Waktu itu... Kondisi Nyonya Lili sudah tidak baik, Nyonya Lili takut terjadi sesuatu dengan dirinya. Karena itu beliau menitipkan semua perhiasan yang Nyonya miliki pada Bibi, saat itu hanya Bibi yang bisa Nyonya percaya. Mendiang Ibu Nona ingin Bibi menjaga satu-satunya harta beliau yang tersisa untuk di berikan pada Nona, dan ternyata firasatnya benar... Beliau menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan Nona.” Bi Anik menceritakannya dengan pandangan menerawang, dia mengingat kejadian masa lalu dengan raut wajah sedih. Mendiang Ibu kandung Cinta takut suatu hari nanti Putrinya akan menerima perlakuan buruk dari Suaminya seperti dirinya, karena itu dia meninggalkan semua perhiasan miliknya untuk Putrinya tanpa sepengetahuan Suaminya. “I-ni dari Bunda Bi?” Tanya Cinta dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka Mendiang Ibunya ternyata meninggalkan semua ini untuknya. “Iya Non... Tapi jangan sampai Ayah dan Keluarga Nona mengetahuinya!” Pinta Bi Anik dengan wajah memohon. “Kenapa Bi?” “Suatu hari nanti Nona akan mengetahuinya sendiri...” Jawab Bi Anik dengan raut wajah tak terbaca. “Jangan di pikirkan, lebih baik Nona bergegas pergi! Bukankah Nona bilang butuh uang sekarang?” Lanjutnya memecah kebingungan Cinta. “Ah, iya... Bibi benar. Rena sekarang pasti sedang menungguku di Rumah sakit.” “Nona bisa menjual semua perhiasan itu, kecuali satu... Perhiasan yang berada dalam sapu tangan putih dalam kotak itu. Nona harus menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang!” Titah Bi Anik dengan ambigu. Cinta mengangguk mengiyakan meskipun dalam hatinya sangat penasaran perhiasan apa yang ada dalam balutan sapu tangan putih itu, dan mengapa mendiang Ibunya ingin dia menyimpannya. Tapi untuk sekarang dia harus menyimpan rasa penasarannya karena dia harus secepatnya pergi ke Rumah sakit. Setelah menggadaikan semua perhiasannya, kecuali yang berada dalam balutan sapu tangan tadi, Cinta bergegas pergi ke Rumah sakit untuk mengurus biaya administrasi Pria yang di tolongnya. “Lebih baik kamu pulang dulu Ren, Kasihan Paman dan Bibi pasti khawatir padamu.” Titah Cinta pada Sahabatnya. “Tapi Ta, bagaimana denganmu?” Tanya Rena yang tak rela meninggalkan Sahabatnya sendirian. “Kamu nggak perlu khawatir Ren, aku bisa menjaganya sendiri. Bukankah aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri? Lagian meskipun aku nggak pulang, nggak akan ada yang mencariku.” Tenangnya pada Perempuan yang berparas cantik itu, hingga Rena hanya bisa pasrah dan memutuskan untuk pulang. Rena takut orang tuanya cemas karena dia belum memberi kabar. Cinta akhirnya menunggu dan merawat Pemuda tersebut seorang diri, sesekali Sahabatnya Rena datang untuk menemaninya. Hingga tak terasa sudah tiga hari berlalu... Pemuda itu tak sadarkan diri. “Bangunlah... Apa kamu nggak lelah tidur terus seperti ini? Keluargamu pasti sangat cemas mencarimu.” Ucap Cinta yang menatap iba Pemuda tersebut. Di sela kesibukannya sekolah dan berjualan ikan, Cinta lebih banyak menghabiskan waktunya di Rumah sakit untuk menemani dan mengajak bicara Pemuda tersebut seperti sekarang meskipun Pemuda tersebut belum sadarkan diri. Tapi tiba-tiba saja jemari tangan Pemuda itu bergerak, membuat mata Cinta membeliak. Pemuda itu mulai mengerjapkan matanya, berusaha untuk membuka matanya yang sudah lama terpejam. “Kamu sudah sadar?” Tanya Cinta dengan bodohnya, raut wajahnya terlihat bingung ketika Pemuda itu membuka matanya. Maklum saja dia hanya Gadis remaja yang belum pernah menjaga orang sakit. “A-ku di mana?” Tanya Pemuda itu dengan nada terbata. “Kamu di Rumah sakit, tunggu... Aku akan memanggil Dokter dulu.” Jawab Cinta yang ingin beranjak dari tempatnya. “Tunggu...” Cegah Pemuda tersebut. “Ya?” Cinta mengurungkan niatnya, lalu kembali duduk di samping Pemuda itu dengan raut wajah bingung. “Kamu siapa? Kenapa aku ada di Rumah sakit?” Tanya Pemuda yang menatap tajam dan menuntut, membuat Cinta mengernyit heran. Kenapa aku merasa di intimidasi? Bukan, bukan... Dia seperti menuduhku sebagai pelaku. Bahkan keadaannya masih lemah tapi sempat-sempatnya dia... Aish, apa yang aku pikirkan. Pikir Cinta dalam hati. “Aku menemukanmu terseret ombak dan nggak sadarkan diri di Tepi pantai.” “Kamu yang menolongku?” Tanya Pemuda yang kini terlihat memundurkan kewaspadaannya, tatapannya kini terlihat lebih lembut. Sedangkan Cinta sendiri hanya mengangguk , “Di mana keluargamu? Biar aku hubungi mereka, keluargamu pasti cemas mencarimu karena kamu sudah nggak sadarkan diri selama Tiga hari.” “Keluarga? Kamu tidak tau siapa aku?” Tanya Pemuda itu dengan pandangan bingung, Cinta hanya mengernyit heran mendengar ucapannya. Kenapa dia malah balik bertanya? Mana aku tau dia siapa, memangnya dia artis? Pikir Cinta. “Aku tidak mengenalmu, memang kamu siapa?” “Kamu tidak mengenalku? Lalu aku siapa?” Tanya Pemuda itu dengan bingung, dia berusaha mengingat siapa dirinya tapi yang dia dapatkan hanya kepalanya yang semakin berdenyut sakit. “Apa maksudmu? Apa kamu tidak ingat namamu sendiri?” Tanya Cinta dengan pandangan tak percaya, lalu mata cinta membola ketika Pemuda itu mengangguk dengan lemah. “Katakan padaku aku siapa? Kenapa aku bisa ada di sini?” Racau Pemuda itu berusaha bangkit dari posisi tidurnya. “Kenapa denganku? Kenapa tangan dan wajahku di tutupi perban?” Racau Pemuda itu kembali, lalu berusaha melepaskan perban yang melingkar pada kepalanya. “Eh... Jangan! Lukamu masih belum sembuh, jangan di buka!” Cegah Cinta dengan panik, tapi Pemuda itu tetap bersikeras membuka paksa perban tersebut. Lalu berusaha meraba wajahnya yang terasa tebal dan perih. “Wajahku... Wajahku kenapa?” Racau Pemuda itu yang beranjak berdiri dari Ranjang pasien, lalu dia berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju ke arah kaca wastafel. “Tidak... Wajahku...” Lirih Pemuda itu dengan wajah syok ketika melihat wajah cacatnya di Cermin, bukan hanya cacat tapi wajahnya terlihat buruk rupa karena luka bakar yang menutupi setengah wajahnya. Tidak... Tapi hampir seluruh wajahnya dan itu terlihat mengerikan untuknya. Sedangkan Cinta yang berdiri di belakangnya hanya bisa menatap iba wajah pias Pemuda tersebut, meskipun tertutup oleh luka bakar tapi Cinta dapat melihat wajah syoknya. “TIDAKKK!!!” Pekik Pemuda itu dengan raut wajah frustasi sembari memukul cermin itu hingga pecah. ARGGGHHHH... Pekik Cinta yang terkejut dengan tindakan Pemuda itu. “Tanganmu!” Seru Cinta dengan cemas ketika melihat tangan Pemuda itu banyak mengeluarkan darah karena terkena serpihan kaca. “Biar aku panggilkan Dokter, kamu berdarah... Itu pasti terasa sakit.” Ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca sembari memegang tangan Pemuda itu dengan hati-hati, sedangkan Pemuda tersebut tampak tertegun. Dia tidak menyangka ada Perempuan asing yang tidak mengenalnya, tapi Perempuan itu tampak khawatir dan sedih ketika melihatnya terluka. Meskipun hatinya sakit ketika melihat keadaan wajahnya tapi hatinya merasa hangat dengan perhatian tulus Perempuan asing itu. “Ayo!” Ajak Cinta yang menuntun Pemuda itu dengan pelan dan hati-hati menuju Ranjang pasiennya kembali, lalu dia memanggil Dokter agar luka di tangan Pemuda itu cepat di obati. “Sudah selesai, lain kali jangan di ulangi lagi ya! Kasihan Mbaknya jadi menangis melihat Pacarnya terluka.” Ucap Dokter Laki-laki yang selesai mengobati Pemuda tersebut, memang mata Cinta tampak memerah dan sesekali dia menyeka air mata yang jatuh di Pipinya. Mendengar kata Pacar, lagi-lagi membuat Pemuda itu tertegun. Lalu dia menoleh memperhatikan Cinta yang memang tampak sedang menangis, lagi-lagi membuat perasaannya menghangat. “Lalu bagaimana luka bakar di wajahnya Dok?” Tanya Cinta tanpa menghiraukan ucapan Dokter tadi. “Karena Pasien sudah sadar jadi lukanya tidak usah di balut lagi agar cepat kering.” “Apa lukanya bisa sembuh dan tidak membekas Dok?” Tanya Cinta lagi. “Kalau untuk itu... Dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa luka pada wajahnya akan tetap membekas seperti itu, tapi Anda jangan khawatir! Luka bakar yang di derita Pasien untungnya tidak terlalu dalam, jadi masih bisa kembali seperti semula dengan melakukan operasi plastik.” Jelasnya pada Cinta. Operasi plastik? Bukankah biayanya sangat mahal? Batin Cinta dengan wajah murung, dia hanyalah Orang miskin. Tentunya dia tidak akan sanggup membayarnya apalagi dia sendiri masih sekolah, penghasilannya hanya dari berjualan ikan. Sedangkan uang jatah bulanan dari Ayahnya juga selalu di pakai oleh Ibu tirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN