3. Identitas baru

1532 Kata
Sudah Dua hari berlalu sejak kejadian itu, Pemuda buruk rupa itu tampak diam dan lebih banyak melamun. Bahkan meskipun Cinta sering mengajaknya mengobrol tapi Pemuda itu hanya diam dan tidak meresponnya, dia masih tampak terpukul dengan keadaan dirinya yang cacat dan hilang ingatan. “Maaf aku terlambat, tadi pasar sangat sepi... Jadi ikan-ikanku lama lakunya.” Seru Cinta ketika tiba di Ruang inap Pemuda buruk rupa itu. Pemuda buruk rupa itu tampak menoleh ke arah cinta dengan penasaran, “Kamu berjualan ikan?” Tanyanya. Cinta tampak tersenyum dengan manisnya saat melihat Pemuda itu bertanya padanya, ini pertama kalinya Pemuda itu mau berbicara lebih dulu padanya. Biasanya dia hanya acuh dan tidak mau berbicara dengannya. “Iya, aku menjual hasil tangkapan ikan Paman Karto dan membagi uang hasil penjualan ikan menjadi Dua.” Mendengar penjelasan Cinta, membuat Pemuda buruk rupa itu mengernyit. Pasalnya dia melihat Gadis yang menolongnya terlihat masih sangat belia. “Ada apa? Apa ada yang aneh?” Tanya Cinta yang terlihat salah tingkah karena Pemuda buruk rupa itu menatapnya lekat. “Kamu terlihat masih kecil, seperti anak sekolahan.” Jawabnya dengan nada datar. “Memang... Aku masih duduk di Bangku kelas Tiga tingkat menengah atas.” Sahut Cinta yang tersenyum dengan kikuk. Mendengar penjelasan Cinta, membuat Pemuda buruk rupa itu mengerti. Jika siang hingga sore hari Cinta akan meninggalkannya untuk pergi ke Sekolah, karena pagi harinya Gadis itu harus pergi bekerja. “Oh iya... Ayo makan dulu! Tapi hari ini aku hanya membuatkanmu Ayam goreng kecap, aku kesiangan bangun jadi hanya bisa memasak ini. Nggak apa kan?” Pemuda buruk rupa itu hanya mengangguk dengan wajah datar, walau dalam hatinya dia merasa terharu dan salut pada Gadis penolongnya itu. Di usianya yang masih sangat muda, Gadis itu sudah bekerja keras bahkan Gadis itu tidak malu menjadi Penjual ikan. “Terima kasih.” Ucap Pemuda buruk rupa itu dengan tulus. Cinta nampak tersenyum mengangguk, “Akh...” Cinta menyodorkan sesendok nasi dan potongan ayam tersebut pada Pemuda buruk rupa itu. Pemuda itu tampak menerima suapan Cinta seperti biasanya, dia sudah terbiasa makan dari suapan tangan Gadis manis dan cantik yang menolongnya itu. Telapak punggung tangan kanannya masih terpasang selang infus jadi dia agak kesusahan untuk makan sendiri. “Enak?” Tanya Cinta yang tersenyum senang karena Pemuda buruk rupa itu makan masakannya dengan lahap. Pemuda buruk rupa itu hanya mengangguk karena dia lebih sibuk menikmati lezatnya masakan Cinta, meskipun hanya masakan sederhana tapi soal rasa Gadis itu sungguh pandai memanjakan lidahnya. “Siapa namamu?” Tanyanya dengan nada kaku. “Cinta... Cinta Elisia...” Jawab Cinta yang tersenyum dengan cantiknya. Membuat Pemuda buruk rupa itu tertegun dengan jantung yang detak kencang, tak dapat dia pungkiri bahwa Gadis penolongnya itu memiliki senyum yang sangat cantik. Apalagi lesung pipi di Kedua pipinya membuat senyumnya semakin menawan, hingga siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dan betah berlama-lama menatapnya. “Kamu sendiri bagaimana? Aku harus memanggilmu apa? Nggak mungkin kan aku terus memanggilmu Hai?” Lanjutnya bertanya, tapi Pemuda buruk rupa itu tampak menggeleng dengan ekspresi bingung. “Bagaimana kalau aku memberimu nama Ale? Para Orang tua di Tempatku biasa memanggil Laki-laki dengan sebutan Le atau Tole. Jadi aku akan memanggilmu Ale saja, bagaimana?” Tanya Cinta yang meminta persetujuan dari Pemuda buruk rupa itu. Sedangkan Pemuda buruk rupa itu hanya mengangguk mengiyakan, baginya tak masalah siapapun namanya sekarang asalkan Gadis penolongnya itu yang memberinya nama. Dia akan menerimanya dengan senang hati sebagai bentuk balas budi. “Oke... Jadi kita sudah sepakat, mulai sekarang namamu adalah Ale. Oh iya, kata Dokter besok kamu sudah boleh pulang...” Ucap Cinta yang terjeda karena ingin melihat reaksi dari Ale. “Maafkan aku... Aku hanya bisa membiayai pengobatanmu sampai di sini, untuk seterusnya kita akan melakukan perawatan jalan.” Lanjutnya dengan perasaan tak enak hati saat Ale hanya menatapnya dengan wajah datar, tapi setelah itu Cinta langsung bernafas lega saat Ale terlihat mengangguk menyetujuinya. *** “Ale, kamu sudah siap? Ayo... Mobilnya sudah menunggu kita di Parkiran.” Tanya Cinta ketika keesokan harinya. “Cih! Nama yang kamu berikan itu terlalu bagus Ta, mestinya The Beast lebih cocok.” Cibir Rena yang ikut menemani Cinta, dia tidak terlalu suka Sahabatnya terlalu baik pada Orang lain yang tidak di kenalnya. “Ren!” Tegur Cinta dengan lembut. “Jangan di ambil hati perkataan Rena Al! Mulutnya memang agak pedas tapi hatinya sangat baik.” Lanjutnya berkata pada Ale yang terlihat tak bergeming dengan cibiran Rena, bagi Ale kicauan Rena seperti suara lalat yang tidak ada artinya. “Kamu selalu saja membelanya Ta!” Protes Rena. “Ayo!” Ajak Cinta pada Ale dan tak menghiraukan aksi protes Sahabatnya itu, membuat Rena menganga tak percaya. Mereka akhirnya keluar di sambut tatapan Orang-orang yang memandang Ale dengan tatapan jijik dan ngeri, bahkan ada yang berbisik-bisik dan terang-terangan membicarakan wajah buruk Ale. Bukan hanya itu saja... Mereka juga menghina dan mengutuknya sebagai Pembawa siall, membuat Ale menunduk dengan wajah murung. Cinta yang menyadari langsung menghentikan langkahnya dan langsung berdiri menghadap Ale, “Tunggu!” Cinta berjinjit dan memakaikan topi jaket Hoodie yang di pakai oleh Ale, hingga wajah Ale tenggelam dalam topi Hoodie nya. “Ayo!” Ajak Cinta yang menggenggam tangan Ale, membuat Sang empunya mendongak menatap Cinta. “Jangan lihat mereka! Cukup lihat aku, karena mulai sekarang aku lah yang akan melindungimu.” Titah Cinta yang tersenyum dengan lembut, membuat senyum tipis tampak menghiasi wajah Ale. Sedangkan Rena lagi-lagi menganga melihat aksi Sahabatnya, dia tahu bahwa Sahabatnya itu suka menolong Orang tapi bukankah menurutnya ini terlalu berlebihan. Mereka sangat romantis seperti sepasang kekasih. Pikirnya dengan heran. Mereka melanjutkan langkah mereka keluar dari Rumah sakit, Cinta sama sekali tidak melepas genggaman tangannya pada Ale hingga mereka sampai di Parkiran. “Ayo kita naik!” Ajak Cinta pada Ale ketika sampai di Parkiran. Sedangkan Ale terlihat mengernyit dengan bingung karena ada Dua mobil yang terparkir di Sebelahnya, mobil mewah Alphard putih dan di sebelahnya lagi mobil Pick up hitam bermuatan beberapa hewan ternak. Ale berpikir tidak mungkin mereka naik mobil Pick up itu karena kursi penumpang depan hanya muat untuk Dua orang. Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita naik mobil Alphard itu, bukankah untuk membiayai pengobatanku saja dia tidak mampu. Pikir Ale dengan pusing, tapi ketika Cinta meletakkan barang bawaannya ke Dalam mobil Pick up itu... Mata Ale seketika langsung mendelik. Mbeeek... Mbeeek... Mbeeek... Terdengar suara beberapa kambing bersahutan dalam mobil Pick up tersebut yang seolah tersenyum mengejek Ale. “Maaf... Aku hanya bisa mengajakmu naik ini, biaya taksi di sini sangat mahal.” Ucap Cinta yang merasa tak enak hati, mendengar itu Ale hanya mengangguk pasrah dengan wajah frustasinya. Sepanjang perjalanan Ale membungkam mulut dan hidungnya karena tidak tahan dengan bau kambing-kambing itu, dia ingin muntah tapi dia berusaha untuk menahannya. Sedangkan Cinta yang duduk di seberangnya dengan Rena, Cinta merasa kasihan melihat Ale yang merasa tidak nyaman naik mobil Pick up ini tapi Cinta tidak punya pilihan. Di sisi lain Rena berusaha menahan tawanya saat melihat wajah tersiksanya Ale, dalam hatinya dia tersenyum puas. “Ta, lihat deh Si Minuman gelas. Lagaknya kayak orang gedongan aja, naik beginian aja nggak bisa. Apa jangan-jangan... Si Minuman gelas itu Anak mafia yang hilang atau Anak Bos besar Ta?” Rena yang lagi mode julid berusaha menebak dari mana Ale berasal, pasalnya gaya dan tingkah lakunya terlihat sangat berkarisma. Auranya sangat mendominasi meskipun dia hilang ingatan dan wajahnya yang terlihat buruk. “Husst... Ngaco deh! Gini nih kalau kamu kebanyakan baca novel, suka halu. Mana ada yang begituan dalam dunia nyata Rena.” “Eh, jangan salah Ta! Terkadang...” Tapi ucapan Rena terhenti ketika Sahabatnya langsung beranjak dari posisinya saat melihat Ale muntah. “Kamu baik-baik saja Al?” Tanya Cinta yang dengan sigap mengeluarkan tisu dari dalam tas kecilnya. Ale hanya menggeleng dengan raut wajah tak berdaya, “Aku hanya tidak tahan dengan baunya, jangan khawatir!” Tenangnya pada Cinta yang terlihat cemas saat melihat keadaannya. “Pakai ini!” Cinta melepas jaketnya agar bisa Ale gunakan untuk menutupi hidungnya. “Tidak, pakai saja! Aku tidak ingin kamu sakit.” Tolak Ale yang membuat Cinta tersenyum dengan manisnya, meskipun terdengar kaku tapi ternyata dia peduli dengannya. “Apa kamu lupa kalau aku Gadis nelayan? Aku sangat kebal dengan angin, jadi pakailah!” Cinta meletakkan jaketnya ke tangan Ale, lalu kembali ke Posisi semula. Ale yang tidak tahan dengan bau kambing yang berada di dekatnya segera memakai jaket Cinta untuk membungkam hidung dan mulutnya, dia membungkuk menyembunyikan wajahnya pada lipatan kakinya. Mungkin bagi orang lain yang melihatnya, dia hanya bersandar untuk menghilangkan rasa lelahnya tapi tidak ada yang tahu dia sedang menyembunyikan wajah malunya karena perhatian dari Cinta. Setelah sampai di Depan rumah Cinta, mereka berdua segera turun. Sedangkan Rena sudah lebih dulu turun di Depan rumahnya yang kebetulan lebih dekat letaknya. “Ini rumahmu?” Tanya Ale yang membeliak tak percaya. “Iya, lebih tepatnya rumah Ayahku. Ayo masuk!” Ajak Cinta. Aku kira dia Gadis miskin, tapi sepertinya dia cukup kaya. Pikir Ale yang merasa heran saat melihat ukuran rumah Cinta yang cukup besar, tapi Cinta masih harus bekerja padahal Keluarganya kaya. Saat akan memasuki rumah, mereka di sambut oleh tatapan tajam dari Ibu tiri dan Adik tiri Cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN