“Sekarang, bisa kamu jelaskan? Mengapa semua ini bisa terjadi Meli?” Tanya Edi pada Istrinya dengan raut wajah marah.
“Aku sendiri tidak tau Mas, aku juga tidak menyangka kalau Cinta bisa melakukan hal tercela seperti itu.” Jawab Melisa dengan wajah sedih yang di buat-buat.
“Siapa Pria itu?”
“Dia Pria yang pernah Cinta tolong waktu kecelakaan di Pantai, dia mengalami luka bakar yang cukup parah. Dia juga kehilangan ingatannya karena kecelakaan itu, makanya... Cinta merasa kasihan dan menolongnya. Bahkan Cinta sampai memohon padaku untuk mengizinkannya tinggal di sini.” Jelasnya pada Edi.
“Pasti Pria tidak jelas itu yang memaksa Cinta.” Geram Edi.
“Kurasa tidak Mas, karena Meira tidak sengaja sering memergoki Cinta mendatangi Pria itu di Gudang belakang malam-malam... Di saat kita semua sudah tidur. Entah... Apa yang di lakukan mereka hingga bertemu malam-malam begitu.” Sanggah Melisa yang mulai mencoba mempengaruhi pikiran Suaminya.
“Iya Ayah... Mei bersumpah, Mei pernah melihat dengan mata kepala Mei sendiri Kakak sering mendatangi Pria itu di Gudang belakang tengah malam.” Sahut Meira yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan Kedua orang tuanya.
Apa yang Meira ucapkan tidak sepenuhnya bohong, dia pernah melihat Cinta saat mengantarkan selimut untuk Ale. Tapi Meira melebih-lebihkan ceritanya dengan mengatakan sering agar semua orang percaya padanya, bahwa Kakak tirinya tidak sebaik yang mereka pikir.
“Bagaimana mungkin? Sebelumnya Cinta tidak pernah bersikap seperti itu, pasti Bajingann itu yang membawa pengaruh buruk pada Cinta.” Heran Edi dengan penuh kekesalan.
“Mas selalu membela Anak itu, dia tidak sebaik yang Mas pikir...” Protes Melisa yang langsung di bela oleh Meira.
“Iya Ayah... Bahkan Kakak sering keluyuran nggak jelas dengan Para Preman pasar, Kakak bergaull dengan banyak Pria di luaran sana.”
Padahal tanpa Edi ketahui bahwa Cinta selama ini bekerja sebagai penjual ikan di Pasar.
“Bahkan dia tidak pernah membantu mengerjakan pekerjaan rumah, hingga terpaksa aku memberhentikan Bi Anik agar aku bisa mengajari Cinta menjadi Gadis yang bertanggung jawab. Bukan hanya bersenang-senang dan menghabiskan uang Ayahnya, untung saja waktu itu Bi Anik akan ikut Putrinya pindah ke Kota. Jadi aku tidak seberapa bersalah padanya.” Timpal Melisa yang ikut mengatakan kebohongan.
“Bahkan Kakak sering berbicara dan bersikap kasar pada Ibu Yah, mungkin Kakak masih tidak bisa terima kalau Ibu telah menggantikan tempat mendiang Ibunya.”
Sudut mulut Melisa langsung berkedut mendengar ucapan Putrinya, dia tidak menyangka Putrinya begitu pandai bicara omong kosong. Tapi untuk sekarang... Justru itu sangat membantunya.
“Aku berharap Cinta tidak mengikuti jejak mendiang Ibunya.” Tambah Melisa dengan raut wajah sedih dan pastinya itu hanyalah gimmick.
“Anak itu, kurasa aku harus memberinya pelajaran agar bisa menjaga sikapnya!” Geram Edi yang mulai terpengaruh oleh ucapan Melisa dan Meira.
Di sisi lain, Cinta baru bangun dalam dekapan Ale.
Apa aku terlalu banyak bergerak saat tidur?
Pikir Cinta dalam hati, dia heran padahal semalam mereka tidur dengan jarak yang cukup jauh.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Ale sembari mengucek matanya yang masih tampak mengabur.
“Hemm... Sepertinya sudah siang.” Jawab Cinta yang terlihat sedikit salah tingkah.
“Kamu benar...” Sahut Ale saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul Delapan pagi.
“Sudah siang, kamu nggak bisa kerja hari ini.”
“Nggak masalah, aku juga ingin libur dulu...” Sahut Cinta yang tersenyum menenangkan Ale.
“Aku mandi dulu, lalu menyiapkan sarapan.” Pamit Cinta yang langsung di balas anggukan oleh Ale.
Saat Cinta menghilang dari pandangannya, Ale langsung tersenyum dengan bodohnya saat mengingat kejadian tadi. Sebenarnya Ale sudah bangun sejak tadi, tapi dia memilih berpura-pura masih tertidur agar bisa lebih lama memeluk Cinta.
Setelah selesai membersihkan diri, Cinta bergegas ke Rumah utama di temani oleh Ale yang memaksa ikut untuk membantunya.
Tapi setelah memasuki Rumah, Cinta di kejutkan dengan kehadiran Ayahnya yang duduk di Ruang tengah di temani oleh Melisa dan Meira.
“AYAH...” Seru Cinta yang membuat Ketiga Orang yang sedang duduk itu serempak menoleh ke arah Cinta.
“Kapan Ayah datang?” Seru Cinta lagi dengan senang saat Ayahnya berjalan mendekatinya, tapi berbanding terbalik dengan reaksi Cinta. Edi justru langsung menampar pipi Cinta dengan keras.
PLAKKK...
“Ayah?” Lirih Cinta memegangi pipinya yang nampak memerah, sudut bibirnya berdarah akibat kerasnya tamparan Ayahnya.
“APA YANG ANDA LAKUKAN?!!” Geram Ale yang langsung menyembunyikan Cinta di balik punggungnya.
Saat Cinta menyebut kata Ayah, Ale tau Pria paruh baya itu adalah Ayah Cinta. Tapi dia tidak menyangka Ayahnya Cinta bisa bertindak kasar pada Putrinya sendiri.
“JANGAN IKUT CAMPUR BRENGSEKK!!” Bentak Edi dengan emosi.
“Tentu saja aku ikut campur, karena Perempuan yang Anda tampar itu sudah menjadi Istriku.” Sahut Ale dengan berani.
“Oh... Jadi kau Pria Bajingann itu!” Seru Edi yang tiba-tiba saja langsung memukul rahang Ale hingga Ale terjatuh.
“ARGGHHH...” Pekik Cinta yang terkejut dengan tindakan Ayahnya.
“Kamu baik-baik saja Al?” Tanya Cinta dengan cemas sembari memeriksa keadaan Ale, tapi justru membuat Edi terkekeh sinis.
“Bahkan kamu masih peduli dengannya ANAK SIALANN!!”
DEGGG...
Hati Cinta seperti tertusuk ribuan belati yang tepat menghujam dalam ke Dasar hatinya saat mendengar Ayahnya menyebut dirinya Anak sialann.
“APA KAMU TIDAK SADAR HAH?! Karena Pria Brengsekk ini...” Tunjuk Edi dengan geram.
“Kamu sudah membuat nama baik keluarga kita tercemar, kamu benar-benar membawa aib di Keluarga ini.” Lanjut Edi yang menyalahkan dan memaki Cinta.
“Maafkan aku Ayah.” Sesal Cinta dengan kepala menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
Meskipun dia tidak melakukan hal yang mereka tuduhkan, tapi kejadian semalam benar-benar membuat keluarganya menanggung malu. Entah... Kenapa semua ini bisa menimpanya?
“Kamu dan mendiang Ibumu tidak ada bedanya, sama-sama murah...” Ucap Edi yang terhenti saat sadar dirinya sudah kelepasan bicara, dia terlalu kecewa hingga tidak bisa mengontrol emosinya.
Sedangkan Cinta langsung mendongak menatap Ayahnya dengan pandangan nanar, Ibu tirinya pernah mengatakan dirinya dan mendiang Ibunya Pelacurr. Dan sekarang... Ayahnya sendiri mengatakan hal yang sama, bukankah Pelacurr dan Murahann sama rendahnya?
“Pokoknya mulai hari ini Ayah akan berhenti memberikan uang bulanmu dan segala fasilitas rumah ini, jadi mulai sekarang kamu tinggal lah dengan Pria Bajingann ini di Gudang belakang!” Titah Edi pada Cinta dengan marah.
“Kita lihat... Seberapa lama kamu bisa bertahan hidup dengan Gembel yang selalu kamu bela ini.”
Cinta hanya bisa mengangguk tanpa membela dirinya sendiri, katakanlah dia bodoh karena hanya bisa diam dan menerima. Semuanya percuma bila dia bicara karena tidak akan ada yang mau mendengarkannya, jadi lebih baik diam. Dia percaya Tuhan itu Maha melihat dan Maha mendengar, Tuhan tahu dia tidak pernah melakukan semua yang mereka tuduhkan.
Di sisi lain Melisa dan Meira menyaksikan kejadian itu dengan raut wajah puas.
***
“Apa sakit?” Tanya Ale saat mengobati Cinta, dia heran dengan ekspresi Cinta yang seolah tidak merasakan sakit sedikitpun. Tamparan itu sangat jelas membekas bahkan sudut bibirnya sedikit sobek, tapi raut wajah Cinta terlihat biasa.
“Enggak Ale.” Cinta menggeleng dengan senyum yang coba dia paksakan.
“Kamu mungkin bisa membohongi orang lain, tapi kamu nggak bisa membohongiku...” Sahut Ale saat melihat bola mata Cinta yang terlihat redup.
“Menangislah, jika ingin menangis! Sekarang kamu punya aku saat kamu lelah dan ingin bersandar.” Sahut Ale yang langsung menarik Cinta ke Dalam pelukannya, membuat tangis Cinta langsung pecah begitu saja.
“A-yah Al... Ke-napa dia begitu tega padaku?” Ucap Cinta yang menangis sesenggukan dalam pelukan Ale.
“Apa salahku hingga Ayah tak pernah menginginkan kehadiranku?”
Cinta masih menangis dengan hebatnya, Ale sendiri tidak tahu harus menghibur Cinta seperti apa? Jadi dia hanya bisa mengelus kepala Cinta dengan lembut. Sesekali dia tersenyum geli saat mendengar tangis Istri kecilnya, bukan dia bahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi Ale lebih suka Cinta menangis untuk mengekspresikan perasaannya, dari pada Cinta harus diam dan memendam rasa sakitnya seorang diri.
“A-yah bahkan...” Belum selesai Cinta menyelesaikan ucapannya, terdengar suara perut Ale berbunyi karena lapar.
“Kamu lapar?” Tanya Cinta yang tangisannya langsung terhenti seketika, matanya berkedip lucu saat menatap Ale.
“Hemm.” Angguk Ale yang gemas dengan ekspresi Cinta.
“Maaf, karena terlalu lama menangis jadi lupa membuatkan makanan untukmu.” Sesal Cinta.
“Kenapa kamu selalu meminta maaf, Hemm?” Gemas Ale mencubit hidung Cinta yang memerah karena sehabis menangis.
“Ish... Sakit tau...” Rajuk Cinta yang memegangi hidungnya, membuat sudut bibir Ale terangkat.
“Aku akan memasak dulu, sepertinya peralatan masak yang lama masih ada di Gudang.”
Cinta segera beranjak di ikuti oleh Ale, “Aku akan membantumu.”
“Memangnya bisa?” Tanya Cinta dengan tak yakin.
“Aku akan mencobanya.”
Mereka segera membongkar peralatan untuk memasak yang sudah tidak terpakai, setelah bisa di gunakan Cinta memasak makanan sederhana untuk sarapan pagi mereka yang terlambat.
“Maaf, sekarang aku hanya bisa membuatkanmu Mi instan. Enggak papa kan?”
Cinta membawa Dua mangkuk Mi instan untuk sarapan pagi mereka, untuk sekarang Cinta masih tidak punya bahan makanan pokok dan lauk pauk karena belum belanja. Dia juga tidak mungkin mengambil dari dapur Rumah utama, karena Ayahnya melarang untuk menggunakan fasilitas rumah.
“Kelihatannya enak.” Sahut Ale yang mencoba kuah Mi instan yang di masak oleh Istri kecilnya.
“Syukurlah, kamu menyukainya.” Cinta tersenyum menatap Ale yang makan dengan lahap.