Keesokan harinya setelah memasak sarapan pagi untuk Keluarganya, Cinta segera kembali ke Gudang belakang untuk membersihkan diri dan bersiap berangkat kerja. Meskipun dia sedikit takut dengan reaksi Orang-orang setelah mendengar kabar pernikahannya.
“Tunggu, aku ikut!” Cegah Ale saat Cinta hendak berangkat.
“Ikut? Kemana?” Tanya Cinta dengan bodohnya.
“Bukannya kamu mau pergi bekerja?” Tanya balik Ale yang menaikkan sebelah alisnya.
“Ah... Iya, maksudku untuk apa?” Cinta nampak salah tingkah dan malu, karena sibuk melamun hingga membuatnya tidak begitu fokus saat ada yang mengajaknya bicara.
“Kamu sekarang adalah Istriku, menafkahimu adalah tugas dan kewajibanku. Jadi biarkan aku membantumu bekerja sampai aku bisa mencari pekerjaan sendiri dan menghasilkan uang untuk menghidupimu...” Jawab Ale yang kemudian mengusap pucuk kepala Cinta dengan lembut.
“Boleh kan?” Tanya Ale saat melihat Cinta tampak tertegun.
“Hemm, boleh.” Angguk Cinta yang tersenyum dengan haru, dia senang karena sekarang dia tidak sendiri lagi untuk memperjuangkan hidupnya.
Mereka akhirnya berangkat berboncengan naik sepeda Cinta, setelah sampai di Pantai tempatnya sudah nampak agak ramai. Melihat kedatangan Cinta beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik sembari menatap Cinta, membuat Cinta menunduk tidak nyaman.
Sedangkan Ale yang peka dengan reaksi Cinta segera mengambil tangan Cinta untuk dia genggam, dia ingin Cinta tau bahwa sekarang dia tidak sendiri untuk menghadapi semuanya.
Sampai ada suara Perempuan muda berteriak dan memanggil Cinta, “TA...” Siapa lagi kalau bukan Rena yang langsung memeluk Cinta.
“Bagaimana keadaanmu Ta? Kemarin aku ingin mendatangimu ke Rumah, tapi Abah dan Kak Evan melarangku karena ada Ayahmu datang dari Kota.” Cerocosnya dengan cemas.
“Aku baik Ren, jangan khawatir!” Tenang Cinta yang menduga bahwa Rena sudah mendengar berita tentangnya kemarin.
“TA... SINI!” Seru Bibi Jumak dan Bibi Peni yang melambaikan tangan memanggil Cinta dengan tidak sabaran.
Cinta mendekati mereka yang terlihat lengkap formasinya karena ada Ibunya Rena dan juga Bibi Sarni Wanita paruh baya yang juga bekerja sebagai Penjual ikan.
“Beneran kamu sudah nikah Ta?” Tanya Bi Jumak dengan hebohnya.
“Iya Bi...” Angguk Cinta yang duduk lesehan di atas Pasir seperti yang lainnya, di ikuti oleh Ale yang ikut juga duduk di sebelah Cinta.
“Dia Ale suamiku, Pria yang pernah kalian tolong waktu itu. Tapi... Kami menikah bukan karena... Pokoknya bukan seperti yang orang lain pikirkan.” Lanjut Cinta berkata dengan raut wajah sedikit bingung, dia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya pada mereka.
“Coba kamu berdiri dulu Ta!” Pinta Bi Jumak dengan anehnya.
Tapi Cinta dengan patuhnya berdiri, meskipun dia penasaran kenapa Bi Jumak menyuruhnya berdiri.
“Coba jalan Ta!” Tambah Bi Peni yang ikut-ikutan meminta hal aneh.
“Itu kenapa Cinta malah di suruh jalan sih Bi?” Protes Rena dengan heran dengan kelakuan absurd Duo Gado-gado itu.
“Husst... Anak kecil diam saja.” Sentak Bi Jumak dengan entengnya sembari mengibaskan tangannya lucu seperti orang yang menyuruh pergi, sontak saja membuat Rena langsung mendelik.
“Ayo Ta!” Pinta Bi Jumak dengan tidak sabaran, membuat Cinta langsung melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.
“Coba lebih cepat Ta!” Pinta Bi Peni yang terlihat serius memperhatikan Cinta yang berjalan membelakanginya.
“Balik Ta!” Seru Bi Jumak, membuat Cinta langsung menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya, lalu berjalan kembali menuju ke arah mereka.
“Tuh kan Bu... Masih kencengg!” Seru Bi Peni dengan hebohnya.
“Benar, masih rapet.” Tambah Bi Jumak yang nampak manggut-manggut.
Ibunya Rena dan Bi Sarni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd mereka.
“Sebenarnya Bibi itu lagi bahas apa sih? Jamu ya?” Celetuk Rena dengan bingung.
“Apa jangan-jangan Bibi mengira aku minum jamu Rapet wanginya Mbak Gendis ya?” Timpal Cinta yang bertanya dengan polosnya, membuat Ale mengusap kepala Istri kecilnya itu dengan gemas. Meskipun cara berpikir Cinta lebih dewasa di bandingkan dengan Gadis seusianya, tapi soal masalah ini dia masih belum tahu apa-apa.
“Tuh kan... Jadi semakin yakin aku kalau Si Tata kecil kita belum di Coblos.” Celetuk Bi Jumak dengan yakinnya, membuat Cinta yang awalnya kebingungan kini nampak menunduk malu karena dia mengerti maksud dari Kedua Bibinya.
“Jangan hiraukan omongan Kedua Bibimu itu Ta! Mereka lagi kesal saja.” Sahut Ibunya Rena saat melihat reaksi Cinta.
“Iya Ta, mereka kesal karena Orang-orang banyak membicarakanmu tanpa mencari tahu kebenarannya dulu... Termasuk Bibi juga.” Sahut Bi Sarni.
“Benar tuh Sarni, pengen aku sumpel aja mulut mereka semua!” Seru Bi Jumak dengan kesal, dia menganggap Cinta seperti Putrinya sendiri jadi dia merasa kesal kalau ada yang menjelekkannya.
“Ah iya... Ngomong-ngomong soal ini, aku jadi lupa tanya?” Sela Rena.
“Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Ta? Bagaimana bisa kamu menikah dengan Ale? Apa dia melakukan hal buruk padamu?” Tanya Rena beruntun pada Cinta, tapi matanya melirik tajam Ale yang nampak duduk tenang sedari tadi.
“Enggak Ren, bukan seperti itu. Malah Ale yang menolongku, kalau nggak... Mungkin aku lebih memilih mengakhiri hidupku.” Cicit Cinta dengan wajah sendu saat mengingat perbuatan Pamannya.
“APA, KAMU GILA TA! Memangnya apa yang terjadi?” Sentak Rena dengan mata membeliak.
“Iya Nak, ceritakan lah pada kami!” Pinta Ibunya Rena dengan penasaran.
“Sepulang dari Pantai kemarin...” Jawab Cinta dengan ragu, dia terlihat enggan karena masih trauma saat mengingat kejadian buruk itu.
“Tua bangkaa itu berusaha untuk memperkosa Cinta saat kondisi rumah sedang sepi!” Sahut Ale dengan geram, bahkan Ale sampai mengepalkan tangannya dengan erat untuk meredam amarahnya.
“APA?!” Seru Bi Jumak dan Bi Peni serempak dengan mata membeliak.
“Siapa yang kamu maksud Tua bangkaa itu Anak muda?” Tanya Bi Sarni dengan geram, dia benar-benar mengutuk orang yang begitu tega melakukan hal itu pada Gadis sebaik Cinta.
“Apa jangan-jangan Pamanmu yang kurang ajar itu Ta?” Tebak Rena, sontak saja membuat semua orang terkejut, sedangkan Cinta hanya menatap Rena dengan nanar.
“Iya... Dan untung Ale datang tepat waktu.” Jawab Cinta dengan nafas tercekat, matanya nampak berkaca-kaca.
“WOO... DASAR WONG EDAN!!” Umpat Bi Jumak dengan geram.
“Pantas saja Mantan Istrinya minta pisah, lah wong bukan hanya kelakuannya yang bejatt suka main Perempuan tapi juga Keponakannya sendiri di embat.” Sahut Bi Peni.
“Yang sabar ya Nduk.” Ucap Ibunya Rena yang merasa prihatin dengan nasib Cinta.
“Iya Bibi... Terima kasih karena kalian mau percaya pada Ta.” Balas Cinta yang terharu karena mereka masih mau percaya dan mendukungnya.
“Waktu itu aku membawanya ke Gudang karena kondisi Cinta benar-benar syok dan berantakan, lalu dia ketiduran di Gudang karena terlalu lama menangis. Entah... Kenapa tiba-tiba saja Para warga datang ke Gudang dan menuduh kami melakukan hal yang tercela? Rasanya sangat aneh, dari mana datangnya Orang-orang itu?” Ale mulai angkat bicara dan menceritakan kejadian itu pada mereka.
“Kenapa aku merasa ini perbuatan Ibu dan Adik tirimu Ta?” Sahut Rena dengan yakin.
“Entah lah Ren... Aku nggak ingin berburuk sangka, biarlah semua berlalu. Yang penting aku baik-baik aja sekarang... Dan juga sekarang aku punya Ale yang akan menjagaku,” Dan aku bersyukur untuk itu. Lanjut Cinta dalam hati.
Tapi pembicaraan mereka akhirnya terjeda karena Perahu nelayan sudah datang membawa hasil tangkapan mereka, membuat mereka kembali bekerja untuk mengais rezeki mereka hari ini.
***
Di Tempat lain Rumah Edi Baskara, mereka sedang sarapan bersama.
“Lihatlah Putri yang selalu kamu bela itu Mas! Bahkan dia sama sekali tidak menginjakkan kakinya di Rumah ini untuk menunjukkan rasa penyesalannya, dia lebih memilih pergi bersama Pria buruk rupa itu pagi-pagi sekali.” Ucap Melisa pada Suaminya.
“Apa kamu akan terus mengoceh? Aku sudah lapar.” Sentak Edi.
“Iya Bu, Mei juga sudah lapar.” Sahut Meira yang lebih dulu mengambil nasi ke Dalam piringnya.
“Kalian ini!” Cebik Melisa dengan kesal, tapi Edi tak menghiraukannya dan mulai makan karena semalam dia belum makan. Tapi saat menyendokkan satu suap ke Dalam mulutnya, dia merasakan rasa dari masakan itu sangat lah familiar. Rasanya seperti masakan mendiang Istrinya, Ibu kandung Cinta.
“Siapa yang memasak?” Tanya Edi.
“Tentu saja aku Mas.” Akuh Melisa dengan penuh percaya diri.
Edi hanya mengangguk dengan pelan, dia tidak yakin karena setahu dia Melisa tidak pandai memasak.
“Oh iya Bu, dari kemarin aku tidak lihat Paman. Apa dia kerja?” Tanya Meira, membuat Edi baru menyadari bahwa dia juga belum melihat batang hidung Heri Adik dari Istrinya itu.
“Entah... Ibu juga tidak lihat, mungkin dia ada kerjaan.” Jawab Melisa dengan santai.
Setelah selesai sarapan pagi, Edi memilih duduk menyendiri di Ruang kerjanya. Dia menatap sebuah foto pada Bingkai kecil di atas meja kerjanya.
Semakin dewasa, dia semakin mirip denganmu Lili. Sangat cantik... Itu yang dulu membuatku jatuh cinta padamu, kecantikanmu... Kelembutanmu... Kesederhanaanmu. Tapi kamu sudah membuatku kecewa...
“Kenapa? Padahal aku dulu sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu begitu tega padaku?” Lirih Edi dengan sendu saat mengingat kenangan mereka dulu.
Mereka dulu saling mencintai dan menjalin hubungan cukup lama, tapi semuanya berubah menjadi sebuah bencana.
Sedangkan Di sisi lain, Heri terkapar tak berdaya di atas Ranjang Rumah sakit di temani oleh Anak buahnya.
“Apa perlu kita beri pelajaran pada Pemuda cacat itu sekarang Bos?” Tanya Anak buah Edi.
“Tidak sekarang, tunggu sampai aku pulih! Baru kita beri pelajaran padanya hingga dia memohon ampun padaku...” Geram Heri.
“Siapa suruh mengambil Gadis yang selama ini aku idam-idamkan? Apa dia tidak tau aku ini siapa?” Heri masih merasa kesal karena kalah dengan Pemuda buruk rupa itu.
“Bos tidak usah turun tangan, biar kami saja yang menghajarnya. Cuma Bocah kecil, pasti kami bisa dengan mudah mengatasinya.” Sahut Anak buahnya yang memiliki badan kekar dan sangar.