Sudah Dua minggu berlalu sejak Cinta dan Ale bekerja di Pasar bersama, selain membantu Cinta berjualan terkadang Ale juga menjadi kuli panggul di Sana. Itu juga yang membuat Ale dan Cinta semakin dekat, bahkan Ale tak segan menunjukkan rasa sayangnya di Depan umum.
“Makanlah dulu, berangkat tadi kamu belum makan Love!” Titah Ale yang menyuapi Cinta dengan bekal masakan yang mereka bawa dari Rumah.
“Kenapa kamu selalu memanggilku begitu?” Protes Cinta yang merengek manja, kini Cinta nampak lebih manja saat bersama Ale.
“Sekarang aku tanya? Namamu siapa?” Tanya Ale dengan santainya.
“Cinta.”
“Love artinya apa?” Tanya Ale lagi.
“Cinta.” Jawab Cinta lagi dengan wajah polosnya.
“Lah... Sama kan?” Gemas Ale yang mencubit hidung Cinta.
“Duh... Pengantin baru ini makin hari makin mesra aja, bikin Bibi rindu Suami di Rumah.” Goda salah satu Pembeli.
“Tuh kan... Gara-gara kamu!” Kesal Cinta yang memukul lengan Ale dengan gemas.
“Bibi mau beli ikan apa?” Tanya Cinta pada Pembeli itu.
“Love, jangan bicara saat makan! Duduklah... Biar aku yang melayani mereka!” Titah Ale dengan lembut, membuat Cinta langsung tersipu malu.
“Bibi mau aku timbangin ikan yang mana?” Tanya Ale.
“Masing-masing Dua kilo ya Le, kalo udangnya Satu kilo aja. Jangan lupa kasih bonusnya ya!” Jawab Pembeli Wanita paruh baya itu.
“Siap Bi.” Angguk Ale yang segera menyiapkan pesanan pembelinya.
“Bibi hari ini beli ikan banyak sekali?” Tanya Cinta yang selesai menyelesaikan sarapannya.
“Besok Bibi ada tamu dari Kota Ta, makanya Bibi beli banyak. Besok kalau ada waktu... Mampirlah ke Rumah Bibi sama Suamimu, Bibi masak banyak.”
“Nanti Ta usahakan Bi, terima kasih sudah borong ikan Ta hari ini.” Sahut Cinta yang tersenyum manis kepada Pembeli itu.
“Bibi yang harusnya terima kasih atuh, sudah di kasih bonus ikannya. Jadi banyak ini...” Ucapnya saat menerima bungkus kresek pesanannya.
“Bibi duluan ya Ta.” Lanjutnya berpamitan.
“Iya Bi.” Angguk Cinta yang kembali tersenyum dengan cantiknya.
“Cepat sekali, sudah habis?” Tanya Ale yang membersihkan tepi bibir Cinta dengan jemarinya, padahal sebenarnya tidak ada kotoran atau sisa makanan yang menempel pada bibir Cinta.
“Kenyang.” Jawab singkat Cinta yang memandang bola mata Cantik Suaminya dengan dalam, sejak Ale terbiasa memakai topi dan masker saat di luar rumah. Cinta baru menyadari bahwa bola mata Ale berwarna Coklat muda jernih dan Cinta sangat menyukainya, menurutnya itu terlihat sangat indah dan cantik.
“WOI... Kerja woiii... Di sini itu jual ikan, bukan juall kebucinan.” Seru Rena yang berada di seberang stand milik Cinta, dia selesai membantu Ibunya menyiapkan pesanan Pembeli.
“Rena ih syirik aja.” Sahut Cinta yang terkekeh.
Sedangkan Ale malah dengan acuh mengecup belakang kepala Cinta sebelum akhirnya duduk dan menghabiskan bekal makanan Cinta tadi.
Cinta juga sepertinya sudah terbiasa dengan perlakuan lembut Ale, dia merasa nyaman karena Ale selalu berusaha menghargai dan menghormatinya. Meskipun mereka telah menikah, Ale hanya sebatas memeluk dan mengecup kepala atau pelipisnya. Ale tak pernah memaksanya untuk melakukan hal yang lebih sebagai tugas seorang Istri, dan itu membuat Cinta semakin mengagumi sosok Ale.
“Ta, nanti ke Pasar malam yuk Ta? Ada Bazar kuliner di sana.” Ajak Rena pada Cinta.
“Emm... Bentar...” Cinta nampak berpikir lalu menolehkan kepalanya ke belakang, “Al, boleh kan?”
“Apapun yang membuatmu senang, lakukan lah Love!” Sontak saja membuat Cinta merasa senang.
“Yaelah... Pakai tanya Minuman gelas segala, kan nggak asyik.” Celetuk Rena yang langsung mendapat jitakan dari Ibunya.
“Yang mestinya nggak asyik itu kamu Nduk, Cinta sudah menikah tapi kamu mbok yo masih ngin tilin Cinta terus.” Sentak Ibunya.
“Astaga Bu... Mana ada.” Sanggah Rena.
“Mana ada, mana ada... Gundulmu!” Sentak Ibunya lagi yang membuat Cinta terkikik dengan perdebatan Ibu dan Anak itu.
“Tenang saja Bi, aku akan menjaga mereka berdua.” Sahut Ale.
“Titip ya Le... Bibi khawatir Dua anak Gadis kelayapan malam-malam, nggak ada yang jagain. Apalagi Kakaknya sudah kembali ke Kota lagi, mau Bibi larang juga nanti malah ngambek kayak anak kecil.” Pinta Ibunya Rena pada Ale.
“Iya Bi... Aku jamin mereka akan aman dan pulang dengan selamat.” Angguk Ale.
“Ibu kok gitu sih, bikin aku malu aja.” Rajuk Rena yang mengerucutkan bibirnya.
“Tuh kan, tuh kan...” Seru Ibunya Rena yang menggoda Putrinya.
Cinta terkekeh saat melihat keakraban keluarga Rena, Kehangatan keluarga yang belum pernah dia dapatkan. Terkadang yang membuat Cinta iri tapi kini semuanya terasa begitu berbeda, ada Ale yang membuatnya merasa dia tidak sendiri lagi. Seperti sekarang... Dia melingkarkan tangannya pada pundak Cinta, membuat Cinta tersenyum senang.
***
Lain halnya dengan kebahagiaan Ale dan Cinta, keadaan Perusahaan Oswald Group sedang mengalami krisis penurunan saham karena banyak berita-berita miring sejak kematian CEO Oswald Group Alex Sanders Oswald. Membuat Robert Oswald yang merupakan Ayah angkat mendiang Alex sekaligus Pemilik dari Perusahaan Oswald Group di landa kecemasan.
“Anda harus segera membuat keputusan Tuan, jika tidak semua Pemegang saham akan mencabut saham mereka dari Perusahaan ini.” Ucap Damar Sang asisten sekaligus kaki tangan Robert.
“Bagaimana menurutmu Bima? Saat ini hanya kamu yang dapat saya percaya, karena kamu adalah sahabat baik mendiang Alex.” Tanya Robert pada Bima Mahardika yang merupakan seorang Pengacara terkenal.
“Paman, untuk saat ini Paman tidak punya pilihan lain selain menunjuk Putra Paman sendiri William untuk menggantikan posisi CEO. Kepulangan Chris sudah tersebar luas di seluruh jaringan media, apalagi sekarang Chris sudah mulai memasuki Perusahaan di Sela kegiatan kuliahnya. Chris di gadang-gadang akan menjadi calon kandidat yang kuat untuk menjadi Ahli waris Oswald Group karena latar belakang pendidikan Chris dan hanya Chris satu-satunya keturunan Oswald setelah Ayahnya.” Pria yang usianya sudah memasuki kepala Empat itu menjelaskan pendapatnya pada Robert.
“Tuan Bima benar Tuan... Berita kepulangan Chris sudah tersebar luas, meskipun saya sendiri merasa ada yang janggal.” Sahut Damar.
“Apa maksudmu Mar?” Tanya Robert dengan penasaran.
“Kurasa ada Seseorang di belakangnya yang sudah merencanakan semua ini dari awal, kematian mendiang Alex dan Sean secara tiba-tiba. Lalu kedatangan Chris, dia tidak datang saat kabar kecelakaan pesawat itu tapi dia justru datang tepat pada saat Perusahaan mengalami krisis. Dan belum lagi banyak berita tentang Perusahaan yang mulai mencuat dengan cepat, padahal kita sudah mengadakan konferensi pers untuk menetralisir berita miring. Rasanya semua terasa janggal.” Sahut Bima menjelaskan maksud ucapan Damar pada Robert.
“Menurutmu siapa yang sengaja melakukannya?” Tanya Robet yang nampak berpikir.
“Saya tidak bisa menduganya Paman, karena saya belum mendapat banyak bukti terkait masalah ini...” Jawab Bima dengan ambigu.
“Tapi sebaiknya untuk sekarang kita fokus untuk mengatasi masalah Perusahaan dulu, Paman harus segera melakukan serah terima jabatan.” Lanjutnya.
“Kamu benar...” Angguk Robert pada Bima.
“Damar, siapkan semuanya besok! Segera kumpulkan para Pemegang saham untuk mengadakan rapat dan serah terima jabatan CEO baru.” Titah Robert pada Asistennya.
“Baik Tuan.” Angguk Damar dengan hormat.
***
Malam telah tiba Cinta dan Rena sedang berjalan beriringan menjelajahi banyak stand yang menjual berbagai menu makanan, jajanan, dan minuman. Ada banyak juga yang menjual aksesoris dan baju, sedangkan Ale berjalan di belakang mereka sebagai Bodyguard Dua gadis cantik itu.
“Ta, lihat ke sana yuk!” Ajak Rena yang menyeret Cinta ke Stand penjual aksesoris.
“Kamu mau beli kalung itu Ren?” Tanya Cinta dengan heran, pasalnya kalung perak itu merupakan kalung couple yang memiliki bandul berbentuk setengah hati dan bila di satukan menjadi bentuk hati yang utuh.
“Iya Ta, bagus kan?” Tanya Rena yang terlihat memandangi kalung itu.
“Bagus sih, tapi buat siapa? Atau jangan-jangan... Tanpa sepengetahuanku kamu sudah mempunyai pacar ya Ren?” Tanya Cinta dengan tatapan menyelidik.
“Dih... Mana ada, orang buat kita berdua kok.” Sanggah Rena, Cinta hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran. Sahabatnya itu memang benar-benar unik, pikir Cinta.
Di saat Cinta dan Rena sibuk memilih, Ale sedang memperhatikan aksesoris cincin perak. Netranya jatuh pada salah satu cincin mungil nan cantik, cincin perak bermata Tiga. Satu permata besar di apit oleh dua permata kecil, membuat cincin itu terlihat sangat cantik. Meskipun hanya imitasi tapi cincin itu terlihat nyata seperti asli.
“Aku ambil yang ini.” Ucap Ale pada Penjualnya.
“Bagus itu Mas... Dari bahan titanium di jamin tidak mudah berkarat, murah meriah harganya cuma sepuluh ribu aja.”
Ale segera mengeluarkan uang dari saku celana dan membayarnya, lalu segera menyimpannya dalam saku celana.
“Sudah?” Tanya Ale yang berjalan mendekati Cinta.
“Rena yang beli.”
“Kamu nggak ingin beli?”
“Enggak.” Jawab Cinta menggelengkan kepalanya lucu, membuat Ale mengacak rambut Cinta dengan gemas.
“Ale ih.” Rengek Cinta.
“Memang nggak ada yang kamu suka?” Tanya Ale yang kini merapikan rambut Cinta dengan sayang.
“Bingung.” Jawab Cinta yang menatap Ale manja.
“Woi... Malah pacaran!” Seru Rena yang langsung menyerobot ke Tengah-tengah mereka, membuat Ale melengos jengah.
Dasar pengganggu.
Pikir Ale.
“Nih Ta.” Rena menyerahkan kalung couple yang dia beli tadi pada Cinta satu.
“Makasih Sayangku.” Seru Cinta dengan senang, bukan karena kalung pemberian Rena tapi bagaimana Rena menganggapnya spesial.