"Bang Olan, apakah bang Olan gak bisa melihat Disya? Gak bisa merasakan apa yang Disya rasakan pada Bang Olan?! Apakah Disya harus berteriak? Huh, tanpa diteriakin pun bahkan Bang Olan sudah tahu perasaan Disya. Hanya saja Bang Olan tidak pernah dan tidak akan bisa membalas perasaan Disya." Lirihnya. Disya termenung di balkonnya sambil memandang bintang yang bersinar terang. Andai ia menjadi bintang yang selalu bersinar di kegelapan malam. Ia juga ingin bersinar di dalam gelapnya hati Orlando, ia ingin dialah yang menyinari gelapnya hati Orlando dari namanya. Tapi, apa? Hal itu percuma. "Dis!" suara bariton milik Orlando membuat Disya menoleh ke arah balkon rumah Orlando. Disya memasang senyum cerahnya, kebiasaan seperti biasanya. Sedangkan Orlando hanya mendengus kasar. "Lo tahu, kan

