"Baik, Pak. Saya akan menyimpan rapat rahasia Anda," jawab Rizal patuh.
"Justru saya ingin Anda semakin berani menentang Ayah Anda, Kevin. Teruslah berontak, temukan jati diri Anda, cinta sejati Anda lalu pergi jauh-jauh dan hiduplah dengan tenang bersama wanita yang Anda cintai. Biarlah harta Anda jadi urusan saya," batin Rizal dengan senyum menyeringai.
Kevin mengangguk-anggukkan kepala lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita bernama Evelyn. Tiga hari tidak bertemu membuat rasa rindu itu terasa begitu menggebu. Aneh bukan? Mereka belum lama saling mengenal, tapi perasaan seorang Kevin sudah begitu dalam.
"Saya gak sabar pengen ngejajal motor baru saya sama kamu, Ev," batin Kevin, segera membuka pintu mobil sesaat setelah ia tiba di area parkir.
***
Di perjalanan, Kevin mengerutkan kening saat mobil yang ia tumpangi mulai melipir lalu berhenti di depan sebuah bengkel yang menyediakan onderdil motor, dan jasa servis bagi kendaraan yang bermasalah dengan mesinnya.
"Kenapa kita berhenti di sini, Rizal? Saya 'kan udah bilang kalau saya mau ketemu sama Evelyn," tanya Kevin dengan kesal.
Rizal menoleh, memandang wajah Kevin yang duduk jok belakang. "Orang yang mau Anda temui ada di sana, Pak. Evelyn kerja di bengkel ini." Rizal menunjuk keluar jendela mobil.
Kevin sontak menatap ke arah yang sama seperti Rizal. Seorang wanita mengenakan seragam bengkel berwarna abu tua dengan rambut digulung di ujung kepala nampak sedang mengotak-atik kendaraan beroda dua. Kedua tangannya bahkan menghitam karena oli, wajahnya pun nampak kusam dan mengkilap karena keringat.
"Astaga, Evelyn," gumam Kevin dengan senyum lebar.
Tenyata, wanita itu benar-benar menggeluti otomotif bahkan memiliki keahlian yang seharusnya dimiliki oleh seorang laki-laki. Sialnya, Evelyn masih saja terlihat cantik di matanya meskipun penampilan wanita itu tidak ada bedanya dengan kaum pria.
"Anda gak mau keluar?" tanya Rizal melayangkan senyuman yang sama.
Ia yakin majikannya itu sedang dimabuk asmara. Hal tersebut terlihat jelas dari sorot matanya. Cara Kevin menatap wajah Evelyn memancarkan cinta, bahkan senyuman yang mengembang di kedua sisi bibirnya pun memperlihatkan rasa bahagia karena bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
"Hmm, tunggu. Ko jantung saya deg-degan banget, ya?" gumamnya, wajahnya memerah tersipu malu.
"Itu artinya Anda lagi jatuh cinta, Pak," ledek Rizal dengan senyum lebar.
Kevin merapikan rambutnya, menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya membuka pintu mobil lalu keluar dengan jantung berdebar. Pria itu menatap wanita bernama Evelyn yang masih belum menyadari kehadirannya, melangkah mendekat lalu berdiri tepat di sampingnya.
"Hmm, kamu kerja di sini ternyata," kata Kevin membuat Evelyn sontak menoleh dan mendongak memandang wajah Kevin dengan terkejut.
"Kevin," gumamnya, lalu berdiri tegak dengan gugup. "Eu ... lagi ngapain kamu di sini? Bukannya kamu masih di LA?"
"Saya baru balik siang ini, Ev," jawab Kevin. "Emangnya kamu udah sembuh? Kamu gak capek kerja kayak gini."
Evelyn salah tingkah, memaksakan diri untuk tersenyum. Ingin menyalami Kevin, tapi telapak tangannya dipenuhi dengan oli mesin.
"Eu ... tunggu, aku cuci tangan dulu, ya," ucap Evelyn hendak berbalik.
"Gak usah, kamu selesaikan aja dulu perkejaan kamu, Ev," pinta Kevin, membuat Evelyn kembali menahan langkahnya.
"Tunggu bentar, ya. Ini pekejaan terkahir aku ko. Orangnya bentar lagi ke sini soalnya," ucap Evelyn.
"Santai aja, saya tunggu kamu di sini."
Evelyn menganggukkan kepala, kembali berjongkok guna menyelesaikan pekerjaannya. Kevin melakukan hal yang sama seperti wanita itu, memandangi wajahnya dengan senyum lebar.
"Jangan liatin aku kayak gitu, Vin. Aku gak konsen," pinta Evelyn tanpa menoleh.
Bukannya mengikuti apa yang diminta oleh Evelyn, yang dilakukan oleh Kevin adalah duduk dengan bersilang kaki, menopang dagunya menggunakan telapak tangan masih dengan senyuman yang sama.
"Kamu benar-benar luar biasa, Ev. Jarang-jarang ada montir cantik kayak kamu," ucap Kevin.
Evelyn sontak menoleh dan memandang wajah Kevin dengan tajam. "Berhenti liatin aku kayak gitu, Vin!" pintanya dengan tegas. "Kalau kamu masih kayak gini, pekerjaanku gak akan pernah selesai tau! Duduk di kursi itu sekarang juga." Evelyn menunjuk kursi tunggu yang berada di sisi kanan.
"Hmm, baiklah. Saya tunggu kamu di sana," jawab Kevin, berdiri tegak, mengibaskan bokongnya sendiri, membersihkan debu yang menempel di sana.
Evelyn kembali berjongkok, sementara Kevin melangkah menuju kursi kayu lalu duduk di sana. Meskipun begitu, pandangan matanya tidak beranjak sedikitpun dalam menatap wajah Evelyn. Ia semakin kagum dengan wanita itu, Evelyn bukan hanya cantik, tapi juga mandiri dan pekerja keras. Dia bahkan melakukan pekerjaan kotor untuk menyambung hidupnya.
"Ya Tuhan, kenapa gak dari dulu saya ketemu sama dia?" gumam Kevin, kembali menopang dagunya menggunakan telapak tangan memandangi wajah Evelyn dengan tatapan mata berbinar.
***
Setelah menunggu selama hampir satu jam, perkejaan Evelyn akhirnya selesai. Penantian Kevin terbayarkan karena wanita itu sudah mencuci tangannya bahkan membersihkan wajahnya dari noda hitam.
Evelyn melangkah mendekat lalu duduk di kursi yang dengan Kevin. "Maaf ya harus nunggu lama," ucap Evelyn dengan gugup.
"Gak apa-apa, jangankan menunggu satu jam, menunggu seumur hidup pun saya rela," jawab Kevin, memandang wajah Evelyn dengan tatapan yang membuat jantung Evelyn dag, dig, dug tidak karuan.
Evelyn memaksakan senyum dengan gugup. "Jangan gombal, Vin. Basi tau."
"Siapa yang gombal sih, Ev? Saya serius lho," jawab Kevin dengan senyum lebar.
"Udah, jangan dibahas. Kamu ketemu aku mau ngambil motor kamu, 'kan? Motornya ada di rumah, kita ke rumahku, ya," katanya seraya berdiri tegak.
"Tunggu, Ev. Kamu pasti capek, duduk aja dulu," pinta Kevin menarik telapak tangan Evelyn hingga wanita itu kembali duduk tepat di sampingnya.
Akan tetapi, wanita itu seketika kembali berdiri, wajahnya tiba-tiba memucat, tatapan matanya tertuju kepada pria berpakaian seperti preman yang tengah melangkah menghampiri dari kejauhan.
"Edwin," gumam Evelyn, mendengus kesal.
"Edwin, siapa Edwin?" tanya Kevin sontak melakukan hal yang sama.
Pria bernama Edwin melambaikan tangannya dengan senyum lebar, Evelyn melangkah cepat menghampiri pria itu dengan wajah kesal, menarik telapak tangannya, tapi segera ditepis oleh Edwin.
"Mau apa lagi abang ke sini, hah? Aku gak punya uang, Bang!" tanya Evelyn, tegas dan penuh penekanan. "Lagian, mau sampe kapan abang memerasku kayak gini? Kalau abang mau duit ya kerja. Dasar parasit!"
Bukannya menanggapi ucapan sang adik, yang dilakukan oleh Edwin adalah menatap wajah Kevin yang berada di belakang mereka. Kedua sisi bibirnya nampak menyunggingkan senyuman, ia yakin pria itu bukan orang sembarangan.
"Apa dia pacar kamu?" tanya Edwin dengan dingin.
Evelyn gelagapan. "Bukan, dia bukan pacarku. Aku gak punya pacar," jawabnya dengan kesal. "Mendingan abang pergi dari sini, aku muak liat muka abang!"
"Hmm! Kayaknya, dia pemilik jas mahal yang waktu itu abang ambil di rumah kamu deh," ucap Edwin. "Waaah! Calon ipar abang orang kaya ternyata. Eu ... abang harus kenalan dulu sama dia!"
"Jangan, Bang," pinta Evelyn, berdiri di hadapan sang kakak seraya merentangkan kedua tangannya.
Edwin menghempaskan tubuh Evelyn dengan kasar. "Minggir kau. Gak sia-sia abang punya adik cantik kayak kau, Evelyn. Akhirnya kau memanfaatkan kecantikan kau itu dengan baik. Hahahaha!" ucapnya lalu melangkah menghampiri Kevin Sanjaya.
Bersambung ....