Bab 9. Calon Kakak Ipar

1011 Kata
Edwin, kakak kandung Evelyn benar-benar menghampiri Kevin dengan senyum songong. Pakaiannya yang slengean persis seperti preman pasar. Kevin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, ia sudah tahu bahwa pria berusia 30-han itu adalah kakak kandung Evelyn, orang yang telah mengambil barang-barang berharga miliknya. "Kau pacarnya Evelyn?" tanya Edwin berdiri tepat di depan Kevin, menatap tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kevin melakukan hal yang sama seperti Edwin, matanya menyisir setiap jengkal pakaian yang dikenakan oleh pria itu. Rasanya seperti berhadapan dengan calon kakak ipar penindas dan kejam. Terlebih, penampilan Edwin yang urakan dengan celana jeans robek dan kaos oblong berwarna hitam juga rambutnya yang sedikit gondrong. Kevin mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Perkenalkan, saya--" "Abaaaang!" teriak Evelyn menyela ucapan Kevin dengan emosi, melangkah cepat menghampiri mereka. "Aku udah bilang kalau dia ini bukan pacarku. Aku gak punya pacar, Bang." Baik Kevin maupun Edwin sontak menoleh dan menatap wajah Evelyn. Wanita itu berdiri tepat di depan Kevin seraya merentangkan kedua tangannya dengan wajah masam. "Mendingan abang pergi dari sini!" bentaknya, menatap wajah sang kakak dengan tajam. Kevin menurunkan telapak tangan Evelyn, kembali melangkah dan berdiri tepat di depan Edwin. "Kenalin, saya Kevin. Calon pacar adik Anda," ucapnya kepada Edwin seraya mengulurkan telapak tangan untuk bersalaman. Edwin tersenyum sinis mengabaikan uluran tangan Kevin Sanjaya. "Emangnya kau punya apa berani ngedeketin adikku, hah?" Kevin melayangkan senyuman yang sama. "Saya? Hmm, saya punya semua yang Anda gak punya," jawabnya dengan santai. "Kamu apa-apaan, Vin? Gak lucu tau," tegur Evelyn. Ia tidak ingin pria itu dimanfaatkan oleh sang kakak. Apabila Edwin tau siapa Kevin sebenarnya, sudah pasti kakaknya itu akan menjadikan Kevin sebagai tambang emas, sama seperti yang dia lakukan kepadanya. Ia tahu lebih dari siapapun seperti apa kakaknya itu. Edwin adalah pemalas yang ingin hidup enak tanpa mau bekerja bahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kevin menoleh ke belakang. "Kenapa? Saya 'kan emang calon pacar kamu, Ev," ucapnya dengan senyum lebar, lalu kembali menatap wajah Edwin. "Hmm, aku gak percaya. Yang namanya cowok kalau lagi deketin cewek pasti ngelakuin segala cara biar kelihatan sempurna," decak Edwin dengan sinis. "Yang gak ada aja bisa diada-adain lho. Bisa aja kau cuma pura-pura kaya doang, 'kan?" "Bukannya Anda udah tau seberapa kayanya saya, ya?" tanya Kevin dengan sinis. "Dompet, hp bahkan jas mahal saya bukannya Anda yang ngambil? Dijual berapa barang-barang berharga saya itu? O iya, di dompet saya juga ada uang cash-nya lho. Kalau saya mau, saya bisa aja melaporkan Anda ke polisi karena udah mencuri barang-barang saya." Edwin terdiam dengan wajah memerah menahan rasa malu. Ya, ia memang mengambil barang-barang berharga milik Kevin Sanjaya. Handphone keluaran brand ternama miliknya ia jual dengan harga yang lumayan, begitupun dengan dompet dan jas hitam. Edwin tersenyum menyeringai kembali menatap wajah Kevin dengan sinis. "Terus, kenapa gak kau laporin aja aku ke polisi?" tanyanya dengan dingin. "Ya itu dia, Anda ini calon kakak ipar saya. Mana berani saya laporin Anda," jawab Kevin dengan santai. "Penyesalan saya cuma satu, Edwin. Anda tega menganiaya adik Anda sendiri hingga dia harus dirawat di Rumah Sakit. Kakak macam apa yang tega mukul adiknya sendiri, hah?" "Hahahaha! Dia adikku, suka-suka aku dong mau memperlakukan dia kayak gimana," decak Edwin tertawa nyaring. "Tapi, kalau lain kali Anda menyakiti Evelyn lagi, saya gak akan segan melaporkan Anda ke polisi," ancam Kevin, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Edwin. "Anda tau 'kan seperti apa kekuatan uang dan kekuasaan? Dengan uang yang saya punya, saya bisa dengan mudah menjebloskan Anda ke penjara, paham?" Edwin melayangkan kepalan tangannya ke udara hendak mendarat di wajah Kevin. Namun, Evelyn segera menahan pergelangan tangan sang kakak dengan sekuat tenaga. "Cukup, Bang. Jangan cari gara-gara di sini!" pinta Evelyn dengan mata membulat. "Abang udah mencuri barang-barang dia yang dititip di rumahku. Jadi, jangan berani macam-macam sama dia." Edwin menghempaskan tubuh Evelyn dengan kasar hingga gadis itu terhempas lalu mendarat di lantai. "Dasar adik gak tau diri. Adik sialan!" bentaknya menunjuk wajah Evelyn dengan murka. Kevin segera berjongkok tepat di depan Evelyn dan membantunya berdiri tegak. "Astaga, Ev. Kamu baik-baik aja?" tanyanya dengan khawatir. "Aku gak apa-apa, Vin," jawab Evelyn berdiri dengan mata terpejam. Kevin menatap wajah Edwin dengan tajam. "Kayaknya ancaman saya gak mempan. Hmm, manusia gak bermoral kayak Anda harus dikasih pelajaran." Kevin meraih ponsel canggih miliknya. Pria itu menelpon pihak berwajib di depan Edwin sendiri seraya menatapnya dengan tajam mengancam. "Halo, Pak. Saya mau buat laporan," kata Kevin meletakan ponsel miliknya di telinga. "Sial!" umpat Edwin dengan tangan mengepal, segera berbalik lalu melangkah cepat meninggalkan mereka berdua. Kevin tersenyum sinis, menurunkan ponsel tersebut, menatap kepergian Edwin dengan perasaan lega. Sebenarnya ia hanya berpura-pura menelpon polisi hanya untuk menakut-nakuti pria itu saja. Sementara Evelyn, tubuhnya seketika melemas. Gadis itu duduk di kursi kayu seraya memijit pelipis wajahnya yang berdenyut nyeri. Kevin menoleh dan menatap wajah Evelyn. "Kamu kenapa, Ev? Apa perlu kita ke Rumah Sakit lagi?" tanyanya dengan khawatir. "Gak usah, Vin. Aku gak apa-apa ko," jawab Evelyn dengan wajah pucat. "Pekerjaan kamu udah beres, 'kan? Saya anterin pulang, ya." Evelyn mengangguk. "Tunggu, aku ganti baju dulu, ya." Kali ini Kevin yang mengangguk. Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang dijalani oleh wanita itu? Evelyn harus banting tulang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari bahkan memiliki seorang kakak penindas yang kejam. Kakak yang seharusnya melindungi dan menjaga adiknya sendiri, malah melakukan hal sebaliknya. "Ya Tuhan, malang sekali nasibmu, Ev. Punya kakak yang kelakuannya lebih kej4m dari Firaun, kamu kerja jadi montir bahkan ketika sakit pun, gak ada satu orang pun yang jagain kamu," batin Kevin, menatap kepergian wanita itu dengan rasa iba. Sementara itu di dalam mobilnya, Rizal menyaksikan pertengkaran Kevin dan pria bernama Edwin dengan senyum lebar. Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga Kevin dan Evelyn benar-benar bersatu sebagai pasangan kekasih. Ia yakin, Hendra Sanjaya tidak akan pernah merestui mereka. Yang tersisa hanya dua pilihan. Kevin akan dicoret dari ahli waris atau pria itu nekat kawin lari bersama wanita yang dicintainya. "Perjuangkan cinta kamu, Kevin. Kejar terus wanita yang kau cintai, saya akan membukakan jalan selebar-lebarnya. Setelah itu, tinggalin gelar putra mahkota dan serahkan gelar itu sama saya," gumam Rizal dengan senyum menyeringai. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN