Rizal tersenyum menyeringai. Memandang ke arah luar, di mana Kevin tengah berdiri menunggu wanita pujaan hatinya. Ia akan membuka jalan selebar-lebarnya agar Kevin melanggar segala peraturan yang telah dibuat oleh Hendra Sanjaya ayahnya sendiri. Ponsel miliknya seketika bergetar, Rizal merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dari dalam sana. Nama Tuan Besar tertera di layar ponsel.
"Hendra Sanjaya," gumamnya dengan senyum lebar menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya mengangkat sambungan telepon.
"Halo, Tuan Besar," sapanya meletakan benda pipih itu di telinga.
"Di mana kamu? Kau bilang mau jemput Kevin di Bandara? Di mana dia sekarang?" samar-samar terdengar suara Hendra Sanjaya.
"Pak Kevin ada bersama saya, Tuan Besar," jawab Rizal dengan wajah datar.
"Bawa dia pulang sekarang, ada yang mau saya bicarakan sama dia. Hari ini, saya akan kenalkan Kevin sama calon istrinya."
Rizal terdiam, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan seraya menggigit ujung kuku jari jempolnya sendiri. Jika Hendra menjodohkan Kevin dengan wanita lain yang pastinya berasal dari kasta yang sama, itu artinya rencana yang sudah ia susun akan gagal total.
"Kenapa kamu diem aja, Rizal? Kamu denger saya ngomong apa, hah?" bentak Hendra masih di dalam sambungan telepon.
"I-iya, saya denger, Tuan Besar," jawab Rizal dengan gugup.
"Cepat bawa Kevin pulang sekarang juga!"
"Baik, Tuan Besar," jawab Rizal sebelum pria itu menutup sambungan telepon.
Di saat bersamaan, pintu mobil dibuka dari luar. Evelyn memasuki mobil dengan perasaan gugup dan canggung disusul oleh Kevin kemudian. Keduanya duduk secara berdampingan dengan perasaan berbunga-bunga.
"Kamu habis nelpon sama siapa, Rizal?" tanya Kevin, menatap bagian belakang kepala Rizal.
"Eu ... nggak ko, saya cuma habis nelpon sodara saya," jawab Rizal seraya menyalakan mesin mobil. "Sekarang kita ke mana, Pak?"
"Ke rumah Evelyn, setelah itu kamu tinggalkan kami di sana."
"Siap, Kak."
Pedal gas pun diinjak, mobil Pajero berwarna hitam tersebut melaju meninggalkan tempat itu menuju kediaman Evelyn. Perjalanan berlangsung dengan keheningan, Evelyn benar-benar gugup dan canggung. Ini adalah pertama kalinya ia menaiki mobil mewah yang selama ini hanya mampu ia lihat di jalanan. Rasanya seperti mimpi, apa dirinya akan menjelma menjadi Cinderela, dicintai oleh seorang pangeran kaya raya? Evelyn larut dengan lamunan, dalam mimpi pun ia tidak pernah berfikir akan memiliki kekasih pengeran seperti di negeri dongeng.
"Ev," sapa Kevin, seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Evelyn.
"Hah? Eu ... i-iya kenapa, Vin?" tanya Evelyn, menoleh dan menatap wajah Kevin.
"Kamu lagi ngelamunin apaan sih?"
"Aku? Ng-nggak ko, aku gak lagi ngelamun apa-apa."
"Yakin?"
Evelyn mengangguk dengan wajah polos.
"Hmm, kalau kakakmu berani gangguin kamu lagi, jangan sungkan telpon saya, Ev. Pokoknya, kalau terjadi sesuatu sama kamu, bilang sama saya, oke?"
"Makasih, Vin, tapi aku bisa jaga diriku sendiri," jawab Evelyn dengan dingin.
"Meskipun kamu tomboy, mandiri, terbiasa hidup sendiri dan melakukan segala sesuatu sendiri, tapi kamu tetap seorang wanita," ucap Kevin. "Wanita itu dikodratkan untuk dilindungi, dicintai, dihormati dan sudah waktunya kamu mengakhiri kemandirian kamu dan menggantungkan hidup kamu sama saya. Pangeran tampan."
Evelyn menahan senyuman di bibir, wajahnya memerah tersipu malu, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan hati berbunga-bunga. Selama ia hidup 25 tahun ini, dirinya tidak pernah diperlakukan seperti apa yang baru saja diucapkan oleh Kevin, bahkan oleh kakak dan ayahnya sendiri. Ia sudah terbiasa hidup mandiri, hingga dirinya tidak tahu seperti apa rasanya diratukan oleh seorang laki-laki.
"Sudah cukup, gak usah gombal, Vin. Apaan sih," decaknya menahan diri agar tidak tersenyum.
"Saya serius, Ev."
Evelyn tidak menanggapi ucapan Kevin. Kepalanya menggeleng pelan, tidak ingin percaya begitu saja dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Kevin. Ya, meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Evelyn merasa tersentuh dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Kevin Sanjaya.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mobil yang ditumpangi oleh Kevin dan Evelyn akhirnya tiba di tempat tujuan. Rizal segera meninggalkan tempat itu setelah mengantarkan mereka berdua. Ia ingin memberi waktu kepada Kevin untuk mengungkapkan perasaannya kepada Evelyn. Tidak peduli meskipun ia akan menjadi bulan-bulanan Hendra yang memintanya untuk membawa Kevin pulang saat itu juga.
Evelyn membuka pintu rumah lalu masuk ke dalamnya dengan diikuti oleh Kevin. Motor gede bermerk Harley Davidson berwarna hitam nampak bertengger di ruang tamu bahkan memakan ruang di ruangan yang tidak terlalu luas itu.
"Motornya keluarin aja dulu, Vin," ucap Evelyn meletakan tas miliknya di atas kursi.
"Hmm, baiklah," jawab Kevin, melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh wanita itu dan kembali memasuki rumah.
Kevin duduk di kursi ruang tamu, menatap sekeliling rumah sangat sederhana dengan cat yang sudah usang, bahkan beberapa bagian temboknya sudah sedikit mengelupas. Andai Evelyn bersedia menjadi kekasihnya, ia tidak akan segan membelikan rumah baru yang lebih layak untuk ditinggali.
"Emangnya kamu gak capek, Vin? Baru pulang dari LA langsung ketemu sama aku," tanya Evelyn, melangkah menghampiri dengan membawa nampan berdiri segelas air putih.
"Justru orang pertama yang pengen saya temui setelah pesawat saja mendarat ya ... kamu," jawab Kevin, memandang wajah Evelyn dengan senyum lebar. Tatapan matanya begitu dalam membuat Evelyn salah tingkah.
"Sebenarnya mau kamu apaan si, Vin? Dari tadi tuh ngegombal mulu, basi tau," decak Evelyn, meletakan apa yang ia bawa di atas meja lalu duduk tepat di samping Kevin Sanjaya.
Kevin meraih lalu menggenggam telapak tangan Evelyn secara tiba-tiba membuat wanita itu semakin gugup saja tentunya.
"Saya orangnya to the point, Ev. Saya mau jujur kalau saya suka sama kamu," ucap Kevin, raut wajahnya seketika berubah serius.
"Jangan bercanda, Vin. Orang kaya seperti kamu mana mungkin jatuh cinta sama cewek kayak aku," jawab Evelyn tersenyum hambar, mencoba melepaskan genggaman tangan Kevin.
"Saya gak bercanda, Ev. Jujur, seumur hidup saya gak pernah tertarik sama wanita."
"Maksudnya kamu homreng, begitu?"
"Astaga, bukan seperti itu maksud saya, Ev," decak Kevin seketika mengusap wajahnya kasar. "Dari kecil bahkan sampai sekarang umur saya 29 tahun, saya selalu diatur sama Ayah saya. Saya gak boleh pacaran, gak boleh deket sama cewek lain, bahkan setelah saya dewasa, saya selalu dituntut hidup sempurna. Kerja, kerja dan kerja. Saya gak ada waktu buat mengenal cewek," jelas Kevin, jemarinya semakin erat menggenggam telapak tangan Evelyn. "Tapi setelah saya ketemu sama kamu, saya sadar bahwa kebebasan itu indah. Saya sadar bahwa saya butuh ruang untuk melakukan apapun yang saya sukai termasuk menyukai serang wanita."
Evelyn terdiam, memandang bola matanya Kevin. Bukan hanya ucapannya saja yang terdengar tulus, sorot matanya pun seakan memancarkan perasaan cinta yang mendalam. Lantas, apakah ia akan menerima pernyataan cinta Kevin Sanjaya?
"Maukah kamu jadi pacar saya, Ev? Jangan liat perbedaan status sosial kita, bagi saya semua manusia itu sama dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Saya gak peduli seperti apa keadaan kamu, kehidupan seperti apa yang kamu jalani selama ini. Yang jelas, saya jatuh cinta sama kamu. Jadilah pacar saya, Evelyn."
Bersambung ....