Bab 11. Pernyataan Cinta

1295 Kata
Evelyn terdiam, tidak segera memberi jawaban. Ia tidak pernah dicintai secara tulus oleh seorang laki-laki, penampilannya yang tomboi membuat kaum Adam berpikir dua kali untuk mendekatinya. Terlebih, dirinya memiliki seorang kakak seperti Edwin yang merupakan preman pasar dengan perangainya yang kasar. Pernyataan cinta Kevin masih terasa seperti mimpi baginya. "Kamu pasti bercanda 'kan, Vin? Gak mungkin cowok sempurna seperti kamu jatuh cinta sama aku," ucap Evelyn, dengan kepala menunduk, memainkan ujung kuku jari jempolnya sendiri. "Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Ev," jawab Kevin. "Saya udah ketemu puluhan wanita cantik bahkan wanita berpendidikan yang berasal dari kalangan sosialita, tapi saya gak ngerasain getaran seperti yang saya rasakan sama kamu, Evelyn." Evelyn kembali terdiam, entah apa ia akan percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh Kevin Sanjaya. Pria itu pandai merangkai kata-kata, menyusun kalimat hingga setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti syair puisi. "Kenapa kamu diem aja, Ev? Kamu mau 'kan jadi pacar saya?" tanya Kevin, tidak sabar ingin segera mendapatkan jawaban. "Saya udah bilang tadi, kalau saya orangnya to the point. Kamu cukup bilang iya atau tidak. Saya juga gak suka menunggu. Jadi, saya cuma kasih kamu waktu lima menit buat berfikir." Evelyn tersenyum lebar. "Dih, dasar pemaksa," decak Evelyn. "Siapa yang maksa? Saya udah bilang tadi, kalau saya orangnya to the point, sat set, gitu lho." Evelyn menggerakkan mata ke kiri dan ke kanan, mencoba menggunakan dengan baik waktu lima menit yang diberikan oleh Kevin. Apa dirinya akan menerima cintanya? Menjadi Cinderella di dunia nyata, menjadi kekasih seorang pangeran kaya raya? Satu pertanyaannya di sini, apa ia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang dirasakan oleh pria itu? Batin Evelyn, menyelami relung hatinya yang paling dalam. "Oke, waktu kamu habis," ucap Kevin dengan senyum lebar. "Sekarang jawab pernyataan cinta saya, Ev. Maukah kamu jadi pacar saya? Mau dong. Pasti mau, iya 'kan?" Bukannya menjawab pernyataan cinta Kevin, Evelyn seketika tertawa nyaring. Pria itu memiliki sisi humoris juga ternyata. Ia bukan hanya diberi waktu selama lima menit untuk berfikir, tapi kesan memaksakan kehendak pun diperlihatkan oleh Kevin. Anehnya, ia tidak merasa risih sama sekali. Ia malah terhibur di tengah rasa dilema yang mendera hatinya. Evelyn menghentikan suara tawanya lalu memandang wajah Kevin dengan mata berbinar. "Kamu tuh aneh, ya. Nyatain cinta ko maksa gitu, heran deh," decaknya. "Ya udah, sekarang kamu jawab dulu. Tinggal bilang iya aja, susah amat sih!" Evelyn menghela napas panjang. "Ya udah iya." Kevin tersenyum lebar. "Kamu nerima cinta saya?" "Mau gimana lagi, orang kamunya maksa." Kevin seketika memeluk tubuh Evelyn erat, bahkan sangat erat hingga membuat gadis itu kesulitan untuk bernapas. Namun, dekapan tubuh Kevin terasa hangat dan menenangkan. Aroma maskulin tercium begitu menyegarkan. Kevin bukan hanya tampan, tubuhnya pun juga wangi. Gadis mana yang akan menolak cinta pangeran tampan, kaya raya yang pandai meluluhkan hati wanita? "Makasih, Ev. Makasih banget. Saya seneng karena kamu udah nerima cinta saya," ucap Kevin, perasaannya benar-benar bahagia. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupnya. "Mulai sekarang, kamu gak boleh jadi cewek mandiri lagi. Kamu cukup andalkan saya dalam setiap urusan kamu, kalau kamu lagi pengen apapun, kamu cukup minta sama saya. Paham?" Evelyn mengurai pelukan dengan senyum lebar. "Jadi ceritanya, kamu lagi nyombongin harta kamu, begitu?" "Ya, mau gimana lagi, kenyataannya emang kayak gitu ko," jawab Kevin seraya membusungkan dadanya dengan wajah sombong. "Saya emang pria sempurna. Tampan, mapan, kaya raya lagi. Kalau di dongeng-dongeng, sosok saya tuh ibarat pangeran." "Iya deh iya, pengeran Kevin," seru Evelyn dengan senyum lebar merasa senang. "Sekarang, gimana kalau kita ngejajal motor baru saya? Hari ini, waktu saya milik kamu. Kita keliling kota Jakarta, mau?" Evelyn menganggukkan kepala masih dengan ekspresi wajah yang sama. Hatinya terasa berbunga-bunga, ia bahkan tidak pernah merasakan sebahagia ini selama hidupnya. Dicintai seorang pangeran di dunia nyata dan ini bukan sekedar mimpi, tapi benar-benar terjadi di hidupnya. "Aku mandi dulu, ya. Bentar doang ko, cuma 10 menit," ucap Evelyn seraya merentangkan kedua telapak tangannya. "Oke, saya tunggu kamu di sini." *** 30 menit kemudian, Evelyn tidak hanya menghabiskan waktu selama 10 menit untuk mandi dan bersiap-siap untuk firs date-nya bersama Kevin. Gadis itu bahkan mencoba hampir seluruh baju yang ia miliki. Mencoba satu-persatu dan melemparkannya ke atas ranjang ketika baju tersebut tidak sesuai. Sayangnya, hanya kaos oblong yang ia miliki. Gadis berusia 25 tahun itu bahkan tidak memiliki satu pun dress atau pakaian peminim yang biasa dikenakan oleh wanita. T-shirt berwarna hitam dengan celana jeans abu menjadi pilihannya karena hanya stelan itu yang paling bagus dan jarang sekali ia pakai. Evelyn memandangi tubuhnya dari pantulan cermin, menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seraya mengibaskan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. "Oke, siip. Semoga Kevin gak kecewa sama penampilan aku. Cuma ini baju paling bagus yang aku punya soalnya," gumamnya, lalu melangkah menuju pintu kemudian keluar dari dalam kamar. Kevin yang tengah duduk dengan terkantuk-kantuk seketika menggeliat seraya merentangkan kedua tangannya saat mendengar pintu kamar dibuka. Pria itu menoleh dan menatap wajah Evelyn sembari membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk. "Akhirnya tuan putri keluar juga," ucapnya dengan senyum lebar. Evelyn mengusap tengkuknya sendiri seraya tersenyum cengengesan. "Maaf ya, aku kelamaan mandinya. Kamu sampe ngantuk gitu," ucapnya dengan gugup. "Kalau kamu mau tidur, tidur aja gak apa-apa. Lain kali aja kita jalannya." Kevin berdiri tegak. "Gak bisa gitu dong, Sayang. Ini 'kan firs date kita. Masa gak jadi cuma gara-gara sang pangeran ngantuk? Kasihan tuan putri yang udah siap jalan dong." Wajah Evelyn memerah tersipu malu. Panggilan sayang yang ditujukan kepadanya membuat hatinya semakin berbunga-bunga. Rasanya seperti dibawa terbang ke angkasa. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta dan dicintai oleh laki-laki. "Udah akh, jangan ngegombal mulu. Nanti hidungku mengembang lho digombalin terus sama kamu, Vin," decak Evelyn seraya menahan senyuman di bibir. "Hahaha! Kamu bisa aja," seru Kevin tertawa nyaring. "Kita berangkat sekarang?" Evelyn menganggukkan kepala dengan perasaan bahagia. *** Kevin dan Evelyn benar-benar menjelajahi ibu kota dengan mengendarai motor Harley Davidson. Evelyn melingkarkan kedua tangannya di perut Kevin, bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Rasanya sulit diungkapkan seperti apa perasaan gadis itu saat ini. Kevin seolah memberi warna di hidupnya. Kehadirannya seakan mengangkat beban berat yang selama ini memenuhi pundak. Cinta yang dia berikan membuat hatinya dipenuhi kelopak bunga yang bermekaran, mengeluarkan aroma harum semerbak dan membuat jiwanya melayang ke angkasa lepas. Sementara bagi Kevin sendiri, ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal yang ia inginkan. Ia sendiri bingung, dari mana dirinya mendapatkan keberanian untuk melanggar peraturan yang dibuat oleh ayahnya sendiri, bahkan melupakan rasa tertekan yang ia rasakan selama ini. Keduanya benar-benar meluapkan rasa bahagia, menjelajahi jalanan ibu kota hingga matahari tenggelam digantikan dengan sinar bulan. Akan tetapi, rintik hujan tiba-tiba mengguyur jalanan yang tidak terlalu padat pengendara itu. "Hujan, Vin. Gimana ini?" seru Evelyn, kedua tangannya nampak melingkar erat di perut kekasihnya. "Di depan ada hotel, kita istirahat di sana dulu sambil nunggu hujannya reda, ya!" jawab Kevin dengan nada lantang dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Evelyn. Kendaraan beroda dua itu pun mulai melipir sebelum akhirnya berhenti di area parkir hotel. Baik Evelin maupun Kevin sama-sama dalam keadaan basah kuyup. Evelyn bahkan mulai menggigil kedinginan, turun dari motor dengan tubuh gemetar. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kevin. Keduanya berjalan menuju bagian resepsionis untuk memesan kamar. "Satu kamar dengan dua ranjang, Mbak," kata Kevin kepada karyawan hotel yang bertugas di sana. "Baik, Mas. Sebentar, ya," jawab sang resepsionis, menatap layar laptop mencari kamar yang kosong. "Mohon maaf, Mas. Kamar dengan dua ranjang sedang kosong." Kevin melirik wajah Evelyn dengan bingung. Hal yang sama pun dilakukan oleh Evelyn. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan perasaan bingung. Apa iman mereka cukup kuat, menginap di satu kamar yang sama bahkan hanya tersedia satu ranjang di sana? "Gak apa-apa, Mbak. Saya pesan satu kamar VVIP dengan satu ranjang," ucap Kevin kembali menatap wajah sang resepsionis. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN