"Baik, Mas. Tunggu sebentar, ya," ucap sang resepsionis, kembali memandang layar laptop, setelahnya baru kemudian memberikan kunci kamar yang dipesan. "Kamar nomor 109, kamarnya ada di lantai dua, Mas," ucapnya.
"Baik, Mbak. Terima kasih," jawab Kevin menerima apa yang diberikan oleh resepsionis lalu melangkah menuju kamar VIP yang ia pesan.
***
Kevin membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam sana dengan perasaan canggung, diikuti oleh Evelyn. Tubuh keduanya sudah mulai menggigit, rasa dingin mulai menebus pakaian basah yang mereka kenakan hingga menyelusup masuk ke setiap helai kulit tubuh. Kevin membuka satu-persatu kancing kemeja miliknya yang basah kuyup karena air hujan.
"Kamu mau ngapain, Vin?" tanya Evelyn, sontak memutar badan dengan gugup.
"Baju saya basah, Ev. Masa iya saya pake baju basah kayak gini," jawabnya dengan senyum.
"Ya, tapi gak di depan aku juga kali."
Kevin tersenyum lebar. "Kenapa? Bukannya kamu udah pernah ngeliat saya gak pake baju, ya? Bahkan kamu sendiri yang membuka baju saya waktu itu. Kenapa harus gugup segala sih?"
Evelyn menelungkupkan kedua tangan di perutnya sendiri menahan rasa dingin. "Ya, itu 'kan beda lagi, Vin. Waktu itu aku terpaksa bukain baju kamu," jawabnya dengan bibir bergetar karena kedinginan.
"Kayaknya, kamu juga harus buka baju kamu, Ev. Kalau nggak, kamu bisa terkena hipotermia lho. Bahaya tau."
Evelyn sontak menutup bagian dadanya menggunakan telapak tangan dengan mata membulat. "Hah! Kamu memintaku buka baju di depan kamu, gitu? Jangan modus, ya. Awas aja kalau kamu berani macam-macam."
Kevin tersenyum lebar, meletakan pakaian basahnya di atas meja. "Astaga, siapa yang modus sih, Ev? Saya cuma takut kamu kenapa-napa kalau pake baju basah kayak gitu."
"Terus, kamu minta aku telanjang di depan kamu, begitu? Dasar m***m!" decak Evelyn dengan sinis.
Kevin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan seraya mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling kamar mencari jubah handuk yang biasa disediakan oleh pihak hotel. Pria itu seketika tersenyum lebar saat melihat apa yang cari. Dua jubah handuk berwarna putih nampak tergantung di tembok tepat di samping pintu kamar mandi.
Kevin melangkah mendekati pintu lalu meraih kedua jubah handuk tersebut. "Ini, pake jubah handuk ini, Ev," pintanya, meraih kedua benda itu lalu kembali melangkah mendekati Evelyn yang masih berdiri dengan memunggunginya.
Evelyn sontak memutar badan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah d**a bidang seorang Kevin, kekar dan berotot lengkap dengan perutnya yang kotak-kotak bak roti sobek. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, jantungnya pun seketika berdetak kencang.
"Waah, badan Kevin kekar banget. Putih lagi," ucapnya dalam hati, seraya menerima apa yang diberikan oleh Kevin Sanjaya.
"Kamu ganti baju di kamar mandi dan saya di sini," ucap Kevin.
"Hah, eu ... o-oke, aku ke kamar mandi dulu, ya," jawab Evelyn dengan gugup dan canggung, melangkah menuju kamar mandi.
Kevin menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum lebar. Ini bukan pertama kalinya Evelyn melihat tubuh kekarnya, bahkan gadis itu sendiri yang melucuti pakaiannya di pertemuan pertama mereka.
"Ck ... Ck ... Ck ... kayak baru pertama kali liat saya gak pake baju aja sih. Padahal, dia pernah liat saya kayak gini," decak Kevin, segera mengganti pakaian basahnya.
***
Lima belas menit kemudian, Evelyn keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian. Jubah handuk hanya membalut tubuh langsingnya tanpa penutup tebal dan segitiga yang biasa menutup area privasinya.
Wanita itu melangkah mendekati Kevin yang sedang berdiri di depan jendela dengan tirai gorden berwarna abu tua yang sengaja ia buka. Rasanya benar-benar canggung, meskipun tubuhnya tertutup rapat, tapi Evelyn tetap merasa tidak nyaman karena area pribadinya dibiarkan tanpa penutup apapun, hanya tersembunyi di balik jubah berwarna putih yang ia kenakan.
Kevin yang memakai jubah yang sama seketika memutar badan. Menatap Evelyn dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan senyum. "Hujannya tambah gede, Ev. Kayaknya kita harus nginep di sini deh," ucapnya.
Evelyn menghentikan langkahnya tepat di samping Kevin, menatap keluar jendela di mana derasnya air hujan nampak mengguyur ibu kota.
"Bener juga, hujannya tambah deras," ucapnya seraya menarik napas dalam-dalam. "Ini pertama kalinya aku nginep di hotel mewah kayak gini. Rasanya aneh, kamarnya juga luas banget."
Kevin yang semula berdiri membelakangi jendela kembali memutar badan, menatap ke arah yang sama seperti Evelyn. "Mulai sekarang, kamu akan merasakan hal-hal yang baru, mendapatkan pengalaman baru karena saya akan mengenalkan kamu dengan sesuatu yang belum pernah kamu temui sebelumnya," ucapnya, meraih lalu menggenggam telapak tangan Evelyn. "Tapi, akan ada banyak rintangan yang akan menghalangi hubungan kita, Ev. Apa kamu mau melewati rintangan itu sama-sama?"
Evelyn tersenyum kecil seraya menghela napas panjang, balas menggenggam jemari Kevin. "Mau gimana lagi, aku udah terlanjur nyemplung. Jadi, mau gak mau aku harus melewati rintangan apapun yang menghalangi hubungan kita," jawabnya, lalu menoleh dan menatap wajah Kevin. "Dari awal pun aku udah sadar diri, Vin. Aku dan kamu ibarat langit dan bumi, kita berasal dari kasta yang berbeda yang dipertemukan oleh takdir dan dipersatukan oleh cinta."
Kevin menghela napas panjang lalu memeluk tubuh Evelyn. "Apapun yang terjadi, saya janji gak akan pernah ninggalin kamu, Ev. Meskipun Ayah saya menentang hubungan kita, meski dunia dan seisinya tidak merestui hubungan kita, saya tak peduli. Kamu adalah cinta pertama dan terkahir saya."
Evelyn mengangguk dengan mata terpejam. "Kamu jago banget ngegombal, ya," decaknya seraya mengurai pelukan. "Udah berapa banyak cewek yang kamu gombalan kayak gini, hah?"
"Hmm, berapa banyak, ya?" gumam Kevin, seraya menghitung kelima jarinya. "Satu, dua, tiga, em ... nggak ding, baru kamu cewek yang saya gombalin kayak gini," jawabnya dengan senyum lebar.
"Nggak, gak percaya aku," decak Evelyn, kembali menatap keluar jendela.
Kevin meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah Evelyn, kembali membawa wajah sang kekasih menghadap wajahnya. "Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, apa yang saya katakan ini jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam, Ev," ucapnya dengan lirih. "Kamu adalah wanita pertama yang berhasil menaklukkan saya, membangkitkan hasrat cinta dalam jiwa saya dan cuma kamu--" Kevin menahan ucapannya seraya menyentuh dan mengusap bibir Evelin menggunakan jari telunjuknya. "Cuma kamu wanita yang saya ingini dalam hidup saya," ucapnya sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir sang kekasih tercinta.
Evelyn terperanjat saat bibir Kevin terasa kenyal menyentuh permukaan bibirnya. Ini adalah ciuman pertamanya, rasanya seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Sekujur tubuhnya pun seketika merinding saat Kevin mulai menyisir permukaan bibirnya. Mata Evelyn terpejam, terbuai dengan sensasi aneh yang baru pertama kalinya ia rasakan.
"I love you, Evelyn," bisik Kevin, melepaskan tautan bibirnya dengan napas terengah-engah.
"I love you too, Vin," jawab Evelyn, dengan d**a bergemuruh hebat, rasanya seperti menginginkan hal yang lebih sekedar berciuman.
Bersambung ....