Matahari belum begitu terik. Hermanto mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke halte bis kota. la cukup cemas juga karena sampai di kantor pasti terlambat. Kesiangan. Tapi kemudian ia mempunyai keberanian untuk mempertanggung jawabkan keterlambatannya.
Ketika Hermanto menunggu bis kota di bawah halte, sejenak lamunannya melayang pada saat bergelut di atas tempat tidur bersama Dewi. Kemudian membuat Hermanto menjadi bertanya dalam dirinya sendiri:
'Kenapa serela itu dia menyerahkan kesuciannya dan nampaknya malah sangat bahagia. Tidak ada penyesalan sedikitpun. Bahkan dia seperti tak ingin menyianyiakan waktu itu. Melampiaskan segala endapan gairah napsunya, sehingga begitu meluap-luap dan sukar terkendalikan. Ataukah dia mengendap penyakit s*x maniac? Tapi bagaimanapun juga hal itu tak mungkin demikian. Terlalu ganas dan seperti kuda binal, sobab dia masih gadis suci. Belum pernah melakukan hal begituan.'
Dan Hermanto semakin tambah bingung. Kebingungan yang berasal dari sifat Dewi yang tidak terbuka. Misterius. Jadi apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya? Bagaimanapun juga aku harus mampu menyibaknya karena aku sangat mencintainya. Hanya dialah pilihanku satu-satunya untuk kujadikan pendamping hidupku kelak.
Seorang kondektur bis kota berteriak-teriak. Maka Hermanto jadi sadar dari lamunannya dan terus naik ke dalam bis kota. Selama di perjalanan menuju ke kantornya, ia cuma termenung. Senantiasa yang dilamun kan gadis pujaannya. Lalu tak dapat terpisahkan dari kenangan yang teramat indah bersamanya itu. Terpagut dalam kenikmatan di atas pembaringan. Dan yang paling tak mampu dilupakan Hermanto, bahwa ia mendapatkan seorang gadis yang masih suci.
Manakala kaki Hermanto menginjak lantai teras kantor sudah terlambat dua jam, Meski demikian ia bukan lelaki penakut ataupun pengecut. la akan menghadapi apabila kena marah pimpinannya. Tapi bukankah dia sudah dua hari ini tidak masuk? Dan menurut keterangan pak Subekti, beliau sedang keluar kota.
Belum sampai Hermanto masuk pintu kantor, sebuah mobil sedan berhenti dan mengundang perhatian Hermanto. la menoleh barangkali yang baru datang itu Direktrisnya. Sekalian ia ingin tahu dan menganggukkan kepala. Tapi ketika seorang gadis cantik yang anggun turun dari mobil itu, membuat Hermanto jadi termangu. la kenal siapa gadis itu. Bahkan bayangan dan lamunan gadis itu masih melekat di benaknya. Belum terbuang.
"Hallo, Dewi..." tegur Hermanto sambil tersenyum ramah.
Dewi yang menginjakkan kakinya di lantai teras membalas teguran Hermanto dengan seulas senyuman.
"Kesiangan ya, masuk kantornya?"
"Sėbab aku dari rumah terlebih dahulu ke travel untuk mengirim nafkah orang tuaku. Setelah itu langsung ke mari jadi terlambat. Mau ada keperluan dengan siapa?" tanya Hermanto nampak sedikit bingung.
"Dengan pimpinan perusahaan."
Sorot mata Hermanto jadi cemburu. Mereka berdua berjalan menuju anak tangga. Langkah Dewi begitu gemulai dan mantap. Setiap orang yang berselisih jalan pasti menganggukkan kepala ramah dan hormat. Itu hampir semua karyawan di kantor ini, sehingga membuat Hermanto cukup heran.
"Kalau tak salah, pimpinan kami sedang ke luar kota."
"Dia sudah kembali."
"Kau banyak kenal karyawan di sini?" Dewi cuma tersenyum.
"Kau nampak pucat. Masih ingat kenangan itu?"
Dewi segera memberikan isyarat agar Hermanto tidak melanjutkan pembicaraan itu di sini. Maka Hermanto hanya tersenyum kecut.
Ketika Hermanto dan Dewi sampai di lantai tiga, seluruh karyawan yang ada di ruang itu menganggukkan hormat. Hal itu semakin membuat Hermanto heran.
"Aku terus ke ruang kerjaku, Dewi. Kalau masih ada waktu setelah bertemu dengan pimpinanku, ngobrollah di ruangan kerjaku barang beberapa menit," kata Hermanto.
"Okey, selamat bekerja."
Dewi menghampiri Subekti dan berbincang-bincang sejenak. Sedangkan Hermanto cuma sekilas memperhatikan Dewi, setelah itu masuk ke ruang kerjanya. la merasa sudah terlambat masuk kantor, maka tak berani banyak tingkah. Langsung mengerjakan tugas yang telah dilimpahkan oleh pemimpinannya.
Sambil mengerjakan gambar konstruksi bangunan Hermanto sebentar-sebentar melihat jarum Jam tangannya. Kenapa Dewi masih belum menemuinya? Atau barangkali ada janji untuk pergi dengan pimpinannya? Perasaan Hermanto jadi resah. Lalu ia menduga-duga apa keperluan Dewi menemui Direktris perusahaan ini? Dewi selalu tak mau terbuka padanya, sehingga menyebabkan timbulnya tanda tanya.
Terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk," perintah Hermanto.
Pintu terbuka dan seorang gadis yang dikenalnya sebagai sekretaris berdiri di ambang pintu. la mengangguk sambil tersenyum kepada Hermanto. Hermanto dengan perasaan bimbang membalasnya dengan seulas senyum.
"Mas Hermanto dipanggil pimpinan untuk menghadap," kata gadis itu.
"Ba...baik," sahut Hermanto setengah dag dig dug.
Kemudian gadis itu pergi meninggalkannya. Hermanto kini diliputi perasaan gelisah. Kegelisahan tersebut berasal dari rasa bersalah karena terlambat masuk kerja. Pasti pimpinannya memanggil karena masalah itu. Atau ada masalah yang berkaitan dengan Dewi? Hermanto menarik napas panjang guna memperoleh ketenangan untuk menghadapi Pimpinannya.
Dengan tangan gemetar Hermanto mengetuk pintu kamar Direksi. Tak ada sahutan dari dalam. Dan Subekti segera memberi tahu.
"Masuk saja. Kebetulan tak ada tamu," kata Subekti.
Hermanto memberanikan diri membuka pintu itu dan melangkah masuk. la mengangguk kepada Sekretaris yang tadi memanggilnya sambil menutup kembali daun pintu itu. Sekretaris itu membalas dengan seulas senyum ramah.
"Silahkan duduk dulu," kata Sekretaris itu.
Hermanto mengangguk dan duduk di depan meja Direktur. Kursi yang biasa di tempat oleh Direktris nampak kosong. Hal itu semakin membuat perasaan Hermanto jadi tak sabar ingin mengetahui masalahnya.
Udara di ruangan itu begıtu sejuk karena ada AC. Dan manakala Hermanto mengedarkan pandang, ruangan yang ditempati Direktrisnya ini sangat mewah dan lux. Kemudian pandangan Hermanto tertumbuk pada pesawat TV. Dan di layar Tivi tersebut dapat dilihat keadaan di ruang tamu, kesibukan para karyawan dari lantai satu sampai lantai tiga. Tivi itu pun berderet tiga buah pesawat yang senantiasa merekam gambar. Hermanto berdecap kagum atas segala perlengkapan kantor ini yang serba komplit. Tentunya pimpinan kantor ini bukan sembarangan orang, sehingga begitu maju dan tender yang didapat bernilai besar.
Seorang gadis bertubuh indah berjalan gemulai keluar dari ruang toilet. Wajahnya demikian cantik dan anggun. Penuh wibawa.
"Hastuti, silahkan keluar dulu dan jangan kembali sebelum kupanggil," kata gadis yang baru saja keluar dari toilet itu. Suaranya mantap dan berwibawa.
"Baik, Bu," sahut sekretaris itu sambil bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Hermanto menoleh. la termangu dan heran melihat gadis yang berjalan di depannya menuju ke tempat duduk Direktris.
"Dewi . . . kau masih ada di sini?" tegur Hermanto terheran-heran.
Dewi duduk di kursi Direktris dengan tenang. la laksana seorang hakim yang penuh dedikasi dan berwibawa, tidak sebagaimana yang dilihatnya sewaktu pergi bersama. Bermanja, murah senyum dan lirikan.
"Ka... ka... kau?" gumam Hermanto seperti hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dewi cuma tersenyum.
"Tak perlu terkejut dan merasa rendah diri." Hermanto jadi serba salah tingkah.
"Semua di luar dugaanku. Jika kau akan menghukum atas segala perbuatanku, aku akan pasrah. Sebab kau tak mau berkata yang sesungguhnya tentang dirimu. Tapi kini kutahu engkau adalah pimpinanku," kata Hermanto bernada menyesal.
"Tak ada yang melimpahkan hukuman padamu," ucapan Dewi terputus karena suara telpon di atas mejanya berdering. Buru-buru diangkatnya gagang telepon dan berbicara dengan bagian operator.
"Lila, bila ada telpon dari manapun, katakan aku sedang keluar," perintah Dewi. Lalu gagang telepon itu diletakkan di induknya.
Dewi memandang Hermanto dalam-dalam, dan meneruskan bicaranya.
"Memang sengaja aku menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya, agar kau tidak merasa rendah diri bergaul denganku. Sejak semula aku tahu ketika membaca surat lamaran pekerjaanmu. Tak salah lagi pasti kau orangnya. Maka tanpa banyak hal dan tanpa test langsung diterima sebagai karyawan di kantorku. Dan ternyata kau memang tidak mengecewakan. Hasil kerjamu sangat baik dan teliti, sehingga membesarkan hatiku. Menggembirakan perasaanku," tutur Dewi mantap.
Hermanto mengangkat kepalanya dan memandang Dewi sekejap, lantas tertunduk lagi. Sikapnya jadi seperti murid taman kanak-kanak terhadap gurunya. Patuh dan takut dihukum atas kenakalannya. Kenyataan memang tak dapat dipungkiri olehnya, bahwa gadis yang duduk di depannya itu bukanlah gadis sembarangan. Dia genius dan perlu dihormati dan dipuji atas segala prestasi yang dicapainya. Dia telah berhasil menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab. Membawa kemajuan yang pesat perusahaannya.
Namun, gadis yang duduk di depannya itu belum lama ini pasrah dalam pelukannya. Pasrah dengan rela menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Merintih, menangis dalam pelukannya dan dia mengatakan secara tulus, segala siksaan batin dan kesepiannya sudah terhapuskan. Dan Hermanto menghela napas dalam-dalam.
"Kenapa kau diam saja?" tegur Dewi lunak.
"Anu.... anu.... saya tak tahu musti berkata nue apa?" sahut Hermanto gugup. Sekarang rasa minder semakin menguasai perasaannya, sehingga gampang sekali sikapnya berubah canggung dan serba salah.
"Aku memanggilmu sehubungan adanya tugas yang berkaitan dengan gambar konstruksi bangunan yang kamu buat. Tinjaulah tempat lokasi yang akan didirikan bangunan itu."
"Baik."
"Tunggu sebentar,"
Dewi mengangkat gagang telepon. "Pak Karjo suruh menghadapku."
"Baik, Bu," terdengar sahutan operator.
Tak lama kemudian pak Karjo datang menghadap Dewi. Lelaki setengah baya itu terbungkuk-bungkuk ketika menerima perintah Dewi.
"Antarkan pak Hermanto ke tempat lokasi dan bantulah dia bila menemui kesulitan apapun, perintah Dewi tegas.
"Baik, Bu."
"Berangkatlah sekarang."
"Sa... saya... pergi, Bu..." pamit Hermanto agak canggung dan kaku.
"Yah."
Hermanto dan Pak Karjo segera meninggalkan ruangan itu. Setelah Hermanto berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh pak Karjo, pikirnya melayang-layang. Dan apa yang baru saja dihadapinya seperti dalam mimpi. Gadis yang dicintainya bagaikan bintang di langit yang nampaknya mudah dipegang namun kenyataannya sukar untuk dijangkau oleh tangan. Hal itu dirasakan olehnya setelah tahu siapa sebenarnya Dewi Ratnasari Himawan. Gadis itu bukan gadis sembarangan.
TBC..........!
(Dahhh Besok lagi yahh sobatt..)