CP Episode 14

1820 Kata
Segalanya terasa banyak berubah setelah berada di daerah yang penuh bunga. Daerah yang dingin berkabut ini. Matahari yang setiap harinya di rasakan bersinar terik, kini di tempat ini bersembunyi di balik kabut. Kebisingan serta kesibukan yang setiap harinya di kota Metropolitan di jumpainya, tapi kini di tempat ini kedamaian dan ketenangan menentramkan hatinya. Di sabtu siang itu Dewi mengajak Hermanto pergi ke puncak setelah pulang kantor. Mereka menuruni jalan setapak yang di sekitarnya di tumbuhi rerumputan hijau dan bunga-bunga. Tapi kali ini Hermanto nampak mengalamibanyak perubahan. Tidak seperti dulu. Jadi pendiam dan tak berani menyentuh kulit gadis yang berjalan di sampingnya. Kalau dulu ia senantiasa memeluk pundak atau menggandeng tangan gadis itu, tapi kini tak lebih hanya sebagai pengawal yang setia menemani majikannya. "Aku bosan terus-menerus berada di Jakarta dan sibuk dengan pekerjaan. Aku ingin melihat-lihat pemandangan daerah ini," kata Dewi. Hermanto masih diam dan hanya membuntuti di belakang gadis itu. la hanya berani memandang tubuh Dewi dari belakang. Tubuh yang indah dengan pinggul lemah gemulai berjalan menuruni jalan setapak. "Kenapa kamu diam saja, mas Her?" tegur Dewi lunak. "Tidak kenapa-kenapa," sahut Hermanto gugup. "Itu ada sungai. Ayo kita ke sana. Hermanto cuma menuruti ajakan gadis itu. Meskipun tingkah lakunya serba canggung dan berhati-hati. Takut perbuatannya tidak disukai gadis itu atau barangkali menyinggung perasaannya. Akhirnya Dewi menarik napas panjang. Lega. Di hadapannya melintang sungai kecil yang berair bening. Batu-batu gunung sebesar badan kerbau ada di tepi-tepi sungai itu. Maka Dewi mengajak Hermanto duduk santai di situ. "Capek?" tanya Dewi sambil terengah. Hermanto menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dewi membuka sepatunya, ingin merendam kakinya ke dalam air sungai yang bening itu. "Airnya begitu bening sehingga dasar sungai kelihatan nyata," gumam Dewi sangat kagum. "Aku jadi kepingin mandi." Sambil duduk di atas batu Dewi menyibak-nyibak permukaan air dengan kakinya. Gaunnya yang sedikit disibak ke atas pahanya memperlihat-kan kulitnya yang putih mulus. Sedang kakinya yang bergerak-gerak itu menimbulkan pesona. Menimbulkan getaran di d**a Hermanto. Bentuk tumitnya yang mungil menjadikan kaki itu kelihatan indah. Dan betisnya yang langsing padat itu diperhatikan Hermanto sampai ke lekukan di atas tumit. Membuat Hermanto menelan ludah. Dia telah mengetahui dan mengenali bentuk-bentuk wanita pada bagian-bagian yang mengungkapkan rahasia tubuh wanita. Apa yang sedang diperhatikannya pada saat itu sungguh tidak meleset. Bagi Hermanto telah mengecap kenikmatan yang didapat dari tubuh itu. Sungguh sukar dibayangkan. "Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Dewi lembut. Hermanto tersentak. "Ah... ti... tidak ada..." " jawab Hermanto gugup. "Bu Dewi mau mandi?" Dewi tersenyum sembari menatap Hermanto dalam-dalam. "Hem. Kau banyak berubah sekarang. Panggil namaku saja, tidak perlu. memakai Bu. Itu lebih menyenangkan." "Tapi itu janggal. Apalagi kini kutahu kau adalah pimpinanku. Aku patut menghormatimu. Dan bagaimana kalau di depan orang-orang yang mengenali Bu Dewi," kata Hermanto berhati-hati. "Panggilan itu tidak tepat di saat kita begini. Di kantor kita memang formil, tapi di luar itu kita tetap sebagai sahabat. Apakah pikiranmu telah berubah setelah mengetahui diriku sebenarnya, mas Her?" "Aku merasa tak sebanding denganmu. Tak pantas untuk mencintaimu." Dewi merapatkan duduknya di samping lelaki itu. Dan jari tangannya memegang tangan Hermanto, lalu meremasnya hangat. "Jangan berkata begitu, mas Her. Kalau sejak dulu aku beranggapan begitu, kenapa kesucian diriku telah kuserahkan padamu? Itu adalah suatu bukti, bahwa aku juga sangat mencintaimu." Hermanto membungkam. "Mungkin akan lebih parah setelah kau mengetahui yang lain dalam hidupku. Kau akan berlalu dariku," gumam Dewi setengah mengeluh. Perasaan Hermanto menjadi tergugah. Keharuan dan kebimbangan menyusup ke dalam d**a. la memeluk pundak Dewi. Dan gadis itu menjatuhkan kepalanya di d**a lelaki yang sangat dicintainya itu. Mendekapnya erat-erat. "Berjanjilah jika kau tidak akan meninggalkanku," ratapnya sambil terisak. Hermanto jadi tak mengerti, kenapa gadis yang mempunyai banyak kelebihan dan berhasil dalam bidang usaha harus meratapi nasibnya. Padahal semuanya itu belum menjadi kenyataan. Padahal dia memiliki wajah cantik, anggun, kaya raya dan seorang Direktris. Apa susahnya mencari pengganti Hermanto. "De... Dewi, Apa yang kau risaukan selama ini pada diriku?" Hermanto agak canggung memanggil nama itu. "Aku sangat mencintaimu. Aku takut kehilangan dirimu. "Katakanlah sebab kekawatiranmu itu." "Tidak... jangan..., Kau pasti akan meninggalkanku." Keluh Dewi gelisah. Dewi menangis terisak-isak. Dekapannya semakin erat bagai takut perpisahan itu bakal terjadi. Dan Hermanto sadar bahwa dia telah membuat perasaan gadis itu tertekan. Lalu dia membelai rambutnya dan mencium bibirnya yang gemetar. "Katakanlah, apa yang kau risaukan. Tak apa-apa, walaupun buruk, ceritakanlah. Itu perlu buat kita untuk memperbaiki bersama," bujuk Hermanto lemah lembut. "Semuanya sudah terlambat," gumam Dewi terisak. "Apanya yang terlambat?" Dewi cuma memeluk tubuh Hermanto sambil membenamkan wajahnya di d**a lelaki itu. "Tangismu tak akan menyelesaikan masalah, Dewi. Cobalah berlapang d**a dan tabah untuk mengatakannya. Bila rasa kekawatiranmu itu tidak segera kau utarakan, hubungan kita bagaikan terselubung atau dipisahkan oleh jurang yang curam. Tak akan bisa selamanya menyatu dalam satu cita rasa, kebahagiaan yang tulus kita terima," bujuk Hermanto. "Aku tak dapat... aku tak mau..." keluh Dewi tetap bersikeras tak mau mengatakannya. Bahkan ia ingin menjerit kalau saja Hermanto terus memaksanya. "Baiklah. Aku tak akan memaksamu lagi. Terserah padamu, mau mengatakan atau tidak." "Cintamu akan berubah?" "Tidak. Mungkin kebimbangan masih tetap bergayut dalam dada." "Mas Her, kebimbanganmu adalah sebagian dari siksaan batinku. Andaikan kau tahu, tak ada satu pun lelaki yang mampu meluluhkan kebekuan hatiku, mengisi kesepian hidupku selain dirimu. Maka janganlah kau tinggalkan aku. Ajaklah aku selalu di sampingmu. Peluklah aku dalam kenikmatan surga dunia. Karena selama ini aku sangat membutuhkannya. Mas Her, kau mendengar keluhanku?" Hermanto mengangguk lalu membimbing tubuh gadis yang dalam pelukannya itu meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan setapak yang dilaluinya tak terdengar percakapan mereka. Saling membisu. Cuma bagi Dewi pelukan Hermanto terasa menghilangkan dinginnya hawa pegunungan. Hangat dan mesra. Dan mereka terus berjalan menuju ke sebuah Villa. Villa itu milik Dewi. Villa yang megah dengan pekarangan yang dibikin taman berbunga indah-indah. Di villa itu merupakan tempat segala pelampiasan siksaan batin dan kesepiannya. Di villa itu ia memperoleh apa yang didambakan sebagai wanita yang normal. Dan kebahagiaan yang selama ini hilang terasa menyatu dalam tubuhnya. Batinnya. Bergelimpang kenikmatan di atas tempat tidur, sehingga puncak kepuasan yang selama ini dirindukannya. telah tercapai. Dan segalanya itu hanya diperoleh dan dirasakan ketika Hermanto berada di sampingnya. Lelaki itulah yang mampu memenuhi semua tuntutan naluri, perasaan dan gairah napsunya. Meskipun ia tak luput dikejar perasaan berdosa. Pagi menjelang, sinar matahari menerobos masuk melalui ventilasi jendela. Kehangatan mulai menyekap di seluruh kamar sebuah villa. Harum bunga melati membangunkan Hermanto yang masih separuh sadar berbaring dalam pelukan Dewi. Tubuhnya letih akibat tenaganya terforsir tadi malam. Dan ia memandang tubuhnya yang masih berpelukan dengan Dewi hanya tertutupi selimut. Lalu ia menarik selimut itu. Dewi terbangun dan membuka matanya perlahan. Memandang Hermanto dengan bola mata yang bening dan berbinar-binar. Dan tersenyum. Ketika Hermanto menyibak selimut itu, ia memperhatikan pinggul gadis itu lalu menyusuri pantatnya. Alangkah padat dan kenyal. Tubuh gadis itu telalı melunglaikan segenap ototnya. Maka ia mengelus-elus punggung Dewi. Dewi mengeluh halus. Dan Hermanto ingat keluhannya itu, ketika semalam mereka diamuk oleh birahi yang menerjang. la hanya tersenyum. "Hari sudah pagi," gumam Hermanto. "Hmhh..." Dewi menggeliat. "Kenapa rasanya waktu capat berlalu," keluh Dewi. "Hari Minggu masih ada kesibukan?" "Ya. Sebenarnya aku masih ingin menghabiskan hari libur ini bersamamu di sini." Dewi bangun dan duduk di atas pembaringan. Hermanto memandang tubuh gadis yang di depannya. Alangkah mulusnya. Dan benda kenyal yang bergayut di d**a gadis itu masih sebesar buah mangga. Menjadikan Hermanto b*******h. Maka ja memeluk Dewi. Dewi mengeluh halus dan merapatkan dadanya sekeras-kerasnya ke badan lelaki itu. Hermanto langsung melumat bibir gadis itu dengan penuh gairah. Tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan mereka. Ciuman mereka terputus dan pelukannya merenggang. "Siapa?!" tegur Dewi lantang. "Nyonya, ada tamu," suara penjaga villa di luar. "Suruh tunggu." Dewi kembali memeluk Hermanto dan meneruskan ciumannya sampai sesaat kemudian ia berbisik. "Nanti lagi." "Iya." Tertatih-tatih Dewi mengenakan pakaiannya. Dan Hermanto pun bangun. Dia juga mengenakan pakaiannya. Mereka berhadapan saling mengancingkan baju sambil tersenyum. Binar-binar di mata Dewi masih membutuhkan kelanjutan bergumul di atas tempat tidur. "Aku keluar dulu, Mas." Hermanto mengangguk. Dewi membuka pintu kamar dan menjumpai Darto si penjaga villanya. Darto yang sedari tadi gelisah mendekat. "Ada tamu siapa, pak?" tanya Dewi. "Tu . . . tuan Sudrajat," sahut Darto gemetar. Dewi terkejut bercampur takut. "Suruh tunggu sebentar," kata Dewi gugup dan terus berlari masuk ke kamarnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Hermanto heran memandang perubahan sikap Dewi. "Ada apa Dewi?" "Cepat tinggalkan villa ini, Mas Her!" kata Dewi ketakutan. "Kenapa?" "Akan kujelaskan nanti. Cepatlah!" Namun terlambat. Seorang lelaki gemuk telah muncul di ambang pintu kamar itu. "Dewi, kau dengan lelaki siapa?!" teriak Sudrajat. Dewi tambah ketakutan, begitu pula Hermanto. Sudrajat menjadi geram dan langsung menghampiri lalu meremas kemeja Hermanto di bagian leher. Sebuah tinjunya melayang kencang ke muka Hermanto. "Jangan ayaah!" teriak Dewi. Hermanto jatuh terpelanting di lantai yang kemudian Dewi menolongnya. Membangunkan lelaki itu sembari melindunginya. "Jangan apa-apakan lagi mas Hermanto, Dia tidak bersalah!" pinta Dewi dengan segenap keberaniannya. "Kau berani sekali selingkuh dengan lelaki lain! Sejak kapan kau melakukannya heh?!" bentak Sudrajat geram. Dewi dan Hermanto sudah berdiri lagi. "Ayah tak perlu ikut campur urusan pribadiku." "Dewi, kau adalah anakku. Baik dan buruknya tetap membawa nama baikku. Dan kenyataan ini telah membuktikan jika mukaku telah kau coreng dengan arang. Bagaimana kalau Himawan sampai tahu perbuatanmu yang terkutuk ini?!" "Semua menjadi tanggung jawabku. Aku sudah tahu apa resikonya dari perbuatanku ini." "Kau sudah gila!" "Mungkin aku lebih gila apabila cuma menggantungkan nasibku dengan mas Himawan. Apakah ayah tahu jika selama pernikahanku dengan mas Himawan dapat memperoleh kebahagiaan?" Mendengar ucapan itu Hermanto jadi terkejut. Kini ia tahu bahwa Dewi berstatus istri Himawan. Maka perasaan bersalah dan dosa menyergap dalam dirinya. la melangkah mundur menjauhi Dewi. "Jadi kau kurang bahagia dengan hidupmu yang serba mewah itu?!" "Bukan itu masalahnya, Ayah. Tapi tanyakanlah kepada mas Himawan. Dia pasti akan menjawabnya dengan kenyataan yang dialami. Ayah baru mengetahui kehidupan rumah tangga kami selama ini. Dan ayah tidak akan menyalahkanku bahkan menyadarinya." "Jadi kau tetap beranggapan bahwa perbuatanmu ini benar?" "Tidak demikian, ayah. Tapi paling tidak ayah akan menyadarinya. Akan merasa kasihan terhadap nasib anaknya." "Baik. Tapi aku tidak ingin melihat tampang lelaki b***t itu! Suruh pergi dia dari sini secepatnya!" hardik Sudrajat. "Kalau dia pergi, aku pun akan ikut serta." "Dewi, aku ingin bicara empat mata denganmu," "Sebelum ayah mendapatkan penjelasan dari mas Himawan, tak ada gunanya kita mempersoalkan perbuatan ini." "Tidak." "Sekarang ayah datang kemari untuk apa?" "Berlibur bersama keluarga." "Di mana ibu dan adik-adik?" "Mereka sedang mampir ke toko untuk membeli roti dan buah-buahan. Sebentar lagi mereka akan datang. Pak sopir sedang menjemputnya." "Nah. .. berliburlah dengan tenang dan damai di sini. Aku pulang dulu." Dewi menyambar tasnya. Lalu menarik lengan Hermanto meninggalkan kamar itu. Hermanto menganggukkan kepala sebagai salam pamit, namun Sudrajat tak menghiraukannya. Setelah berlalunya Dewi dan Hermanto ruangan kamar itu menjadi hening dan sepi, sudrajat duduk di kursi dan pikiranya jadi kacau balau tak menentu, sungguh tak di sangka jika putri pertamanya telahselingkuh dengan lelaki lain yang bukan suaminya. TBC........! (Wah gimana perasaan Hermanto setelah tau wanita kesukaannya sudah memiliki suami ya sobat? Next jangan sampai ketinggalan lanjutan episode nya, pamit undur diri sobat..)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN