kacau balau tak jika putri pertamanya telah berbuat serong dengan lelaki lain yang bukan suaminya. Hermanto menunduk. Jidatnya berkerut menahan hantaman kenyataan yang tak pernah diduga sebelumnya. Dia hampir tak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Tapi kenyataan yang selama ini dialami bersama Dewi, telah membuahkan kenangan yang amat berkesan. Gadis itu telah direnggut keperawanannya. Tak pernah berbicara mengenai dirinya yang sudah mempunyai suami. Dan satu bukti yang konkrit yang musti dipercayainya sebagai kenyataan, bahwa di manapun seorang istri sudah kehilangan keperawanannya. Tapi Dewi masih utuh. Masih sebagaimana seorang gadis suci. Jadi apa sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan rumahnya?
"Kenapa kau tidak mau berterus terang sejak dulu. Dewi?'" keluh Hermanto dalam penyesalan.
Dewi yang sejak tadi duduk di atas rerumputan cuma diam memandang permukaan air telaga. la sedang termenung memikirkan nasibnya yang semakin terkucil di tempat terpencil. Hal itu di sadarinya setelah Hermanto mengetahui siapa dirinya. Pasti lelaki itu akan meninggalkannya, kesedihan dan kepedihan hatinya mulai menyayat dalam d**a.
"Karena aku takut kehilangan dirimu, tiga tahun aku hidup dalam siksaan batin, tiga tahun aku berusaha tetap menjadi seorang istri yang setia, patuh dan baik terhadap suami. Namun tuntutan kewanitaanku bergejolak. Aku tidak hanya cukup di beri segala kemewahan, hidup serba kecukupan, tapi jika nafkah batin tak pernah terpenuhi untuk apa, mas Her? Untuk apa semuanya yang kudapatlan selama ini, bagiku kemewahan itu terasa semu dan tak berarti," tutur Dewi dengan suara parau.
"Jadi kenapa dengan suamimu?"
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Dewi, perlahan air mata itu diusapnya sendiri dengan jari tangannya.
"Himawan seorang lelaki yang baik, seorang suami yang baik dan sabar, kami menikah sudah tiga tahun berselang. Namun sesuatu malapetaka menimpa kami pada saat selesai pesta perkawinan, waktu itu kami akan berangkat berbulan madu ke puncak di tengah jalan mobil yang kami tumpangi mengalami slide, ketika itu hujan turun dengan lebatnya di malam hari, sehingga mas Himawan berusaha mengendalikan kemudi. Namun malang mobil yang kami tumpangi menabrak pohon di tepi jalan," cerita Dewi terhenti sejenak.
"Lantas?" "Mas Himawan mengalami luka-luka parah. Kedua kakinya patah dan..." Dewi tak dapat melanjutkan pembicaraannya. Isak tangisnya semakin menjadi.
Hermanto memeluk Dewi. Membelai rambutnya penuh kasih sayang. la juga ingin turut menanggung segala beban penderitaan wanita itu. la juga telah merasakan segala kebahagiaan bersama gadis itu, baik kenikmatan, manisnya cumbu rayu dan hangatnya gairah napsu. Maka penderitaan, kepahitan dan kesengsaraan akan dirasakan bersama. la tidak akan mengelak.
"Lanjutkan Dewi . . . jangan menangis," desak Hermanto lembut.
"Suamiku...suamiku... impoten!" tangis Dewi meledak lagi
"Ohh. . ." desah Hermanto merasa kasihan pada Dewi. Juga kasihan pada nasib yang alami Himawan.
"Itulah sebabnya aku tak mau bercerita padamu secara terus terang. Aku takut kehilangan dirimu, mas Her. Padahal aku sangat mencintaimu. Dan apa yang kurasakan dalam hidupku, cuma kaulah lelaki yang mampu menggoyahkan hatiku. Cintaku seperti cintamu. Cinta kita pertama."
"Lalu perkawinanmu dengan Himawan tanpa cinta?" Dewi mengangguk.
"Ayahku yang menjodohkan. Karena dia sejak dulu silau dengan harta kekayaan dan kedudukan. Demi baktiku terhadap kedua orang tua, maka kuturuti saja kemauan mereka. Namun cinta tak pernah tumbuh dalam hatiku. Tapi entah mengapa sejak pertama kali berjumpa denganmu, aku jatuh cinta. Dalam diriku cuma kaulah segalanya. Sekian banyak lelaki tak ada satu pun yang mampu menggoyahkan hatiku."
Hermanto memeluk Dewi erat-erat. la semakin bertambah yakin dan mantap jika Dewi pilihannya yang paling tepat.
la akan terus menjaga dan melindungi wanita itu agar dapat memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang diharapkan sebagaimana layaknya hidup berumah tangga. Baik kebutuhan nafkah lahir dan batin.
"Sekarang kau harus bisa menyelesaikan dengan Himawan secara baik-baik. Dia juga perlu kita kasihani sebagai manusia invalid. Jangan sampai menyakiti hatinya dan berbicaralah terus terang," kata Hermanto menasehati.
"Kalau mas Himawan mengusirku dari rumah dan aku tak punya apa-apa lagi bagaimana? Apakah mas Hermanto tetap mencintaiku?" tanya Dewi bimbang.
"Sejak dulu pernah kukatakan, bahwa aku mencintaimu bukan semata-mata karena harta dan kedudukanmu. Tapi ujud dirimu juga sifatmu. Jadi sekalipun kau tidak punya apa-apa, cintaku tak pernah berubah. Kitą akan arungi hidup bersama sekalipun miskin."
Dewi memeluk Hermanto dengan perasaan girang dan bahagia. Ternyata lelaki yang dicintainya itu bukan hanya mempermainkan. Tidak akan berlari dari kenyataan.
"Aku... aku... bahagia, mas," ucap Dewi yang berlinangan air mata namun bibirnya tersungging senyuman.
Jarot tersenyum-senyum memandang Hermanto yang nampak letih berjalan masuk ke rumah. Dan Jarot tahu bahwa Hermanto baru saja pulang di antar oleh Dewi. Pasti dari hari Sabtu pulang kantor terus pergi bersama. Cuma entah ke mana Jarbt tak dapat menebak dengan pasti.
"Jangan terlalu diforsir pacarannya, nanti gampang kena penyakit rematik!" ledek Jarot.
Hermanto tertawa kecil. la merangkul bahu sahabatnya itu dan berjalan masuk ke kamarnya. Di kamar Hermanto langsung merebahkan diri di tempat tidur. Berbaring beberapa saat bisa mengurangi keletihannya.
"Kau memang jempolan kalau pilih pacar," kata Jarot sambil mengacungkan jempolnya.
"Memangnya kenapa?"
Hermanto mengeluarkan rokok dari kantong dan dilemparkan ke meja. Jarot langsung mengambilnya sebatang.
"Siska dan Mira putus. Dewi memang cantik, anggun dan mempesona. Lagi pula dia lebih kaya raya."
"Harta tidak membuatku silau. Dan orang kaya raya dapat menjadi miskin dalam waktu relatif singkat. Yang penting saling mencintai dan setia."
"Kau tahu siapa sebenarnya Dewi?"
"Dan kau sendiri tahu?" Hermanto balas bertanya.
Jarot tersenyum. Sényumnya bermakna mencemooh dan mengejek Hermanto. Maka perasaan Hermanto jadi merasakan ada sesuatu yang ganjil.
"Kau menertawakan aku ya?"
"Pilihanmu memang sangat tepat," Jarot tertawa.
"Woi... kau sinting ya?"
"Cinta memang sering membuat orang bersalah. Karena terlalu mengagungkan cinta, akhirnya terjerat cinta itu sendiri pada pilihan yang tidak tepat."
"Bicaramu ngawur!"
"Kau merasa bahwa Dewi Ratnasari itu pilihanmu yang tepat?"
"Kenapa kau tanyakan itu. Soal pilihan tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu."
Jarot menarik napas berat. la bagaikan ikut menanggung beban yang bakal dialami Hermanto.
"Itu benar, Her. Tapi sudahkah kau tahu bahwa Dewi itu sudah bersuami?"
Hermanto terkejut dan bangun dari tempat tidurnya bagaikan disengat kalajengking.
"Dari mana kau tahu?!"
"Bibi pembantu rumah kita. Dia kalau pergi ke pasar sering bersama dengan pembantu rumahnya Dewi. Dan dia tahu persis kehidupan rumah tangganya."
Hermanto menarik napas panjang sepenuh d**a. Lalu duduk lesu di atas tempat tidur.
"Itu memang benar," gumam Hermanto.
"Kalau begitu kau merusak pagar ayu."
Hermanto bungkam tertunduk.
"Jangan teruskan hubunganmu dengannya, Her. Aku tak ingin melihatmu mengalami hal yang tidak diinginkan. Resikonya mencintai dan bermain serong dengan istri orang sangat berat. Memalukan. Apakah di dunia ini tak ada wanita lainnya? Besarnya cintamu apakah tak dapat dileburkan oleh kesadaran?"
"Aku tahu itu. Aku tahu itu!" sahut Hermanto kesal.
"Jadi kalau kau sudah tahu itu berbahaya dan tercela, kenapa tak kau hindarkan?"
"Aku telah mencintainya. Kami tak mau dipisahkan oleh siapapun juga."
"Sumpah setia yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan tak tahu diri! Sadarlah, Her. Cita-citamu yang setinggi bintang akan pudar karena perbuatanmu yang bodoh ini. Masih ingatkah ucapanmu dulu, bahwa sebelum tercapai cita-citamu tak mau jatuh cinta dulu. Kau berhasil menghindari gadis-gadis yang mengejarmu. Kau berjanji akan membahagiakan ibumu yang sudah menjanda. Tapi kau sudah lupa pada semangatmu itu. Kau telah tergoda oleh kecantikan dan kekayaan yang akan menyesatkanmu."
"Sudah! Sudah!" kata Hermanto bersikeras tidak mau menerima nasehat temannya.
"Baik kalau kau tidak mau menerima nasehatku. Cuma segala sesuatunya akan berakibat buruk."
Jarot segera meninggalkan kamar itu. Sedangkan Hermanto termenung sambil memijit-mijit pelipisnya. Mendadak kepalanya diserang pusing. Kebimbangan yang berada di dalam keraguan menyergap-nyergap dadanya. la sendiri akhirnya tak bisa berpikir panjang. Pikirannya kalut. Tekadnya untuk hidup bersama dengan Dewi mulai bimbang, sebab nasehat Jarot masih terngiang-ngiang di telinganya.
TBC..........!
(Bersambung dulu besok lagi ya sobat... pamit undur)