Kondisiku semakin hari semakin membaik. Ba’da dhuhur, aku memberanikan diri untuk keluar dari Dalwa. Rencananya aku akan membeli beberapa bahan-bahan masakan, beberapa cemilan, dan makanan lain untuk bisa kusimpan dan jika sewaktu-waktu aku lapar aku bisa memakannya. Yek Ali telah berjanji akan menjemput ku setelah ini. Jam satu siang. Udara yang ada di luar cukup panas. Tidak sepanas kemarin-kemarin, karena gulungan mendung berada di atas kami saat ini. Meski demikian tidak ada hal yang dapat menghalangi langkahku, ketika semuanya sudah kami rencanakan dengan baik. Kecuali Allah. “Lima menit lagi sampai,” kata Yek Ali yang seperti terburu-buru dengan ucapannya. Aku yakin jika dirinya menyetir dengan mengangkat telepon, sehingga suara angin yang bertubrukan itu mendominasi suara yang ada

