Keadaan menjadi awkward. Yek Ali hanya mengucapkan kata-kata pentingnya saja. “Ponselmu sudah bisa?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng, “Aku malah ndak pegang ponsel sama sekali Yek, kepala Syafa benar-benar pusing,” ujar ku kepadanya kemudian. Yek Ali hanya geleng-geleng kepala. Salah satu tangannya kemudian mengambil sesuatu dari sakunya. “Minta doa ke Umi sama Abi mu. Kasih tahu keadaanmu yang sesungguhnya. Biasanya akan sembuh setelah itu,” katanya dengan menyodorkan ponsel yang salah satu bagiannya diberi karet. Aku selalu terkagum dengan apa yang dilakukan olehnya. Dia selalu sederhana dalam segala hal. Meski warisan di tanah Jawa untuk membeli ponsel dengan harta berpuluh-puluh juta juga bisa. “Matur nuwun ya Yek,” Aku mengambil ponsel itu. ponsel yang warnanya sudah pudar. Be

