Semakin hari lidya semakin curiga dengan kelakuan bram yang suka berbalas chat dan saat berbicara di telp pun selalu menggunakan kata SAYANG hingga lidya memutuskan untuk mencari tahu siapa yang sudah merebut kasih sayang bram kepada nya, “jeng dimana” pesan dari intan teman sosialitanya “sebentar lagi saya ke sana ya jeng” lidya begegas menaiki mobil nya dan di antar supir ke sebuah mall milik keluarga nya “baik jeng cepat ya ada sesuatu yang mau saya kasih lihat” lidya pun hanya membaca nya tanpa membalas “ah paling pamer berlian lagi” lidya bicara sendiri sambil tersenyum karena intan merupakan putri pengusaha berlian ternama di Jakarta sehingga bila ada model baru pasti pamer ke lidya.
Perjalanan dari rumah sampai mall milik wijaya grup kurang lebih 1 jam dan saat lidya berjalan ke restoran tempat nya bertemu dengan intan tiba tiba “maaf tante saya tidak sengaja” kata niken saat menabrak lidya “oooo i—i—iya nak” jawab lidya terbata bata “lah kok mirip niko ya ini anak” kata lidya dalam hati, “permisi tante saya sudah di tunggu opa saya, sekali lagi maaf tante tidak sengaja” niken menundukan kepala nya, lidya hanya melihat niken pergi dan masuk ke toko buku.
“hai jeng sini” intan melambaikan tangan nya, dan di balas lambaian tangan oleh lidya “macet ya kok lama” Tanya intan sambil mengeluarkan kotak berlian nya “iya jeng hari ini macet dan panas banget” lidya tersenyum dan membuka kotak biru di depan nya, “wah bagus ya” kata lidya melihat kalung berlian tersebut, “jeng itu suami nya tumben ke mall lagi sidak tah” intan menunjuk bram yang berjalan keluar dari toko buku dan membawa plastik belanjaan yang banyak, “mana jeng” lidya penasaran mencari bram “itu loh di depan toko buku belanjaan nya banyak pula” intan menunjukan bram yang masih berdiri di depan toko buku. “mungkin buat niko jeng buku nya” kata lidya cuek dan focus ke kalung yang dipegang nya, “oooo belanja sama siapa itu jeng cucu yak ok engga bilang sech niko sudah menikah dan punya anak” kata intan saat melihat niken memeluk bram, lidya langsung melihat kearah yang intan bicarakan tetapi bram sudah pergi meninggalkan toko buku.
Dalam hati lidya sudah banyak pertanyaan yang akan di tanyakan ke bram anak siapa yang di ajak ke toko buku, apa dari selingkuhan nya, sesampai di rumah bram pun sudah ada di rumah sambil memakan buah di ruang tengah, “mas” lidya memanggil bram yang sedang asik nonton tv sambil makan buah “hmmmm” jawab bram karena masih marah ke lidya, “tadi saya liat ke toko buku beli apa” Tanya lidya hati hati “beli buku lah masa beli ikan” bram tetap focus ke acara yang di tonton nya, “buku nya mana tadi banyak banget kok engga ada di rumah” lidya duduk di samping bram sambil melihat sekeliling ruang tengah tanpa ada plastik belanjaan “sudah di bawa yang punya” bram berdiri dan pergi “mas siapa yang punya buku nya, jangan jangan mas selingkuh ya” terik lidya dengan suara serak ingin menangis. Bram diam dan hanya tersenyum melihat lidya sehingga membuat lidya semakin kesal.
Di asrama niken senang sekali koleksi buku nya bertambah 20 buku “wah ken opa nya tajir ya ini buku 1 nya ada yang harga 200ribu, yang ini 430ribu” ayu geleng geleng kepala melihat niken mengeluarkan buku yang ia beli, “hahaha saya aja engga tau loh yu kerjaan opa itu apa tapi kata opa apa pun yang niken mau kalau opa bisa pasti opa kasih” niken menata buku nya, ayu hanya tersenyum dan meminjam 1 buku niken “kok hobby banget sech ken baca buku ginian pusing tau” ayu melihat isi buku yang di pegang nya “engga tau juga yu suka aja bacanya” niken tersenyum.
“om ini kontrak yang niken sudah buat di cek ulang ya terima kasih” niken mengirim email ke rian, “terima kasih keponakan om yang cantik” balas rian sambil mencetak kontrak yang niken buat, “malam pak, boleh saya masuk” kata heru di depan pintu kantor niko “pak heru silahkan, saya sudah menunggu apa kabar baik yang mau bapak sampaikan” niko tersenyum melihat heru, heru adalah salah satu bawahan niko yang di tugaskan untuk menyelidiki tentang dewi waktu niko di London “maaf pak bila saya selalu memberi kabar tidak baik” kata heru sambil duduk di depan niko,sedangkan rian masih sibuk mencetak data yang di beri niken “info yang saya mau berikan tentang ibu dewi pak” niko terdiam dan focus mendengarkan “ibu dewi pernah di data sebagai pasien yang mengalami gangguan jiwa,tetapi ibu dewi hanya menjalani terapi 1kali karena kondisi yang tidak memungkinkan ikut terapi” jelas heru “maksud nya keadaan tidak memungkinkan itu apa” niko mengambil kertas yang diserahkan oleh heru dan membaca nya “ibu dewi hamil pak saat itu” heru mengecilkan suara nya “ko berarti pas kita di London dewi uda hamil” rian duduk di samping niko dan menepuk punggung nya menyadarkan niko “ian beneran nech gua uda jadi ayah” Tanya niko ke rian sambil memberikan berkas yang di tangan nya “sekarang pak heru tahu di mana dewi tinggal” Tanya niko penasaran “maaf pak pihak rumah sakit saat itu memberikan alamat rumah lama dan para tetangga pun tidak ada yang tahu di mana nia dan dewi tinggal” heru menjawab sambil menundukan kepala karena tidak dapat menemukan tempat tinggal dewi.
Di panti dewi sudah memberitahu nia kalau bertemu dengan bram dan meminta bram untuk menjaga niken saat di Jakarta, “bagus lah wi kalau niken ketemu opa nya” nia tersenyum melihat dewi “kalau niko masih ada pasti dia senang karena niken memiliki kepintaran dan wajah yang sama dengan niko” dewi pun meneteskan air mata nya “tuh kan nagis lagi, bagaimana hari jumat kita ke asrama dan jumat kan libur jadi kita bisa nginap di hotel 1 malam ajak niken” nia mengusulkan dan dewi pun setuju.
Sedangkan lidya diam diam mengambil gawai bram dan ingin mengecek sebenarnya siapa yang selalu di panggil sayang “sejak kapan sech ini ponsel di kunci” lidya berfikir kira kira berapa kunci ponsel nya, di masukan tanggal lahir niko,diri nya serta bram pun salah bahkan sampai ponsel nya tidak bisa di buka karena 5 kali kesalahan. “ahhhh siapa sech itu orang” lidya kesal sekali, bram yang tertidur pun melirik lidya yang kesal dan rasanya ingin tertawa lepas melihat lucu nya mimic muka lidya, “maaf ya sayang biar kamu melepaskan ego mu dulu baru nanti di beritahu tentang cucu mu yang cantik” kata bram dalam hati dan melanjutkan tidur nya.