Chef Bono

1205 Kata
“Chef Bono, tolong jawab saya dengan jujur," sergah Eliza sesampainya di dapur kafe. Dia menjumpai Chef Bono sedang duduk istirahat sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan topi chefnya. “Kenapa kamu baru kembali?” Chef Bono balik bertanya. Padahal tadi sebelum Eliza pergi, dia sudah berpesan agar asistennya itu segera kembali setelah melaksanakan tugasnya. Kenyataannya, hampir dua jam Eliza baru muncul di hadapannya. “Saya habis makan siang dengan Pak Bos,” jawab Eliza spontan. Chef Bono melebarkan matanya, merespon ucapan Eliza. “Apa?” “Saya rasa ucapan saya jelas Chef,” ucap Eliza. Dia menunduk, menatap ke arah sepatunya yang sedikit kotor. “Jadi kamu sudah bertemu Bos baru?” “Ya.” Eliza menunjukkan wajah polos tidak bersalah. “Jujur, sebelum kamu ke rumahnya tadi, aku ingin berterus terang, menyampaikan padamu bahwa semua makanan yang kita buat itu atas permintaan Pak Bos.” Chef Bono memandang Eliza dengan sorot mata sayu. “Kenapa Chef tidak bilang?” “Aku tidak mungkin bilang karena Raefal belum pernah datang kesini.” “Raefal? Chef Bono sudah kenal dia?” tanya Eliza sedikit gusar. “Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu teman anakku waktu kuliah,” jawab Chef Bono dengan nada sedikit bangga. “Meski demikian, seharusnya tadi saya diberitahu biar tidak kaget.” “Oke. Oh ya, berhubung tadi kamu sudah bekerja keras di luar, sisa hari ini aku akan membebaskanmu dari pekerjaan,” beritahu Chef Bono. “Itu sebagai tanda permintaan maaf dariku.” “Benarkah?” tanya Eliza kurang percaya. “Kenapa aku harus bohong? Tidak ada untungnya untukku. Eits...Jangan senang dulu! Bebas bukan berarti boleh pulang lebih awal.” “Siap Chef!” ucap Eliza lantang sembari memberikan tanda hormat pada Chef Bono. Dia tersenyum nyengir, merasa senang, hatinya membuncah bahagia. Kapan lagi dia dapat pengurangan jam kerja? Eliza berlari meninggalkan dapur menuju atap kafe. Kali ini dia akan tidur-tiduran sebentar di ayunan, meluruskan punggung dan kakinya yang terasa pegal. Selagi ada waktu kenapa tidak dia manfaatkan. Pada akhirnya Eliza bukannya tidur-tiduran, tapi benar-benar tidur dengan pulas seperti bayi yang terlelap. Tidak terusik oleh keadaan sekitar yang ramai. *** “Oh, jam berapa sekarang?” Eliza terbangun dari tidurnya, melihat jam tangannya. Ternyata sudah jam 4 sore. Berapa lama dia tertidur disini? Satu jam? Dua jam? Atau lebih? Eliza menjambak rambutnya karena kesal. Bukannya tadi dia berniat tidur hanya untuk sebentar? Tidak selama itu. “Memangnya tidak sakit apa rambutmu kamu tarik seperti itu?” tanya Alena dari tempatnya berdiri, di pinggir pagar pembatas atap kafe. “Sakit sedikit.” Eliza menyengir lalu berdiri mendekati Alena. “Aku baru tersadar ternyata tidurku cukup lama” ucap Gya sambil mengedarkan pandangan ke arah jalan raya. Udara yang berhembus tadi siang sangat sejuk, membuainya dalam kedamaian. Ini adalah pengalaman pertamanya setelah sekian lama bekerja di Sharfaraz Cafe. Tidur siang selama beberapa jam membuat tenaganya segar kembali. Dia meregangkan kedua tangannya ke atas kepala. “Kamu tidur nyenyak sekali. Aku berusaha membangunkanmu sejak tadi, kamu masih bergelut dengan alam mimpi, seperti orang yang pingsan,” Alena merapikan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan rambutnya yang terkena terpaan angin sore. “Mungkin karena aku kelelahan. Memasak, lanjut mengantarkan ke rumah si pemesan. Jeda sebentar selama makan siang di sana.” “Disana? Kamu habis dari mana? Aku mencarimu sampai kelelahan tapi dirimu tidak kelihatan.” “Dari rumah Pak Bos,” jawab Eliza datar tanpa ekspresi. Dia tidak melanjutkan ceritanya lagi. Eliza kembali ke tempat ayunan, mengayun-ayunkan tubuhnya pelan. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Saat dia masih tinggal di panti asuhan. Sebuah ayunan yang menjadi rebutan anak-anak panti menjadi hiburan tersendiri di kala sendirian. Sebagai anak yang pendiam dan sebisa mungkin menghindari pertikaian, Eliza berusaha meredam keinginannya untuk ikut bermain dengan yang lain. Duduk mengasingkan diri di pojok aula sambil membaca buku cerita, yang anehnya tetap dia baca meskipun sudah mengkhatamkan berkali-kali cerita dalam buku tersebut. Eliza akan menunggu sampai malam, saat teman-temannya masuk ke dalam kamar masing-masing. Dia akan menyelinap diam-diam, menerobos kegelapan malam menuju taman tempat beberapa alat permainan berada. Pilihannya tentu tertuju pada satu-satunya ayunan yang besinya sedikit berkarat itu. Bila dia mengayunkan tubuhnya, maka akan terdengar suara kriek...kriek. Ah, berisik sekali. Tapi suara itulah yang menemaninya dan menjadi saksi bisu atas semua air mata yang tumpah di pipinya. Air mata yang keluar karena dirinya merasa tidak punya siapa-siapa, diasingkan di tempat yang tidak dikenalnya. Alena duduk di bangku kayu di bawah pohon jambu. Ikut membisu, dan setia menunggu. Dia tidak ingin terkesan terlalu ingin tahu. Biarlah nanti Eliza bercerita sesuai kehendak hatinya. “Aku mau melanjutkan cerita tadi pagi yang sempat tertunda,” ucap Eliza antusias. Dia menjejakkan kakinya di atap, membuat ayunan seketika berhenti. Kalimat yang baru saja Eliza ucapkan sedikit membuat Alena merasa heran. Beberapa saat yang lalu raut wajah Eliza terlihat sangat datar. Tapi sekarang, wajah Eliza tampak lebih ceria. Perubahan emosi Eliza terjadi cepat sekali. Alena merasa sedikit bingung bagaimana cara menanggapinya. Alena merasa Eliza sulit untuk ditebak. Padahal mereka telah berteman selama dua tahun ini. Alena seperti tidak tahu apa-apa tentang Eliza. “Oke. Pak Bos baru, seperti apa orangnya?” Eliza menengadahkan kepalanya ke atas. “Dia tinggi besar. Usianya jauh lebih muda dibandingkan dengan Pak Adrian. Mungkin sekitar awal tiga puluh tahun.” Eliza sengaja tidak bilang kata “tampan” saat menggambarkan ciri fisik Raefal. “Seorang bos berusia muda, biasanya dia cenderung berapi-api, cara bicaranya ceplas-ceplos,” ucap Alena menduga-diuga “Tidak seperti itu. Kesan yang aku terima...Dia sedikit sombong dan sok berkuasa.” Eliza menambahi. “Dia tinggal di sebuah apartemen mewah.” “Benarkah itu?” Alena membelalak kaget. “Kamu tahu? Ternyata Chef Bono mengenal dia selama ini. Dia teman kuliah anak Chef Bono,” Eliza menambahkan. Tentang rahasia ini, sebenarnya Eliza masih merasa sedikit kesal kepada seniornya. Seharusnya Chef Bono memberitahunya biar dia tidak bertingkah bodoh di hadapan atasan barunya. Entah kesan apa yang dia tinggalkan tadi. Sejatinya dia sungguh merasa malu. Dia tidak tahu apakah besok masih sanggup bertemu dengannya. “Sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk bertemu dia. Dia tidak mungkin bersikap layaknya Pak Adrian yang penuh kasih sayang kepada karyawan, adil dan bijaksana.” Alena menatap Eliza, ingin tahu apakah temannya itu memiliki pemikiran yang sama dengannya. Bila dipikir-pikir, seharusnya Alena mengerti bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Demikian pula seorang pemimpin. Dia juga seperti manusia pada umumnya, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tergantung bagaimana kita, sebagai seorang karyawan, melihatnya. Batin Eliza dalam hati. “Aku akan turun ke bawah dulu, ingin membantu Chef Bono mempersiapkan hidangan makan malam.” Walaupun Chef Bono telah membebaskan dia dari tugasnya, Eliza merasa tidak enak hati. Kasihan bila seniornya harus mengerjakan pekerjaan sendirian. Apalagi biasanya saat makan malam, pelanggan banyak yang datang. Eliza khawatir Chef Bono kewalahan. Setelah istirahat selama beberapa jam, tenaga Eliza telah pulih kembali. Dia berjalan cepat melalui tangga lalu langsung menuju dapur. Alena mengikutinya dari belakang. Dia juga harus bersiap-siap menyambut pelanggan. “Kamu tidak harus berada di sini,” sergah Chef Bono saat mengetahui Eliza memakai seragam chefnya dan berada di dapur. “Tidak apa-apa Chef. Habis istirahat, tidur yang nyenyak, saya siap membantu Chef sekarang.” Eliza meyakinkan Chef Bono. Chef Bono tidak berkata lagi, membiarkan Eliza tetap berada di dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN