"Selesai." Tiba-tiba Chef Bono bersuara.
"Jangan terburu-buru! Selesaikan masakanmu, sementara itu aku akan menyiapkan wadah untuk ini semua." Chef Bono membuka lemari dapur, mengambil dua rantang stainless dengan tiga tingkat di masing-masing rantang. Dia menatanya di atas meja.
Satu jam berselang, semua masakan telah tertata rapi di dalam rantang. Eliza merasa lega karena berhasil menyelesaikan ujian hari ini. Ujian? Ini bukan kuliah? Ah, anggap saja ini seperti ujian.
"Akhirnya selesai juga." Chef Bono tersenyum lebar sambil mengusap salah satu rantang. "Eliza, jangan senang dulu! Tugasmu belum berakhir."
Eliza melebarkan matanya. Kali ini apa? Dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dapur, kakinya terasa lemah tidak berdaya untuk berdiri.
"Cepat ganti baju, kamu harus mengantar ini ke sana."
"Kenapa saya Chef? Pegawai yang lain ya?" tanya Eliza agak memelas. Wajahnya menengadah ke atas, sorot matanya sayu saat menatap Chef Bono.
"Hanya kamu yang bisa. Kafe sebentar lagi buka, semua karyawan lain pasti sibuk," ucap Chef Bono memaksa.
Akhirnya Eliza menyerah. Dengan terpaksa, dia menerima perintah Chef Bono. Dia berjalan gontai memasuki ruang loker, meraih bajunya.
"Hei," tegur Alena. "Kenapa lemes? Perutmu sakit?"
Eliza menggeleng lemah. "Perutku baik-baik saja. Setelah memasak secara maraton, aku masih mempunyai tugas mengantar semua itu ke suatu tempat," ucap Eliza agak kesal.
"Semangat! Anggap saja ini selingan buat kamu. Menyegarkan mata dengan melihat keadaan luar," ucap Alena menasehati.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ucapan Alena ada benarnya. Dia bisa melakukan dua hal dalam sekali jalan, mengantar makanan sekaligus memanjakan penglihatannya dengan pemandangan luar kafe.
Kapan lagi dia mendapat kesempatan seperti ini? Selama ini dia hanya berkutat di dapur. Saat mendapat jatah libur, dia pun jarang pergi ke luar. Menurutnya hari libur adalah waktunya untuk beristirahat.
"Oke. Idemu boleh juga," balas Eliza setuju dengan pendapat Alena.
Sebelum pergi, Chef Bono memberikan secarik kertas berisi alamat yang dituju. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar tiga kilometer dari sini, Eliza memutuskan naik sepeda untuk mencapai tempat itu. Dia meletakkan dua rantang makanan di dalam keranjang sepeda.
"Segera kembali setelah kamu sampai di sana," pesan Chef Bono.
"Baik, Chef," balas Eliza lalu mengayuh sepedanya pelan-pelan.
Eliza menyusuri jalanan dengan bersenandung lirih. Semakin dekat, dia menambah kecepatan laju sepeda. Roda-roda sepedanya berputar kencang membawanya melesat ke tempat tujuan.
Sebuah gedung apartemen mulai terlihat. Eliza membelokkan sepedanya, masuk ke area parkir. Setelah menyandarkan sepeda, dia menemukan lift dan masuk ke dalamnya. Lift itu berjalan naik ke lantai 10.
Ting. Pintu lift terbuka. Eliza mempercepat langkahnya, mencari nomor apartemen yang tertera di kertas. Tidak lama kemudian dia menemukan tempat itu.
Eliza memencet bel beberapa kali. Selama menunggu pintu dibuka, dia menggerakkan-gerakkan kakinya karena merasa gugup. Alangkah baiknya bila urusan ini cepat selesai dengan begitu dia bisa segera kembali ke Sharfaraz Cafe, pikirnya.
Seorang wanita paruh baya yang berpakaian sederhana dengan sebuah celemek yang menempel di bagian depan tubuh gemuknya membuka pintu apartemen seraya meminta maaf, "Maaf lama menunggu. Silakan masuk."
Eliza mengangguk, mengikuti dari belakang. "Ini pesanan makanannya," ucap Eliza lalu menyodorkan dua rantang yang ditentengnya.
"Kamu bisa menunggu di ruang tamu. Saya akan menyiapkan ini di meja makan." Wanita itu menghilang di balik dinding pemisah ruangan.
Eliza masih berdiri, meskipun sofa yang tersedia sangat menggoda untuk diduduki. Alih-alih duduk, dia tergoda untuk melihat-lihat keadaan di ruang tamu itu.
Eliza berjalan mendekati rak dinding minimalis yang di atasnya diletakkan beberapa pigura foto.
Foto pertama menampilkan seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berlatar belakang salju putih yang menghampar luas di tengah-tengah pepohonan yang menghijau. Bocah itu tersenyum lebar sambil membuat orang-orangan salju.
Eliza sangat mengagumi hasil jepretan foto itu. Sedikit lancang, tangannya mengelus pelan foto itu, seakan ikut merasakan hal yang sama dengan perasaan si bocah.
Eliza beralih ke foto kedua, matanya membulat saat melihat sosok dalam foto tersebut. Tangannya kanannya secara spontan menyentuh bibirnya. "Oh..." lirihnya pelan.
"Kenapa? Terkejut melihat diriku?"
Sebuah suara yang tidak asing terdengar di belakang Eliza. Dia memutar tubuhnya, menghadap ke pemilik suara itu.
Eliza mendongak dan tatapan mereka berserobok. Tatapan Eliza tertuju pada calon bos barunya yang sedang berdiri angkuh.
Raefal memandangnya tajam, tatapan penuh perhitungan, seolah sedang menilai Eliza.
Tubuh Eliza membeku, diam terpaku, dan bibirnya membisu. Seandainya ada jalan keluar di dekatnya, rasanya dia ingin kabur dari ruangan sempit ini yang membuat sesak dadanya.
Tangan terkepal di sisi tubuh, Eliza tidak tahu berapa lama dia harus berdiri di sini. “Sepertinya saya salah tempat,” kilah Eliza mencoba untuk pergi.
“Tidak usah berpura-pura,”ucap Raefal santai. “Duduklah selagi Bi Imah menata meja.” Dia mendaratkan tubuhnya di sofa yang empuk.
Eliza tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun menurut, ikut duduk di sisi lain sofa. Meskipun jarak mereka tidak terlalu jauh, Eliza merasa lega. Raefal tidak perlu melihat kegugupannya yang diakibatkan oleh kehadiran Raefal di ruang tamu apartemennya.
“Jadi kamu bekerja di Sharfaraz Cafe sebagai pengantar makanan?”
Eliza menelan geraman yang hendak mencuat keluar dari kedalaman jiwanya. Beginilah nasibnya, sekarang dia turun kasta, rutuk Eliza dalam hati. Baiklah, dia akan mengikuti permainan si bos.
Eliza tidak langsung menjawab. Biarlah dianggap kurang sopan.
“Bekerja sebagai pengantar makanan pasti berat dan melelahkan.”
“Iya,” ucap Eliza..
“Mungkin nanti aku bisa mempertimbangkan posisimu. Tidak selamanya ‘kan kamu ingin berada di posisi sekarang?”
“Benar, Pak.. Apalagi saya naik sepeda ke sini.”
Raefal tampak terkejut mendengar pengakuan Eliza barusan. “Apa tidak ada fasilitas lain selain sepeda?”
Eliza menggeleng.
Raefal hendak melanjutkan obrolan ketika Bi Imah datang menyela.
“Makanan sudah siap, Tuan.”
“Saya akan kembali ke kafe kalau begitu,” ucap Elizaa lalu beranjak berdiri.
“Siapa yang mengijinkan mu pergi?” sergah Raefal, menahan Eliza tetap tinggal.
Nyali Eliza seketika menciut. Mau tidak mau dia akhirnya mengikuti Raefal ke ruang makan. Bosnya itu telah duduk di ujung meja, menunggunya dalam ketenangan yang menghanyutkan.
Eliza menarik sebuah kursi lalu duduk dengan anteng, menunggu.
“Apakah semua makanan ini selalu dihidangkan di saat jam makan siang?” tanya Raefal basa-basi. Sebagai pemecah kesunyian yang menguar di ruang makan ini.
Raefal benci suasana sepi dan dampak yang ditimbulkan padanya. Dari dulu dia terbiasa dengan keramaian, berkumpul bersama teman-teman, mengobrol atau sekedar minum kopi bersama.
“Tidak semuanya,” jawab Eliza. Dia menelan ludah sebelum melanjutkan. “Beberapa makanan ini masuk dalam daftar menu wajib harian. Selebihnya hanya sebagai menu pilihan yang berganti setiap hari.”
Eliza memberanikan diri menatap Raefal, menunggu respon balik dari bosnya itu. Dari caranya diam, dia tahu Raefal tengah menilai dirinya.
“Aku akan mencicipi ini,” ucap Raefal kemudian. Dia menyendok sambal cumi cabai hijau ke atas nasi yang masih mengepul uap panasnya. Potongan cumi dalam ukuran cukup besar dibalur dengan sambal cabai hijau membuat siapapun yang melihatnya tergugah selera makannya.
“Itu adalah salah satu menu best seller dari Sharfaraz Cafe.” Tanpa dimintai pendapatnya, Eliza memberanikan diri berkomentar. Dari pengamatannya selama ini, banyak pelanggan yang termasuk pecinta makanan pedas sering memesan sambal ini.
“Tekstur cuminya lembut. Sambalnya lumayan pedas di lidah. Terus terang aku nggak punya nyali untuk melahap ini sampai habis,” ucap Ken kepedesan. Dia meraih gelas yang berisi air putih, meneguknya hingga tersisa setengah gelas.
“Kamu bisa mencoba tumis buncis wortel jagung dan udang ini. Masakan ini bisa sedikit menetralisir rasa pedas dari sambal itu.’” Eliza menyorongkan piring yang berisi tumisan aneka sayur itu. “Atau, yang ini, sup ayam kampung,” saran Eliza sambil menunjuk mangkuk berisi sup ayam.
Raefal tidak menanggapi saran Elizaa. Dia meletakkan sendoknya di atas piring, matanya mengunci Eliza. Dalam benaknya dia berpikir, siapa sebenarnya gadis di depannya ini.
Eliza tidak melanjutkan penjelasannya, merasa tidak nyaman dengan tatapan Raefal yang menusuk. Bosnya itu memang tampan, tapi sorot matanya yang tajam mampu mengusir musuh mundur dari hadapannya. Dia menunduk, menghindar dari intimidasi Raefal.
“Sebenarnya kamu siapa? Tidak mungkin seorang pengantar makanan mampu menguasai detail makanan yang ada di Sharfaraz Cafe.”
“Saya...”
“Jangan bicara formal denganku!” gertak Raefal kesal.
“Oke. Bukankah kamu sendiri yang berasumsi demikian dari awal? Aku hanya mengikuti asumsimu karena tidak mau berdebat lebih panjang,” balas Eliza tidak kalah sengit. Mentang-mentang dia bos, berbuat seenaknya, gerutu Eliza dalam hati.
“Aku minta maaf, aku mengaku salah. Oke?” Raefal mengangkat kedua tangannya, dia melembutkan sorot matanya, tidak lagi terlihat menyeramkan seperti sebelumnya.
Eliza tersenyum geli. Lucu. “Aku asisten koki di Sharfaraz Cafe. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku bertugas sebagai pengantar makanan. Dan semua itu gara-gara dirimu.” Eliza tidak bermaksud menumpahkan kekesalannya dengan cara begitu.
“Hmmm...Pantas saja.” Raei menuang sup ayam kampung ke dalam mangkuk kecil, mencicipi sesendok. Tekstur kuah sup ini ringan, kaldunya bening dengan aroma bawang putih dan merica yang kuat. Daging ayamnya empuk, tidak butuh waktu lama untuk mengunyahnya. “Apa maksudmu saat bilang gara-gara aku, kamu jadi pengantar makanan?”
Eliza menaruh nasi secentong ke atas piring. “Selama ini Sharfaraz Cafe tidak melayani pesan antar makanan. Kami tidak memiliki karyawan yang bertugas sebagai pengantar. Karena permintaanmu yang tidak biasa, aku terpaksa jadi kurir hari ini.”
“Benarkah? Tadinya aku hanya ingin mencoba makanan di sana. Aku tidak mungkin datang ke kafe karena belum memperkenalkan diri secara resmi.” Memang benar ucapannya barusan, Raefal ingin mencoba makanan Sharfaraz Cafe. Selain untuk mengganjal perutnya yang kosong, dia juga ingin mengetahui kualitas rasa dari makanan yang dijual di sana.
Sepertinya dia harus mempercepat proses perkenalannya sebagai bos baru. Ada beberapa catatan penting yang telah dia tulis di buku catatannya. Sebagai pertimbangan untuk melakukan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan selera pribadinya. Tentunya dia berharap semua bisa berjalan lancar dan para karyawan menyetujui ide-idenya. Demi kemajuan Sharfaraz Cafe kedepan.
“Berapa lama kamu bekerja di sana?”
Eliza tidak langsung menjawab. Dia mengambil beberapa potong ikan gurami crispy yang dimasak dengan sambal matah. Salah satu menu baru yang menjadi primadona di Sharfaraz Cafe, setelah menu sambal cumi cabai hijau. Sayangnya, tidak setiap hari pelanggan bisa menikmati hidangan ini. “Aku mulai bekerja di sana sekitar dua tahun lalu. Kira-kira sebulan setelah kafe resmi dibuka.”
Raefal diam-diam memperhatikan Eliza saat gadis itu menyantap makanannya. Bila diperhatikan dengan seksama Eliza sebenarnya cantik, hanya saja tidak pernah tersentuh oleh polesan make up. Wajahnya polos bersih jauh dari jerawat.
“Cukup lama. Baiklah, lain kali aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan dengan para karyawan, agar tidak ada lagi kesalahpahaman seperti tadi,” ucap Ken tulus.
Eliza hanya mengangguk, menanggapi pernyataan Raefal.
Sisa waktu makan siang itu dilalui mereka dalam suasana hening. Mereka memilih untuk menikmati makanannya tanpa diselingi obrolan.
Sesekali Raefal melirikEliza. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Eliza tersenyum malu, sedikit salah tingkah karena merasa risi diamati seperti itu.
“Terus terang, ku rasa aku tidak sia-sia mengambil alih kafe itu,” ucap Raefal menutup sesi makan siang.
“Katakan, apa sebenarnya maksudmu?” desak Eliza penasaran. Ya. Mungkin sama seperti teman-temannya yang lain, mereka pasti bertanya-tanya alasan apa yang membuat Pak Adrian menjual kafe yang baru seumur jagung itu. Tidak mungkin karena alasan finansial. Pak Adrian dikenal sebagai orang berada dan tidak kekurangan suatu apapun.
“Makanan yang aku makan tadi layak untuk dijual. Terus terang, aku termasuk pemilih makanan. Sedikit banyak, aku bertaruh saat proses pengambilalihan itu. Bagaimana bila aku terlanjur menggelontorkan uang pada bisnis ini, tapi ternyata tidak sesuai dengan harapan. Tentu saja aku bakalan rugi.” Jawaban Raefal cukup panjang lebar.
“Lantas, apa kamu tahu mengapa Pak Adrian menjual bisnis ini padamu? Sharfaraz Cafe baru bertumbuh dan sedang dalam proses berkembang.”
“Jujur, aku tidak berhak mengatakan ini. Yang jelas, Pak Adrian akan menetap di Yogyakarta. Dia tidak bisa menangani Sharfaraz Cafe secara langsung. Makanya dia menjualnya padaku.”
Eliza mencerna ucapan Raefal. Dia pun mulai mengerti posisi Pak Adrian sebenarnya. “Terima kasih karena mau memberitahuku.”
“Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena kamu bersedia mengantar makanan ini padaku di saat aku kelaparan,” seloroh Raefal sambil tertawa lebar.
Eliza pun ikut tertawa. Entah kenapa dia merasa begitu akrab dengan bosnya itu. Seakan tidak ada jarak pemisah antara mereka. Layaknya seorang atasan dan bawahan.
Beberapa saat kemudian Eliza pamit undur diri karena harus segera kembali ke kafe.