“Ada apa, Nisa?” Rena dengan cepat menyusul ke meja makan ketika mendengar suara pecahan kaca. “Aku tidak sengaja menjatuhkannya,” jawab Annisa gusar. “Owh, tidak masalah, biar mbak yang bereskan. Nisa duduk saja. Tapi Nisa tidak terluka ‘kan?” Rena menggenggam bahu wanita hamil itu dan menuntunya duduk di sofa ruang keluarga. “Mbak ....” Annisa menggenggam lengan Rena yang hendak berlalu untuk membereskan kekacauan yang sudah terjadi. “Ada apa, Sayang ....” Rena urung melangkah. Kakinya kembali membawanya mendekati Annisa. “Mmm ....” Annisa hanya bergumam. “Ada apa? Dari kemarin mbak lihat Nisa sangat gelisah. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Rena yang sudah duduk di sebelah Annisa. Ia melupakan sejenak kekacauan yang seharusnya segera ia bereskan. “A—aku tidak tau, Mbak. Sika

